Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
159. Mimpi Buruk



Hidup ini seperti roda kehidupan, aku tidak pernah membayangkan jika akan menghadapi badai rumah tangga seberat ini. Seminggu tinggal di rumah Jelita,aku memutuskan pindah dari rumah Jelita dan menyewa sebuah rumah dekat sekolah anak-anak. Dari ibu-ibu Persit aku tahu Raihan sedang ada kegiatan di luar kota, karena itu aku gunakan kesempatan itu mengambil barang-barang penting di rumah.


"Kenapa sih ma kita harus pindah rumah segala,?" tanya Diva. Jujur aku belum punya persiapan jika anak-anak bertanya.


"Paling kaya kita kalau lagi berantem,"celetuk Dila. Membuatku berpikir keras, alasan apa yang harus aku sampaikan.


"Gak usah percaya dengan Dila, mama dan papa orang dewasa yang kadang punya masalah yang tidak kita pahami. Jadi kita ga usah ikut campur,"ucap Satria. Aku merasa bersalah dengan anak-anak, aku jadi berpikir apa langkah yang kuambil salah ?


"Sudah malam, bagaimana kalau kita tidur bersama saja disini?"


"Diruang tengah bersama-sama,?" tanya Dila antusias.


"Iya." Tanpa bertanya kembali kedua putriku langsung berlari ke kamar dan mengambil bantal, selimut serta boneka kesayangannya masing-masing.


"Mas tidak mau ambil selimut dan bantal untuk bergabung dengan kami ?"


"Nanti aku akan mengambil selimut,aku masih ingin menyelesaikan permainan ku." Ucapnya yang memang lagi asik bermain game dengan ponselnya. Kami tidur di ruang tengah bersama, sambil bercerita keseruan masing-masing. Aku hanya bisa menanggapi dengan tersenyum, meski aku juga merasa bersalah dengan keputusanku.


"Rumah yang bagus tidak terlalu besar, tapi nyaman untuk dan asri." Ucap Jelita yang datang berkunjung dengan suaminya.


"Apa permintaan ku sudah kamu urus ?"


"Sudah mulai aku urus di pengadilan agama, nanti saat Rai menerima surat gugatan biar Rai yang mengajukan permohonan perceraian kepada atasannya."


"Terima kasih mas,maaf sudah merepotkan."


"Santai aja,tapi aku ingatkan perceraian dengan suami militer lebih susah dan ribet dari pada warga sipil biasa!"


"Aku tahu, karena itu aku memilih pindah rumah sementara. Jika sudah resmi bercerai baru aku akan pindahkan sekolah anak-anak."


"Kamu tidak takut tinggal sendiri dengan anak-anak. Apa perlu aku Carikan satpam buat jaga rumah,"ucap Jelita.


"Tidak usah semua sudah aku pasang CCTV, bahkan pintu gerbang aku pasang kunci pintu otomatis."Sudah sejak anak-anak sekolah aku suka mengembangkan, sistem keamanan rumah dengan teknologi digital seperti di luar negeri.


"Pantes kamu nyari rumah yang tertutup, ternyata sudah kamu perhitungkan ?" Selain rumah ditembok tinggi, pintu gerbangnya juga tinggi jadi tidak terlihat aktivitas dalam rumah dari luar.


"Selain jarak sekolah yang bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Aku juga sudah memperhatikan lingkungan sekitarnya."


"Apa rencanamu jika Rai menolaknya gugatan mu,?" tanya Jelita.


"Aku akan gunakan ancaman ku dengan melaporkannya ke atasannya, jika perlu aku seret perempuan itu."


"Jujur aku tak menyangka Rai bisa sejauh itu, apa tidak sebaiknya kalian bicarakan secara baik-baik dulu."


"Bicara baik-baik apa mas, meski Rai bilang itu hanya kecelakaan, ons atau apalah istilahnya sekarang. Tapi mata ini melihat mereka berciuman, dan telinga ini mendengar ucapan mereka tentang kehamilannya."


"Siapa tahu saja ini hanya rekayasa orang yang ingin menghancurkan keluarga kalian?"


"Jika hanya rekayasa kenapa mata ini melihat mereka berciuman, kenapa telinga ini mendengar tentang anak mas?"


"Apapun keputusan mu, kami dukung. Tapi alangkah baiknya kamu ceritain masalah mu kepada mami dan papi."


"Tidak sekarang mbak,mami lagi bahagia aku tidak mau merusak kebahagiaan mami dan papi." Pasalnya sekarang istri Radit sedang hamil muda anak ke 2, sedangkan Randi istrinya akan melahirkan anak pertama. Aku tidak mau mami dan papi bersedih mengetahui rumah tangga anak perempuannya bermasalah.


Setelah Jelita pulang aku menjemput sekolah si kembar, nampak juga mobil dinas Raihan.


Tok tok Raihan mengetok pintu kaca mobilku.


"Mas mau bicara ?"


"Bukankah ini juga sudah bicara ?"


"Kenapa pindah dari rumah, kamu bilang hanya ingin pulang ke rumah Jelita ?"


"Aku hanya ingin menenangkan pikiranku."


