Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
33. Bertemu



"Maafkan Jiddah karena Jiddah tidak pernah peduli dengan Bundamu, maafkan Jiddah karena abai terhadapmu"ucapnya, seharusnya di panggil nenek kan kita tinggal di Indonesia,kataku dalam hati mendengar kata-katanya.


"Umi sudah Dira kasihan ga bisa nafas "ucap om Hardi.


"Maafin Jiddah "ucapnya sambil membelai pipiku. " Matamu persis mata Abi mu, alis mu, hidung mu semua mirip Jiddah "ucapnya lagi.


"Berarti waktu hamil Dira, bundanya lagi marah dan benci sama umi karena itu sangat mirip dengan umi dan Abi" ucap om Hardi, yang langsung dapat pukulan di bahunya dari Abi .


"Bener katamu , Jiddah paham yang dirasakan bunda Dira. Ada tapi tidak di anggap ada, selalu di nomer duakan padahal kedudukan mereka sama, sama-sama menantu, sama-sama istri Jiddah juga istri kedua, Jiddah tau sakit hati yang dirasakan bunda Dira tapi Jiddah hanya diam menutup mata seolah-olah tidak tahu menahu " ucapnya.


"Maaf Bu yai kami pulang duluan kalau begitu, ternyata yang dituduhkan ustazah Sekar salah " ucap salah satu diantara mereka.


"Kita pulang sama-sama,Dira ikut ke pesantren sama Jiddah ya?"ucapnya.


"Maaf saya harus balik ke Jakarta,saya tadinya kesini hanya untuk menemui pembeli rumah bunda"ucapku kaku dengan situasi ini.


"Mau jual rumah buat apa?" tanya Jiddah. "Buat biaya hidup,biaya penunjang pembelajaran, cucumu itu calon dokter spesialis jantung " ucap Om Hardi.


"Massa Allah,"jawab mereka secara bersamaan. "Kalau begitu Jiddah yang akan mencukupi semua kebutuhan hidup mu"ucap Jiddah.


"Om aku mau pulang "ucapku lirih sambil menarik baju Om Hardi persis anak kecil.


"Jiddah Dira harus kembali ke Jakarta" ucap Abi melihat ketidak nyamanan ku."Apa tidak bisa besok pagi saja"ucap Jiddah.Sebenarnys aku sudah tidak nyaman dalam situasi ini, bertemu dengan orang baru yang katanya keluargaku.


"Lain kali aja umi, Dira harus kembali " ucap Abi."Baiklah, kalau begitu ayo kita balik ke pesantren " ucap Jiddah sebelum pergi di ikuti rombongan orang-orang tadi,kecuali Sekar.


"Kamu janda yang dulu menjadi penyebab batalnya pertunangan Kana dan Rahayu kan "ucap Sekar.


"Ayo Abi antar ga usah di dengerkan omongannya "ucap Abi menarikku meninggalkan Sekar.


"Hai aku belum selesai bicara"teriak Sekar yang tidak di hiraukan Abi .


"Kamu bisa tiduran nanti Abi bangunkan jika sudah sampai tujuan"ucap Abi , setelah aku menyebutkan alamat ku kepada om Hardi yang sedang menyopir mobil.


"Gimana rasanya bisa lepas dari Sekar?"tanya om Hardi. "Seperti waktu aku menceraikan Anisa dulu"ucap Abi .


"Kenapa tidak kau ceraikan dari dulu, dari sejak kau tahu dia menggoda salah satu lelaki ?" ucap Om Hardi."Hafiz waktu itu masih terlalu kecil dan belum bisa terlepas dari uminya"ucap Abi.


"Mulailah berpikir mencari alasan yang bisa di cerna anak 9 tahun tentang perceraian orang tuanya"ucap om Hardi.


"Semoga nasib kedua anakku tidak seperti diriku selalu gagal dalam menjalani hubungan "ucap Abi , kedua anakku bukan 4 kenapa cuma 2 tanyaku pada diriku sendiri yang pura-pura tidur.


"Itu takdir yang harus kau jalani, lagian dengan menceraikan kedua istrimu itu adalah yang terbaik buat kalian. Mau nikah lagi tidak?"ucap om Hardi.


"Ga usah aneh-aneh deh, umurku sudah 50 lebih sudah bukan saatnya mikirin pasangan hidup, tetapi memikirkan Dira dan Hafiz "ucap Abi .


Lalu bagaimana dengan Rahayu dan Radi kenapa tidak dipikirkan,sibuk dengan pikiran ku sendiri aku tidak sadar kalau ketiduran dan di bangunkan saat sudah sampai di depan kosanku tepat tengah malam.


"Maaf aku tidak bisa meminta kalian istirahat di kosan ku "ucapku. "Abi sudah senang bisa tahu tempat tinggal mu, berhenti bekerja sampingan fokus kependidikan mu, mulai sekarang semua kebutuhanmu Abi yang akan tanggung,"ucap Abi .


