
Kami tiba di depan gerbang asrama taruna Akademi angkatan udara,tepat adzan isya. Nampak Satria dengan rambut gondrong di ikat, duduk berteduh di pos penjagaan.
"Gak bisa kan?" Tanya Raihan setelah Satria bergabung dengan kami.
"Mau ngintip ke dalam saja tidak bisa , gimana mau masuk ."
"Haha begitulah tinggal di asrama kedisplinan sangat di junjung tinggi. Kita tidak akan bisa masuk, kalau bukan jadwal untuk berkunjung."
"Sebaiknya kita cari tempat buat sholat isya dulu,!" ucapku. Kami melaksanakan sholat isya di mushola terdekat, setelah selesai sholat Raihan menghubungin seseorang dan mengajak kami kembali ke asrama.
"Terus bagaimana dong. Buat apa juga papa di sini jika tidak bisa masuk." Ucap Satria saat mobil kami berjalan mendekati pintu gerbang asrama.
"Akan papa tunjukkan kekuatan 2 bintang yang papa miliki. Tapi jangan nempel terus sama mamamu." Ucap Raihan sambil memindahkan , kepala Satria dari bahuku.
Setelah pintu dibuka kami turun dan di terima di dalam,"Ada apa ini malam-malam begini seorang jenderal bintang 2 mengunjungi asrama kami."
"Santai saja jangan terlalu formal, kita pernah beberapa kali dalam misi yang samakan dulu. Aku mau minta tolong kepada mu?"
"Minta tolong apa ini, jika aku bisa bantu dengan senang hati akan ku bantu."
"Anakku ada perlu dengan seorang muridmu bernama, siapa nama lengkap Affan ?"
"Affandi Ramadhan Darwis , taruna tahun ke 3."
"Memang ada apa, apa muridku berbuat salah ?"
"Tida, aku hanya mau minta sedikit informasi darinya."
"Oke kamu tunggu dulu!" Setelah 10 menit menunggu datang Affan bersama teman Raihan.
"Apa aku perlu pergi ?"
"Tidak perlu,aku tidak mau kamu salah paham." Canda Raihan yang disambut tawa olehnya.
"Ijin lapor menjawab, apa ada yang bisa saya bantu."
"Affan santai saja anggap Om seperti dulu. Kami ingin bertanya denganmu tentang perempuan yang wajahnya mirip Dila, yang kamu lihat ?"
"Ijin menjawab, saya sedang melaksanakan tugas sebagai dokumentasi. Tidak sengaja menabrak dia yang juga sedang mengambil gambar, waktu saya tanya buat apa katanya buat majalah kampus. Waktu saya panggil Dila dia hanya diam, waktu saya tanya namanya dia bilang namanya bukan Dila."
"Kamu tahu kampus mana,?"tanya Satria.
"Aku tidak yakin karena dia tidak menggunakan almamater kampus, tapi kalau tidak UGM ya universitas sebelas Maret."
"Kenapa kamu bisa mengambil kesimpulan demikian,?" tanya Satria.
"Aku melihat stiker yang ada di kameranya. Maaf hanya sampai situ yang ku ketahui."
"Terima kasih, ucap Satria. Aku hanya bisa meremas tangan Raihan yang duduk di sampingku. Meskipun belum ada kabar yang memuaskan paling tidak putriku masih hidup.
"Apa dia sehat? Dia kurus ata gemuk, apa dia ada tanda-tanda tidak dalam kondisi baik?" Tanyaku membuat Affan dan teman Raihan melihat kearah ku, yang dari tadi hanya diam.
"Maaf apa ada sesuatu dengan Dila,?" tanya Affan.
"Begini yang kamu lihat bukan Dila, itu saudara kembar Dila. Namanya Adiva, 10 tahun yang lalu kami kehilangan dia." Jelas Satria kepada Affan, yang mengagukkan kepalanya mulai paham.
"Tapi saya dengar temannya memanggil dia bukan Diva, samar-samar kalau saya tidak salah ada yang memanggil Reva atau Lina."
"Terima kasih, sekarang kembalilah!"
"Siap laksanakan."
"Kembalilah," ucap teman Raihan setelah Affan memberikan salam hormat.
"Terima kasih, bantuan mu hari ini memberikan titik terang buat pencarian kami selama 10 tahun, yang mengalami jalan buntu."
"Sama-sama aku senang membantumu. Aku dulu pernah mendengar tentang hilangnya Putri kalian, ternyata berita itu benar. Aku doakan putri kalian segera kembali ke sisi kalian lagi !"
