
"Padahal Aa cuma aku suruh melihat ponselnya, kenapa dia melantur kemana-mana ?" Ucapku lirih kepada Aziz. "Astaghfirullahal 'adziim. Hana kelamaan tinggal di negri orang sepertinya kamu perlu di rukiyah ya!"Dalam laptop Hana menunjukkan keterangan foto di ambil Shifa jam berapa,lalu Shifa kirim ke ponsel Ustazah Dila jam berapa. Ustazah Dila adalah teman sekamar Shifa,jadi Shifa menjadi tersangka yang kemungkinan memegang ponsel Ustazah Dila.
"Emang aku kemasukan setan apa,!" ketusku menjawab Aziz, membuat Raihan dan Langga tertawa kecil.
"Ekhm ekhm." Deheman kyai Husain membuatku diam. "Sekarang sangsi buat Hana yang keluyuran malam di area tempat tinggal santri."
"Ko gitu sih kek biasanya aku juga lewat sana tidak terjadi apa-apa. Lagian dia yang menarik lengan ku duluan juga,"gerutuku yang mungkin masih bisa di dengarkan mereka.
"Kakek menghukum kamu supaya mematuhi peraturan yang ada di pesantren. Mungkin tujuan mu cuma lewat jalan pintas, tapi masalahnya itu tempat asrama santri dan isinya lelaki semua. Kamu memilih mengajar di pesantren selama sebulan atau menjalani proses ta'aruf."
Aku yang mendengarnya langsung melotot tak percaya, "Kakek sama saja nyuruh aku menginjak ranjau. Gerak aku meledak gak gerak aku gak bisa diam. Apa tidak ada pilihan yang lain?"
"Tidak ada? Dan kau anak muda. Kamu saya larang masuk ke pesantren ini selama 3 tahun. Karena 3 tahun waktu penghuni melupakan kejadian ini. Kecuali kalau kamu menikah dengan penghuni pesantren atau pengajar disini."
"Kenapa hukumnya gak ditukar saja sih." Celetuk ku yang malah di hadiahi pukulan di bahuku oleh Om Hardi.
"Habis jelas tidak mungkin aku mengajar di pesantren,aku tidak punya basic pendidik dan kerja ku juga di Jakarta. Sengaja ingin menjebak ku supaya menikah sepertinya."
"Umurmu sudah 24 tahun waktunya menikah. Lagipula ta'aruf tidak harus menikah."
"Kenapa tidak yang lain saja sih AA Aziz mungkin, sudah 30 tahun ini. Ta'aruf kan tujuannya buat menikah."
" Ta'aruf itu melakukan perkenalan antara keluarga pria dan keluarga Wanita dengan tujuan menyatukan keduanya ke jenjang pernikahan. Jika selama proses ta'aruf tidak ada kecocokan bisa di batalkan. Lagian Aziz juga sudah ada calon pilihan, mungkin sebentar lagi juga dilamar. Kamu saja yang ketinggalan informasi ,"ucap Om Hardi.
"Kek, tidak mau menolongku gitu ?" Ucapku sambil menggoyangkan lengan kakek.
"Kakek ngikutin apa kata paman Husain saja."
"Gak usah ngadu ke orang tua mu, tidak akan mempan buat kakek." Ucap kakek Husain saat melihatku mengeluarkan ponsel.
"Kakek Kan tahu aku kerja dan tinggal di Jakarta.k Bagaimana aku bisa mengajar di sini , tidak mungkin aku berhenti bekerja hanya untuk mengejar di sini."
"Ekhm maaf Ning bisa bicara sebentar ?"
"Bicara apa,!" ketusku pada Raihan, karena kecerobohannya menambah tambah ruwet masalah.
"Saya minta ijin untuk bicara berdua sama Ning Hana , diluar apa boleh kyai?"
"Boleh 10 menit tapi tetep terlihat dari jangkauan mata kami," ucap Aziz.
"Baik kyai! Mari Ning !"
Aku mengikuti langkah kaki Raihan yang menepi berjarak sekitar 10 dari ruang kami tadi.
"Apa,!"ketus ku.
"Maaf untuk perbuatan tidak sengaja saya semalam,"ucap Raihan penuh penyesalan.
"Maaf anda tidak bisa mengembalikan keadaan. Mungkin di luar sana kita mau jalan bergandengan tangan,mau Ciuman orang juga bodoh amat. Tapi di sini kita ngobrol begini saja diatas jam 9 malam di tempat sepi kita sudah di hukum melanggar aturan," kesal ku.
"Karena itu saya ingin kita bisa bekerjasama ."
"Kerja sama apa? Boleh kalau aku di untungkan."
"Anda tidak mau menikah tapi di paksa ta'aruf. Saya juga masih mau belajar di sini, tapi saya tidak bisa belajar lagi di sini gara-gara semalam."
