
Dengan mengendarai motor milik satpam rumah, aku menyusuri jalanan malam kota Jakarta. Aku terus mengendarai, sampai bahan bakar habis.
"Kenapa neng,?" tanya bapak-bapak saat aku beristirahat di masjid pinggir jalan.
"Bensin saya habis pak."
"Di depan ada pom bensin kalau mau kita anter kesana neng?"
"Bapak kalau mau bohong salah orang pak, saya tahu disekitar sini itu jauh dari pom bensin." Ucapku membuat kedua bapak seumuran papi langsung diam dan pergi. Saat aku tahu bensin habis,aku langsung melacak letak pom bensin terdekat. Karena letaknya yang jauh aku memutuskan beristirahat setelah 30 menit mendorong sepeda motor. Aku hanya butuh tempat yang tenang, karena itu ponsel sengaja aku bisu kan.
Sudah hampir 2 jam aku hanya duduk , di teras masjid sambil memandang bintang dan bulan. Sayup-sayup aku dengar seseorang berjalan mendekatiku.
"Tidur bos,aman."
"Kita cari kunci motornya, habis itu kita bawa kabur motornya."
"Tapi kalau kita ambil kunci motornya, nanti dia kebangun dan teriak bagaimana ?"
"Kalian mau ngapain,mau ambil motor."
"Bos bangun orangnya."
"Iya kami mau motor mu, lebih baik serahkan kuncinya pada kami."
"Maaf itu bukan motor ku, jadi aku tidak bisa memberikannya padamu. Kalau mau uang ,aku ada mau?" Uacapku bertepatan dengan mobil yang tidak asing buatku, berhenti tepat di depanku.
"Ada apa ini?"
"Tidak apa-apa,ko pak." Ucap 2 lelaki tadi saat Raihan menghampirinya, masih dengan seragam PDH.
"Mereka mau minta motorku. Kamu tau kan itu motor satpam. Lagian itu motor juga bensinnya habis."
"Lebih baik kalian pergi, kalau tidak saya akan membawa kalian ke kantor polisi." Tanpa menunggu lama,2 lelaki tadi langsung kabur setelah mendengar ucapan Raihan.
"Kenapa kamu di sini,?"tanya Raihan ikut duduk di sampingku.
"Tadinya cuma mau muter-muter, menghilangkan suntuk. Tiba-tiba mati motornya."
"Motornya mati ?"
"IYa bensinnya habis," ucapku membuat Raihan menghela nafas. Cukup 15 menit Raihan mengambil bensin di mobil dan di pindahkan ke motor, dengan bermodal selang yang ada di bagasi.
"Ternyata ada gunanya slang ini di sini ya,"candaku.
"Kamu bisa bercanda,saat di rumah kedua orang tua mu mencemaskan mu?"
"Kenapa cemas, pasti mas sudah menghubungi mereka kalau sudah menemukan ku."
"Sok tahu kamu,"ucap Raihan sambil menyentil hidungku.
"Itu yang di dalam mobil mas, yang lagi sibuk telpon pasti sudah menghubungi orang rumah." Ucapku dengan volume lumayan keras.
"Ko Lo tau sih gw ikut." Ucap Randi keluar dari mobil, diikuti Radit.
"Mas Raihan keluar dari bangku penumpang bukan kemudi."
"Apa yang Lo rasakan kita berdua juga bisa merasakan,"ucap Randi sambil memelukku dari samping.
"Bener harusnya Lo cerita ke kita," ucap Radit ikut memelukku.
"Kalau kalian tahu , kenapa membiarkan semua terjadi tanpa menolong ku."
"Kami harus bagaimana,ini takdir Lo,"ucap Radit.
"Ya mengakui kalau Lo yang mengemudikan mobilnya mungkin,"ucapku asal.
"Gw pengacara bego,"ucap Radit sambil menarik hidungku.
"Sakit tau, kebiasaan deh."
"Lebih baik kalian ngobrol berdua,kami akan pergi." Ucap Randi sambil menarik Radit untuk, pergi dengan menggunakan motor yang ku bawa tadi.
"Ayo Han." Ajak Raihan, masuk ke dalam mobil Randi.
"Bagaimana kalau kita coba jalani pernikahan ini,"ucap Raihan sambil mengendarai mobil.
"Coba! Katamu di coba mas. Ini pernikahan bukan membeli baju , jika kita tidak cocok bisa mencari ukuran yang lain. Aku mau menikah sekali seumur hidup,aku mau menikah dengan lelaki setia seperti papi. Bukan seperti orang beli baju!"
"Maaf mas salah. Mari kita menikah, kita bisa belajar saling mencintai. Bukannya kamu lebih suka pacaran setelah halal."
"Kamu sendiri yang bilang. Mas tidak bisa menjanjikan materi yang melimpah dan selalu ada buat mu."
