
Sudah 2 bulan aku bekerja di SCBD, Pacific Century Place Tower Level 45, Senayan. Setelah menyelesaikan urusan pekerjaan di California selama 2 Minggu, aku langsung kembali ke tanah air.
"Aku dengar kontrak mu mau habis, makanya kamu setuju di pindah kesini ?"
"Ya begitulah," ucapku menjawab pertanyaan mas Alfin,juga seorang programmer seperti ku.
"Bukannya gaji di sana lebih besar dari pada disini ?"
"Iya,sih. Tapi di sana jauh dari saudara, apalagi kalau lagi kangen masakan Nusantara, repot."
"Tidak sayang, melepaskan karir mu di sama,?" tanya Wanda.
"Kalau terpaku pada karir,tar aku gak nikah-nikah dong mbak. Bisa di coret aku dari kartu keluarga aku."
"Bisa aja kamu, bukannya harusnya mereka bangga punya anak Sukses dengan karir cemerlang,?"tanya Arya.
"Kalau anak lelaki ya,beda anak perempuan. Perempuan di keluarga ku tidak di tuntut bekerja, tapi di tuntut menikah."
"Hah kok gitu,?" tanya mereka kompak.
"Makanya keluarga ku aneh,?" jawabku asal, tanpa kusadari seseorang mendengar obrolan ku dan mendengarkannya.
"Kalau udah menikah?"
"Kalau udah menikah di beri warisan?"jawab ku membuat membuat mereka melongo mendengarnya.
"Terus kenapa kamu masih bekerja, tidak menikah saja ,?"tanya Wanda.
"Aku mencari lelaki yang ikhlas menghidupi diriku, tau sendiri skincare mahal."
"Ya udah kamu tinggal cari pacar,lalu menikah bereskan."
"Keluarga ga melarang pacaran terus menikah, tetapi menikah baru pacaran."
"Tapi banyak ko teman ku yang berhijab pacaran, bahkan ada yang sudah gak virgin."
"Nauzubillah min dzalik,mas."
"Termasuk Lo yang sudah tidak perjaka," celetuk Wanda.
"Lo juga gak perawan,"ucap Alfin.
"Gw , wajar gak perawan gw janda. La elo status belum pernah menikah tapi udah gak perjaka."
"Sama-sama sudah gak perjaka dan perawan gak usah saling meledek," ucap Arya.
"Kalian ini seperti tom Jerry, jangan-jangan jodoh,"ucapku.
"Ogah, dapat jodoh gak jelas kaya dia,"ucap Wanda.
"Gw juga ogah dapat janda kaya elo."
"Sudah makin ngelantur saja kalian,ayo balik ke kantor."
"Kalian balik saja aku mau pesan kopi dulu, kalian mau sekalian?"
"Wah boleh-boleh,ini baru tem leader yang baik makan siang di bayarrin , kopi di beliin . Aku satu Americano tanpa cream,"ucap Alfin.
"Apa aja yang gratis aku mau,"ucap Wanda.
"Aku samain saja sama kamu."
"Ya, udah kalian duluan."
"Assalamualaikum Hana."
"Walaikumsalam.. Eh."
"Lupa sama saya ?"
"kapten Erlangga," Ucapku.
"Alhamdulillah masih ingat saya. Saya lagi makan siang dengan teman-teman, sehabis ada kegiatan di sekitar sini." Ucapnya sambil menunjuk kearah meja di belakang Ki tadi. Ya, ampun ada Raihan dan Ali juga,kataku dalam hati.
"Hehe ingat lah, meskipun harus sedikit mengingat dulu."
"Sudah makan siangnya ?"
"Alhamdulillah sudah,ini lagi menunggu pesanan kopi."
"Sambil menunggu pesanan bisa kita ngobrol sebentar ?"
"Boleh,tapi maaf ga bisa lama."
"Tidak apa-apa," ucapnya.
"Hana Sudah menikah ?"
"Untuk saat ini belum ?"
"Apa sudah ada calon ?"
Hah, gawat ni ucapku dalam hati.
"Insyaallah ada,"ucapku berbohong.
"Tidak apa-apa mas. Mas kan cuma bertanya." Ucapku bertepatan dengan pesanku yang sudah siap.
"Maaf mas , saya duluan. Salam buat Hana ,"ucapku sambil berjalan pergi. Dulu pertama kenal dan bertemu bapaknya nyodorin anaknya. Sekarang anaknya yang menyodorkan diri,ucapku sambil berjalan.
"Dia itu sering menyogok makan kita,biar kita gak protes kalau dia suruh. Padahal belum tentu dia punya kualitas yang baik sebagai leader." Ucap suara yang kalau tidak salah itu Wanda.
"Minggu depan kan kita, presentasi kita lihat hasilnya. Ga usah menuduh dulu,"ucap Arya.
