Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
101. Raihan Rihanna XXIV Berkumpulnya orang Tua



"O, ternyata mobil yang melakukan atraksi itu, punya cucu Cakra Wiraguna." Ucap Alfin sambil mengunyah makanan.


"Siapa Cakra Wiraguna,?"tanya Arya.


"Cakra Wiraguna itu mantan metri kesehatan, terus juga pernah menjabat sebagai ketua PMI 2 periode. Masak Lo ga tahu ,nama Lo hampir sama dengan ponakannya Cakra ,Arya Wiguna pengacara senior."


"Namanya sama Arya , tapi nasibnya beda,"ucap Alvin sambil tertawa.


"Lo ko diem Han, tumben. Jangan bilang Lo juga kaya Arya tidak tahu gosip,"ucap Wanda.


"Kalau Hana ga tau gosip wajar sibuk dengan JavaScript dan Python serta teman-temannya. Lah dia sibuk mencari jodoh,"canda Alvin.


"****** kalian emang,"ketus Arya.


"Gw balik duluan istri sudah nunggu,"ucap Alvin sambil memakai sepatu. Ya kami saat ini sedang menikmati nasi kucing di angkringan pinggir jalan.


"Gak bungkus buat istri ?"


"Boleh Han,?"tanya Alvin.


"Boleh," ucapku yang langsung di sambut senyum ceria olehnya.


"Ar anterin ke kamar mandi dong?"


"Hana Gw tinggal dulu ya,"ucap Wanda yang kubalas anggukan.


"Yang lagi viral di media sosial itu kamu kan,?" tanya Langga yang tiba-tiba muncul dan duduk di depan ku.


"Kapten Erlangga,sama siapa ?"


"Tu teman-teman ku,"jawabnya sambil menunjuk ke arah belakang ku tepat.


Ya Allah ada Raihan lagi di sini, ucapku dalam hati.


"Oo."


"Ko OO doang sih Han. Pertanyaan ku tak di jawab,"ucap Erlangga.


"Gosip ga penting ga usah di bahas,"ucapku.


"Gosip ga penting, berati ga benerkan yang katanya calon mu itu tentara?"


"Kenapa kepo sih mas? Aku aja tidak ambil pusing ,kenapa kamu yang repot-repot memikirkan hidup ku." Ucapku bertepatan dengan Wanda dan Arya yang datang dari kamar mandi.


"Yuk, pulang sudah malam ni!"


"Ayoook," jawab mereka berdua kompak. Tanpa berpamitan atau sekedar menyapa aku pergi berjalan meninggalkan Erlangga. Aku tidak suka sikapnya yang ingin tahu, padahal kami tidak begitu akrab hanya sebatas kenal. Tapi jujur sikap Erlangga membuatku merasa tidak nyaman.


POV. Raihan


Aku tahu rumahnya mewah, kenal semua keluarganya,dan kesuksesan para saudaranya. Tapi tidak ada satu pun, keluarganya yang memandang rendah aku. Dari obrolan yang ku dengar barusan aku yakin, teman-teman kerjanya tidak ada yang tahu jati dirinya.


"Gebetan Kep,?"tanya Serda Agung.


"Bukan, tetapi orang tua saya berharap saya bisa menikah dengannya." Ucap kapten Erlangga, membuat ku terkejut, tetapi tidak berani untuk menegurnya.


"Jadi kapten tidak minat, tetapi keluarga memaksa menjodohkan ya,?" tanya letnan Qirul.


"Bukannya tidak minat. Siapa sih yang gak tertarik sama dia cantik, pinter pasti lulus S2 Luar negeri,berasal dari keluarga terpandang. Ya sayangnya,dianya kurang Wellcome."


"Kurang Wellcome gimana sih Kep,?"tanya Serda Agung.


"Dulu pertama bertemu dia menolak saya,katanya belum kepikiran menikah. Sekarang sudah 3 tahun lebih, setiap kali melihat saya sikapnya seperti yang kalian lihat tadi," ucap kapten Erlangga.


Selama mengenal Hana, yang aku tahu Hana itu, cuek, sedikit ketus dan dingin kepada orang baru. Tapi aku tahu dia orang yang baik dan sangat care pada teman-temannya.


"Kapten Raihan kok diem,lagi ada masalah ?"


"Oh, tidak. Letnan Qirul, hanya sedikit ada sedikit masalah."


"Masalah apa? Cerita saja siapa tahu kami bisa memberikan masukan,"ucap kapten Erlangga.


"Saya kenal keluarga terpandang, saya menghormati mereka karena pernah menolong keluarga saya. Kemarin pertama kali saya ketemu, kakeknya dan kakeknya meminta saya untuk datang bersama orang tua saya."


"Saya tidak berani berharap, mereka terlalu tinggi untuk saya gapai."


