Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
93. Raihan Rihanna XVIII Rumah Hanna



"Padahal gw belum lama gabung sama Lo. Udah Lo tinggal saja sih,"ucap Beny.


"Jika sudah selesai, kamu bisa bergabung lagi dengan kami di sini. Kami siap menerimamu kembali," ucap Ardi.


"Kalau dia kembali sudah tidak mau menjadi bawahan mu lagi Ar," ucap Wisnu.


"Tidak masalah," ucap Ardi santai.


"Makan-makan lah buat perpisahan,"ucap Bimo.


"Boleh,mau di mana?" Aku sengaja menantang Bimo,toh sebentar lagi aku tidak kerja lagi di sini.


"Kalau di restoran dekat sini pasti kamu keberatan mengingat di sini restoran mahal semuanya." Ucap Bimo,aku hanya tersenyum menanggapinya. Berbeda dengan Wisnu dan Beny yang tersenyum aneh menurut ku.


"Terus dimana ?"


"Gimana kalau rumah Lo, kontrakan juga gak apa-apa. Masak sudah kerja disini hampir 5 tahun kita tidak ada yang tahu Lo tinggal di mana," ucap Bimo.


"Setuju!" Ucap Wisnu dan Beny dengan senyum bahagia. Meskipun mereka belum pernah tahu di mana rumahku, tapi mereka tahu tentang keluarga ku dan pernah menonton Chanel YouTube Radit. Sejak dari Bandung Wisnu dan Beny sering mencari informasi tentang keluarga ku melalui dunia Maya. Bahkan mereka mengikuti akun sosial Randi dan Radit.


"Boleh ga bawa pasangan,?" ucap Beny.


"Lo mau bawa siapa,?" tanya Wisnu.


"Ya , siapa saja yang mau di ajak makan gratis."


"Gak punya malu Lo ya," ucap Cindy yang tidak di tanggapi oleh oleh Benny. Aku sih hanya mengagap ucapan Beny sebagai candaan.


"Ekhm maaf aku tidak bisa ikut,hari itu acara ulang tahun putriku ,kami janji merayakan bersama."


"Lo ga asik Heng. Ulang tahun anak Lo di undur saja Minggunya bisa kan," ucap Bimo.


"Emang mau ngerayain kemana,mas siapa tahu dekat dengan rumah Hana ,"ucap Cindy.


"Cuma makan siang di mall ko, terus nonton."


"Biar kita bisa kumpul komplit bagaimana kalau Lo ajak anak Lo ke rumah Hanna dulu, habis dari rumah Hana baru acara bareng anak istri Lo."


"Begitu juga ga apa,tapi Hana keberatan gak kan tuan rumahnya Hana," ucap Ardi menimpali ucapan Wisnu.


"Boleh, memang anaknya ulang tahun yang ke berapa mas?"


"Yang ke 5 tahun. Apa tidak merepotkan."


"Tidak, anggap aja gatring kecil-kecilan satu tim,"ucapku.


"Oke Sabtu, deal ya semua harus hadir, jarang-jarang kita bisa makan siang bareng. Sekalian mendoakan Hana untuk kesuksesan Hana di negri orang,"ucap Wisnu.


"Tentu! Sekarang kembali kerja jam istirahat sudah habis," Ardi.


"Han ,bisa bicara sebentar ?"


"Iya mas?"


"Ke ruangan saya dulu ya!"


"Iya mas," ucapku sambil berjalan mengikuti Ardi.


"Ini bisa kamu gunakan untuk beli makanan buat acara makan-makan nanti," ucap Ardi sambil menyodorkan sebuah kartu kredit.


"Maaf mas insyaallah aku mampu, kalau boleh minta belikan kado buat anaknya mas Hengki."


"Mas cuma tidak mau Bimo dan Cindy merendahkan mu."


"Aku tahu niat baik mas, aku janji tidak akan mempermalukan diriku di depan mereka."


"Maaf ya, jangan tersinggung."


"Santai saja mas, aku tahu ko."


"Han mas sayang dan cinta kamu, jika kamu mau menerima mas. Mas siap ko LDR."


"Terima kasih sudah sayang dan cinta sama aku, untuk saat ini aku mau fokus belajar. Mungkin nanti jika kita ada berjodoh, pasti dipertemukan lagi."


"Semoga ya," ucapnya lirih.


"Mari mas,aku mau kembali ke meja kerja ku, Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


"Lo bawa kita ke mana apartemen apa rumah Lo,"bisik Beny.


"Kenapa ?"


"Mau tau aja,kalau ke rumah Lo. Boleh gak nyobain papan panjat tebing di rumah loo?" Aku menaikan alisku sebelah ke atas.


"Gw pernah lihat di kanal YouTube Radit. Katanya berada di rumah,hehe."


"Oke,bawa kado buat anak Hengki ya."


"Siap."


"Bisa minta alamat rumah Lo ga, biar kita gak nyasar ?"


"Gw tahu rumah Hana. Tar kita kumpul di depan mall pondok Indah Pukul 09.00 pagi, telat gw tinggal." ucap Beny membuatku menahan tawa. Karena setahuku baik Beny dan Wisnu tau rumahku hanya dari alamat bio data Radit.


"Jangan bilang rumah Lo berada di kawasan perumahan pondok indah,"ucap Bimo.


"Gak mungkin lah Hana tinggal di pondok indah, kalau tiap hari saja dia ngojek motor." Ucap Cindy sambil tertawa kecil.


