
Karena ponsel Kana yang berisik aku yang tidur jadi kebangun,tapi di dalam kamar hanya ada aku 'baru jam 4 pagi' ucapku dalam hati.
Kuambil ponsel Kana yang ternyata tidak terkunci, banyak sekali notifikasi dari teman-temannya melalui WhatsApp, Instagram, Twitter dan Facebook mengomentari postingannya rata-rata adalah penasaran dengan sosok wanita yang tangannya di upload Kana.
'Banyak juga pengikutnya rata-rata cewek semuanya' ucapku dalam hati sambil melihat-lihat komentar-komentar yang muncul, "Ada apa hmm ?" tanya Kana saat keluar dari kamar mandi.
"Maaf aku pegang ponselmu, habis bunyi Mulu" ucapku tak enak karena memegang barang pribadinya.
"Kamu istriku kamu berhak atas aku, baik itu diriku sendiri atau benda dan barang yang melekat pada tubuhku ataupun tidak " ucap Kana sudah duduk di depanku bertepatan dengan adzan subuh.
"Ayo sholat subuh berjamaah " ucap Kana sambil membantuku berdiri. "Selama aku di sampingmu aku adalah alat bantu jalan mu ingat itu" ucapnya sebelum meninggalkan aku di kamar mandi.
Ah kenapa sikap manis Kana terlihat aneh ya, apa karena aku terbiasa dengan Kana yang tengil dan suka membuatku kesal ya. Saat aku keluar dari kamar mandi pun mukena dan sajadah sudah tertata rapi "Ayo sin kita jamaah "ucap Kana menyadarkan ku.
Setelah selesai sholat subuh berjamaah Kana mengajakku sholat sunah pengantin dan tadarus Al-Qur'an setelahnya.
"Capek "ucap Kana saat melihatku duduk di lantai dan bersandar di tempat tidur."HM "jawabku sambil memejamkan mataku sedang Kana merapikan Al-Qur'an dan perlengkapan sholat kami. Ah durhaka sekali aku kataku dalam hati"Ehh"kaget ku saat ada yang memijat kakiku lembut.
"Kamu capek kan jadi nikmati saja, pijatan juga bagus untuk merangsang gerak kaki"ucapnya.
"Apa kamu akan menuntut punya anak secepatnya?"tanyaku secara spontanitas.
"Sebagai lelaki dewasa umurku juga sudah tidak muda, bohong kalau aku tidak mau punya anak yang menjadi penerusku kelak. Tapi aku mau menjalani hubungan pernikahan dengan niat ibadah karena Allah SWT bukan karena anak semata,anak adalah bonus jika Allah memberikan pada kita."
"Bener sekarang ngomong gitu tar nikah sudah 5 tahun belum punya anak ,ijin poligami " ketusku.
"Baiklah biar kamu percaya apa mau apa?"
"Kalau kamu berani selingkuh atau poligami semua harta benda yang kamu punya akan menjadi hakku,berani!" ucapku. "Berani tar aku akan bilang Arya biar membuatnya "ucapnya dengan terus memijat kakiku.
"Kamu suka memberikan pijatan pada orang juga apa,ko sepertinya sudah berpengalaman ?"
"Aku juga mengalami apa yang kamu alami mati rasa di kaki"ucapnya lirih nyaris tak terdengar,"Apa kita kecelakaan bersama ?"tanyaku.
"Abi melarangku untuk menceritakan tentang apa yang terjadi, karena itu bisa membuatmu sakit kepala. Biarkan ingatan mu kembali dengan sendirinya, kita jalani pernikahan kita dengan bahagia saling menjaga komunikasi dan juga saling terbuka agar rumah tangga kita selalu harmonis sampai tua dan tentunya harus kita lakukan bersama-sama."
"Aku tidak bisa berjanji tapi aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik"ucapku lirih. "Boleh aku tahu berusaha untuk menjadi istri yang baik itu seperti apa ?" tanyanya, membuatku mati kutu tak bisa menjawab pertanyaannya.
"Haha kita jalani dulu momen pacaran Halal kita"ucapnya sambil memelukku.
"Ayo kita jalan menikmati udara pagi yang masih sejuk di sini" ucap Kana menarikku berdiri dan memakaikan Khimar ku.
"Gak perlu diajari Om dia udah suhunya "celetuk Arya, membuat Kana melemparkan botol air mineral kosong kearahnya.
"Haha takut dia, belangnya ketahuan mertua"canda Arya. "Tida perlu malu itu dirimu yang dulu, yang paling penting sekarang sudah menyesalinya dan tidak mengulangi lagi. Semua dosa diampuni oleh Allah SWT selama hamba-Nya bertaubat, dengan bersungguh-sungguh untuk mengulangi lagi" ucap Abi yang baru datang dan menepuk bahu Kana membuat Kana sedikit canggung.
