Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
92. Raihan Rihanna XVII Berahkir



Sudah 2 bulan sejak Randi dan Om Hardi memberikan kabar tentang ta'aruf. Beberapa kali Raihan dan aku saling berkomunikasi melalui Line. Aku acungkan 2 jempol untuk kejujuran Raihan, dari data-data yang ditulis tidak ada kebohongan di sana bahkan tentang pekerjaan orang tuanya.


Karena 2 hari lalu kesehatan kakek terganggu, membuat kami cucunya berkumpul di rumah kakek.


"Aku mau ke kediaman AA Aziz mau menanyakan tentang agenda kegiatan Isro mi'raj nanti," ucap Anis.


"Ikut teh aku mau nemuin nenek Husain untuk mengantarkan obat titipan mami."


"Kita lewat ladang saja, teh sambil lihat siapa tahu ada buah yang lagi berbuah."


"Terserah Ning Hana." Jika lewat ladang maka kami akan sampai di serambi samping rumah kakek Husain. Selain jaraknya yang lebih dekat jalannya adem, karena banyak pohon besar.


"Jika ta'aruf Hana gagal kamu harus segera melamar Hana dan tentukan tanggal pernikahan kalian. Tidak usah pakai ta'aruf segala kalian sudah saling kenal ini." Aku dan Anis saling melirik begitu mendengarnya, aku segera mengeluarkan ponselku.


"Iya kek. Aku juga berpikir begitu, sekarang kita berdoa saja semoga Ta'aruf mereka gagal."


"Jangan hanya berdoa, kamu harus bisa buat ta'aruf mereka gagal. Terserah mau Hana atau si tentara itu yang akan membatalkannya."


"Bagaimana caranya kek?"


"Bodoh sekali kamu. Untuk apa kamu kuliah mahal-mahal kalau kayak begini saja harus kakek yang mikir juga."


"Baiklah kek akan ku pikirkan caranya. Aku mau kembali ke pondok pesantren lagi, karena sebentar lagi waktunya aku mengajar."


"Pikirkan caranya!"


"Iya kek, Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." Nampak Aziz berjalan ke luar teras dan kakek Husain masuk ke dalam rumah.


"Bagaimana Ning."


"Pulang aja teh. Teteh bisa temani aku temui Raihan?"


"Tentara yang menjalin ta'aruf dengan Ning Hana ."


"Iya. Tapi ingat diluar pesantren jangan panggil Ning, panggil Hana saja."


" Kalau tidak lagi ngajar gak masalah Ning." Begitu sampai rumah aku bilang ke Radit dan Randi kalau kami tidak jadi kesana karena perutku mules.


Belum sempat aku menghubungi Raihan dan membuat janji temu, menggunakan Line sebagai Ning Hana.


Bukan kafe atau tempat makan tapi kami membuat janji bertemu di alun-alun kota Bandung . Dengan mengendarai Audi Q3 aku dan Anis menuju alun-alun.


"Kita tunggu di mana Ning ?"


"Hana ,teh. Bukan Ning."


"Hehe maaf."


"Di masjid raya saja." Kami sengaja berangkat lebih cepat sambil menikmati ramainya sore hari. Teh Anis duduk di teras sambil tilawah , sedangkan aku membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaanku.


Keasikan bekerja aku tidak sadar teh Anis sudah berhenti. "Kok berhenti teh?" Ucapku sambil mengangkat kepalaku.


Nampak teh Anis tertawa kecil melihatku, ternyata sudah ada Raihan dan Ali tidak jauh dari kami.


"Assalamualaikum. Serius amat Ning," canda Raihan.


"Walaikumsalam Maaf. Kok tau kami disini?"


"Tadi kami ada kegiatan terus sholat ashar di sini. Kami juga tahu kedatangan kalian."


"Mau bicara di mana?"


"Disini saja yang banyak orang, biar tidak terjadi fitnah,"ucap Raihan.


"To the point saja pertama aku ingi minta tolong untuk mas Raihan supaya tidak membatalkan ta'aruf."


"Kenapa?" Aku menjawab Raihan dengan mengeluarkan ponsel dan menunjukkan isi rekaman yang berhasil aku ambil.


"Bukannya ini?"


"Iya, hukuman itu seperti sengaja di buat."


"Terus Ning mau memintaku untuk menikah dengan anda Ning?"


"Dilingkungan pesantren ta'aruf hal yang biasa. Apalagi kita sudah saling mengenal,aku juga tidak mau di manfaatkan."


