
"Nak Hana tidak akan menyesal memilih Raihan putra mama yang hanya anak satpam?" Tanya mama Raihan saat mami dan papi sudah pergi, kedua orang tuaku hanya datang untuk menyapa sebentar. Sebelum di panggil Radit untuk menemui seseorang pejabat. Jujur aku perempuan sendiri, tapi aku tidak suka menghadiri pesta. Aku lebih suka di rumah, kalau kata nenek sifatku yang tidak suka keramaian seperti saudara kembarnya.
"Yang satpam kan papa, bukan Raihan. Seharusnya papa nanya ke mama, bukan mama nanya ke aku." Ucapku membuat papa dan mama saling pandang dan Raihan tertawa kecil.
"Gak usah bertanya aneh-aneh ke Hana ma! Nanti mama sakit hati, orang bertanya bukan di jawab tapi malah balik bertanya."
"Haha benerkan aku bilang. Aku nikah sama kamu perwira bukan sama satpam."
"Tu kan ma jadi bikin emosi,"ketus Raihan.
"Maksudnya Tante kamu anak orang terpandang, sedang Raihan anak orang biasa aja?"
"Yang terpandang itu orang tua saya, bukan saya ma pa. Kalian juga tahu aku hanya pegawai kantoran biasa."
" Jangan percaya ma. Meskipun pegawai kantoran gajinya Hana 2 atau 3 kali lipat dibandingkan gajiku."
"Ah siapa bilang sok tahu."
"Kalian ko gak pindah,memang gak di marahi sama pak Arkana?" Tanya Suci yang tiba-tiba langsung duduk di samping Raihan.
"Menurut Penglihatan mu tadi bagaimana, ada tontonan menarik gak?"
"Ah mungkin karena istrinya pak Arka, berasal dari golongan bisa kaya kita makanya dia biasa saja."
"Memang kamu tidak tahu istri pak Arka itu putri pemilik pesantren di Bandung,?"tanya Hana.
"O, pantes orangnya baik. Tidak mengusir kalian."
"Maaf Suci ada perlu apa datang ke sini,?"tanya Raihan.
"Aku cuma pingin tahu kabar mu, bagaimana kabarmu sekarang Rai ?"
"Alhamdulillah sehat."
"Aku dengar kamu mau menikah?"
"Iya."
"Bapak,ibu sebaiknya kita pindah tempat ada yang lagi reunian di sini." Ucapku selesai bertepatan dengan suara MC yang memanggil pihak keluarga perempuan untuk melakukan foto bersama.
"Kenapa harus ada foto bersama keluarga segala sih, ribet. Mas mau di sini apa mau ikut ke depan ?"
"Mas di sini saja." Saat aku baru melangkahkan kakiku,"Rihanna calon suaminya di ajak sekalian dong!" Ucap Jelita dengan memakai mic MC.
"Ais ribet. Ayo mas!"Ucap Hana yang berjarak sekitar 2 langkah dari meja mereka tadi.
"Kalian Keluarga dari pak Aryo ?" Tanya Suci yang tidak aku gubris atau Raihan.
Setelah selesai berfoto,Hana tidak menemukan Suci di mejanya.
"Kemana mantan mu mas?"
"Dia mantan kamu Le?"
"Bukan mama, teman SMA." Ucap Raihan sambil melotot kearah ku, yang ku tanggapi dengan cuek.
"Ya udah mama dan papa mau kedepan ngucapin selamat kepada mempelai, terus lansung pulang." Ucap papa yang ku tanggapi dengan senyum.
"Mulutmu itu memang minta di cium, kalau ngomong asal." Ucap Raihan membuatku langsung menutup mulutku.
"Ih mesum juga ternyata kamu mas."
"Habis mulut mu kalau ngomong kadang membuat emosi."
"Kadang bener,"ucapku memotong kalimat Raihan.
"Udah ah mas mau mengantarkan orang tua mas pulang dulu, tar kesini lagi mau ikut gak?"
"Boleh, ajakin jalan-jalan ya."
"Hmmm."
"Ayo masuk dulu Hana !"
"Kamu mau mampir dulu,?"tanya Raihan saat aku turun dari mobil.
"Kan mama nyuruh aku masuk dulu." Ucapku berjalan meninggalkan Raihan yang masih di dalam mobil.
