
Aku pergi menjemput anak-anak kerumah mama, dengan mempersiapkan segala kebohongan buat jaga-jaga kalau beliau bertanya. Jujur aku gak mau menyakiti atau membuat terluka hati orang tua kami.
Ternyata dugaan ku salah kedua orang tua Raihan, tidak bertanya apa-apa. Mungkin Raihan sudah menceritakan apa yang terjadi dengan keluarga kami. Hingga orang tua Raihan hanya berkata 'Maafkan anak mama dan papa' tanpa banyak berucap apa-apa lagi.
"Kalian tidak menginap dulu?"
"Maaf ma lain kali saja anak-anak besok harus sekolah."
"Hati-hati di jalan, jika mengantuk atau capek istirahat."
"Iya pa. Anak-anak Salim sama kakek dan nenek."
Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Raihan aku langsung kembali ke Sukoharjo. Sebenarnya badan ini capek perjalanan dari Sukoharjo - Surabaya tanpa sopir pengganti. Sekarang dari Surabaya langsung balik ke Sukuharjo setelah istirahat di rumah mama Raihan kurang lebih 1 jam.
Dengan kondisi badan yang sudah tidak merasa nyaman aku memaksakan badanku, untuk mengendarai tanpa istirahat.
"Satria bangunin adik-adiknya supaya pindah ke kamar ya, mama akan turunkan barang-barang kalian!"
"Wajah mama pucat,apa mama tidak apa-apa ?"
"Tidak apa-apa sayang mama hanya kecapean, setelah istirahat juga sudah mendidih."
"Kalau mama butuh sesuatu panggil aku saja." Aku hanya mengangguk dan langsung membereskan barang anak-anak, menaruh baju kotor e tempatnya dan baju bersih ke tempatnya. Setelah semu pekerjaanku selesai baru aku tidur.
Sudah pukul 2 pagi, masih ada waktu 2 jam lebi aku untuk tidur dan beristirahat.
Saat adzan subuh terdengar Satria si sulung bangun paling duluan, untuk membangunkan adik-adiknya.
"Mama endi mas,?" tanya Dila.(endi : mana)
"Mama sepertinya masih tidur, kita sholat dulu habis itu kita bangunkan mama. Kasihan mama sepertinya kurang sehat, semalam wajah mama pucat." Ucap Satria kepada adik-adiknya, setelah sholat subuh mereka berbagi tugas. Dila dan Satria mulai membereskan rumah, sedang Diva membangunkan Hana .
"Mama bangun sholat subuh."
"Sudah subuh ya?"
"Iya ma." Dengan menahan kepala yang terasa berputar Hana bangun dan melaksanakan sholat subuh. Setelah sholat subuh Hana berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi buat anak-anak.
"Maafkan mama, kepala mama pusing. Kalian sarapan susu hangat dan roti bakar saja, tidak apa-apa ?"
"Tidak apa-apa ma,"ucap ketiganya.
"Siapa yang menyapu dan mencuci piring kotor, sepertinya pekerjaan mama berkurang pagi ini?"
"Mas yang cuci piring,aku yang menyapu rumah dan membangunkan mama. Sedangkan mbak Dila menyapu halaman depan."
"Terima kasih anak-anak mama." Bukannya aku tidak kuat membayar ART ,tapi ucapan Rai dan suami Jelita yang merasakan ada kejanggalan membuatku waspada. Jika ditanya sudah tahu kemungkinan Raihan di jebak, kenapa masih tetap tidak memaafkan Raihan. Jawabnya karena aku melihat sendiri Raihan mencium wanita lain.
"Mama akan menghubungi papa kalian supaya mengantar jemput kalian. Atau kalian ingin berangkat sendiri ?"
"Diantar papa saja ma,"ucap Satria.
Setelah menghubungi Raihan,aku masuk kamar untuk beristirahat tanpa menunggu kedatangan Raihan.
POV. Raihan
"Kalian sudah menunggu lama ya?"
"Tidak pa kami baru keluar kok,"jawab Dila.
"Papa antar Si kembar sekolah, hari ini aku tidak sekolah !"
"Kenapa, tidak sekolah ?"
"Aku mau menjaga mama saja, wajah mama pucat seperti waktu pulang dari rumah Sakit dulu. Terus waktu aku Salim tadi aku merasakan tangan mama juga panas." Jelas Satria membuat Raihan dan si kembar mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil.
"Aku mau melihat mama,"ucap Dila langsung membuka pintu gerbang depan dengan sandi.
Begitu pintu gerbang si kembar langsung berlari ke dalam,"Papa masukan mobil dulu, habis itu kita lihat kondisi mama."
"Papa badan mama panas,"teriak si kembar bersama saat Raihan masuk ke dalam kamar Hana .
"Kita bawa mama ke rumah sakit sekarang!" Ucap Raihan setelah memegang kening Hana , dan saat berusaha membangunkan Hana tidak ada reaksi dari Hana .
