
Setelah 3 hari kami bekerjasama dengan pak Pramono. Ternyata bagian pengadaan barang dan 2 engineering melakukan kecurangan. Kami juga membantu pemrograman data menggunakan keamanan yang hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk. Dan memperbaiki infrastruktur keamanan atau telekomunikasi.
"Terima kasih atas bantuannya. Karena kalian perbuatan para orang yang tidak bertanggungjawab itu dapat terbongkar. Ini hanya ucap terima kasih dari pihak hotel atas bantuannya ,dan ini dari saya pribadi karena telah membantu mempermudah kinerja saya."
"Saya juga terima kasih atas kepercayaannya pak," ucap Wisnu sambil mengambil 2 amplop yang di sodorkan.
"Han gw buka ya ,?"tanya Wisnu. Setelah kami berada di dalam mobil ku
"Buka aja mas !"
"Aku buka satunya boleh,?"tanya Beny yang langsung aku anggukin.
"Cek 20 juta," ucap Beny.
"Uang kas 6 juta," ucap Wisnu.
"Allhamdullilah."
"Lo pada diam , kenapa ?"
"Baginya gimana Han,?" tanya Wisnu.
"Ya udah uang cas buat aku. Untuk cek kalian bagi 2 aja."
"Bener Han Lo ga nyesel,?"tanya Wisnu untuk memastikannya.
"Enggak 6 juta itu buat jajan aku taruh saja di dashboard mobil. Bukannya mas Wisnu mau buat bayar wisuda?"
"Makasih ya Han. Beny kita ke Bank langsung kita cairkan saja gimana."
"Setuju."
Sambil menunggu Wisnu dan Beny aku menikmati es kelapa di pinggir jalan. "Aku tidak mau di jodohkan dengan abdi negara. Dari kecil hidup di kelilingi abdi negara membuatku hidup tidak bebas. Jadi kamu harus menolak ku di hadapan kakak dan orang tuaku." Sepertinya tidak asing suara itu, O Hany ternyata kataku dalam hati. Tunggu bukannya itu mas Raihan ?
"Kenapa tidak kamu saja yang menolak dan bilang sudah punya pacar !" Ucap Raihan dengan muka datar.
"Aku baru putus dengan pacarku anak kantoran. Kami putus tidak dalam kondisi baik-baik saja masih ada masalah, karena itu gw di jodohkan dengan Lo. Supaya Lo bisa jaga dan melindungi gw dari mantan gw."
"Tapi aku juga sudah putus dengan pacarku. Bahkan sebelum aku di kenalkan sama kamu, kapten Langga sudah menanyakan tentang status ku. Apa sudah terikat atau single dan aku menjawab single."
"Ahhh kacau. Gimana dong ."
"Kenapa bukan kapten Erlangga saja yang menikah duluuan ?"
"Abang gw belum move on dari pacarnya, padahal pacarnya sudah menikah dan punya anak."
"Ya udah Lo kenalkan saja dengan temanmu."
"Kemarin ada yang kerumah bukan teman akrabku. Tapi papa berniat menjodohkan Langga dengan perempuan ini yang kata papa cucu mantan menteri, kita lihat saja hasilnya."
Sial apa jangan-jangan gw. Tapi kenapa aku percaya diri kalau itu gw. Semoga aja bukan deh.
"Kita doakan saja semoga perempuan itu tidak menolak Langga," ucap Hany sebelum pergi. Setelah kepergian Hany aku mengirimkan pesan gambar Raihan yang lagi sendirian, kepada Raihan.
"Ko mas gak tahu kamu di sini?" Ucap Raihan sambil memutar badan menghadap kearah ku
"Mas aja yang terlalu serius dan fokus sama lawan bicaranya."
"Kamu melihatnya ?"
"Tidak hanya melihat tapi aku juga mendengarkan apa yang kalian bicarakan."
"Dia adik atasan mas. Papanya dan kakaknya atasan mas semua."
"Memang kalau mereka atasannya mas ,mas tidak berani menolak permintaan mereka ?"
"Bukan tidak berani menolak permintaan mereka,tapi sungkan saja."
"Kenapa harus sungkan. Asalkan mas tidak melanggar perintah dan aturan yang berlaku ini."
"Ini ni kamu itu terlalu cuek." Ucap Raihan hanya kujawab dengan dengusan.
