
Setelah makan siang hari itu aku kembali ke apartemen Tandi. Karena kebetulan hari ini hari Minggu aku mengajak Raihan bertemu dan jalan-jalan keliling Bandung sebelum Balik ke Jakarta nanti malam. Tentu tidak sendiri aku dengan 2 teman kerjaku dan Raihan dengan Ali.
"Lo gak punya teman perempuan apa,?"tanya Raihan saat kami bertemu di lobby apartemen.
"Kalau di Jakarta ada.?
"Sekarang kita mau kemana,?"tanya Beny.
"Aku mau mencoba bermain paralayang."
"Berani Kamu,?" tanya Wisnu.
"Beranilah! Aku beberapa kali ikut mendaki gunung dari sana aku penasaran mau nyoba paralayang , gimana rasanya."
"Baiklah kita ke Gantole Cihampelas, Cililin."
"Let's go," ucapku dengan semangat.
"Kamu perempuan sendiri lebih baik duduk di depan deh,"ucap Wisnu.
"Oke," kataku langsung duduk di depan tanpa tahu siapa yang jadi sopirnya.
"Ko mas yang jadi sopirnya ?"
"Karena mas yang tahu tempatnya. Beny dan Wisnu tidak tahu,"ucap Raihan.
"Kita beli minuman dulu di minimarket,ya bang?"
"Kenapa kamu ingin mencoba paralayang?"
"Aku mau melihat pemandangan alam dari atas awan, selain itu aku juga mau merasakan sensasi terbang secara langsung."
"Sepertinya kamu suka olahraga ekstrim ya?"
"Sebenarnya aku mau nyoba beberapa olahraga ekstrim lain, tapi sama mami selalu dilarang takut cidera lah, takut ini lah, takut itu lah ada saja. Padahal kalau mau cidera,mau celaka di mana saja bisa."
"Terus dengan kerjaanmu yang sekarang orang tuamu ga protes ,?" tanya Raihan lagi.
"Protes sih, waktu mau ambil jurusan ini saja mami ga setuju. Tapi Papua berhasil memberikan pengertian kepada mami."
"Ternyata Lo anak mami juga ya,"celetuk Beny.
"Maklum saudara ku laki-laki semua."
"Sejauh ini apa yang ingin kamu coba tapi belum kesampaian,?"tanya Raihan.
"Banyak.Menyelam, Arung jeram, Terjun payung, motor trail ."
"Kalau yang sudah apa,?" kali ini Beny yang bertanya.
"Panjat tebing, naik gunung, Sepeda gunung. Aku tidak ada kesukaan khusus sebenarnya,tapi aku hanya ingin mencoba. Kalau belum mencoba itu kayanya penasaran gimana yaa rasanya. Kalau udah ya sudah, oo begini to rasanya."
"Olahraganya orang kaya semua," celetuk Wisnu.
"Haha bukan begitu,aku hanya memanfaatkan fasilitas yang ada."
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam kami sampai tempat tujuan. "Sepertinya cuaca hari ini sangat mendukung,"ucap Raihan.
"Iya udara yang hangat dan cuaca yang cerah sangat ideal untuk paralayang. Sinar matahari bisa memanaskan daratan dalam jangka waktu yang cukup lama. Udara panas menjadi lebih ringan sehingga mengalir ke atas dan bisa dimanfaatkan untuk mengangkat kanopi paralayang naik ke udara."
"Wah sepertinya kamu sudah banyak belajar mengenai paralayang,?" tanya Raihan padaku.
"Hehe hanya membaca dari internet."
Setelah mendengar arahan dan teori bagaimana cara bekerja parasut paralayang. Aku digiring untuk
Menggunakan perlengkapan yang bisa menjamin keselamatan dalam penerbangan. Seperti helm, parasut, radio komunikasi dan peralatan navigasi, yang sewaktu-waktu akan sangat berguna dalam keadaan darurat.
"Kamu mau terbang sendiri atau pakai pilot,?" tanya Raihan.
