Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
122. RR. Ratih



Malam ini Ratih menceritakan banyak hal. Yusril adalah dokter spesialis bedah di rumah Sakit Ratih bekerja, sedangkan pacar Yusuf perawat di sana. Tapi setelah Yusril menikah Ratih memilih bekerja di puskesmas, meskipun dengan gaji kecil tapi tidak akan melihat kemesraan mereka.


"Kamu tidak pulang sana membuat sarapan buat suami mu,!" usir Raihan. Semalam Raihan tidur di kamar sendirian dan aku di ruang keluarga bersama Ratih.


"Gw jadi pingin rebut istri mu,"ucap Ratih membuat Raihan yang lagi sarapan tersedak.


"Minum mas,"ucapku sambil menyodorkan air minum.


"Jeruk maka jeruk,sini deek jangan dekat-dekat." Ucap Raihan sambil menarikku, hingga duduk di pangkuannya .


"Kamu gak kerja,?" tanyaku. Menurut aku Ratih hanya butuh teman ngobrol, teman berbagi keluh kesahnya. Sebagai anak tunggal, dia tidak hanya berlimpah kasih sayang orang tuanya, tapi juga tuntutan dari orang tuanya.


Emang dari yang aku perhatikan ponsel Ratih juga tidak ada tanda-tanda ada pesan masuk dari semalam.


"Dek mas berangkat dulu!"


"Hati-hati mas,"ucapku.


"Lebai kalian kaya mau pergi ke luar negeri saja,"cibir Ratih. Membuat Raihan iseng malah ******* bibirku sekilas di depannya.


"Kalau iri sana pulang minta Suami mu!"


"Ogah barang bekas ,"lagi-lagi ucapan Ratih membuat aku dan Raihan penasaran. Memang Ratih sempat menduga kalau anak yang di kandung adik iparnya adalah anak suaminya.


"Aku harap Lo segera pulang,dan tidak menguasai istri gw."


"Lihat aja nanti,"ucap nya acuh.


Setelah Raihan berangkat, tidak lama juga terdengar suara motor Yusuf berangkat.


"Aku mau pulang mandi dulu, jangan di kunci pintu rumahnya,"ucap Ratih.


Seperginya Ratih aku memutuskan mandi dan mencoba tes peck yang aku beli, tapi belum sempat melihat hasilnya Ratih sudah datang ke rumah lagi.


Ratih seperti anak kecil yang mendapatkan teman baru, "Setelah suamimu pergi kamu biasanya ngapain. Siapa tahu aku tertarik jadi bisa keluar dari pekerjaan ku." Ucap Ratih membuatku mengerutkan kening ku.


"Aku bosan pingin cari kesibukan, untuk melupakan masalah ku,"ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di karpet.


"Ini bener harga karpet Lo mahal,?" tanyanya. Membuatku pingin tertawa dengan pertanyaan random nya.


"Orang tua mu kerja apa?"


"Bapakku pegawai kecamatan dan ibu perawat. Aku menjadi dokter karena kemauannya orang tuaku, gara-gara membiayai sekolah kedokteran yang mahal hutang orang tuaku di mana-mana."


"Termasuk hutang sama mertua Lo,?" tanyaku yang di jawab anggukan.


"Orang tuaku mengharuskan siapapun yang menjadi suamiku. Harus bisa membayar hutang orang tuaku, dan mengadakan acara pernikahan mewah buatku sebagai anak tunggal."


"Gimana ceritanya kamu bisa terikat dengan Yusuf,?" tanyaku.


"Setelah putus dari Raihan aku mencari pria kaya,tapi sayang tidak ada yang gratis kebanyakan mereka yang berduit mau dengan ************." Aku yang mendengarnya langsung melotot, vulgar sekali bahasanya.


" Ahkirnya orang tuaku mengenalkan aku dengan mas Yusril, yang ternyata senior ku di rumah sakit. Ahkirnya kami menjalin hubungan, sampai ke tahap tunangan. Tapi gagal semua seperti kataku, kami berahkir dengan tukar pasangan."


"Katamu kamu sebenarnya tidak mau menikah dengan Yusuf, kenapa bisa berakhir dengan Letnan Yusuf ?"


"Seperti di interogasi tapi aku suka, ahkirnya ada yang mau mendengar keluh kesah ku."


"Ceritakan saja semua biar plong," candaku.


"Setelah orang tua Yusril menceritakan yang terjadi, ahkirnya tunangan kami berahkir. Tapi karena orang tuaku masih punya hutang,aku harus menikah dengan Yusuf. Karena mereka takut orang tuaku lari dan tidak membayar hutangnya."


"Berapa hutang orang tuamu?"


"Sekarang sih tinggal 50 juta."


"Emang selama ini tidak Lo bayar kok masih banyak aja?"


"Saat aku kerja aku sudah mencicil ,tapi karena Kakekku operasi ahkirnya papa ngutang lagi deh. Tapi operasinya malah gagal dan kakek meninggal, karena bapak jadi sakit-sakitan."


"Karena bapak mu sakit-sakitan, mereka takut papamu ga bisa bayar ?"


