Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
167. Waktu Yang Berlalu



" Ma Satria hari ini ada ekskul basket ,jadi akan pulang telat."


"Kalau Dila ada kegiatan apa hari ini?"


"Dila hari ini tidak ada kegiatan apa-apa ma, jadi pulang seperti jadwal."


"Ya udah nanti mama jemput pulang sekolah ?"


"Tidak usah ma aku bisa menunggu Satria main basket di perpustakaan."


"Yakin tidak apa-apa ? Nanti kamu ngeluh lama ,terus kabur pulang sendiri naik angkot ?" Sindir Satria dengan melirik adiknya yang sedang menikmati sarapannya.


"Lihat saja nanti, tapi mama tidak perlu menjemputku."


"Ya udah, jika minta jemput mama atau butuh mama segera hubungi mama,ok!"


Dila hanya tersenyum dan mengangguk kepada ku. Waktu berlalu begitu cepat 6 tahun telah berlalu, sejak kepergian Raihan. Jujur hati ini menolak percaya kalau Raihan telah pergi, aku berharap apa yang terjadi padaku dulu terjadi pada Raihan. Tapi semua hanya mimpi, buktinya Raihan tidak kembali setelah 6 tahun berlalu.


"Kami berangkat ke sekolah dulu ma,!"ucap Satria.


"Iya,hati-hati belajar yang rajin. Satria jangan ngebut bawa motornya !"


"Siap Kapten!" Ucap Satria sambil menyalakan mesin motornya.


Sudah 3 bulan sejak Satria kelas 11 bertepatan dengan umurnya yang ke 17 tahun. Satria minta kado ulang tahun di buatkan SIM, sejak itu sekolah bawa motor sendiri. Dan secara otomatis Dila sekolah berangkat bersama dengannya. Karena mereka sekolah berada dalam lingkungan yang sama, yang menyediakan SD, SMP dan SMA dalam satu area. Jadi aku tidak perlu mengantar jemput mereka lagi. Setahun setelah kepergian Raihan, saat Satria masuk SMP kami memutuskan pindah ke Bandung. Di Bandung aku bekerja di perusahaan garmen milik kakek yang di kelola Randi.


Tok tok tok "Boleh aku masuk ?"


"Masuk saja! Lagian sejak kapan sih Lo minta ijin segala, biasanya juga langsung nyelonong masuk?"


"Haha bisa saja kamu !"


"Ada apa ?" Tanpa menjawab Randi menyodorkan sebuah undangan kepadaku.


"Undangan perayaan ulang tahun pernikahan yang ke 40 tahun dari pak Lando."


"Kenapa kamu kasih ke aku ?"


"Kamu saja yang berangkat !"


"Kenapa harus aku bukan kamu saja."


"Orang tua Saras ulang tahun kami berencana berkunjung ke rumah orang tua Saras "


"Oke deh, tapi aku bawa Satria." Satria memiliki postur tubuh yang tinggi seperti Raihan, di usia yang ke 17 tahun tingginya sudah sama kaya aku, mungkin malahan lebih tinggi Satria.


"Gimana kalau ajak sekertarisku atau sendirian saja ?"


"Kenapa? Aku lebih nyaman pergi bersama Satria."


"Ya bukan begitu, kamu tidak ada niat buat mencari pasangan untuk menemani sisa hidupmu?"


"Sudah ada anak-anak yang menemaniku."


"Satria sudah 17 tahun sebentar lagi kuliah dan bekerja, begitu juga Dila kamu tidak akan ada yang menemani di hari tuamu?"


"Tidak masalah buatku,aku bisa menyibukkan diri dengan bekerja dan berjalan-jalan mencari Diva di waktu senggang ku."


"Mami dan papi selalu kepikiran dengan mu,"ucap Raihan sambil menghembuskan nafas kasar.


"Aku bisa menghabiskan hari tuaku dengan merawat mami dan papi,"ucapku sambil berjalan menghampiri Randi yang duduk di sofa tamu.


"Hmm susah kalau ngomong sama otak batuk kaya kamu !"


"Kamu tidak tahu rasanya di tinggal orang yang kita sayang untuk selamanya. Di tinggal mati tidak sama di tinggal pacar."


"Selalu saja kamu begitu,"dengus Randi . "Mas Rai juga tidak akan marah kalau kamu menikah lagi !"


"Aku yang tidak mau, kalau aku nikah lagi Raihan sama bidadari surga aku sama suami baru dong!"


"Yakin sekali bakalan masuk surga ? Kalau mas Rai ketahuan mati dalam Medan perang, yang katanya mati syahid la kamu?"


"Dasar adik durhaka Lo, sana gw mau balik udah jam pulang kantor."