"Kamu jangan kuatir meskipun kata orang sekolah kedokteran itu paling mahal, apalagi biaya pendidikan spesialis kamu tidak perlu kuatir Abi mu pasti akan mampu untuk mencukupi mu, jadi kamu tidak perlu kuatir lagi" ucap Om Hardi.


"Gimana jadinya ?" tanya Lilis berdiri di depan kamarnya , saat melihat ku sedang memakai sepatu.


"Ga jadi " Ucapku,"Ga jadi makan di tenda biru dong"ucapnya.


"Kalau cuma tenda biru bisalah" udah ya gw cabut mau mencari buku dulu soalnya" ucapku. Meskipun hari ini hari Sabtu aku tidak ada jadwal pembelajaran dan konsul tetapi aku dapat jatah jaga IGD siang nanti,jadi aku gunakan kesempatan kali ini untuk cuci mata sekalian mencari buku. Selama ini aku gunakan waktu santai ku buat bekerja,ini pertama kalinya sejak menjadi residen aku bisa menikmati hidup masuk ke dalam mall.


Ternyata mall sekarang lebih ramai atau aku yang selama ini terlalu sibuk dengan duniaku,ucapku dalam hati sambil berjalan melihat-lihat setelah mencari buku-buku penunjang pembelajaran ku.Tida ada niat untuk shopping atau beli sesuatu, tetapi saat melihat Sneakers yang terpajang di etalase entah kenapa ada rasa penasaran buatku untuk mendekat.


Bruuk Sial umpatku saat ada seseorang yang menubruk ku, aku yang salah atau orang yang menabrak ku aku juga tidak tahu,aku hanya mengumpat karena kaget.


"Maaf saya terlalu asik ngobrol dengan teman jadi tidak sengaja menabrak anda" ucap seseorang lelaki yang membantuku mengambil buku.


"Ayo lama banget sih,yang"ucap seorang wanita. "Tar yang aku gak sengaja nabrak mbak nya ni"ucap lelaki yang menabrak ku.


"Oh ,maaf kan suami saya ya mbak" ucap perempuan itu sambil mengapit lengan suaminya seolah menujukkan kepemilikannya.


Melihat sikap perempuan itu yang langsung menyambar bukuku yang di pegang suaminya terkesan melarang interaksi membuatku yakin ini perempuan tipe pencemburu.


"Tidak apa-apa "ucapku menerima buku dari perempuan itu."Berat sekali bukunya kuliah kedokteran ya,dek "ucap perempuan itu, membuatku tertawa dalam hati tadi manggil mbak sekarang dek.


"Iya ,permisi" ucapku siap berjalan untuk meninggalkannya, sebelum suara yang lama tidak terdengar menyapa indera pendengaran ku.


"Ada apa ko berhenti "ucap lelaki itu,"Mbak itu bukunya masih ada satu yang jatuh "ucap perempuan tadi menghentikan langkah kakiku yang baru satu langkah.


"Ar itu buku di bawah kakimu ambilin kasih mbaknya!" ucap perempuan tadi.


Sial kenapa harus bertemu dengannya sih gerutuku."Tebal sekali ni buku ga bosan mbak bacanya"ucapnya . Aku hanya menggeleng dan mengambil buku tanpa mengakat kepalaku."Tidak sopan dasar anak muda sekarang " ucap perempuan tadi.


"Tunggu, sepertinya aku kenal deh" ucapnya sambil menarik tanganku.


"Apa "bentak ku sambil melepaskan tanganku yang di pegangnya,membuat lelaki dan perempuan tadi bengong.


" Ya ampun 3 tahun tidak ketemu kenapa tetep galak aja sih"ucap Arya sambil melepaskan topikku.


"Balikin gak !"ucapku galak." Kalau aku tidak mau apa dong" tantangannya.


"Lo lihat ni tas ini isi sekitar 10 kg jika menghantam kepala lo gw yakin Lo langsung masuk UGD"ucapku kesel.


"Damar panggil Arkana kesini secepatnya jika tidak mau menyesal " ucap Arya membuatku spontan melotot kearahnya.


"Gila lo"ucapku dengan nada sedikit tinggi. "Kalau gw gila mau apa,? masalahnya di mana buat lo"ucap Arya dengan senyum jahilnya dengan memegang tanganku kencang.


"Ada apa memanggilku kesini "ucap suara Kana dari belakangku.


"Lihat gw tangkap pencurinya"ucap Arya dengan tertawa, kulihat Kana nampak kaget dan cewek di sampingnya melihat bingung kearah ku.


"Lepasin tanganku sakit tau"kesalku tapi Arya seolah tidak mendengarkan.


"Jangan salahkan jika lo..." ucapku terhenti saat Kana melepaskan tanganku dari cekalan Arya." Terima kasih" ucapku sambil berjalan meninggalkan mereka dengan meninggalkan topik ku yang masih di tangan Arya.