Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
53. Wanita bercadar



"Dira Abi mau bicara mengenai keluarga yang telah melamarmu jauh sebelum kecelakaan" ucap Abi.


"Kenapa dengan keluarga mereka,mau membatalkan lamarannya ya udah ga papa berarti bukan jodohku"ucapku.


"Orang tuanya meminta jawaban mengenai lamarannya yang dulu mau diterima atau tidak."


"Terserah Abi kalau Abi percaya dan yakin laki-laki itu baik untukku ya terima aja, usiaku sudah 31 tahun tapi aku belum ada bayangan calon ideal."


"Baiklah, Bismillahirrahmanirrahim Abi akan terima lamarannya. Apa Dira tidak ingin bertemu dengan calon suami Dira dan berkenalan langsung dengannya?" tanya Abi.


"Apa dia tahu aku yang hilang ingatan,"tanyaku. "Iya , keluarga mereka tahu kamu dan kenal kamu "ucap Abi.


"Boleh aku tahu dia secara garis besar saja ?"tanyaku.


"Dia sekarang bekerja sebagai pengacara di kantor advokat Milik keluarganya,dia juga pernah menjadi santri di pesantren ini selama 3 tahun,berumur 35 tahun"ucap Abi. "Kalau menurut Abi dia lelaki baik dan mau menerima kondisiku yang cacat dan lupa ingatan,aku terima."


"Ya udah Abi akan urus mau lamaran atau pertunangan dulu baru menikah, atau.."


"Terserah Abi gimana baiknya,mau langsung nikah juga tidak apa-apa asalkan tidak malu kalau resepsi aku masih pakai Kruk atau kursi Roda."


"Baik akan Abi sampaikan, Bismillahirrahmanirrahim semoga ini keputusan yang terbaik buat kamu" ucap Abi.


"Tapi bilang dia aku tidak mau berhenti kerja,ya bi"ucapku. "Iya nanti Abi sampaikan "ucap Abi sebelum meninggalkan aku di dalam kamar sendirian.


Sesuai keputusanku aku yang buat akan menerima keputusan Abi dan hari ini orang tua lelaki yang berniat meminang ku datang, untuk menyerahkan seserahan yang akan dilakukan pada malam ini sebelum akad nikah sebulan lagi. Peningset menjadi sebuah simbol keseriusan dari pihak laki-laki untuk mempersunting sang perempuan.


Seserahan biasanya juga berisi kain dan sepatu yang akan di pakai saat acara pernikahan berlangsung. Mengingat momen masih sebulan lagi jadi aku masih bisa merombak jika tidak sesuai dengan badanku.


"Sepertinya calon suamimu tahu seleramu"ucap Aisyah istri Om Hardi."Emang kenapa mbak?" tanyaku , Harusnya aku memanggil Aisyah Tante tapi karena yang bersangkutan menolak keras padahal dari segi usia juga tua aku.


Tas dan Sepatu semua branded aku tidak tahu siapa calon suamiku,tapi semua pemberiannya Setelah aku browsing harganya bikin geleng-geleng kepala.


"Sayang calon mertua mu ingin menemui mu ,boleh masuk ?" ucap Jiddah dari luar. "Boleh aku buka kan ?"tanya Aisyah, aku hanya mengagukkan kepalaku.


"Anda "kaget ku, saat seorang wanita yang tidak asing buatku masuk ke dalam kamarku. "Iya ,ini tante boleh Tante duduk dan bicara ?"tanyanya.


"Silahkan. Ada apa ,bukannya anda tidak suka saya. Apa benar anda yang melamar saya, untuk siapa?"tanyaku, setelah di mbak Aisyah pergi keluar dari kamarku.


"Iya ,Tante melamar mu buat putra tante Arkana".


"Bukanya anda tidak suka saya,apa anda amnesia juga?"tanyaku yang disambut tawa kecil olehnya.


"Kalau boleh tahu siapa wanita pilihan Tante,?" tanyaku. "Suatu saat jika kamu bisa mengingat,kamu akan tahu. Terima kasih telah menyadarkan tante untuk tidak pernah menilai sesuatu hal hanya dari luar saja. Terima kasih mau menerima putra tante yang sudah menyakiti hati dan fisikmu ,baik disadari maupun tidak "ucapnya yang terasa aneh untuk dicerna,tapi aku enggan untuk bertanya lebih lanjut.³


"Semoga kalia menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah,selalu di limpahkan kebahagiaan di jauhkan dari hal-hal yang tidak baik. Maafkan tante yang terlambat menyadarinya" ucapnya sambil meneteskan air mata, sungguh suatu hal yang aneh wanita yang dulu sangat membenciku sekarang bisa dengan mudah meneteskan air matanya di hadapan ku.


"Amin,iya Tante makasih doanya"ucapku terbata-bata.