"Sepi ma, Rita ga di rumah ?"
"Tidak usah ma, nanti anak mama bisa ngambek."
"Enak aja,!" ketus Raihan. Sebelum kembali ke gedung acara pernikahan, Raihan mengajak ku menikmati kopi dan roti bakar, di salah satu kafe gaul.
"Racikan kopinya enak, juga."
"Kamu suka ngopi juga?"
"Aku minum kopi saat harus bergadang mengerjakan pekerjaan,tapi jika d rumah tidak berani."
"Kenapa ?"
"Mami membatasinya, Taulah mami."
"Bulan depan kita mulai persiapkan syarat-syaratnya, jika udah komplit tinggal pengajuan."
"Hmm," ucap Hana sambil menikmati roti bakarnya.
"Kamu konsep pernikahan gimana ?"
"Sederhana, hanya mengundang keluarga inti, karena pernikahan kita aku tidak mau orang tua ikut campur."
"Ko gitu ?"
"Kalau mereka ikut campur papi ,mami, nenek pasti ngundang banyak orang."
"Itu otomatis kamu kan anak perempuan satu-satunya."
"Apa harga dirimu tidak jatuh, jika keluarga ku yang mengatur pernikahan?" Raihan yang bingung menaikkan sebelah alisnya.
"Otomatis akan banyak mengundang orang,dan itu butuh biaya banyak."
"Gw paham maksudnya,kamu takut aku gak mampu ?"
"Bukan gak mampu takut terbebani. Aku juga ga mau orang tua mu minder aja."
"Kedua orang tuaku sudah membahas ini, mereka maklum dengan posisi mu yang sebagai anak perempuan satu-satunya. Jadi orang tuaku akan ikut permintaan Keluarga mu."
"Sudah gak usah di bahas itu lihat mantan mu,lagi berantem sama lelaki !"
"Mungkin itu suaminya, karena setahuku dia nikah sama polisi." Nampak Suci masih dengan baju yang tadi, berantem dengan lelaki di di pinggir jalan.
"Biasanya lelaki suka kasihan jika melihat mantan tersakiti." Raihan hanya menarik nafas panjang mendengarnya. Jujur aku penasaran dengan perasaan Raihan, mengingat mereka menjalin hubungan dalam waktu cukup lama.
Karena rasa penasaran aku berdiri," Mau kemana?"
"Pulang lah, makanan kita juga sudah habis ini," ucapku.
"Biar mas yang bayar !"
"Ya udah aku tunggu di luar."
"Mau sampai kapan kamu begini? Anak-anak mencari mu,?" ucap lelaki berseragam coklat.
"Bukan anak-anak sudah ada mama baru mereka. Mereka juga bilang bahagia dengan mama barunya?" Ucap Suci sinis.
"Dia bukan mama barunya, dia hanya menjaga anak-anak selama kamu kerja."
"Menjaga anak-anak tapi nemeni tidur bapaknya," ketus Suci.
"Ga usah di dengerkan itu urusan rumah tangga orang,"ucap Raihan yang sudah berdiri di sampingku.
"Hehe penasaran,kamu gak niat memisahkan perdebatan mereka?"
"Ada kalanya kita membantu, adakalanya lebih baik pura-pura tidak tahu. Tentu kamu paham yang di maksud privasi, rumah tangga mereka itu privasi mereka. Buatku selama lelaki tidak main tangan,aku tak akan ikut campur." Ucap Raihan sambil berjalan menuju ke mobilnya.
"Mas mbak kalau mau berantem jangan di pinggir jalan,gak malu apa jadi bahan tontonan orang." Ucapku sebelum menyusul Raihan, nampak mereka juga langsung masuk ke dalam mobil masingmasing.
"Aku tahu kamu penasaran dengan perasaan ku, jujur aku sedang belajar mencintai mu. Jadi jangan pernah meragukan perasaan ku terhadap masa lalu, karena buatku masa lalu cukup di jadikan pelajaran."
"Bukan di kenang?"
"Mereka bukan pahlawan buat apa di kenang, lagian kamu tahu sendiri kami putus tidak secara baik-baik."
"Iya-iya kamu di tinggal menikah saat lagi satgas." Kami ngobrol sampai tiba di gedung pernikahan Jelita kembali.