
"Rai."
"Maafkan aku , kamu harus hidup lebih bahagia lagi." Ucap Raihan sambil mengusap kepalaku.
"Aku sayang kalian meski apapun yang terjadi, kalian adalah tujuan hidupku. Maaf aku tidak bisa kembali." Ucapnya diahkiri dengan kecupan sayang di keningku.
"Mimpi yang indah."
"Rai! Mau kemana ?" Raihan tidak menjawab hanya menengok dan tersenyum sebelum berjalan pergi menjauh.
Ah cuma mimpi, kulihat ponselku menunjukkan pukul 4 pagi. Sebentar lagi pasti adzan subuh , rasanya aku malas untuk bangun dan membuka mata. Aku masih ingin menikmati tidurku dan bermimpi bertemu dengannya, sudah hampir 6 tahun Raihan pergi tidak sekalipun aku pernah bermimpi bertemu dengannya. Baru kali ini aku bermimpi bertemu dengannya, Semoga kamu bahagia di sana.
Setelah sholat subuh, baru aku membangunkan anak-anak untuk melakukan solat subuh. Setelah sholat subuh Satria mengajakku untuk berlari keliling, sedangkan Dila memilih untuk tidur lagi.
"Apa rencana mu setelah lulus SMA, mau kuliah di mana ?"
"Aku berencana kuliah di Bandung saja biar selalu dekat sama mama."
"Hai dengarkan mama ! Jangan jadikan mama penghambat mimpimu, kejar mimpimu. Jangan buat mama bersedih karena menjadi penghalang mimpi mu!"
"Aku ingin selalu berada di dekat mama dan menjaga mama serta Dila, hanya itu mimpiku."
"Ooh terima kasih boy," ucapku sambil mengacak-acak rambut Satria.
"Mama aku bukan anak kecil lagi."
"Ayo kita pulang,adikmu pasti nyariin kita jika terlalu lama ."
"Padahal aku masih ingin pacaran Lo dengan mama?"
"Ngomong-ngomong anak mama sudah punya pacar belum."
"Kalau punya pacar belum sih."
"Tapi sudah ada yang di sukai kan?"
"Ada sih ma, tapi dia cuek sama aku. Coba dia seperti cewek yang lain, pasti langsung aku respon!"
"Oya memang cewek lain Kenapa?"
"Ada yang suka cari perhatian, ada yang diam-diam kirim surat cinta, ngasih coklat."
"Wah ternyata anak mama ini idola sekolah ya?"
"Haha maklum anak mama kan ganteng." Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku, sambil berlari kecil. Saat tiba di rumah kakek, nampak Dila sedang bermain ponsel di ayunan.
"Assalammualaikum."
"Walaikumsalam, mama sama Satria dari mana ?"
"Cuma keliling sekitar sini, adek sudah mandi belum ?"
"Belum ma, adik baru bangun nyari mama ga ada ya udah adek tungguin sini."
"Libur sekolah libur mandi, dasar cewek jorok."
"Biarin yang ngomong juga begitu."
"Kakek mana ko sepi,?" tanya Satria.
"Kata mas Andrew masih di mushola, biasanya kakek akan pulang setelah sholat Dhuha. Jadi kalau mau sarapan di suruh duluuan."
"Ya udah ayo mandi !"
"Masih jam 6 ma,tar dulu !"
"Kalau di suruh mandi kompak nolaknya." Ucapku sambil menggelengkan kepalaku dan duduk di ayunan bersama Dila dan Satria.
"Ma tadi pagi waktu aku bangun aku lihat leleki sedan melakukan push up di taman belakang !"
"Om Andrew kali,"jawab Satria.
"Tadinya aku pikir begitu,tapi saat aku keluar kamar Om Andrew baru datang berarti bukan Om Andrew dong!"
"Setan kali,"jawab Satria asal.
"Ih bikin merinding saja sih Lo,"kesal Dila.
"Mungkin salah satu petugas keamanan yang tinggal di paviliun belakang, ga usah di pikirkan."
"Dasar anak penakut!"
"Kalau orang gw ga takut,lah ini masih gelap."
"Ini bukan gelap tapi mendung, Ayo mandi!"
"Ah mama,nanti dulu."
"Ya udah mama ke kamar dulu." Aku melangkahkan kakiku meninggalkan anak-anak, sesampainya di kamar aku mengecek email yang masuk dan menghubungi mami.
Sekitar pukul 8 pagi Kakek Elang kembali,baru kami sarapan bersama.
"Kalian langsung pulang?"
"Iya kek mami sudah telpon Mulu,"jawab Satria.
"Terus balik ke Bandung kapan ?"
"Hati-hati, jika butuh apa-apa jangan sungkan minta bantuan ayah ya !"
"Iya yah."
"Sering-seringlah ke sini ,biar kakek tua ini tidak kesepian."
"Tante Narita saja sama Om Radit yang dekat suruh tinggal di sini !"
"Mereka punya keluarga yang selalu sibuk. Kalau kakek lagi sakit baru mereka mau jenguk kakek."
