Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
62. Triple



Sudah seminggu aku mengalami gejala morning Sickness parah, tetapi aku tetap bekerja. Alhamdulillah disaat bekerja memeriksa pasien aku tidak mengalami mual-mual atau muntah, bahkan saat aku memeriksa pasien setiap pergantian aku sempatkan mengunyah makanan. Tapi begitu selesai tidak ada pasien aku akan memuntahkan Semua makanan yang aku makan, bahkan sampai tidak tersisa.


"Dokter tidak apa-apa ?"tanya suster membantuku berdiri dan membantuku rebahan di ruang istirahatku, yang kujawab dengan gelengan kepala.


"Sepertinya dokter hamil deh?" tanyanya. "Mungkin sus,aku juga belum periksa takut mengecewakan."


"Sus beliin aku ketoprak pedas,sama rujak buah ya," ucapku sambil menyodorkan selembar uang warna biru. Aku tertidur karena merasakan badanku yang lemas, seperti tidak bertenaga.


"Emang sudah seperti itu , tapi sepertinya morning Sickness lumayan parah. Anehnya kalau lagi memeriksa pasien tida apa-apa, sepertinya pengertian sekali calon anakmu ini." Sayup-sayup terdengar suara orang ngobrol tapi aku tidak tahu siapa, setelah membasuh muka aku berjalan keluar.


Nampak Kana sedang ngobrol dengan dokter Eki.


"Sudah bangun ?" tanya Kana sambil memberikan tempat duduknya buatku.


"Sudah lama disini ?"


"Lumayan ada satu jam kali,tapi tenang ada teman ngobrol ini. Kamu tidak bilang mas kalau lagi hamil ?"tanya Kana.


"Aku belum yakin meskipun gejalanya sama, tapi aku ingin nunggu Minggu depan. Mas kan tahu sendiri terkadang aku sebulan bisa datang bulan 2 kali, aku takut kecewa untuk kesekian kalinya."


"Tapi sepertinya kali ini tidak akan mengecewakan mengingat gejala morning Sickness yang lumayan parah," ucap dokter Eki.


"Kita periksa aja yuk dek, biar tidak penasaran dan kita bisa lebih berhati-hati," ucap Kana.


"Tapi kalau cuma asam lambung naik jangan kecewa ya,"Ucapku memastikan sebelum kekecewaan yang kita dapat.


"Kalau belum hamil ya tinggal bikin lagi kenapa merepot!" ucap dokter Eki membuatku tersedak mendengarnya.


"Kamu gak usah malu-malu gitu. Ayo Ki anterin aku daftar, biar Dira istirahat di sini aja "ucap Kana sambil menarik tangan dokter Eki pergi.


"Lo buncin juga ternyata "sayup-sayup suara dokter Eki yang mulai menjauh.


Aku menunggu Kana sambil menikmati pesanan yang aku titipkan suster tadi, sampai habis begitu habis bertepatan dengan Kana yang datang.


"Tidak di habiskan ketopraknya?"tanya Kana.


"Itu sudah habis menurutku,mas kan tahu aku tidak makan lontong karena bikin ngap. Aku cuma ambil sayuran dan tahunya, jadi itu ya habis menurutku."


"Sini mas yang makan," ucap Kana mengambil makananku dan menghabiskannya.


Sejak menikah ini kebiasaan Kana yang baru ku ketahui suka menghabiskan makanan yang ku makan kalau tidak habis. Waktu aku tanya, ia bilang itu kebiasaan baru sejak menikah.


"Pedes banget dek."


"Aku aja tidak kepedasan,itu pas menurut ku."


"Ahkir-ahkir ini kamu suka sekali dengan makanan pedas dek," ucap Kana yang ku balas dengan anggukan kepala karena sibuk mengunyah rujak buah.


Setelah selesai makan kami berjalan ke poli kandungan, untuk menunggu antrian nama ku dipanggil.


"Kehamilan pertama ya dok?"tanya dokter Clara, dokter spesialis pilihan Kana karena satu-satunya dokter kandungan yang perempuan.


"Iya Dok,"


"Usianya baru 7 Minggu ada 2 kantong tapi belum bisa dipastikan, semoga pada pemeriksaan berikutnya bisa di pastikan,"ucapnya.


"Mau beli sesuatu tidak , siapa tau anak-anak pingin makan apa gitu ?"tanya Kana sambil mengusap-usap perutku padahal kita lagi berjalan di koridor rumah Sakit.


"Malu mas"bisikku. "Malu punya suami kaya mas" sewot Kana membuatku bengong .


"Bukan gitu mas,aku tidak malu cuma.."