"Terus, kenapa mas berani mengajak aku menikah ?"
"Kakek bilang diantara ke 3 cucunya hanya kamu yang bisa bertahan hidup sederhana. Karena itu selama mas bernafas,kamu akan selalu mas utamakan setelah kepentingan negara tentunya."
"Sok tahu kamu mas,!" cibirku.
"Meskipun ta'aruf kita terputus,tapi aku sering bertemu dan mendengar tentang mu dari kyai Abi. Juga kakek, meski kami baru bertemu 2 kali, ucapnya memantapkan mas untuk memilih mu."
"Mas yakin , tidak takut dengan gosip yang sedang menimpa ku?"
"Gosip apa? Gosip apa pengendara yang ugal-ugalan?" Aku langsung mengaguk, mendengarnya.
"Justru itu, jika kita menikah aku bisa mencegah mu. Karena kamu halal untuk mas pegang melebihi pegangan tangan."
"Dasar."
" Kenapa? Jika kamu halal saya pegang,kamu bisa saya angkat dan pindah ke belakang."
"Sebelum aku memutuskan untuk menerima permintaan kakek, boleh aku bertanya kepada mas masalah pribadi ?"
"Silahkan aku akan berusaha menjawab pertanyaan mu."
"Kenapa mas belum menikah di usia 32 tahun. Bukannya waktu kita ketemu di Papua dulu, mas lagi dekat dengan perempuan. Aku cuma mau denger tentang perempuan-perempuan masa lalu mas?"
Raihan menarik nafasnya sebelum mulai bercerita,"Pertama menjalin hubungan sekitar 5 tahun. Dari kelas 12 ahkir, sampai mas pendidikan dan penempatan tugas pertama mas di Papua. Saat mas satgas di Papua dia menikah dengan seorang polisi."
"Yang di foto itu dulu ?" Raihan hanya mengangguk dengan pandangan masih fokus pada jalanan.
"Yang kedua ?"
"Seorang dokter kami jalan baru setahun,tapi waktu tahu orang tua mas hanya satpam. Seminggu kemudian dia minta putus dan sebulan kemudian dia memberikan undangan pernikahan."
"Terus yang ketiga,?"tanyaku setelah Raihan tidak bicara agak lama.
"Tidak ada,saat baru putus kapten Erlangga menjodohkan aku dengan adiknya. Tapi kamu tahu sendiri Hany tidak mau menikah dengan tentara."
"Dari cerita mu, seharusnya ada rasa tidak percaya diri untuk menikah dengan status di atas mu. Tapi kenapa kamu malah mau menikah dengan ku."
"Amanah dari kedua kakek mu yang memberanikan aku untuk menikah dengan mu."
"Bukannya sombong, mungkin dari ke 3 orang yang hampir menikah dengan mu. Aku memiliki status sosial lebih tinggi,kamu bisa menggunakan aku untuk membuat mereka menyesal telah memandang rendah dirimu."
"Aku tidak picik itu. Aku akui ,aku seperti pemuda lainnya, yang jika menjalin hubungan ada physical touch."
"What physical touch?how bad?Kissing, hugging, holding hands.What love too?"
"Not that bad, just a kiss, a kiss."
"Thank God it means you're still a virgin ." (Syukur deh berarti masih perjaka.)
"Sialan mas masih takut dosa, lagian mas juga takut karma. Tahu sendiri mas punya adik perempuan."
"Ya kan banyak pria berseragam yang menggunakan seragamnya untuk menarik perhatian lawan jenis. Bahkan banyak tentara dan polisi gadungan."
"Bisa aja kamu, kalau Hana sendiri punya pengalaman dengan lelaki?"
"Tidak ada 4 tahun Tinggal di Singapura, Kakek ketat mengawasi ku. Waktu kuliah di UGM mengambil program double degree, di Universitas Gadjah Mada Teknik informatika dan ilmu komputer di Universitas GRIPS di jepang. Jadi mana ada waktu buat kenal dengan lawan jenis."
"Sebagai anak orang kaya hidup mu cukup membosankan belajar dan belajar."
"Aku menikmatinya."
"Jadi kamu tidak pernah menaruh perasaan pada lawan jenis ?"
"Aku masih normal,awal kuliah aku pernah ada rasa pada kakak tingkat ku. Tapi sebagai wanita timur pantang buatku untuk menguapkan perasaan ku."
"Berati hidup Lo bener-bener lurus di usia 27 tahun?"
"Tidak juga teman kerja ku kebanyakan lelaki. Terkadang mereka bercanda dengan bahasa yang sedikit vulgar dan aku akan mencari di internet artinya."
"Haha. Ayo kita nikah, jika ada bahasa yang tidak kamu mengerti kamu bisa tanya mas. Atau praktek sekalian kalau sudah halal."
"Maaaas udah ah!"