Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
77. Rihana Raihan II



Aku langsung duduk di samping Tante Sandra. membuat mereka bengong." Tadi aku telpon Tante ko gak diangkat sih. Halo Rita apa kabar sayang,?"ucapku sok kenal seolah aku adalah saudara mereka.


"Kami pulang. Sebaiknya kamu pikirkan saran kami," ucap lelaki itu sebelum pergi.


"Perkenalkan aku Hana, Tante lupa ya."


"Hanna? Hanna putrinya mbak Dira dan mas Kana?"


"Iya betul. Allhamdullilah kalau Tante Sandra masih ingat aku."


"Kamu kesini sama siapa Han?"


"Dengan papi dan saudara sepupu,tapi mereka sekarang sedang menemui suami Tante."


"Maksudnya mereka ke kantor polisi?"


"Iya,papi curiga waktu Tante konsultasi dengannya."


"Maaf merepotkan,"ucapnya tidak enak.


"Kami minta maaf baru datang kesini. Waktu Tante bertanya-tanya tentang pengacara, papi curiga. Kemudian papi meminta tolong kenalan untuk mencari apa yang terjadi ."


"Maaf,tapi sepertinya Tante menyerah. Kasian Rita masih butuh biaya untuk berobat juga!"


"Rita sakit apa?"


"Paru-parunya terkena flek dan pengobatannya baru berjalan waktu papanya di tangkap polisi."


"Selama Om di penjara bagaimana kehidupan tante?"


"Tante berjualan di kantin."


"Kalau Tante jualan bagaimana Rita ?"


"Rita Tante ajak kan jualan nya di kantin sekolah."


"Boleh aku sementara tinggal sama tante?"


"Tentu,kamu bisa tidur di kamar Raihan. Tapi maaf rumah Tante hanya begini."


"Kalau aku tidur di kamar Raihan, nanti anaknya tidur di mana?"


"Tiga tahun lalu Raihan ikut seleksi Akmil Magelang, dan allhamdullilah di terima."


"Wah hebat mas Raihan, sepupu ku juga ikut seleksi tapi gagal."


"Hanya keberuntungan dari Allah SWT . Raihan diajak temannya yang anak tentara,tapi malah dia yang keterima !"


"Itu namanya rejeki tan. Tante harus bangga dan semangat, jika Om Luki mengakui kesalahan yang bukan perbuatannya, kasihhan masa depan Rita mas Raihan nanti "


Tante Sandra diam seperti sedang berpikir keras," Bener masa depan anak-anak taruhannya."


"Makanya Tante harus semangat. Kasihan kalau sampai anak-anak Tante dibilang anak pencuri. Padahal papa mereka tidak melakukan pencurian itu."


"Terima kasih sudah menyadarkan tante!"


"Sama-sama Tante. Waktu mobil kami terjebak 4 tahun lalu ,om dan Tante menolong kami jadi biarkan orang tuaku sekarang membalasnya."


"Waktu itu kami iklas. Mas Luki melihat mobil kalian yang sedang berjalan tiba-tiba berhenti karena ada pohon yang menimpa, berniat membantu tapi kalian juga membantu kami ,dengan mengantarkan kami pulang."


"Allah mempertemukan kita untuk saling menolong."


Siangnya Papi datang dengan mengendarai motor, untuk menghindari kecurigaan mata-mata tersangka sesungguhnya.


"Jadi kemungkinan semua satpam di tempat lucky bekerja sekongkol untuk melakukan penggelapan, hanya suamimu yang menolak karena itu mereka menjebak suamimu ? Karena dianggap membahayakan sudah mengetahui kegiatan mereka,"ucap papi.


"Sementara dugaan saya begitu Mas melihat dari beberapa pesan ancaman mereka."


"Boleh aku melihat pesan ancaman mereka?"


Setelah 15 menit papi dan Askara melihat semua pesan yang masuk, papi memutuskan untuk sementara ponsel Tante Sandra di bawa Askara.


"Kamu tidak sekolah ? Bukannya sekarang seharusnya kamu kelas 11?" Saat ini aku sedang membantu Tante Sandra menyiapkan barang dagangan, sebelum jam istirahat anak sekolahan.


Tante Sandra berjualan nasi dan gorengan di kantin sekolah SMA. Meski terletak di pinggiran kota Malang, sekolah ini tergolong ramai dan banyak murid nya. Menurut Tante Sandra meskipun swasta, sekolah ini termasuk sekolah favorit.


"Aku ikut kelas akselerasi tan ,hehe."


"Wah hebat kamu nak... Tunggu bukan karena perkataan Raihan kan?"


"Sebelum putra tante bilang banyak yang bertanya begitu ko! Aku hanya ingin mencoba eh allhamdullilah bisa mengikuti kelas Akselerasinya."


"Jam istirahat 10 menit lagi, lebih baik kamu temanin Rita main saja. Nanti kamu capek !"


"Bulek Sandra duwe rewang anyar.(Tante Sandra punya pelayan baru)".Aku yang tidak paham apa yang di omongin para pemuda yang lagi makan, hanya pura-pura tidak mendengar.