Setelah kepergian mama Kana ,aku berusaha mengingat apa yang sebenarnya telah ku lupakan hingga sikapnya mama Kana berubah 100 derajat padaku. Tapi yang terjadi malah sakit kepala, yang hebat yang kurasakan. Setelah mendapatkan ijin dari Abi ahkirnya disinilah aku berada di depan kantor, yang dulu aku pernah menjadi resepsionis.


"Assalamualaikum, permisi bisa bertemu dengan bapak Arkana atau Bapak Arya ?"tanyaku pada resepsionis yang sedang memperhatikan penampilanku. Mungkin dia kira aku ******* kali ya dengan menggunakan Gamis, cadar, dan khimar warna navy aku padukan sneakers dan tas ransel yang dipakai anak kuliahan,dan yang tidak bisa ketinggalan Kruk alat bantu jalanku.


"Sudah buat janji belum,kalau belum buat janji harus buat janji dulu. Mbak lagi nyari pengacara ya, kasusnya apa mbak ?" cara pengucapannya terkesan kurang ramah dan sopan serta cara melihat fisik orang terkesan merendahkan. Ingin aku telpon Arya, Kana,mas Nando atau mbak Ika rasanya tapi dalam ponsel baruku tidak ada no semuanya.


"Jadi harus buat janji dulu ya baru bisa ketemu,?"tanyaku."Iya , biasanya seminggu baru bisa ketemu , maklum meskipun pengacara baru pak Arka belum pernah terkalahkan dan pak Arya sepak terjangnya dari dulu sudah tidak di ragukan " ucapnya bertepatan seseorang yang baru masuk dengan seorang wanita.


"Mas Nando "teriakku hingga saat dia yang mau masuk ke lift berhenti dan melihat ku yang berjalan kearahnya dengan di bantu Kruk.


"Siapa,ya? Ya ampun bikin pangling hijabnya,ayo masuk kita ngobrol di ruangan aku"ucap mas Nando.


"Iya pangling sekarang jalanku kan pakai alat bantu"ucapku sambil terkekeh. "Bukan hijabnya bikin tambah anggun, jadi persis seperti orang Arab, kalau kamu gak buka cadar aku gak bakal tahu itu kamu"ucapnya sambil tertawa."Aku orang Indonesia bukan orang Arab mas" ketusku yang disambut tawa olehnya. "Rin tar kamu foto kami saat masuk ruangan ku berdua, terus kirim ke istriku ya!"ucap mas Nando. "Eh aku gak mau bikin istrimu cemburu ya mas "kesalku. "Tar Lo akan tahu istriku siapa "ucapnya dengan senyum jahilnya.


Bener 10 menit aku duduk di ruangnganya BRAKKK, suara pintu dibuka kasar nampak perempuan hamil berjalan masuk dengan muka menahan emosi.


"Aku kan sering bilang kalau Klien perempuan itu jangan di bawa masuk ke dalam ruangan mu"kesalnya,membuat Nando ketawa, tidak lama nampak Arya dan Arkana berjalan di belakang wanita itu.


"Kamu itu istri lagi hamil juga,tahu tidak kami itu lagi meting eh istrimu bingung mau kabur , untung dah selesai "ucap Arya,beda dengan Kana yang terus menatap tajam kearah ku sepertinya dia menyadari kedatangan ku.


"Mau apa datang kesini?"tanya Kana sambil berjalan ke arah ku. "Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu" ucapku. "Kenapa tidak menemuiku langsung ?"


"Aku tanya ke resepsionis katanya, kalau mau ketemu kamu harus buat janji dulu seminggu sebelumnya. Kebetulan mas Nando lewat ya udah aku ikut dia"ucapku.


"Siapa sih dia ?" tanya Mbak Ika,"Dia adikku tapi bukan adik kandung sih" ucap Mas Nando.


"Ya ampun memang ya kalau hati yang berbicara susah, tanpa kamu buka cadar Kana sudah tahu kamu ?" ucap Arya.


"Ayo kita keruangku" ucap Kana sambil menyerahkan kruk ku. " Aku baru istirahat 10 menit kakiku masih pegal "jawabku.


"Tunggu kalian diam,kamu Adira temannya Nadira? Yang dulu pernah jadi resepsionis disini? Yang katanya dokter itu?"tanya, setiap pertanyaan aku jawab dengan anggukan, membuat dia langsung memelukku."Ya ampun kamu cantik dan anggun persis orang Arab cuma kurang tinggi kalau berdiri dengan wanita Arab "candanya setelah membuka cadarku. "Tutup lagi cadarnya, kecantikan istri hanya boleh buat suami "ucap Kana.


"Cadar itu tida wajib, lagian Lo itu masih calon suami lagian menyenangkan orang itu juga pahala " ucap Arya.