Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
37. suntik mati



"Mau apa sih Lo "ketus ku sambil membuka masker."Bener kan dugaan ku kalau itu kamu"ucapnya sambil tersenyum jahil.


Belum sempat aku menjawab perkataan Arya dari ruang perawatan keluar pak Ardi dan pak Cakra di ikuti istrinya masing-masing dan Kana membuat suasana menjadi hening dan canggung.


Terlihat jelas wajah mereka kaget kecuali Kana yang tersenyum tipis.


"Dokter kenal mereka" bisik suster Mika, yang kujawab dengan anggukan kepala.


"Kamu Dira astaga hampir 4 tahun ga bertemu sudah jadi dokter spesialis sekarang ya" ucap papa Kana menghampiri ku.


"Baik om ,belum resmi ko om" ucapku sambil menyambut uluran tangannya,di ikuti pak Ardi juga.


"Si Rio bilang kamu dokter yang kompeten,"ucap papa Kana.


"Kompeten apaan barusan bohong mau visit gak tahunya sudah selesai visit pasiennya "ucap Arya.


"Aduh ,ko aku dipukul di om"ucap Arya.


"Dokter itu gak hanya visit terus selesai kerjanya masih banyak kerjaannya "ucap papa Kana.


"Dira kalau masih sibuk silahkan melanjutkan pekerjaannya" ucap papa Arya .


"Baik om terimakasih saya permisi dulu" ucapku lansung meninggalkan mereka.


"Dokter kenal mereka semua ?"


"Hmmm "jawabku, tanpa menggubris ocehan Suter Mika.


"Pak Dhe Eko" ucapku saat melihat seseorang melintas di depanku dengan buru-buru.


"Mbak Mika saya ada perlu sebentar" ucapku langsung mengejar pakde Eko.


Nampak pakde Eko masuk ke ruang perawatan kelas I.


"Apa yang terjadi ?" tanya pakde Eko pada budhe yang duduk di samping ranjang pasien.


"Sudah seminggu demam turun naik lagi ,diare, sakit perut dan gak mau makan. Jika di paksa makan muntah makanya badannya lemas. Dokter menyarankan di rawat biar bisa di infus supaya tidak kekurangan cairan tubuh akibat dehidrasi ,karena tidak makan dan minum serta asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh"ucap Budhe.


"Sudah tahu sakit karena apa?" tanya Pakde. " Belum tadi dokter baru ambil sampel darahnya "ucap Budhe .


"Siapa anda ?" tanya seorang yang berdiri di belakangku, membuatku spontan menoleh kearahnya.


"Romi" ucapku pada lelaki yang berdiri di belakangku meski sudah 12 tahun aku yakin dia Romi putra sulung pakdhe.


"Kamu Romi kan" ucapku yang dijawab dengan anggukan kepala.


"Mbak Dira "ucapnya langsung memelukku.


"Ya ampun Mbak Dira tambah cantik aja"ucap setelah kami duduk di kursi yang ada di lorong rumah sakit.


"Kamu juga tambah ganteng ya persis pakde"ucapku sambil mengacak-acak rambutnya.


"Aku bukan anak kecil ya mbak " ucapnya yang ku sambut dengan tertawa.


"Romi ngobrol sama siapa kamu?"suara Pakde terdengar dari arah belakangku membuatku lansung kaku saat mendengar suaranya.


"Pakde"ucapku lirih."Anakku "ucap pakde sambil memelukku.


"Pa malu di lihat orang "ucap Romi mengingatkan kami, saat kami berpelukan sambil menangis.


"Bagaimana kabarmu setelah 12 tahun ini?" tanya Pakde setelah kami sama-sama duduk dan tenang.


"Allhamdullilah Dira baik, bagaimana dengan Pakde ?"tanyaku.


"Pasti Bundamu bangga melihat putrinya sukses "ucap Pakde. "Pakde maaf aku harus pergi sekarang nanti aku kalau sudah selesai tugas akan menemui pakdhe lagi"ucapku setelah menerima panggilan dari UGD, sebelum pergi tak lupa mencium punggung tangannya.


Setelah jam sholat isya aku berencana menemui Pakde tapi gagal total saat di mushola rumah sakit bertemu Triple A, Arya , Aryo dan Arkana biasanya aku melaksanakan sholat di ruangan, tetapi karena mau menemui Pakde jadi aku sholat di mushola rumah sakit.


"Kita harus bicara sekarang besok pagi aku sudah harus kembali bertugas"ucap Kana sambil memegang tanganku.