"Iya, terima kasih. Kami pamit dulu, sekali lagi terimakasih."
Kami meninggalkan, karena Satria yang kelaparan kami memutuskan mencari tempat makan lesehan.
"Suasananya enak ma,ayo di makan masakannya juga enak kok."
"Mama sudah kenyang, kalian saja yang makan. Ika makan jangan malu !"
Setelah selesai makan kami berniat untuk pergi,tapi segerombolan pemuda-pemudi menghentikan langkah ku.
"Mas dia?"
Wajahnya bagai pinang di belah dua dengan Dila. Secara sekilas hanya potongan rambut yang membedakan mereka. Sejak Dila masuk Akpol Dila memotong rambutnya pendek seperti umumnya Taruni.
"Kita liat saja dulu ma." Ucap Raihan saat aku hendak mendekatinya.
"Tapi pa,"tolak ku.
"Lihat di sini ramai, belum lagi dia yang juga sedang bersama teman-temannya."
"Kata papa bener ma. Coba mama bayangkan jika mama tidak mengenal seseorang, tapi orang itu tiba-tiba datang dan mengaku sebagai saudara mama?"
Ahkirnya Kami hanya memperhatikan dari jauh sampai, mereka selesai makan. Saat aku meminta untuk mengikuti mereka, Raihan bilang sudah ada yang mengikutinya.
Ahkirnya aku dan Raihan kembali ke hotel, kecuali Satria dan Ika. Aku tidak bisa tidur, aku terus berdoa sampai tengah malam Ika dan Satria kembali.
"Apa yang kalian temukan ?" Tanyaku tidak sabar, saat Ika dan Satria baru masuk.
"Ma Sabar, biar Satria masuk dulu!"
"Sepertinya dia tidak mengingat kita, kami hanya berusaha berkenalan namanya Revalina ."
Aku tahu ada gelagat yang tidak beres dengan ucapan Satri, tapi aku tidak bisa memaksakan mereka untuk bercerita. Aku yakin mereka melakukannya pasti ada alasan tersendiri.
Dengan perasaan yang tidak puas paginya Raihan membawaku, kembali ke Semarang. Raihan bilang dia dan Satria akan berusaha lebih keras untuk menyakinkan Diva.
Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan. Setiap aku bertanya Raihan akan 'bilang putriku dalam keadaan sehat, pelan-pelan saja ya ma' membuatku semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Ingin aku mencarinya sendiri, tapi aku tidak tahu sedikit pun informasi tentang dia, dia tinggal di mana, namanya siapa? Hanya melalui doa aku memohon segera di pertemukan dengan putriku.
"Ma Minggu jadwal kunjungan Dila, Satria berencana membawa Diva. Papa mohon kendalikan diri mama, Papa juga sama seperti mama pingin segera berkumpul dengannya, tapi situasinya sangat berbeda. Jangan sampai Diva merasa tidak nyaman dan tidak mau bertemu kita lagi!"
"Kenapa bisa begitu sih pa?"
"Sabar ma, bagaimana pun kita orang baru dalam memori baru Diva."
"Maksudnya papa. Diva yang sekarang bernama Revalina, anak seorang dokter dari istri pertama."
"Jadi putri kita melupakan Kita ?"
"Papa tidak tahu, tapi dari Intel kenalan papa. Sepertinya Diva lupa ingatan, papa hari ini berencana menemui mama Diva."
"Mama ikut !"
"Janji kendalikan diri mama." Aku langsung mengagukkan kepalaku.
Hari itu juga kami pergi ke menemui orang yang membesarkan Diva.
Setelah mengucapkan salam dan tidak ada jawaban,kami memutuskan masuk pelan-pelan.
"Jangan menangis dan bersedih lagi, Niko mohon kakak jangan menangis." Ucap suara seseorang laki-laki.
"Aku tidak mau Reva tahu aku bukan, ibunya, aku tidak mau kehilangan Reva dia hidup mbak."
"Tapi mau sampai kapan mbak akan bertahan dengan pernikahan yang tidak sehat ini."
"Sampai putri mbak meninggalkan mbak."
"Mbak jangan begini."
"Mas gak baik menguping," bisikku.
"Assalamualaikum," ucap kami ahkirnya.
"Waalaikumsalam, masuk." Ucap seorang laki-laki muda mungkin umurnya baru 25 tahun.
"Kami ingi bertemu dengan mamanya Revalina,"ucap Rai.
"Silahkan duduk, ada apa dengan putri saya ?"
"Maaf.. Kedatangan kami ke sini."