"Dira layani suamimu, bukankan dia minum!" ucap Jiddah. "Kamu mau minum apa?"tanyaku.
"Dira yang sopan memanggil nama suaminya,!" membuat Arya, Romi dan Om Hardi yang mendengar cekikikan.
"Mas mau minum apa?"tanyaku membuat Kana dan Romi menahan tawa. " Jangan di tertawakan panggilan yang terkesan sepele, tapi berat karena belu terbiasa "ucap Jiddah, bener juga sih ucapku dalam hati.
"Mungkin sepele hanya sebuah panggilan,tapi itu bisa memberikan pahala buat istri kita. Dengan memanggil yang sopan suami , membuat suami senang dan rasa senang itu bisa menjadi pahala buat seorang istri," ucapan Abi membuat Arya dan Romi berhenti tertawa.
"Kayanya kamu gak pernah di bikin seneng oleh istrimu?" canda Om Hardi. "Boro-boro bikin seneng,tiap bertemu bertengkar dan memanggilku juga semaunya sendiri "ucap Arya Santai.
"Yang sabar mungkin itu sudah takdir yang harus kamu jalani. Semoga jodohmu berikutnya bener-bener yang terbaik buatmu"ucap Abi yang di amin kan semua orang yang berada di ruangan itu.
"Terserah adik mau bikin apa saja pasti mas minum" ucap Kana. "Abi carikan jodoh untukku,aku pingin nikah dapat yang seperti ini"canda Arya.
"Taubat dulu, taubat nasuha sana mas biar dapat yang mirip mbak Dira"ucap Romi sambil terkekeh. "Hakikat taubat itu dari hati menyesali perbuatan maksiat yang sudah terjadi, lalu mengarahkan hati kepada Allah dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Menahan diri dari dosa dan Melakukan amal shalih dan meninggalkan larangan adalah bentuk perbuatan nyata dari taubat," ucap Jiddah.
Pagi itu kami tertawa bersama dan ngobrol bersama, tapi yang terjadi pada siang hari di luar dugaan kami semua. Setelah sholat Dzuhur disaat aku dan istri Om Hardi dibantu para santriwati menyiapkan makan siang, Jiddah di panggil menghadap Sang Khalik.
"Baru kemarin keakraban kami terjalin bahkan aku baru sekali tidur berdua dengan Jiddah, tapi sekarang Jiddah pergi meninggalkan aku"ucapku lirih dalam pelukan Kana, saat kami di pemakaman.
Nampak umi Anisa beserta suaminya dan kedua anaknya juga datang,tapi aku tidak melihat Farida.
" Sabar sayang ikhlaskan, biar jalan Jiddah lebih mudah dan terang "bisik Kana. Jiddah di makamkan hari itu juga tanpa menunggu saudara keluarga Jiddah dari Mesir, Abi tampak tegar dengan apa yang terjadi. Bahkan Rahayu dan Radi terlihat sangat terpukul, dari cerita om Hardi Jiddah kecewa dengan Anisa yang membohonginya,tapi dia tidak membenci Rida dan Rahayu bahkan tetap baik terhadap mereka.
"Kita terlalu bahagia dengan apa yang kita dapa kan, mungkin Allah SWT sedang menegur kita" ucapku lirih saat kami dalam perjalanan pulang.
"Ajal, adalah salah satu takdir yang sudah ditentukan oleh Allah SWT bahkan sebelum manusia tersebut dilahirkan. Hidup manusia ada batas akhirnya. Waktu hidupnya di dunia berakhir tanggal sekian karena apa itu hanya diketahui oleh Allah SWT" ucap Abi yang dudu di depa bersama Hafis.
"Sebelum hari pernikahanmu Jiddah berpesan jika dia berpulang semua harta yang dia punya akan diberikan kepadamu" ucap Abi padaku di depan semua orang.
"Kenapa aku tidak dapat aku juga cucunya"protes Rahayu. "Aku saksinya waktu bilang dan aku bertanya bukannya Cucu kandungmu ada Hafis juga,tapi dia menjawab. ' Ini peninggalanku khusus buat cucu perempuanku Hafiz leleki bisa mencari sendiri jika dewasa dan karena ia masih kecil dia bisa memintak kepada orang tuanya."ucap kakek Dadang, paman Abi
"Lagian wajar jika Dira yang dapat Dira itu cucu kandungnya, bukan kaya kamu hanya numpang nama Atmaja," ucap Om Hardi.
"Itu benar Ayu kita harusnya bersyukur sudah menyandang nama belakang Abi. Sekarang kita pulang jangan bikin malu dirimu sendiri " Ucap Radi sebelum berpamitan pergi dengan menarik Rahayu dan diikuti umi Anisa dan suaminya.