Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
138. RR. Kejutan



"Aku sudah ketemu Nadiva langsung dan menyerahkan uang yang dia berikan padamu."


"Terima kasih Om, sudah membantuku dan maaf telah merepotkan. Apa dia tidak menolak kedatangan Om, yang datang tanpa membuat janji?"


"Dia sempat menolak kedatangan Om. Tapi tentu kamu paham bagaimana sepak terjang Om, dalam membohongiku lawan om."


"Om bohong bagaimana ?" Tanyaku penasaran, Om Arya datang saat jam kerja bersama Radit.


"Om bilang ' Saya akan langsung bertemu bapak Bayu Samudra dan memberikan langsung pada beliau'. Padahal kenyataannya Om Arya tidak kenal Bayu Samudra." Ucap Radit yang disambut tawa kecil oleh Om Arya.


"Waktu muda aku pernah berurusan dengannya ,dia sedikit ada dendam dengan om mungkin."


"Dendam apa om,?" tanyaku.


"Saat itu om masih menjadi aktivis lingkungan hidup. Om menggerakkan masa untuk melakukan demo di salah satu anak cabang perusahaan Samudera grup."


"Demo menuntut apa Om,?" tanya Radit.


"Ganti rugi pencemaran lingkungan hidup akibat pembuangan limbah dari pabrik anak cabang perusahaan tersebut."


"Tuntutan om bagaimana terkabul tidak,?" tanyaku.


"Awalnya hanya di anggap angin karena kegigihan Om banyak orang yang tahu. Bayu Samudra gagal menekan Om, karena Om sembunyi di belakang papa dan Om Cakra yang saat itu menjadi Wakasad."


"Haha aku kira om berhasil karena usaha Om sendiri,"seru Radit.


"Papa kalian yang saat itu masih jadi polisi memperingatkan Om untuk hati-hati, dan memberi tahu sepak terjang Bayu Samudra!"


"Sekarang om ada rencana apa ?"


"Jika sampai 2 kali 24 jam Nadiva tidak meminta maaf ,maka papi mu yang akan membuat tuntutan terhadapnya!"


"Aku kok heran kenapa sekarang papi menjadi ikut-ikutan!"


"Ya karena saat kejadian ada Elang di dalam mobil," jawab om Arya.


" Rasanya tidak masuk di akal, kalau alasannya cuma itu?"


"Nggak usah kepo biar waktu yang akan menjawabnya," timpal ku.


"Ayo balik om ada janji dengan orang pada jam makan siang !" Om Arya memaksa Radit untuk pulang bersamanya. Karena jika dia bertahan di asrama, bisa di pastikan akan terus mengorek informasi.


Ternyata ancaman Om Arya tidak di pedulikan oleh Nadiva.


Hot news pagi hari.


Siang kemarin pengacara kondang Arkana Wiraguna melaporkan Nadiva Ayu Samudra ke metro jaya. Menurut keterangannya dia sudah meminta secara baik-baik, tapi pihak Nadiva tidak ada etika baik untuk minta maaf. Bukan masalah mobil yang rusak, tapi kondisi cucunya yang saat itu berada di dalam mobil. 'Minta maaflah jika bersalah bukan memberikan uang, tidak selamanya uang bisa menyelesaikan masalah kita'.


"Jadi papi sudah membuat laporan,?" tanya Raihan sambil mengajak main Elang.


"Iya soalnya tidak ada itikad baik Nadiva untuk minta maaf, maaf ya mas."


"Kenapa minta maaf, Nadiva bukan Rita."


"Memang kenapa kalau yang berbuat salah itu Rita?"


"Mas akan paksa Rita untuk minta maaf atas perbuatannya ! Kenapa papi yang menuntut bukan kamu?"


"Jika aku yang menuntut, maka wartawan akan menyoroti tentang keluarga kita. Itu tidak bagus buat karir mas , begitu kata papi."


"Jadi di sini kesannya kamu mengadu ke papi dan papi yang bergerak?"


"Haha ,Ya wajar aku kan anaknya!"


🎼✉️ Papi


Malam ini Nadiva beserta pengacaranya minta bertemu.


Kamu datang juga bersama Raihan dan Elang .


^^^Me^^^


^^^Oke pi^^^


"Mas lihat ini." Ucapku sambil menyodorkan ponsel ku. "Mas bisa menemaniku kan?"


"Bisa kita akan temui mereka."


"Mungkin Elang Samudra tidak akan datang."


Aku berjanji mas, akan mempertemukan mas dengan ayah kandung kamu secara langsung .


"Mas Gak balik kerja ?"


"Sebentar lagi, kenapa kamu mengusirku?"


"Siapa yang mengusir mu aku cuma mengingatkan mu aja, takut kamu lupa waktu aja."