"Hus . Dia bukan pembantu tapi keponakan saya yang lagi liburan,kesini !" Mendengar ucapan Tante Sandra,aku lantas tersenyum kepada mereka.


"Alammmak guyune ngerontok ke iman."(Alamak senyumnya menggoda iman) Ucap seorang pemuda bertubuh subur, yang di barengi sorakan yang lain.


"Jangan di gedoin tak bilang ke guru kalian nanti!" ancam Tante Sandra.


"Ihh bulek gitu amat !"Seru mereka bersama-sama.


"Udah kamu istirahat sana atau main sama Rita saja. Biar Tante yang cuci piring!"


"Ga papa Tan,aku juga sudah biasa di rumah," ucapku. Pembantu di rumah hanya bersih-bersih rumah dan memasak. Mereka mulai kerja habis sholat subuh dan pulang habis sholat ashar. Mami selalu mengajarkan sebagai perempuan,aku harus tau pekerjaan rumah termasuk dapur dan memasak.


"Asik juga ya sekolah kaya begini."


"Emang sekolah kamu tidak begini?"


"Tidak Tan kalau makan kita ngantri,dengan menu yang sudah di tetapkan sekolah ."


"Wah sekolah bagus pasti ?"


"Iya lumayan Tan,kan. Aku sialnya ikut kakek nenek di Singapura." Setelah mencuci piring, aku bermain dengan Rita sampai waktu istirahat ke dua. Kali ini lebih ramai dari yang tadi.


"Kayanya keberadaan Hana , menarik perhatian para murid pria di sekolah ini!" Ucap Tante Sandra saat melihat yang beli, kebanyakan lelaki.


"Wah bagus Tan,"ucapku sambil tersenyum.


"Kalau Raihan liburan dan membantu Tante, yang belu kebanyakan perempuan. Memang ya wajah penjual mempengaruhi minat pembeli,"ucap Tante sambil tersenyum.


Ini pengalaman pertamaku berjualan dan ternyata seru juga. Berinteraksi dengan pembeli langsung ada yang ramah,ada yang judes. Membuatku semakin mengenal karakter tiap-tiap orang yang berbeda-beda.


Setelah membantu berjualan sorenya ,aku menemani Tante Sandra ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi paru-paru Rita.


"Kondisi sudah lebih baik. Rita pintar jangan lupa minum obat ya," ucap dokter lelaki itu.


"Tante dan Rita tunggu sini saja,biar aku yang tebus obatnya."


"Ini buat tebus obatnya,"ucap tante Sandra sambil menyodorkan uang warna merah.


"Simpan saja Tan buat berobat Minggu depan."


Awalnya Tante Sandra menolak,tapi aku memasak ahkirnya dia menurut. Hari ini aku tidak bertemu papi dan Askara, sepertinya mereka sibuk mengumpulkan bukti. Baru esok harinya papi menemui ku.


"Tidak hanya para satpam aku duga orang dalam juga ada yang terlibat."


"Maksudnya papi?"


"Ada 2 kemungkinan ada yang dengan sengaja membuat perusahan itu bangkrut atau,emang dia pencuri biasa," jelas Aksara.


"Pengacara yang membela suamimu aku duga juga udah di suap."


"Gila,"umpat ku.


"Kakak mulutnya!!"


"Hehe maaf ."


"Demi keamanan kurasa lebih baik kamu dan putrimu bersembunyi dulu. Jika mau tinggal di rumah saudara ku di Surabaya !"


Tante Sandra yang tadinya diam ahkirnya mengaguk. Malam itu juga kami berangkat ke Surabaya. Selama seminggu aku di Surabaya papi, Askara dan Om Aryo bekerja keras untuk mengumpulkan bukti. Ahkirnya Papi membawa kabar bahwa om Luki dinyatakan tidak bersalah. Dengan koneksi papi dan om Aryo membuat semua lebih cepat diselesaikan.


"Terima kasih mas atas bantuannya, tidak hanya bebas dari jeratan hukum tapi nama baik ku juga kembali ."


"Tidak perlu sungkan mas Luki tidak bersalah sudah seharusnya tidak dihukum."


Setelah semua selesai papi dan aku kembali ke Jakarta. Tante Sandra beserta suami dan Rita juga pulang, bahkan Om Luki di tawarin pekerjaan yang lebih baik. Tapi Om Luki menolak dan menerima tawaran untuk menjadi satpam di kantor Om Aryo.


"Bagaimana kak?"


"Bagaimana apa nya,?"tanyaku balik.


"Setelah melihat yang terjadi. Apa kakak tidak berniat menjadi pengacara dan mengambil kuliah hukum?"


"Aku malah berniat menjadi dokter, setelah melihat Rita sakit !"


"Jadi kakak mau ambil kedokteran ?"


"Taulah pi!" Itu obrolan kami saat di bandara Surabaya, aku sendiri masih bimbang mau kuliah apa tidak.