"Bicara apa?"tanyaku pura-pura tidak tahu maksudnya. "Tentang kita berdua"ucap Kana.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, aku sudah memaafkan kamu lanjutkan hidupmu anggap kita tidak saling mengenal "ucapku berusaha untuk melepaskan tanganku dari gegaman Kana.


"Kita harus bicara berdua" ucapnya. "Buat apa?"tanyaku.


"Aku ingin minta maaf "ucapnya. "Aku sudah memaafkan tapi maaf seperti kataku dulu saat perayaan ulang tahunmu yang ke 29. Apa perlu aku ingatkan ' Aku berharap ini pertemuan terakhir kita. Aku tidak mau lagi berurusan denganmu' ingatkan sekarang " ucapku.


"Tapi aku belum pernah minta maaf kepada mu secara langsung " ucapnya.


"Ok, anggap Lo baru minta maaf secara langsung dan aku sudah memaafkan mu bereskan. Jadi mari mulai sekarang kita bersikap seperti orang asing, seperti dulu waktu kita belum kenal "ucapku.


"Ok kita mulai dari awal, perkenalkan aku Arkana Bayu Wiraguna" ucapnya sambil menyodorkan tangan untuk berjabat tangan denganku.


"Apa-apaan sih ?" ketus ku." Kamu bilang 'bersikap seperti orang asing, seperti dulu waktu kita belum kenal'. Ya udah berati kita perlu kenalan lagi dari awal "ucapnya membuatku melongo mendengarnya dan Arya serta Aryo tertawa ngakak.


"Udahlah lama-lama disini aku bisa gila "ucapku sambil berdiri.


"Sekarang kita orang asing dipertemuan berikutnya kita akan memulai awal baru tentunya sebagai orang baru"ucap Kana sambil memegang tanganku.


"Terserah Lo,tapi gw akan selalu berdoa semoga kita tidak pernah bertemu lagi "ucapku sambil melepaskan tanganku dari gegamannya.


Sebelum menemui Pakde aku sempet kan membeli beberapa cemilan dan kopi di Starbucks, saat aku mengintip aku melihat ada 1 wanita dan satu lelaki yang tidak ku kenal membuatku ragu untuk masuk ke dalam ruangan.


"Masuk aja ga usah ngintip kebiasaan,"ucap Romi yang duduk di ranjang pasien yang kosong.


"Hehe maaf bukan ngintip ya kan ada tamu takut gagu aja"ucapku kulihat Budhe melihatku sepertinya tidak mengenali ku.


"Teman papa ?" tanya pasien."Rara kenalkan ini Kak Dira yang sering papa ceritakan,Dira ini Rara putriku yang paling cantik "ucap Pakde.


"Iyalah putri papa cuma aku,cantik kan mbak Dira,hidung mancung"ucap Rara.


Aku hanya tersenyum menanggapinya.


"Aku cuma beli 4 kopi barang kali ada yang suka kopi "ucapku meletakan minuman dan cemilan yang aku beli.


"Cafe Latte kesukaan papa ini, kalau begitu ini buat papa aku Cappuccino aja "ucap Romi sambil mengambil kopi yang ku bawa.


"Mama gak di ambilkan sekalian?" ucap Budhe,"Maaf ma Dira beli cuma 4 tar om Rudi sama Serly gimana "ucap Romi membuatku bingung dengan percakapan ini.


"Buat mereka aja kamu ga usah,tar kita beli di bawah berdua sekalian ngopi" ucapku.


"Dira sekarang sudah sukses kayanya,ni " ucap Budhe. "Belum Budhe aku masih pendidikan,jadi kerja juga belum dapat gaji"ucapku.


"Mbak Dira aja yang belum punya gaji tau kalau menjenguk orang itu bawa buah tangan, bukan tangan kosong "ucap Romi."Romi gak boleh gitu nak mereka kan saudara kit"ucap Budhe.


"Sudah-sudah malu di lihat Dira"ucap Pakde .


"Ya udah mbak traktir aku kopi di bawah yuk"ucap Romi menarikku keluar dari ruang rawat Rara.


Membuatku bingung dengan suasana yang terjadi ,sepertinya ada yang aneh dengan keluarga Pakde, tetapi aku juga tidak enak untuk bertanya pada Romi.


"Wah ketemu lagi, sebagai orang asing boleh dong kenalan "ucap Arya saat kami bertemu di dalam lift. "Kalau Lo gak mau ngerasain suntik mati lebih baik mulutmu diam deh"ucapku. "Tu lihat tanpa lo suntik mati sepupu gw sudah Lo bikin mati, setelah Lo curi kehidupannya" ucap Arya sambil cekikikan.