"Ayo jalan keluar bareng !" Kami berjalan keluar ruangan, dan bertemu beberapa orang karyawan yang juga hendak pulang kerja.


PLAK "Itu mulut di jaga ya kalau ngomong, gw masih normal bisa bedain orang jelek dan ganteng. Gw juga masih punya nafsu,tapi sebagai seorang perempuan yang memiliki anak, gw lebih mengutamakan anak-anak gw dari ngurusin hal yang begituan."


"Hehe kirain, habis sudah kerja bareng 5 tahun lebih. Lo ga ada gelagat suka sama laki-laki. Sampai ada yang bilang apa kakak gw ga normal."


"Kampret juga kamu."


"Kamu dengar belum kalau pak Elang masuk rumah sakit ?"


"Enggak,kok Narita gak bilang kalau ayah masuk rumah sakit ?"


"Kemarin siang aku dengar dari Radit."


"Tapi semalam ayah Elang ngobrol di telpon dengan Dila ga ngomong apa-apa ?"


"Mungkin gak mau bikin kalian cucu-cucunya cemas, atau mungkin karena cuma penyakit lama yang kambuh."


"Ya meski begitu harusnya kami di kabari." Ucapku sambil mengambil ponsel dari dalam tasku.


"Lebih baik kamu ke Jakarta langsung menjenguk mereka, sekalian menjenguk mami dan papi."


"Kenapa gak sekalian bilang ' Untuk menghadiri undangan pak Lando ' hah!"


"Haha syukur kamu paham arah pembicaraanku,"ucap Randi sambil tertawa.


"Salam buat anak-anak,daa. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." Setelah kami berpisah di parkiran aku langsung melajukan mobil ku menuju swalayan yang menyediakan berbagai macam kebutuhan dapur termasuk sayuran dan buah-buahan.


Meskipun sibuk bekerja, isi kulkas ku tidak ada makanan instan. Aku lebi suka membeli ikan,ayam dan aku bumbui sendiri sebelum aku simpan.


"Mama habis belanja sayur ?" Tanya Dila yang melihatku membawa barang belanjaan.


"Iya, tolong bantu mama ya masih ada beberapa di bagasi !"


"Iya ma. Mama langsung mandi saja nanti aku yang membereskan !"


"Terima kasih sayang." Aku bergegas berjalan kearah kamar, nampak Satria yang lagi main game.


"Satria !"


"Iya ma, ada apa ?"


"Bantu adiknya mengeluarkan barang-barang belanjaan di bagasi mobil ya!"


"Iya ma!" Sebenarnya aku bisa mempekerjakan pembantu rumah tangga, tapi pernah hidup dengan Raihan yang memintaku selalu hidup sederhana. Membuatku mendidik anak-anak untuk selalu hidup dalam kesederhanaan.


"Wah terima kasih sudah bantu mama." Ucapku setelah melihat belanjaan ku tertata rapi sesuai tempatnya.


"Weekend ini kalian ada acara apa ?"


"Sementara belum ada acara apa-apa ma, memang kenapa ?" Tanya Satria, karena Dila putriku yang sekarang sedikit irit bicara. Dila juga jarang protes dan lebih menurut,bisa dikatakan sejak adik kembarnya hilang dan Raihan berpulang ,Dila tumbuh menjadi anak yang Introvert. Aku sempat ada niatan membawanya ke psikolog anak, tapi kata mami Dila belum sampai tahap separah itu. Dia hanya merasa bersalah, karena itu aku berusaha untuk tidak menujukkan kesedihanku di depan anak-anak.


"Jumat malam mama ada undangan,ke Jakarta. Jadi kalian temani Mama sekalian, kita mengunjungi mami dan papi serta kakek."


"Oke bisa ma, kita berangkat Jumat berarti ma?"


"Iya setelah kalian pulang sekolah baru kita berangkat."


"Ma !" Panggil Adila yang dari tadi hanya diam, "Boleh aku ikut ke acara undangan mama?"


"Tentu sayang dengan senang hati mama akan bawa kalian berdua." Dila selalu menolak jika diajak pergi , entah mengapa hari ini tiba-tiba Dila mau ikut.


"Tumben Lo mau ikut,biasanya lo mencari seribu alasan untuk menolak jika di ajak pergi ?" Tanya Satria heran dengan Adila.


"Siapa tahu di tempat baru dan banyak orang, ada yang mengenaliku bukan sebagai Adila." Ucap Dila membuat kami langsung melihat kearahnya.


"Ini bukan salah Dila atau siapapun , belajar ikhlas dengan memaafkan diri sendiri."


"Terima kasih mama dan yang lain tidak pernah menyalahkan aku."


"Ini takdir bukan salah Dila,"ucapku sambil memeluk Dila.