"Tunggu! Sekarang aku paham kemana arah pembicaraan Lo. Lo yang akan ta'aruf gw?"
"Yap betul. Itu jika kamu setuju.
"Oke tidak masalah asal jangan paksa aku menikah denganmu." Ucapku, kurasa itu menguntungkan buatku, karena jika aku ta'aruf dengan pilihan kakek Husain atau kakek bisa dipaksa menikah aku,kataku dalam hati.
"Ayo sekarang aku akan bilang pada mereka." Ucap Raihan sebelum meninggalkan aku duluan.
"Apa yang kalian rencanakan ?" Todong AA Aziz,saat Raihan sudah duduk kembali dan aku masih berjalan mendekat. "Saya hanya minta maaf atas akibat apa yang terjadi semalam."
"Gimana caranya ?"
"Saya yang akan mengajukan permohonan ta'aruf, kepada Ning Hana ."
"Siapa AA,?" tanyaku penasaran.
"Itu .."
"Bilang aja kamu," celetuk Om Hardi. Membuatku terbatuk-batuk mendengarnya, gila! umpat ku dalam hati.
"Baik saya tunggu kedatangan orang tua anda dalam seminggu ini." Ucap kakek tenang seperti tidak terpengaruh oleh ucapan Om Hardi.
"Tapi saya peringatkan dalam Islam dianjurkan untuk Waktu taaruf sebaiknya tidak terlalu lama dan berbelit-belit. Jika diperkirakan, proses taaruf paling cepat berlangsung selama 1 bulan dan paling lama 3 bulan. Setelah taaruf selesai, khitbah dapat segera dilaksanakan!" Ucap kakek Husain membuatku melotot dan juga Raihan.
"Tapi jika selama proses ta'aruf 3 bulan kami merasa tidak cocok. Boleh dong di batalkan," ucapku berusaha tenang.
"Tentu !"
"Berdoa saja batal ,biar Lo bisa grecep ,"bisik Om Hardi pada Aziz yang samar aku denger.
"Siap. Kami permisi Assalamualaikum."
Setelah semua pergi tinggal aku dan Om Hardi. "Om minta maaf atas kelakuan Shifa."
"Buat apa Om minta maaf atas kesalahannya?"
"Tapi negara dan semua orang tahunya dia anak Om."
"Om ga perlu sedih aku tahu ko. Lagian Shifa itu sudah dewasa sudah baligh, berakal dan sehat,jadi semua perbuatannya sudah tanggung jawabnya sendiri."
"Assalamualaikum, Abi ? Ada apa ini,?"ucap umi Asiyah yang baru masukkan dengan putranya Basil.
"Shifa baru memfitnah Hana , saat Aziz memberikan sangsi dia malah memutuskan berhenti mengajar."
"Bagus dari pada bikin malu , lebih baik keluar dari pesantren."
"Basil tidak boleh ngomong begitu nak dia juga kakak mu," tegur umi Aisyah pada Sabil.
"Tidak dia bukan kakakku ,"ucap Sabil acuh.
"Udah ga sah dipikirkan Shifa sudah dewasa. Sekarang masalahnya tentang omongan om'Berdoa saja batal ,biar Lo bisa grecep'. Apa maksudnya kalimat yang bisikan kepada AA Aziz tadi ?"
"Emang kamu tidak tahu Aziz suka mencuri pandangan ke kamu. Bahkan beberapa kali dia cari alasan kesini saat kamu ada disini, tapi selalu gagal."
"Gagal kenapa om?"
"Diakan alasan kesini hanya mencari kakekmu,tapi saat sudah sampai disini AA selalu membawanya kembali ke pondok."
"Hah yang benar, gila."
"Hus ga boleh ngomong kasar," tegur umi Aisyah.
"Hehe kelepasan."
"Emang Paman tidak suka dengan ustad Aziz,Bi?" Tanya Basil yang aku langsung anggukan.
"Bukan gak suka tapi lebih memberikan kenyamanan buat kamu. Kamu saja jarang menetap di pondok pesantren lama. Jika menikah sama Aziz kamu mau tinggal di pesantren. Tapi AA juga gak enak mau nolak jika sampai Aziz melamar mu."
"Mending teteh sama salah satu tentara yang datang ke pesantren tiap Minggu itu."
"Anak kecil ga usah ikut campur urusan orang tua,"ucap Om Hardi memukul bahu putranya.
"Apa sih yah,ustad Aziz orangnya suka cari muka pada wali santri yang kaya,aku gak suka."
"Hus ga boleh ngomong gitu," tegur umi Aisyah.
"Kenyataan Umi. Karena dia akan baik pada santri yang rajin ngasih oleh-oleh."
"Hus gak boleh ghibah,ayo kita makan siang saja." Kata Umi Aisyah menghentikan ucapan Basil dan mengajak kami makan siang.