"Cuma kenapa..."ucap Kana memotong ucapanku membuat aku menarik nafas panjang.


Yang Hamil siapa yang sensitif siapa, keluhku dalam hati. Kana bener-bener ngambek seperti anak kecil, sampai di apartemen aku di diamkan olehnya.


Tapi ngambeknya tidak berlaku lama hanya sesaat saja, sebelum tidur dia juga sudah kembali seperti semula tidur dengan saling memeluk dan ngobrol ringan.


Aku kira bertahan hanya hari itu saja, tetapi hampir tiap hari selain insiden morning Sickness ku yang parah, hampir tiap hari juga Kana bersikap seperti anak kecil yang suka sekali ngambek. Semua berjalan hingga sebulan, karena niat kami merahasiakan dari kedua keluarga seolah di dukung oleh sang Maha Pencipta. Selama sebulan mama Kana dan keluarga lainya sibuk menyiapkan acara pernikahan Arya dengan Sekar.


"Mas aku dengar kamu itu dulu naksir berat sama Sekar ya? Dan playboy mu berawal dari Sekar yang menikah tanpa memberi tahu kepadamu," ucapanku berhenti saat Kana memutar bada menghadap ke arah ku.


"Apa yang kamu dengar tentang aku dan Sekar ?"tanya Kana dengan sorot mata tajam kearah ku.


"Sekar tidak bilang padamu kalau dia sudah menikah hingga kamu terus berharap, hingga ahkirnya kamu tahu dan kecewa makanya berubah menjadi playboy.."


"Terus,ayo ceritakan semuanya yang kamu tahu dari orang ," ucap Kana memotong ucapanku dengan tatapan mata mengimitasi membuat ku menelan ludah kasar.


"Apa kamu menikah denganku bukan karena sakit hati dan dendam dengan Abi ku, yang telah menikah dengan seorang wanita yang dulu kau sukai." Ucapku lirih karena jujur pikiran itu spontan melintas di pikiranku.


"Aku tahu kamu anak dari mantan suami Sekar saat hatiku sudah ada nama kamu seutuhnya. Aku kecewa dengan Sekar karena membohongiku dan tidak jujur akan setatus yang sudah menikah, bukan kecewa atau dendam dengan Abi mu."


Kana menjeda kalimatnya menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Jauh sebelum kenal dengan Kamu. Aku sudah kenal dengan Abi mu dan keluarganya bahkan desas-desus bahwa Abi mu punya 2 istri aku juga tahu, alasan Sekar menikah dengan Abi mu aku juga tahu. Jadi tidak ada alasan aku untuk dendam atau membenci Abi mu melalui kamu."


"Maaf aku hanya penasaran!" ucapku. "Tidak usah di pikiran, sekarang jadwal kita melihat perkembangan debay (dedek bayi)"ucap Kana sambil mengusap-usap perutku, kemudian melanjutkan mengendarai mobil menuju rumah sakit.


Sebenarnya aku ingin kontrol esok hari saja sekalian kerja, tapi Kana ngotot hari ini mendatangi klinik pribadi dokter Clara yang berada di rumahnya.


"Bagaimana ada keluhan tidak selain morning Sickness ? Tapi aku rasa dokter Dira paham lah ," ucap dokter Clara sambil tertawa kecil.


" Masyaallah, ahkirnya saya melihat keajaibannya tuhan."


"Emang apa yang terjadi dok?" tanya Kana penasaran. "Bagaimana kalau Dokter Dira konsultasi kehamilannya juga sama dokter Teguh. yang berpengalaman,saya seumuran Anda jadi pengalaman saya anda paham lah."


"Baiklah dok, mas gak perlu cemas nanti aku ceritakan,"ucapku memenangkan Kana.


"Begini dokter Dira kemungkinan hamil kembar 3, sedangkan kembar 2 aja saya masih belajar. Saya masih dokter residen."


"Tunggu saya akan punya 3 anak sekaligus !"


"Iya, dari hasil pemeriksaan menunjukkan bayi kembar 3. Disini terlihat satu plasenta dengan 2 kantong embrio, dan ada satu lagi kantong embrio terpisah dan plasenta yang berbeda,"ucap dokter Clara membuat Kana tak percaya.


"Jadi saya haru bagaimana untuk menjaga ibu dan calon ke 3 anak saya?" ucap Kana antusias.


"Sebaiknya dokter Dira mengikuti kelas antenatal yang diperuntukkan khusus ibu hamil kembar tiga."


"Baik dok,apa ada lagi?"


"Kehamilan kembar memiliki resiko lebih berbahaya dari pada kehamilan tunggal, apa lagi ini kembar 3."