" Masyaallah. Hana ini kamu! l"


"Kenapa jelek ya?"


"Tidak ko. Jilbab membuatmu terlihat lebih anggun,mas sampai pangling Lo."


"Gombal. Pangling dari mananya kalau pangling mas tidak akan mengenaliku." Kataku sinis, membuat Raihan menggaruk kepalanya yang ku yakin tidak gatal.


"Aku sempat tidak mengenalmu."


"Bohong! Jarak antara aku membuka maskerku dan mas menyebut nama ku tidak ada 5 detik. Dalam waktu secepat itu adalah tindakan spontan. Rata-rata orang berpikir itu 30 detail alias 1/2 Menit." Terdengar suara tawa kecil dari Ali dan Anis,"Tidak usah di tahan, kalau mau tertawa tertawa aja." Ucapku membuat mereka berdua tertawa,"Serka Ali. Sikap tobat !"


"Siap! Laksanakan !"


"Dasar gila hormat. Ini bukan barak militer, bukan juga batalyon ini lingkungan warga sipil. Ayo mbak pergi,"ucapku sambil berdiri.


"Tunggu Hana kita belum selesai bicaranya."


Dengan perasaan kesal aku kembali duduk,kali ini Raihan duduk lebih dekat jika tadi jarak kami sekitar 5 meter, sekarang hanya berjarak 1.5 meter


"Ngapain dekat-dekat sana jauhan."


"Mas, minta maaf, jujur mas kaget, mas ga nyangka saja Hana yang mas kenal adalah Hana yang sama. Jadi orang-orang yang ada di video tadi berniat membatalkan ta'aruf kita, supaya dia bisa menikah dengan kamu." Ucap Raihan aku hanya mengangguk karena masih kesel dengannya.


"Bukannya semua orang pesantren ?"


"Kakek Husain paman kakek. Sedangkan AA Aziz sepupuku, aku tidak tahu apa tujuan mereka. Tapi menurut Radit ada hubungannya dengan kepemimpinan pondok pesantren."


"Dia ingin memimpin pesantren ?"


"Mungkin aku tidak tahu pastinya. Tapi kalau di lihat dari silsilah harusnya yang berhak memimpin pesantren adalah Om Hafiz adik lelaki mami."


"Terus sekarang kamu mau apa ?"


"Aku mau ta'aruf kita di teruskan."


"Berarti kamu ngajak mas nikah, tapi mas tidak bisa."


"Kenapa ?"


"Mas bulan depan akan mengikuti pendidikan di Batujajar dan selama pendidikan kurang lebih 7 bulanan. Mas tidak akan bisa komunikasi dengan dunia luar termasuk keluarga mas."


"Oke berati tidak bisa, jadi ta'aruf kita batal." Raihan hanya diam dan ku artikan bener.


"Ayo teh," ucapku sambil berdiri dan meninggalkan Raihan dan Ali. Selama dalam perjalanan pulang tidak ada obrolan di antara kami.


"Assalamualaikum,"ucapku sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Nampak kakek sedang duduk sambil murotal Alquran.


"Walaikumsalam ," ucap kakek setelah mengakhirinya.


"Kakek aku ingin bicara berdua bisa?"


"Bicara apa, kayanya cucu kakek lagi galau."


Aku memperlihatkan video rekaman percakapan kakek Husain dan Aziz, serta obrolanku dengan Raihan.


"Kenapa kakek tidak terkejut sama sekali apa kakek sudah tahu?"


"Sudah seminggu yang lalu Raihan menemui kakek. Kalau masalah kakek Husain kamu tidak mau menikah tidak apa-apa,biar kakek Husain urusan kakek."


"Bener."


"Iya serahkan semuanya kepada kakek,"ucap kakek sambil mengusap-usap kepalaku yang tertutup jilbab.


"Kalau begitu aku pamit bulan depan akan berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana ku."


"Jauh amat kaburnya ?"


"Sebenarnya ini planning sudah lama, bahkan aku menjalani tes online sebelum proses ta'aruf. Tadinya kalau Raihan mau di ajak nikah ,aku akan batalkan tapi kalau sudah begini lebih baik aku ambil."


"Mungkin ini rencana Allah. Percayalah rencana Allah SWT itu pasti yang terbaik hambanya. Tapi bagaimana dengan orang tua mu, apa mereka sudah tahu?"


"Hehe belum," jawabku dengan nyengir.


"Kebiasaan segera bilang, kakek tidak mau ada drama dengan mamimu," ucap kakek sambil menarik hidungku.