
"Tumben anak perempuanku ingat jalan pulang,"ucap papi saat pulang kerja melihat ku sudah selonjoran di depan televisi di ruang keluarga.
"Ada maunya dia Pi,!" ucap mami keluar dari dapur sambil membawakan potongan buah.
"Lagian aku pulang juga dirumah jarang ada orang, papi dan mami juga sibuk sendiri."
"Kalau kalian masih kecil iya mami rela berhenti kerja demi jagain kalian. Sekarang kalian juga dengan dunia kalian masing-masing !"
Aku hanya nyengir mendengarnya. Papi berangkat pukul 8.30 pagi dan pulang pukul 7 malam,tapi jika ada sidang berangkat lebih pagi. Radit satu kantor sama papi dan Randi membantu Om Hardi mengurus garmen, jadi tinggal di Bandung sama kakek. Karena anak-anak Om Hardi tidak ada yang minat mengurus garmen, ketiga anaknya memilih jalur yang berbeda-beda. Anik pertama dari istri kedua memilih menjadi pengajar di pesantren. Anak kedua memilih menjadi dosen dan membantu di pesantren. Yang ketiga masih kuliah teknik pertanian. Karena itu mami menghabiskan waktu dengan bekerja meskipun tidak sesibuk papi.
"Ada apa ? Kakak mau apa?"
"Papi tidak mandi dulu sana, datang-datang langsung nemplok ke mami." Bukannya dengerin ucapku papi malah merebahkan kepalanya di paha mami.
"Kamu bilang saja ga rela melihat papi di manja sama mami."
"Aduh papi ingat sama umur ! Malu sama umur tingkah laku masih kaya anak ABG lagi kasmaran !"
"Kenapa papi mami masih muda , emang ada yang salah. Tidak ada kan!"
" Umur Pi, umur. Papi sudah 60 tahu!"
"Emang kenapa kalau 60 tahun. Selama papi dan mami belum di panggil kakek dan nenek,berati kami masih muda!"
"Sakkarepmu laah!" (Terserah deh)
"Kakak mau apa,?" tanya mami sambil mengusap-usap kepala papi. Aku berharap menikah dengan orang yang ku sayangi, seperti mami dan papi saling menyayangi meski umur tidak lagi muda.
"Minggu depan kakak akan ke Bandung mungkin agak lama. Bisa sebulan atau lebih, malahan."
"Tugas lapangan kak?"
"Iya mi ,cuma mengupgrade beberapa BTS dari yang 3G menjadi 4G. Dan pemasangan di beberapa instansi pemerintah."
"Ya udah tinggal bersama Randi saja. Kalau tidak mau di pondok di apartemen Randi saja!"
"Rencananya kakak mau tinggal sendirian gitu !"
" Kalau sama Randi kakak ada yang mengingatkan. Kakak kalau sudah di depan komputer dan laptop suka lupa waktu !"
"Oke deh !"
"Berapa orang ,?" tanya mami. "Cuma 3 sama kakak."
"Kalau tidak tinggal di rumah Om Hardi saja. Bilang aja ke teman-teman kakak kalau kakak dapat kontrakkan nya disitu."
"Apa mau di pesantren sama kakek. Pasti kakek seneng,"ucap papi.
"Malu Pi masak cucu pemilik pesantren tidak menutup auratnya."
"Ya makanya di tutup lah," ucap mami.
"Hehe.."
Papi dan mami tidak memaksa aku , asalkan aku tahu tempat, misalkan saat tinggal di lingkungan pesantren harus menutupi auratnya. Berbeda dengan kakek yang suka nyindir aku , yang belum bisa menutup aurat ko.
"Aku bawa mobil Pajero sport ya pi?"
"Bawa aja! Itu kan memang mobil kakak."
"Punya anak cewek ko ga ada jiwa feminimnya sama sekali," ucap mami yang malah ku tinggal pergi.
"Mau kemana,?"tanya papi. " Kamar males lihat mami dan papi, mesra-mesraan ga ingat umur."
Papi dan mami malah tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Yang ke Bandung di bagi menjadi 2 Tim karena banyaknya tower BTS yang harus di upgrade."
"Aku ikut tim Hana aja,ya Ar kalau ikut tim Bimo gw takut ga bisa mengendalikan emosi." Sudah bukan rahasia umum Wisnu dan Bimo, tidak bisa akur gara-gara wanita bernama Cindy. Gadis cantik yang sumur denganku tapi baru gabung setahun lalu.
"Haha makanya mas buru-buru cari gebetan baru,biar Bimo tidak cemburu sama mas," ucapku.
"Sama kamu aja ya Han,kamu lebih cantik malahan."