"Apa aku harus bertahan tinggal satu atap dengan mu, jika melihat mu hanya menyulut emosiku ?" Raihan tidak menjawab, hanya Manarik nafasnya panjang.


Begitu si kembar keluar Rai langsung menemui si kembar. Sedih rasanya melihat si kembar memeluk papanya, terlihat jelas si kembar kalau kangen dengan papa. Apa aku egois karena memisahkan ayah dan anaknya .


"Mama!" Panggil Dila menghampiriku yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Boleh aku hari ini pulang sama papa ?"


"Tanya papa hari ini ke kerja tidak, jika papa tidak bekerja tidak apa-apa. Tapi jika papa kerja kalian ikut mama pulang."


"Iya ma."Ucap Dila semangat, tetapi belum sempat Dila bilang papanya. Diva sudah datang di depanku," Kata papa 2 hari papa tidak ke kantor,papa baru pulang semalam."


"Diva juga kangen papa ya?" Tanyaku yang langsung di anggukin olehnya.


"Ya udah kalian ikut papa jangan nakal, jika ingin pulang ke rumah mama atau papa tiba-tiba pergi segera hubungi mama."


"Iya ma,"ucap Diva yang langsung lari ke arah Raihan. Sedangkan aku langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area sekolah tanpa melihat kearah Raihan sama sekali. Jujur hati ini sakit jika mengingat Raihan mencium wanita lain.


🎼✉️ my husband


Terima kasih membiarkan anak-anak ikut dengan ku.


Kenapa kontaknya belum aku rubah.


Tidak hanya si kembar yang Rai ambil, tapi Satria juga. Hari ini hari ke 3 harusnya Raihan mulai kerja. Tapi kenapa anak-anak tidak di antar ke sini, tidak mungkin orang seperti Rai tidak tau alamatku. Dengan sangat terpaksa aku menjemput anak-anak rumah kami yang lama.


Kenapa sepi saat aku masuk hanya ada satpam yang membuka gerbang, ini hari libur sekolah harusnya ada anak-anak.


"Mana anak-anak ?" Tanyaku menghampiri Rai yang lagi melakukan gerakan pull up di halaman belakang.


"Berlibur ke rumah nenek dan kakeknya, mungkin sekarang sudah sampai di rumah mama dan papa."


"Gila kamu! Kamu bawa pergi anak-anakku tanpa bilang padaku?"


"Kamu yang membuat aku gila duluan. Kamu bawa anak-anak pergi tanpa ijin dariku, jadi jangan salahkan aku jika melakukan hal yang serupa."


"Aku akan jemput mereka sekarang !"


"Kita selesaikan masalah kita sekarang !"


"Oke ceraikan aku , talak aku sekarang." Teriaku marah, dalam hitungan detik Raihan langsung nyosor mulutku dengan ciuman yang kasar dan penuh emosi.


"Aissss,"rintih Raihan. Mungkin sesat aku terbuai tapi, saat aku teringat adegan Raihan mencium wanita lain. Dengan sekuat tenaga aku gigit bibir Raihan hingga ciumannya lepas dan bibirnya berdarah.


"Kamu menikmatinya meski hanya sesaat, begitu juga aku. Aku lelaki normal jika aku terbuai sesat apa tidak bisa dimaafkan ?"


"Beda saat perempuan itu duduk di pangkuan mu, kamu bisa menolaknya. Tapi kamu mendiamkannya hingga dia bisa berbuat lebih."


Nampak Raihan meraup mukanya frustasi. "Aku harus bagaimana, dia mendekati ku."


"Dia yang mendekati mu, merayu mu, jika kamu setia kami tidak akan terbuai olehnya !" Ucapku memotong ucapan Raihan cepat.


"Bisa tidak kamu mendengarkan aku dulu, jangan paksa aku berbuat nekad untuk membuatmu diam... Dia mendekatiku sebagai teman,dia orang baru di sini belum punya banyak teman dan belum tahu daerah sini. Pertemanan kami hanya sebatas itu, saat aku pulang telat itu aku jujur tidak sadar sama sekali. Aku merasa tidak minum alkohol,tapi kenapa aku bisa mabuk. Aku hanya minum kopi sebelum sakit kepala dan pinsan, sehabis itu dia selalu mengancam ku. Akan melaporkan perbuatan kami pada atasanku dan istriku. Masalah ciuman itu ciuman ke dua kami,"ucap Raihan lirih di ahkir kalimatnya.


"Intinya kamu sudah berbuat zina, meski kamu hanya ingat mencium 2 kali tapi ada anak. Jangan sampai kamu kehilangan anakmu, cukup aku yang kehilangan anak."


"Hana tidak ada anak, jika aku saja tidak merasa membuatnya. Berapa kali aku harus bilang."


"Apa kamu tahu ? Ciuman mu dengan wanita itu selalu menjadi mimpi buruk dalam tidurku ? Jadi jika kamu sayang sama aku, biarkan aku melupakan kenangan mimpi buruk itu."


"Aku tidak bisa menghilangkan kenangan buruk mu, tapi ijinkan aku membuat kenangan baru buat kita !"