"Tahun depan Dila masuk SMA, bagaimana kalau Dila yang temani. Satria Nemani mama ,aku nemenin kakek."
"Boleh kalau mamamu memberikan ijin." Ucap ayah Elang sambil melihat kearah ku, aku hanya bisa mengaguk meski dalam hati tidak rela berpisah dengan Dila. Setelah selesai sarapan kami pergi meninggalkan rumah kakek menuju rumah orang tuaku.
"Bagaimana sehat kakek kalian ?"
"Sehat Pi," jawab Satria.
"Mami dan papi gak Kerja ?"
"Kan weekend,"jawab mami.
"Biasanya juga weekend tetap bekerja,"jawabku.
"Sengaja mengosongkan jadwal buat kalian yang jarang datang ke rumah kami."
"Oh bahagianya aku,"jawabku.
"Han tar siang ikut makan siang bersama kami yuk!"
"Kemana mi?"
"Makan siang dengan beberapa relasi papi mu." Aku melirik anak-anak yang menampilkan wajah masam.
"Anak-anak bisa tinggalkan kami sebentar !"
"Oke ma!"
Setelah anak-anak sudah tidak ada di ruang keluarga, "Mami dan papi tolong stop mencarikan jodoh buatku."
"Kenapa? Kami hanya memikirkan hari tua mu nanti, jika kamu tidak punya pasangan hidup. Disaat kamu seumuran mami, anak-anakmu bersama keluarganya masing-masing .Baru saat itu kamu akan merasakan kesepian,Hana ."
"Aku tidak masalah hidup kesepian Mi, aku bisa menghabiskan waktu dengan merawat mami dan papi. Masalahnya anak-anak tidak suka posisi papanya di ganti oleh siapa pun itu ."
Terdengar helaan nafas panjang mami,"Aku tahu ini berat buat anak-anak tapi."
"Sudah mi jangan paksakan kemauan mami kepada Hana , apa yang menurut kita baik belum tentu baik buat Hana. Jadi biarkanlah Hana mengikuti jalan takdirnya akan membawa kemana!" Ucap papi memotong ucapan mami.
"Semalam selesai menghadiri acara undangan, Hana tanya anak-anak mau tidur di mana? Mereka memilih tidur di rumah Ayah Elang ,karena tidak mau mendengar Mami yang terus mendesak aku untuk menikah lagi."
"Jangan sampai gara-gara masalah ini cucu-cucu Mami menjauh dari mami,"ucap papi.
"Baiklah mami terserah kamu saja, mami tidak mau cucu mami benci sama mami."
"Begitu dong di sisa umur kita ini, melihat anak dan cucu hidup bahagia, rukun dan berkecukupan itu sudah lebih baik." Ucap papi sambil mengecup punggung tangan mami.
"Nanti malam Radit beserta anak istrinya akan berkumpul di sini, bagaimana kalau kita buat acara barbeque di taman belakang."
"Boleh mi biar ramai undang yang lain juga,"ucap papi.
"Papi undang ayah Elang sekalian, kasihhan di rumah sendirian,"ucapku.
"Oke, kita undang Om Arya, Bintang sama anak istrinya juga."
"Wah boleh tu mami akan mempersiapkan segalanya, papi yang menghubungi mereka !" Mami begitu antusias menyiapkan acara barbeque buat nanti malam. Aku jarang pulang ke rumah mami, karena kesibukan anak-anak. Bahkan hari Minggu pun terkadang Satria masih ada kegiatan, yang basket di sekolah, futsal dengan para pemuda karang taruna. Berbeda dengan Dila yang sering di rumah.
"Ma!"
"Hmm apa sayang ?" Saat ini aku dan Dila sedang membuat beberapa minuman, untuk di bawa kedepan.
"Kenapa cuma barbeque mengundang banyak orang. Ini bukan rencananya mami untuk mencarikan mama jodoh lagi kan?"
"Haha haha tidak, tidak seperti itu acara barbeque ini hanya mengundang keluarga kita."
"Bener mama tidak bohong, bukannya dulu Om Bintang juga pernah suka sama mama ?"
"Haha itu dulu, sekarang Om bintang kan sudah punya keluarga."
"Awas ya kalau bohong!" Ucap Dila sambil berjalan keluar membawa minuman.
"Ternyata anakmu lebih protektif terhadap mu ya,"ucap Bintang yang baru muncul.
"Maklum dia sangat mencintai papanya. Jadi dia tidak rela kalau posisi papanya tergantikan."
"Padahal aku mau kenalin kamu sama atasan ku Lo."
"Tidak boleh,awas Om macam-macam!" Ucap Dila yang baru masuk membuatku tertawa kecil.
"Oh ampun tuan putri,Om gak berani. Om hanya bercanda tidak akan ada acara perjodohan kok, tenang ya. Yang ini lebih menakutkan dari bapaknya dulu,"ucap Bintang sambil berlalu.
"Mama harus janji mama tidak boleh menikah lagi, tidak ada papa baru."
"Iya sayang !"