"Ya, gimana gw gak nuduh! Selama kita di pimpin dia, kita nyantai banget kerjanya."
"Ya, siapa tahu dia sudah menyiapkan semuanya sendiri,"Celetuk Alfin.
"Bagus kan kita tidak, kerja kaya kuda. Seperti kemarin-kemarin."
"Tapi kalau kita sudah pasrah, tidak tahunya pas hari H semua belum selesai gimana ?"
"Gak usah dipikirin, Wan. Dia leader kita, percaya aja sama dia,?" ucap Arya menenangkan.
"Lagian ya,Wan. Dia itu leader kita, jika ada apa-apa yang disalahkan dia duluan ,bukan kita. Kita kerjakan saja tugas yang sudah di berikan, beres kan!"
"Gw setuju kata Alfin. Apa jangan-jangan Lo gak paham dengan tugas yang dia berikan,?" tanya Arya.
"Hehe,gw ga paham perintahnya." Cicitnya lirih, membuatku menahan tawa.
"Assalamualaikum,ini kopi pesanan kalian sekalian cemilan. Jika ada yang ingin ditanyakan dan tidak di pahami tanyakan saja,oke?"
"Tu,Wan ."
"Ada apa?"
"Gak papa kok," ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Oke aku jelasin sedikit,"ucapku sambil memberikan sedikit gambaran, pekerjaan yang sedang kamu kerjakan.
"Jadi selama 2 Minggu kita membuat program baru,?"tanya Wanda.
"Iya maaf aku tidak berkata pada kalian dari awal. Karena aku takut kalian menolak dan tidak percaya diri, mengingat selama ini kalian hanya fokus untuk mengetes perangkat lunak dan memperbaikinya hingga bisa berfungsi."
"Bener itu program baru ?"
"Iya mereka tidak percaya dengan kemampuan ku, makanya mereka memberikan tantangan itu padaku."
"Terus kenapa kamu tidak bilang, jika kamu bilang kami bisa membantu membuat kode program yang fungsional dan efisien." Ucap Arya, dengan semangat.
"Kalian sedia membantu ku?"
"Tentu kita akan bantu semampu kami, untuk
memahami bahasa pemrograman dalam menggunakan algoritma, untuk membuat kode yang benar dan mudah dipahami oleh orang lain,"ucap Alfi.
"Terima kasih."Sebelum bergabung aku di berikan 2 pilihan. Pertama bergabung dengan tim inti alias tim unggulan, atau memimpin tim yang baru di tinggal leadernya karena Risen.
Saat aku menolak bergabung dengan tim inti, mereka memberikan aku Tantan itu.
"Sepertinya kamu sangat menguasai bahasa pemrograman ,?"tanya Arya.
"Tidak semua hanya beberapa bahan yang ku pahami Java, C++, Python."
"Gw cuma menguasai C++," ucap Arya.
"Gw juga cuma Java, yang lain sebatas tahu tapi gak terlalu paham."
"Gw cuma sebatas tahu,tapi tidak menguasai banget malahan."Ucap Wanda, dengan ucapan lirih. Mengingat kita yang sedang berada di ruang meeting room umum, sambil menunggu para peserta meeting lainnya.
"Gw mau lihat hasil kerja lulusan MIT, yang menolak gabung dengan tim kita gays." Ucap Alex sambil berjalan masuk, diikuti anak buahnya.
"Lo menolak gabung dengan mereka dan bergabung dengan kami," bisik Wanda tidak percaya. Aku hanya mengangguk karena bertepatan dengan CTO yang masuk.
"Please start the presentation, Rihanna!"(Silahkan dimulai presentasinya Rihanna !).
"thank you for the opportunity, sir."(Terima kasih atas kesempatannya tuan.)
Setelah menjabarkan selama 25 menit,dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka yang hadir selama hampir 1 jam. Akhirnya aku bisa bernafas lega setelah semua selesai dan meninggalkan ruangan mitteng.
"Ternyata memang benar lulusan MIT tidak bisa dianggap enteng," ucap Alex sambil menghampiri ku.
"Tidak perlu memuji saya. Karena ini bukan hasil kerja saya pribadi, tapi hasil kerja tim saya." Ucapku sambil mengulurkan tangan untuk menyabut uluran tangan Alex.
"Anda hanya merendah,"ucapnya sebelum berjalan keluar.
"Kamu hebat,"ucap timku.
"Bukan aku,tapi kalian yang hebat. Aku menemui pak bos dulu,"ucapku.
"good job you have shown your skills."(Kerja yang bagus kamu sudah menunjukkan kemampuan mu).
"Thank you sir."
"Are you ready to work on a new project?"
"sorry I'm out of contract in 5 months. I don't know if I can continue the contract or not"