
"Diva , Dila ayo turun sarapan sudah siap !" Teriaku dari lantai satu, sedang anak-anak ada di lantai 2.
"Sudah ma gak usah teriak-teriak nanti juga mereka akan turun kalau lapar,"ucap Rai sambil menikmati kopinya.
"Mereka itu anak perempuan harus bangun pagi, biar nanti tidak kaget jika berkeluarga !"
"Apaan sih mama umur juga baru 23 tahun sudah ngomongin keluarga. Aku itu capek ma baru tidur subuh tadi,"ucap Diva masih menggunakan baju kebesarannya buat tidur. Kaos dekil kedodoran yang lebi cocok buat alas kaki dan celana selutut.
"Emang ngapain tidur sampai pagi,?" tanya Rai.
"Menyelesaikan tesis pa, biar cepat selesai ga pusing." Ucap Diva sambil mencomot roti bakar. Diva sedang sibuk dengan tesis S2 nya, sedang Dila bekerja di Polda Jabar Setelah selesai pendidikannya.
Penantianku membuahkan hasil saat Diva mengingat kami kembali. Kebahagiaanku sudah terasa lengkap untuk saat ini. Satria bekerja di firma hukum milik keluarga, terkadang juga masih bantu-bantu di perusahaan ayah Elang. Sedang Raihan tahun ini sudah masuk tahun terakhir sebelum masa pensiun.
"Berati kamu tahu jam berapa kakakmu sampai rumah,?" tanya mama.
"Kakak yang mana ni?"
"Dila, karena gak mungkin mama nanyain Satria yang tiap hari pulang malam."
"Dila sampai rumah pukul 1 dini hari, terus nemenin aku sampai pukul 2. Kalau Satria pulang pukul 11."
"Sudah di bilang kalau pulang itu jangan malam bahaya,"ucapku.
"Ya kan biar cepat sampai rumah ma! Tapi semalam dia cerita pulang kesini berdua dengan teman Satria ma!"
"Teman Satria siapa namanya,?" tanyaku.
"Lupa aku namanya, dia asli Bandung. Teman SMA Satria , tapi kerja di Jakarta."
"Siapa ya pa ?"
"Dia nginep di sini ko ma, kayanya masih tidur di kamar Satria." Ucap Diva sambil meletakkan kepalanya di meja makan, Setelah menghabiskan susu dan roti bakar.
"Kalau masih mengantuk tidur di kamar sana!"
"Tar mama teriak-teriak lagi pa!"
"Kan mama tidak tahu kalian tidur pagi."
"Anak gembel siapa ini nyasar di sini." Ucap Satria sambil memegang Krah kaos Diva, dengan pura-pura jijik.
"Ada Affan dan Bintang to," ucapku.
"Pagi Tante,"sapa mereka berdua sambil menyalami aku dan Raihan bergantian.
"Ayo duduk sini sarapan bersama."
"Terima kasih Om." Ucap mereka yang mengambil duduk berjajar dengan Satria, dan di depan Diva.
"Adik pindah ke kamar kalau masih ngantuk." Ucap Raihan sambil mengusap kepala Diva.
"Takut ketiduran pa, aku jam 10 harus ke kampus." Ucap Diva sambil menegakkan badan, dan meminum kopi Raihan.
"Papa suruh buatkan mama kopi lagi ya." Raihan hanya menganggukkan kepalanya, saat Diva pindah tidur di sofa ruang keluarga.
"Itu Diva tante,?" tanya Affan.
"Iya, dia sudah ingat dengan kami semua, beberapa tahun lalu."
"Makanya sekarang dia tinggal disini menemani kami,"ucap Raihan.
"Ya gantian Dila kan sekarang tugas di Bandung," ucap Satria.
"Pagi semua,"sapa Dila keluar sudah dengan pakaian rapi dan bersih. Dengan rok selutut dan kemeja.
"Pagi,"jawab kami semua.
"Ini tuan putri, yang disana upik abu." Ucap Satria sambil tertawa kecil.
"Gw ga mau jadi Upik abu ya !" Teriak Diva dari ruang keluarga, yang masih terlihat dari sini.
"Tu di katakan gembel gak protes, tapi di bilang Upik abu gak mau."