"Kebutuhan skincare ku mahal Lo mas , makanya aku cantik. Berani kamu mas," candaku membuat Wisnu tertawa dan Ardi melongo mendengarnya.
"Sorry kami telat, tadi."
"Langsung mulai saja. Tidak ada waktu buat mendengar alasan mu,!"ucap Ardi dingin.
"Target kalian sebulan. Jika kalian selesai dalam waktu kurang sebulan,sisa waktunya bisa kalian gunakan untuk libur kalian. Tapi jika kalian gagal kurang dari sebulan kalian sendiri yang akan menumpuk pekerjaan."
"Oke kita paham, terus penanggung jawab siapa? Gw apa Hengki kan," ucap Bimo.
"Ada beberapa permintaan dari instansi pemerintah setempat. Untuk memastikan bahwa tower BTS masih berfungsi atau tidaknya. Selain proyek Kemeninfo ada proyek lepas. Tapi proyek ini akan saya berikan buat yang tugasnya selesai duluuan tanpa ada komplain."
"Tunggu maksudnya kita tidak akan kerja satu tim,?"tanya Bimo memotong ucapan Ardi.
"Iya kalian akan di bagi 2 tim,"ucap Ardi.
"Aku mau sama Henky dan Cindy,"ucap Bimo.
"Berati sisanya,Wisnu, Rihanna dan Beni."
"Siap!!" Jawab kami semua. "Masalah penanggung jawab kalian pilih sendiri. Uang transportasi dan yang lainnya bisa hubungi keuangan. Sekarang kita bahas pembagian wilayah kerja!"
Sejak aku mengetahui siapa yang akan dikirim ke Bandung,aku sudah menduga ini aka terjadi. Mengingat Bimo selalu memandang rendah padaku yang menjadi orang kepercayaan Ardi.
"Oke rapat saya tutup sampai di sini!"
"Penanggung jawab tim kita siapa mas?"
"Rihanna,"jawab Wisnu, Beny hanya mengangguk.
"Ko bukan Lo aja ,kan Lo lebi senior ?"
"Tim Lo penanggung jawabnya kenapa meski Lo bukan Hengki yang senior ?"
"Paling tidak aku lebih baik dari pada Hana ."
"Bukan lebih baik, tapi lebih lama."
"Ayo mas?" Aku menarik Wisnu menjauh, jika tidak di pisahkan bisa sampai jam pulang kantor mereka.
"Siapa yang mau pegang uang transportasi dan kebutuhan yang lain?"
"Lo aja gw gak bisa memegang duit banyak, Han."
"Beny mau pegang barang kali ?"
"Gak Han,aku belum pengalaman."
"Ada rekomendasi tempat tinggal selama di Bandung?" Keduanya menggeleng, yang aku tahu Beny asli Malang dan Wisnu asli Bali.
"Ok. Gw pilihkan jangan komplain. Transportasi ada rekomendasi gak? Oke gw yang pilihkan."
"Hal sepele kaya gitu aja di musyawarahkan. Ketahuan banget kalau kalian itu orang-orang miskin," ucap Bimo yang duduk di tepian meja kerja Cindy.
"Mas Wisnu !!" Ucapku saat melihat Wisnu hendak bersuara.
"Oke Beny kamu kamu urus peralatan yang akan dibawa dan mas Wisnu mengurus administrasi kelengkapan seperti surat jalan!"
"Mas Bimo kalau tidak bisa menghargai orang lain , tolong mulutnya di jaga jangan memancing emosi orang lain."
"Aku hanya berkata apa adanya. Wisnu saja yang masih sensitif terhadap aku," ucapnya tanpa rasa bersalah. Aku heran ternyata ada juga lelaki yang bermulut nyinyir seperti Bimo.
"Ini surat jalan, surat tugas dan perlengkapan sudah siap angkut."
"Mas bisa bawa masuk ke mobil aja?" Kataku sambil menyerahkan kunci mobil kepada Wisnu.
"Mobil siapa yang Lo pakai punya Ardi ya?"Selama ini banyak yang tahu aku pengguna ojek motor.
"Kenapa harus pakai mobil mas Ardi ? Lagian kalau gw pake mobil mas Ardi, bagaimana dengan mas Ardi."
"Kita berangkat kapan Han,?" ucap Beny yang baru datang.
"Terserah kalian aku ngikut. Siapa yang punya SIM ?"
"Dasar orang miskin pasti gak punya SIM,?" ucap Bimo.
"Aku ada. Gak harus kaya hanya untuk punya SIM," ucap Wisnu.
" Aku juga ada."
"Berarti kita tidak perlu menyewa jasa sopir."