Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
136. Curhatan Raihan



🎼✉️+6284300336789


10 pesan tidak terbaca .


🎼✉️+6284300336789


10 ☎️ Panggilan tak terjawab.


Aku melirik ponsel Raihan yang berada di meja nakas.


"Mas,mas bangun itu ponselmu bergetar mulu gak mau bangun di angkat dulu!"


"Kalau mau angkat, angkat aja. Kalau gak biarin aja?" Ucap Raihan tetap dengan posisi tidurnya, sambil memeluk tubuh mungil Elang.


"Yakin tidak nyesel. Nanti nyesel lo?" Raihan bangun dengan malas, dan bersandar kepada ranjang.


"Aku gak mau membuka karena aku tahu pasti dari Oliv. Aku gak rasa kasian ku padanya di manfaatkan lagi oleh mereka."


"Gak nyesel tar kalau dia beneran bunuh diri kamu disalahkan ?"


"Dia aja bisa membohongiku dengan pura-pura hamil,bisa kemungkinan dia juga bisa membohongiku dengan pura-pura bunuh diri."


Tumben kamu pinter mas, bisa mikir kesana.


"Ga usah ngatain mas, mas sudah sadar kalau kemarin sudah salah!"


"Allhamdullilah deh kalau sudah sadar dan tidak percaya tipu muslihatnya. Tapi aku harap bener-bener sadar, jangan tobat sambal."


"Haha aku bukan orang seperti itu. Dek kamu tinggal disini hitungannya sudah berapa hari?"


"Sama hari ini 4 hari, kalau nanti sore gak cek in hitungannya 5 hari."


"Sehari berapa ?"


"2 Juta."


"Apa!" Ucap Raihan langsung berdiri dari kasur. " Ga usah berisik deh, Elang lagi tidur tu!"


"Ayo kita beres-beres. Kamu pergi ATM kamu bawa,aku hidup tergantung pada isi kulkas. Bahkan Kemarin aku pinjam Serka Ari 100 ribu, untuk beli bensin motor." Ucap Raihan sambil berjalan masuk kamar mandi. Dari kamar mandi Raihan langsung merapikan semua bajuku dan Elang. Sampai semua rapi aku sama sekali tidak membantu membereskan perlengkapan ku.


"Ayo kita pulang," ucapnya. Raihan memberikan aku kerudung.


"Ayo kita pulang kamu gedong Elang,aku bawa semua perlengkapan kalian !"


Tanpa minta bantuan petugas hotel Raihan membawa semua barang-barang kami, 'Katanya sayang duitnya '.


"Nasib nikah dengan anak orang kaya buang duit 8 juta,kaya membuang duit 8 ribu." Ucap Raihan sambil fokus mengendarai mobil, untuk pulang ke asrama.


"Tenang duit mu utuh. Aku bayar pake uang pribadiku!"


"Bukan begitu gunakan secara bijak maksudku." Ucap Raihan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, aku tahu dia takut aku marah lagi. Wah boleh sekali-kali suami di kerjain, semoga aja tidak berdosa.


"Dek !"


"Hmm."


"Dek, udah dong diamnya!"


Sejak aku diam pura-pura marah, Raihan nampak sekali berusaha merayuku.


"Aku gak marah kok meskipun gajiku sebulan kamu habiskan dalam waktu sejam."


"Yakin."


"Iya."


"Bohong! Buktinya tadi begitu tahu tarif kamu langsung mengemasi semua perlengkapan aku dan Elang! Itu tandanya kamu keberatan !" Ucapku langsung keluar dari mobil, karena sudah berhenti di depan rumah dinas.


Aku langsung masuk tanpa memperdulikan Raihan.


"Sini mas mau bicara !" Ucap Raihan sambil menarik tanganku untuk duduk di pangkuannya, setelah aku menidurkan Elang.


"Apa!"


"Apapun akan ku berikan untukmu, bahkan nyawa mas rela jika kamu mau."


"Gombal !"


"Iya, gak mungkin mas gombal sama kamu. Buat mas kamu adalah adalah seseorang yang berharga buat hidup mas, setelah negara. Hanya ibu Pertiwi yang dapat menggeser mu di hati mas."


"Bohong buktinya kemarin mas, sudah membentak ku gara-gara wanita itu?"


"Yakin gak bohong ? Bagaimana kalau aku yang mau bunuh diri ?"


"Istriku orang yang beriman. Orang beriman yang tahu bunuh diri itu tergolong dosa besar, yang kelak akan masuk ke dalam neraka."


Aku mencibirkan bibirku mendengar ucapan Raihan, yang sangat jelas sedang bersikap baik kepadaku.


"Jujur Mas membentak mu karena marah saat mendengar mu meminta mas melepaskan mu."