"Istri anda mengalami dehidrasi , karena itu saya memberikan cairan infus untuk memulihkan kondisinya."
"Terima kasih dok."
Setelah dokter pergi Raihan menemui anak-anak yang sedang menunggu Hana .
"Anak-anak ayah harus ke kantor sebentar, kalian jaga baik-baik mama. Jangan kemana-mana Oke !"
"Oke papa,"jawab mereka kompak. Raihan bergegas kembali ke kantor untuk ijin tertulis, sebenarnya dia bisa ijin lewat telepon tapi Tantri baru menghubunginya. Tantri bilang dia ingin minta maaf dan membuat pengakuan kepada Raihan, ternyata dia tidak hamil. Raihan tentu sangat senang dia berharap pengakuan Tantri bisa membuat rumah tangganya kembali utuh.
Setelah dari Batalion Raihan langsung ke rumah Tantri,tok tok tok "Assalamualaikum Tantri!"
"Maaf mas mbak Tantri sejam yang lalu Pergi di jemput mobil,"ucap tetangga Tantri.
"Tapi dia menghubungi saya meminta saya kesini pak!"
"Tapi mbak Tantri pergi membawa tas dan koper pak!"
Tas dan koper pergi ke mana bukannya dia yatim piatu ? Astaghfirullah apa jangan-jangan ini .. Jebakan.
"Terima kasih pak,"ucapku bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil ke arah rumah sakit.
🎼☎️ My wife
"Hallo Assalamualaikum."
"Papa mama hilang bersama Diva."
"Apa!! Satria jangan nangis papa lagi di jalan kamu sekarang jaga Dila ya!"
Beruntungnya saat Satria menghubunginya dia sudah berada tidak jauh dari rumah sakit.
Nampak Dila menangis kencang dan Satria kualahan menenangkannya.
"Ini salah Dila papa,"ucap Dila sambil menangis.
"Sekarang Satria ceritakan apa yang terjadi sebenarnya ?" Tanya Raihan di hadapan dokter dan suster yang ad di ruangan itu.
"Aku haus dan lapar, jadi aku minta mas Satria untuk menemani ku membeli makan dan minum. Tapi saat aku kembali mama dan Diva sudah tidak ada !" Ucap Dila.
Dengan terpaksa aku menghubungi keluarga besar Hana,aku bisa mengandalkan koneksiku tapi berita wartawan pasti membuat situasi tambah runyam. Apalagi mengingat CCTV rumah sakit yang tiba-tiba rusak, membuatku yakin ini sudah di rencanakan.
Malam itu juga tidak hanya Keluarga besar Hana yang datang,tapi ayah Elang juga datang. Setelah anak-anak di bawa masuk ke dalam kamar, baru Raihan menceritakan semua yang terjadi di dalam rumah tangganya. Dan akibatnya di saat cerita belum selesai dia dihajar habis-habisan oleh Randi dan Radit. Sebagai seorang tentara baret merah, bukan hal yang sulit membalas mereka atau sekedar menangkis atau menghindari. Tapi karena dia merasa bersalah dia hanya pasrah di hajar habis-habisan, sampai mami menghentikannya baru cerita di lanjutkan oleh Raihan. Dari sana mulailah terungkap jenis kalau ini sudah di rencanakan dari lama.
"Sepertinya memang musuh mu kali ini berniat untuk menghancurkan keluargamu."
"Aku tahu Ran, tapi masalahnya siapa?"
"Apa mungkin Nadiva mengingat dia sudah bebas 6 bulan lalu,"ucap Radit.
"Bego kenapa aku gak mikir kesana, Jendra Boby kan anak aduh kakek Bayu dan sangat dekat dengan Nadiva." Ucapku sambil menarik rambutku.
"Mereka sangat dekat karena mereka ada hubungan asrama, bahkan saat di penjara kemarin Boby sempat menengok beberapa kali." Ucap ayah Elang yang dari tadi hanya diam.
"Kenapa ayah tidak bilang ?"
"Ayah tidak berpikir Nadiva akan balas dendam, mengingat kelakuannya di penjara selama sangat baik. Ayah pikir Nadiva sudah bener-bener sadar dan bertobat."
"Ini salahku karena terlalu menyepelekan mereka. Saat Radit memberikan informasi tentang remisi dan grasi yang di dapat Nadiva,Hana sudah mengingatkan aku. Tapi aku menyepelekan mereka dengan berkata itu masih lama,"ucap Raihan lirih.
"Percuma menyesal sekarang ,kita harus mulai mencari dari Boby. Kita tekan Boby supaya membantu kita, karena tidak ada petunjuk selain dari dia." Ucap Radit membuat kami semua berpikir keras untuk mencari solusi, sekaligus menutup berita ini dari wartawan. Karena Hana mempunyai saham pada perusahaan garmen Randi,dan juga saham Samudera grup atas nama anak-anak.