"Kita tidak hidup untuk orang lain mas?"
"Tapi kita hidup bermasyarakat sebagai makhluk sosial."
"Sekarang itu banyak orang yang melihat kita hanya dari luar."
"Yang paling baru ku alami sendiri. Ingat waktu mas ketemu aku di asrama ?"
"Iya ingat kenapa memang ?"
"Aku bertemu dengan seorang wanita yang baru kedua ku temui. Waktu papanya bertanya tentang nama ku. Papanya langsung menjodohkan aku dengan putra bungsunya."
"Tunggu gimana ceritanya ?"
"Dia bertanya nama panjang aku siapa,ada hubungan antara si A,? Setelah aku jawab pertanyaan dengan silsilah keluargaku yang begitu deh,mas tahu apa yang di katakan nya?" Tanyaku yang di balas gelengan kepala oleh Raihan.
"Papanya langsung bilang ' mau tidak saya jodohkan dengan putra saya yang berpangkat bla-bla"
"Tunggu apa jangan-jangan nama putranya kapten ErLangga !"
"Kapten Langga!" Aku dan Raihan menyebut nama orang itu secara bersamaan.
"Jadi kamu kenal Hanny?"
"Iya itupun hanya 2 kali ketemu. Jakarta satu kali Bandung 1 kali."
"Pantas sikapmu waktu ketemu sama aku dengan kapten Erlangga tempo hari kurang ramah."
"Buat apa ramah,"ucapku yang malah di ketawain sama Raihan.
"Apa yang kurang dari kapten Erlangga ?"
"Aku tidak suka dengan siapapun itu yang selalu memandang aku. Karena latarbelakang keluarga aku!"
"Ga bisa kaya begitu juga. Apapun niat orang pada kita, kita harus baik kepadanya."
"Kalau orang itu niatnya baik aku ya baik ,kalau ada udang di balik batu ya maaf saja."
"Kok gitu?"
"Karena udang enaknya di balik rempeyek !" Ucapku bertepatan dengan Beny dan Wisnu yang menghampiriku.
"Seger," ucap mereka kompak setelah menyeruput es kelapa muda.
"Han karena kita masih ada waktu seminggu ajak kita wisata religi ya?"
"Ya udah habis dari sini kita balik ke apartemen terus lansung ke pondok pesantren,"ucapku menjawab mas Wisnu.
"Kalian wisata religi kemana boleh ikut ?"
"Mereka mau jadi santri untuk menghabiskan waktu liburan mereka. Yakin mau ikut ?"
"Pondok pesantren mana?"
"Di pondok pesantren XX , letaknya di pinggir kota Bandung."
"Memang kamu tidak kerja ?"
"Iya ya,"jawab Raihan sambil nyengir kuda menanggapi Wisnu.
"Terus Lo mau ikut jadi santri atau balik ke Jakarta. Ingat Han ada janji jalan sama aku," ucap Raihan membuat Wisnu dan Beny saling pandang.
"Kalian mau kencan."
"Tidak cuma keliling Bandung. Kencan atau sejenisnya itu dilarang oleh agama. Lebih baik pacaran setelah menikah."
"Berarti Lo gak pacaran dong Han?"
"Ga boleh, kalau cuma sebatas teman tidak masalah."
Kami berempat ngobrol sampai Raihan pamit balik ke batalyon,baru kamu juga kembali ke apartemen.
"Cantik dan terlihat anggun kalau Lo pakai hijab syar'i begini," ucap Wisnu saat Kami dalam perjalanan ke tempat kakek Abi.
Aku yang duduk di bangku belakang sendiri tidak menanggapinya. "Lo pakai masker ?"
"Iya biar kalau gw pas tidak pakai jilbab, orang-orang tidak akan komplain. Kok anak kyai diluar tidak pakai kerudung sih!" Ucapku membuat Wisnu dan Beny tertawa ngakak.
"Biasanya keturunan kyai itu agamis ini malah kaya preman. Selalu pakai baju kedodoran dan celana jeans sobek-sobek," ucap Wisnu yang langsung di benarkan oleh Benny.
Begitu aku sampai dan bertemu pengurus pondok, kami langsung menuju tempat berbeda. Aku menuju ke rumah orang tua mami dan mereka menuju asrama khusus santri tamu.