"Wah kapten terlalu merendah,"ucap Serda Agung.


"Lebih baik kapten datang bersama orang tua kapten jika penasaran, anggap saja memenuhi undangan mereka. Tidak usah berpikir yang aneh-aneh,"ucap letnan Qirul.


"Waktu saya cerita ke bapak saya , bapak saya juga berpikir begitu."


"Datang saja dulu,masa prajurit ga berani maju ke medan perang." Ucap kapten Erlangga sambil tertawa, apa dia juga akan bersikap demikian saat tahu orang yang ku maksud?


"Kapten juga begitu masak cuma di cuek Ki langsung mundur. Maju kapten, kalau tidak mau boleh ko di kenali ke saya."


"Boleh letnan Qirul,nanti kita bersaing siapa yang mampu memenangkan hatinya."


"Haha saya tidak berani kalau bersaing dengan kapten Erlangga,"ucap letnan Qirul. Kapten Erlangga selain tampan, karirnya juga cemerlang dan dari keluarga terpandang. Tapi Hana tidak pernah mau melirik atau menanggapinya. Jadi tidak mungkin Hana akan mengagapku , apalagi orang tua Hana, pasti juga tidak setuju dengan pilihan kakek.


Hot news


Cucu Cakra Wiraguna beraksi di jalanan.


Terkuak. Siapa pengendara yang melakukan atraksi Drifting dan slalom di jalanan ibu kota, pada pukul 2 dini hari. Tim penelusuran juga menemukan fakta selain melakukan atraksi di jalanan, juga terekam mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, di tol dari arah Bandung ke Jakarta. Cakra sendiri mengakui bahwa itu ulah Cucunya, tetapi dia tidak mengklarifikasi cucu yang mana. Mengingat dia memiliki 3 cucu kembar.


"Sudah seminggu beritanya masih saja jadi perbincangan," ucap Om Arkana. Hari ini aku bersama kedua orang tuaku datang menemui undangan kakek Cakra.


"Kalau gak mau jadi berita ,gunakan uang dan kekuasaan mu untuk membungkam berita," ucap kakek Cakra.


"Kalau itu kulakukan nanti cucu mu akan mengulangi lagi,"ucap Om Arkana.


"Papa, Arkana malulah ada tamu juga,"tegur nenek.


Aku dan orang tuaku hanya tersenyum, melihat tingkah mereka.


"Pak ada tamu dari keluarga Wirawan,"ucap pelayan rumah. Keluarga Wirawan apa kapten Erlangga, tanyaku dalam hati.


"Masuk sini Mayor jenderal Budi pornomo Wirawan,"ucap Kakek.


"Lo ada kapten Raihan di sini ?"


"Kapten Raihan ini teman cucu-cucuku, dan orang tua Raihan itu teman anak dan mantuku, "ucap kakek.


"Jadi kebetulan orang tua Raihan di sini, kami sengaja mengundang untuk makan malam,"ucap Om Arkana. Kami di jamu bersama, tanpa membedakan pangkat dan status sosial. Para ibu-ibu duduk terpisah dengan para lelaki, begitupun kami yang muda. Meski jarak tidak terpisah jauh dan aku juga masih bisa mendengar obrolan mereka. Bahkan beberapa kali aku dengar ucapan-ucapan ibu kapten Erlangga, yang membanggakan anak dan suaminya.


"Aku tak menyangka kamu mengenal mereka. Karena setiap ketemu Hana sikap kalian seperti tidak saling mengenal," ucap kapten Erlangga.


"Saya sama Hana hanya sebatas kenal, kita tidak akrab." Ucap ku bertepatan dengan Radit yang datang dan langsung duduk di sampingku.


"Minggu jaga ga mas,?"tanya Radit.


"Tidak aku libur, ada apa ?"


"Tanding panjat tebing. Yang menang dapat minta apapun pada yang kalah."


"Emang lawannya siapa?"


"Ada banyak Randi, Beny,Wisnu,Ardi , Bintang,Hana kalau jadi."


"Seru kayanya,"ucap kapten.


"Seru mas, kalau mas mau ikut juga boleh dengan mas siapa ya?"


"Erlangga. Ada taruhan khususnya gak ?"


"Taruhan sih enggak,tapi yang menang bisa monopoli mobil baru Hana selama sebulan."


"Makanya kamu semangat,"ucapku.


"Iya lah,aku pingin mengendarai mobil itu sebagai sopir. Bukan sebagai penumpang,Ardi dan yang lain juga begitu. Tar Kalau kita bisa ngalahin Hana kita patungan buat boking sirkuit Sentul."


"Kamu tidak malu ngajak orang buat ngalahin aku, dasar banci pakai rok sana." Ucap Hana sambil berjalan melewati kami dengan tangan yang sempat menempeleng kepala Radi.