"Oya? Sekarang aku mau tanya pada mas?"


"Tanya apa?"


"Apa maksudnya kalimat mas, 'Aku tidak mau anak dalam perutnya, menjadi seperti aku' bisa mas jelaskan ?"


Terlihat Raihan nampak gelisah seperti tak nyaman, aku masih menunggu sampai 15 menit.


"Apa ada hubungannya dengan Elang Samudra. Direktur utama salah satu BUMN ,PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Yang merupakan founder dari Samudra Group yang bergerak di bidang kesehatan, properti dan real estat?"


"Apa yang kamu tahu dek?" Tanya Raihan terlihat gugup, tapi hanya sesaat sebelum kembali menampilkan wajah tenang.


Sungguh ini sedikit mencurigakan buatku, jika mereka tidak ada hubungan buat apa Raihan kaget ?


"Aku hanya tahu apa yang aku sebutkan tadi, dan berita umum sesuai internet!"


"Kenapa kamu bisa berpikir kearah sana?"


"Saat acara aqiqah Radit sempat bertanya kenapa nama kalian mirip. Raihan Elang Akbar, Satria Elang Maulana. Kok semua pakai nama Elang?"


"Terus apa tanggapan Radi ?"


"Randi melarang Radit untuk terlalu kepo dengan urusan orang, tapi kenapa wajah Elang ada kemiripan dengan Elang Samudra ?"


"Dek... Itu." Nampak Raihan hanya diam dengan menutup matanya. Sampean 5 menit," Mas akan ceritakan semuanya. Tapi jangan pernah berubah !"


"Berubah karena apa ?"


"Jika aku ceritakan semuanya ?"


"Apa mas anak yang lahir dari luar pernikahan ?"


"Allhamdullilah mas lahir dari pernikahan yang sah, baik secara agama dan negara. Nasab mas juga jelas! Tapi pernikahan orang tua mas tanpa restu orang tua."


"Jadi papa dan mama mas menikah tanpa restu orang tua ?"


Raihan tidak mengaguk juga tidak menggelengkan kepalanya.


"Tidak seperti perempuan yang membutuhkan wali nikah, bagi seseorang lelaki asalkan sudah yang berumur di atas 21 tahun tidak perlu wali nikah. Dengan dasar itu orang tuaku menikah tanpa restu orang tua. Sedangkan ibuku nikah dengan wali kakak lelakinya."


Raihan menurunkan aku dari pangkuannya dan berjalan keluar mengambil air minum. Aku mengikutinya dan berahkir kami duduk berdua di ruang tamu.


"Ibuku hanya perempuan sederhana yang bekerja di kantin sebuah universitas. Pernikahan mereka sangat sederhana ibu hanya tahu ayah seorang mahasiswa, yang kuliah sambil bekerja serabutan. Saat ayah menyelesaikan pendidikan S2,baru semua terbongkar dan mereka di paksa berpisah." Ucap Raihan dengan sangat lirih di ahkiri kalimatnya.


"Jadi benar Kamu ada hubungan keluarga dengan Elang Samudra?" Raihan tidak menjawab hanya mengangguk, "Elang Samudra adalah ayah kandungku." Ucap Raihan dengan suara yang hampir tidak dapat aku dengar, tapi berhasil membuatku melongo.


Gila bisa heboh Radit kalau tahu, ternyata kecurigaannya bener .


"Lalu siapa Tante Sandra dan Om Luki sebenarnya?"


"Papa adalah kakak kandung ibuku. Mereka membesarkan aku sejak ibuku meninggal saat melahirkan aku."


"Kapan kamu tahu semuanya ?"


"Saat aku SMP ayah kandungku mencari ibuku, dan tanpa mereka sadari aku mendengarkan obrolan mereka."


"Apa ayah kandungmu tahu keberadaan mu ?"


"Aku tidak tahu. Saat aku mendengarkan obrolan mereka papa, bilang ibuku meninggal tanpa membahas anak."


Aku yang duduk di sampingnya langsung memeluk Raihan,aku tahu dia pasti pasti sangat sedih. Dia ada tapi keberadaannya seperti tidak ada.


"Jujur aku penasaran dengan ayah kandungku, tapi juga sudah puas dengan papa dan mama ku. Mereka sayang aku tanpa batas, bahkan demi mengurus aku, mereka rela menunda momongan."


"Sekarang ada aku, ceritakan semua kepada ku jangan pernah sembunyikan kebohongan apapun dari ku!"


"Tentu !" Ucap Raihan sambil memelukku erat,"Kamu dan Elang adalah keluargaku."


"Raihan Elang Akbar.. Adalah nama pemberian ibuku sebelum meninggalkan aku."