"Makanya biar tahu, besok datang semua ya. Insyaallah aku akan berikan yang terbaik."


"Gw pesan makanannya , ada udangnya ya."


"Boleh,tapi beliin kado buat anak Hengki." Bisikku pada Wisnu. Aku pernah denger cerita Hengki istrinya guru TK, dari gajinya sebenarnya cukup untuk hidup mereka. Tapi dia harus menghidupi ke dua orang tuanya, karena dia anak tunggal. Sedangkan istrinya masih punya 2 adik ,yang kadang masih butuh bantuan untuk biaya pendidikan.


Saat aku bilang sama mami, kalau akan ada acara makan-makan di rumah. Mami sangat senang, meskipun sempat kesal, waktu aku bilang hendak melanjutkan pendidikan ke MIT.


"Semua sudah siap mami tinggal ke rumah sakit tidak apa-apa kan?"


"Gak apa-apa mi, kayak aku ini anak SD saja sih. Paling sebentar lagi mereka juga sudah sampai." Ucapku bertepatan dengan pintu pagar yang terbuka, Nampak 2 sepeda motor dan 2 mobil masuk pekarangan rumah.


"Tu mereka datang,mi."


"Kebetulan, mami bisa kenalan. Ada yang kakak taksir gak ?"


"Ga ada mi! Sebaiknya mami berangkat deh."


"Sebentar Kak."


"Assalamualaikum Tante." Ucap mereka bersama-sama. Hengki bersama anak istrinya naik sepeda motor, sama seperti Beny. Sedangkan Wisnu nebeng Ardi.


"Walaikumsalam. Ayo masuk,ajak temennya masuk kak! Mami berangkat dulu ya.


"Mau kemana Tan,?"tanya Beny.


"Mau ke rumah sakit. Tante tinggal dulu ya, anggap rumah sendiri jangan malu."


"Siap Tante,"ucap Beny, Wisnu dan Ardi yang sedikit gugup. Nampak Bimo dan Cindy melihat sekeliling, masih tidak percaya kalau ini rumahku.


"Bener ini rumah Lo, bukan majikan lo?"


"Gilo Lo , Bim! Ya kalau ini rumah majikan Hana ,gak lihat itu maknya keluar."


"Bukan begitu Ben,seolnya muka maknya beda. Muka maknya kaya orang timur tengah," ucap Bimo.


"Kalau aku lebih ke papi,ke mami cuma rambut dan kulit. Kalau papi kan mukanya Indonesia banget, ayo masuk."


"Itu papi Lo,?" tanya Ardi sambil menujuk foto keluarga.


"Iya."


"Cowok 2 itu kembar,adik lo?"


"Saudara kembar gw."


"HAH.!" Seru mereka bersama.


"Gw kembar 3, tapi gw lahir duluuan. 2 bulan gw hidup di inkubator dan kedua adik ku hidup di perut mami. Ayoo silahkan menikmati," ucapku setelah sampai di halaman belakang.


"Papa ada kue tar juga," ucap anak Hengki saat melihat kue tar bergambar karekter snow white.


"Iya, sebelum kita mulai acaranya. Bagaimana kalau kita nyanyikan lagu ulang tahun buat ,siap namanya sayang ?"


"Alika,Tante." Setelah menyanyikan lagu ulang tahun dan potong kue, kami makan bersama. Nampak Bimo dan Cindy hanya diam tidak bertanya apapun.


"Hana terima kasih, untuk kadonya buat anakku."


"Santai aja mas."


"Makasih Mbak, sudah mau merayakan ulang tahun putri kami."


"Santai aja Mbak."


"Hana,benerin laptop gw dong , tiba-tiba ngeblank."


"Taruh ruang kerja papi,tar gw cek."


"Eh ada tamu. Hai semua, perkenalkan aku Radit."


"Mas , boleh nyobain papan panjat tebingnya gak,?" tanya Beny.


"O,ayo boleh." Radit duluan diikuti Beny, Wisnu dan Ardi.


"Tante boleh gak aku berenang,?" tanya Alika.


"Tentu." Untuk pertama kalinya sikap Bimo dan Cindy, bersahabat padaku. Tidak sinis atau memandang rendah diriku. Dengan harta dan materi yang berlimpah, sikap dan pandangan orang terhadap kita akan berubah. Keasikan bermain membuat kita lupa waktu, saat adzan Dzuhur kami sempat berhenti cuma untuk sholat habis itu lanjut lagi. Sampai adzan ashar baru mereka pada bersiap untuk pulang. Bertepatan dengan mami, papi , kakek dan nenek yang datang.


"Gw jadi malu pernah ngasih kartu yang," ucap Ardi.


"Santai aja mas,aku tahu niat mas kok."


"Makasih. Buat kado dan perayaan ulang tahun putri kami."


"Lain kali main kesini Kita seru-seruan bareng,"ucap Radit kepada Beny, Wisnu dan Ardi.


"Boleh ikut gabung ga aku,?" tanya Cindy.


"Boleh asalkan kamu,bisa ngikutin kita panjat tebing." Kelekar Wisnu, membuat Cindy cemberut.


"Aku , mewakili semuanya mengucapkan terimakasih. Sukses terus buat kamu, jangan lupakan kami di tempat baru." Ucap Ardi sambil menjabat tanganku, diikuti yang lain sebelum mereka pulang.