"Bisa jadi begitu, karena itu mereka menggunakan aku sebagai jaminan."


"Gila hidup mu drama banget ya?"


"Tidak hanya drama,tapi tragis. Makanya aku mau hancur bersama-sama."


"Dasar wanita gila! Gimana orang tua Lo,?"


"Papa dan mama bilang jika aku tidak sanggup aku bisa kabur."


"Aku denger-denger itu mobil mas kawin pernikahan mu?"


"Iya aku yang minta, dengan sengaja melebihi permintaan orang tuaku." Ucapnya dengan cengengesan, membuatku pingin memukul kepalanya. "Keinginan lo sekarang apa?"


"Ya udah aku punya duit gimana kalau kamu pinjam uang ku saja ?"


"Tidak semudah itu,ada hitam diatas putih, dalam setahun orang tuaku hanya di bolehkan membayar 10 juta tidak boleh kurang atau lebih. Jika lebih atau kurang terkena pinalti 25 %."


"Gila kaya rentenir ya?"


"Kalau rentenir berlaku saat kita telat bayar dan senang kalau kita bayar." Ketus Ratih, seharian ini aku menjadi pendengar kisah hidup Ratih. Yang menurutku seperti cerita drama, membuat ku percaya kalau drama di televisi terkadang memang tidak berbohong.


"Sudah pulang Ratih,?" tanya Raihan yang baru pulang.


"Iya tadi orang tuanya menelponnya," jawabku.


"Terima kasih udah percaya."


"Siapa bilang,aku baru cek CCTV dan mas menikmatinya,"kesal ku.


"Mas pria normal wajar sempat terbuai sesat namanya juga khilaf, tapi kan juga terlihat begitu ingat dosa aku langsung dorong dia."


"Ia sampai dia terjungkal, kasihan tau mas."


"Haha spontan, seharian pasti dia di sini?"


"Iya,dia itu butuh teman cerita, butuh teman berbagi cerita. Mungkin jika dari awal ada yang bertanya ada apa denganmu? Ceritakan semua padaku ? Tidak akan ada hari kemarin."


"Setiap manusia hidup punya garis hidupnya sendiri-sendiri,"ucap Raihan sambil memelukku.


"Mas ko ada bau aneh sih,"ucapku sambil mengendus-endus mencari sumber bau.


"Hehehe tadi ada yang bawa durian kita makan rame-rame deh."


"Buruan sana mandi !"


"Iya mau mandiin mas ga ?"


"Gak ah sana buruan mandi, habis ini anterin belanja bulanan."


"Nanggung sebentar lagi maghrib,nanti saja habis isya sekalian." Ucap Raihan sambil berjalan ke kamar mandi.


"Dek terima kasih," ucap Raihan sambil memelukku dari belakang.


"Mas ih basah keringkan dulu rambutnya. Keluar kamar mandi langsung peluk-peluk aja kamu ini," kesal ku sambil melepaskan pelukannya.


"Kamu sengaja kasih mas kejutan ya?"


"Kejutan apaan? Memang mas ulang tahun minta di kasih kejutan segala."


"Kamu kok pura-pura gak tahu sih, jadi gemes deh mas." Ucap Raihan sambil mencium keningku dan mengeluarkan sesuatu dari gegaman nya.


"Hah,bener ini." Ucapku sambil menutup mulutku dengan tangan.


"Aku tidak menyangka akan secepat ini," ucapku sambil meneteskan air mata ku.


"Ini rezeki yang harus kita syukuri, sudah adzan magrib. Hari ini mas sholat berjamaah di rumah ya,menemani istri mas."


"Tumben,"ledekku. Karena Raihan selalu bilang hukum lelaki sholat di masjid itu wajib.


Sehabis sholat magrib dan membaca ayat suci Alquran, Raihan mengajakku ke klinik terdekat untuk memastikan keadaan kandunganku.


Prang prang "Lepas brengsek !" Suara pecahan kaca dan teriakan dari rumah Ratih , menghentikan langkahku dan Raihan untuk masuk ke dalam mobil.


"Mas apa yang terjadi dengan Ratih ?"


"Kita tunggu dulu 15 menit jika tidak ada yang aneh kita pergi."


Jujur aku was-was dengan apa yang terjadi dengan Ratih,tapi setelah menunggu tidak ada suara apapun.


"Ayo kita pergi !"


"Mas nanti dulu bentar lagi adzan isya."


"Ya udah habis dari mushola,ayo kita masuk ke dalam rumah saja di sini banyak nyamuk." Ucap Raihan bertepatan dengan pintu rumah Ratih terbuka, nampak Yusuf buru-buru mau pergi.


"Mau kemana Letnan Yusuf,?" tanyaku sengaja.


"Mau pulang ke rumah orang tua, kakak ipar mau melahirkan, sedang kakak lagi seminar di luar kota."


Aku dan Raihan saling berpandangan, begitu Yusuf pergi aku langsung masuk ke dalam rumah mereka.


"Ratih,kamu di dalam,"ucap Raihan dengan aku mengekor di belakangnya.


"Tolong," terdengar suara dari arah kamar. Aku dan Raihan bergegas masuk kedalam kamarnya.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun !!"??