"Haha kamu bener aku kadang suka lupa segalanya kalau sudah dekat jagoanku."


"Mentang-mentang sudah ada yang baru yang lama di lupakan !"


"Haha tidak begitu, bagaimana aku bisa melupakan yang lama. Jika yang lama telah memberikan aku, keluarga yang utuh. Tidak akan pernah ada Elang kalau tidak ada kamu."Ucap Raihan diahkiri dengan ******* singkat di bibirku.


"Mas ah! Di lihat Elang tu!"


"Elang asik dengan mainannya tidak akan lihat."


"Orang yang lewat di depan yang lihat,tu pintu rumah terbuka lebar !"


"Tidak masalah kita pasangan halal. Terima kasih sudah menjaga Elang dan memberikan nama Putraku sesuai keinginan ku!"


"Kenapa nama Elang di letakkan di tengah, seperti namamu?"


"Saat Tengah malam aku pernah mendengarkan obrolan mama dan papa. Dari sana aku tahu kalau ibuku yang memberikan nama Elang padaku, Yang sangat di tentang oleh papa saat itu. Ibu tidak berharap aku di akui sebagai keturunan Samudra, ibu hanya ingi mengingatkan bahwa dalam tubuhku mengalir darah ayah kandung ku!"


"Sepertinya ibu sangat mencintai ayah kandung mu?"


"Bukan sepertinya tapi sangat mencintai, buktinya dia masih mencintai ayah meskipun sudah di tinggalkan ayah!"


"Apa mungkin mereka masih sangat mencintai,tapi keadaan memaksa mereka untuk berpisah ?"


"Aku tidak tahu, selama ini aku selalu berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi?"


"Jadi kamu tidak pernah bertanya kepada papa dan mama?"


"Pernah! Aku pernah bertanya kepada mama, tapi mama malah menangis dan memintaku untuk tidak membahas itu di depan papa."


"Sejak hari itu kamu tidak pernah bertanya lagi?"


"Aku memang tidak pernah bertanya. Tapi aku selalu mencari informasi, sampai aku pernah berniat untuk kuliah sambil kerja ke Jakarta."


"Terus kenapa Kamu bisa jadi tentara?"


"Aku menemani teman ku. Awalnya hanya iseng-iseng tapi saat aku lolos dan papa mama bahagia mendengarnya, membuatku bertekad untuk menjalankan dengan sungguh-sungguh."


"Terus teman yang kamu temani sekarang dinas di mana ?"


"Haha terahkir yang aku tahu dia gagal masuk Akmil, tapi lolos masuk Akpol."


"Manusia berencana Allah SWT yang menentukannya !"


Saat malam tiba Raihan menemaniku bertemu dengan Nadiva, yang menurut rencananya akan datang ke rumah dengan pengacaranya.


"Sepertinya mereka sudah sampai mas." Ucapku sambil menunjuk pada 2 mobil asing yang terpakir di depan rumah.


"Sepertinya begitu ayok!" Raihan berjalan dengan merangkul pinggangku dan tangan satunya lagi, buat menggedong Elang.


"Saya rasa orang seperti anda tidak mempermasalahkan uang?"


"Mas suara siapa itu,?"tanyaku.


"Mas juga tidak tahu, lebih baik kita dengarkan obrolan mereka dulu di sini!"


"Saya memang tidak masalah, tapi cucu Anda yang menabrak tanpa meminta maaf itu sangat di sayang kan. Bahkan sepupu saya juga sudah mengatakan waktu mengembalikan uang, bahwa kami tidak butuh uangnya. Cukup ucap kan maaf dan bersikap lebih sopan lagi terhadap orang lain."


"Ini pasti hanya akal-akalan kalian ingin menjatuhkan nama baik keluarga kami. Pasti kalian tahu kalau tahun depan orang tua saya maju terjun ke dunia politik!" Ucap suara perempuan yang aku yakini, suara Nadiva.


"Haha tidak ada untungnya buat saya. Saya tidak terima dengan sikap anda yang langsung mengetuk pintu mobil, dan memberikan uang ganti rugi. Tanpa melihat kondisi anak dan cucu saya yang berada di dalam mobil. Pasti anda tidak tahu kalau ada bayi berumur 7 bulan di dalam mobil ?"


"Ayo kita sapa mereka," bisik Raihan.


"Assalamualaikum,"ucap kami bersamaan.


"Walaikumsalam..Perkenalkan mereka cucu,anak dan menantu saya,"ucap papi. Nampak Bayu Samudra dan Nadiva memandang Elang dan Raihan secara bergantian tanpa berkedip. Aku tak menyangka Nadiva tidak hanya datang ditemani pengacara, tetapi juga kakeknya.