"Satria jangan ganggu adikmu,"tegur ku.
"Wajahnya benar-benar mirip ya, coba kalau rambutnya dan bajunya sama pasti gak bisa di bedakan."
"Bener,"ucap Affan menyetujui ucapan Bintang.
"Tapi kalau begini bisa di bedakan, si jorok dan si bersih,"ucap Satria sambil terkekeh.
"Sialan lo!"
"Adek gak boleh begitu ga sopan sama kakak, apalagi melemparkan makanan !" Tegur ku karena Diva melempar buah apel yang sudah di potongnya kearah Satria.
"Sudah ayo makan !" Perintah Raihan langsung membuat semua yang tertawa menjadi diam .
"Ma, aku bungkus sin nasi, ayam dan sambel ya. Adek mau mandi kelas adik di majukan." Ucap Diva sambil berdiri sebelum berlari ke kamar.
"Iya, adek gak usah lari nanti jatuh !" Teriak Raihan karena Diva adalah orang yang ceroboh. Lingkungan Diva tumbuh membuat dia tumbuh menjadi Dila versi kecil, sedangkan Dila yang tumbuh karena rasa bersalah berubah menjadi Diva versi kecil.
"Dila di Polda Jabar di bagian apa,?"tanya Bintang.
"Reserse Narkoba, A. Kalau AA Affan dan AA Bintang sekarang kerja di mana ?"
"Kalau aku lagi jadi dokter residen di rumah sakit di Jakarta Selatan."
"Kalau aku sekarang dinas di Lanud Iswahyudi Madiun."
"Berati sekarang lagi cuti A?"
"Iya kakakku menikah, ini nanti sore balik ke Madiun." Obrolan-obrolan ringan mewarnai acara sarapan kami.
"Ma mana sarapan ku!" Ucap Diva sambil turun menggunakan celana sobek, kemeja panjang kotak yang di dalamnya ada kaos putih. Diva langsung menerima kotak bekalnya dan di masukin ke dalam tas, tidak lupa Salim dengan ku, Raihan dan kedua Kakaknya.
"Eh," kaget Bintang saat Diva juga menyodorkan tangan padanya. Diva akan Salim dengan semua orang yang ada di rumah, yang di temuinya . Bahkan kepada pelayan dan bodyguard ku atau Raihan .
Aku bersyukur Wiwit mendidiknya dengan sangat baik, meski terkadang terkesan bar-bar dan urakan.
"Aku kaget waktu Diva mengulurkan tangan, aku kira mau ngapain." Ucap Bintang sambil tertawa kecil.
"Tidak tahunya gak hanya kamu , semua di Salimi sama tu bocah!" Bisik Affan menertawakan temannya, yang samar-samar masih bisa ku dengar.
"Lo mau ikut ga?" Tanya Satria kepada Dila.
"Kemana?"
"Kita mau jalan ke mall, sebelum nanti sore Affan kembali ke Madiun."
"Boleh aku mau beli sepatu buat joging, yang lama sudah ketinggalan jaman modelnya."
Setelah Raihan berangkat, anak-anak baru berangkat ke mall. Baru setelah adzan dhuhur Dila pulang bersama Satria dan Affan, karena Bintang langsung pulang ke kosannya.
"Kalian sudah makan siang ?"
"Sudah ma, kita makan di luar."
"Ya udah sana istirahat di!"
"Diva belum pulang?" Tanya Satria, seharusnya Satria hari ini kerja. Tapi dia lagi cuti, katanya sayang cuti gak di ambil.
"Assalamualaikum !"
"Walaikumsalam, panjang umur baru di omongin langsung nongol."
"Ma,boleh ga sekarang aku ke solo?"
"Kenapa,hmm. Ko pulang-pulang minta ijin ke Solo ?"
"Bunda sakit, kata Om Niko tidak apa-apa. Tapi aku cemas,"ucap Diva sambil menangis.
"Ya udah mama pesankan tiket, mau mama temani?"
"Tidak usah, mama kan besok ada kegiatan !"
"O iya,ya udah kamu siap-siap mama pesenkan tiket buat mu!"
"Makasih ma." Ucap Diva sambil mencium seluruh wajahku, sebelum berlari ke kamarnya.