"Sendiri lah. Pilotnya perempuan 3 lagi terbang semua, adanya laki-laki semua."
"Emang kenapa kalau laki-laki. Kamu baru pertama mencoba jangan aneh-aneh, bisa bahaya."
"Tapi aku gak nyaman kalau pilotnya laki-laki."
"Sekarang kamu pilih pakai pilot dari sini apa mas saja. Gak mungkin sudah bayar mahal di batalkan,"ucap Raihan.
"Ya udah sama mas saja ,"keselku. Bukan sayang duitnya kalau di batalkan, tapi aku ingin sensasi ini sudah lama masak, masak sudah di depan mata harus gagal.
Sebenarnya kesal karena tidak bisa terbang sendiri,tapi lebih baik dengan Raihan yang sudah kenal dar, pada yang lain.
"Ayo."
"Yang lain kemana ga keliatan ?"
"Sudah pada gede biarkan saja !"
"Ya ga gitu juga,"keselku dengan jawaban Raihan.
"Mas akan lari kamu angkat kakimu," ucap Raihan saat kami sudah dalam posisi siap terbang.
"Kenapa tidak ikut lari biar tidak berat,kan parasutnya berat?"
"Parasutnya tidak berat buatku. Kalau kamu ikutan lari yang ada kita jatuh bareng."
"Gitu ya, emang mas pernah main paralayang ?"
"Belum Sih."
"Lah kenapa malah jadi pilot sih tar kalau ada apa-apa gimana." Marahku melihatnya yang tampak santai.
"Aku penerjun jadi ada sedikit sklil kumiliki. Sedangkan kamu tidak sama sekali ."
Ucap Raihan sambil berlari syuuuutt.. Suara parasut mengembang ditiup angin. Aku mulai meluruskan Kaki dan tidak sudah tidak menjejak bumi, mengawang di udara. Rasanya seperti burung terbang.
"Wooooo Indahhhhhhhh,"teriakku dengan heboh.
Melayang-layang di ketinggian bisa melihat pemandangan dari atas, bukit bukit yang dipenuhi pepohonan, kontur tanah pegunungan, rumah-rumah warna-warni, langit biru, dan awan-awan. Ini sungguh pengalaman yang Menyenangkan sekali.
"Sebentar amat mas?"
"Sebentar sudah 20 menit ya," ucap Raihan sambil mencubit hidungku.
"Gimana mbak puas?" tanya Beny yang ternyata menugu di bawah.
"Puas tapi cuma sebentar. Jadi pingin lagi."
"Kamu sudah lama lo, aku perhatikan mereka rata-rata 15 menit. Sedangkan kamu tadi 20 menit lebih Lo," ucap Wisnu.
"Masak sih ! Kok gak kerasa ya." Ucapku sambil tertawa kecil.
"Sebentar lagi adzan sebaiknya kita cari mushola sambil istirahat, habis sholat dhuhur kita cari makan siang." Kami semua seperti anak buah Raihan yang langsung menuruti perintahnya.
"Letnan suka sama Hana ?" Seperti suara Ali kataku dalam hati,saat aku selesai dari kamar mandi.
"Sebagai lelaki dewasa iya tapi itu, seperti aku merindukan bulan."
"Ko gitu Let?"
"Keluarga Hana pernah menolong bapakku dari fitnah orang tak bertanggung jawab. Dari sana aku tahu dia bukan hanya anak orang kaya, tapi juga anak orang terpandang."
"Tapi sebentar lagi letnan juga jadi kapten."
"Tapi kan belum. Lagian aku sudah ada rencana mau ta'aruf kan ,kamu lupa."
"Letnan yakin ?"
"Gak tahu juga. Ning Hana juga setuju dari ta'aruf, buat mengulur waktu pernikahan."
"Let kok namanya sama-sama Hana ,ya?"
"Kebetulan kali sama. Sekarang di batalyon aja yang nama Raihan ada 5."
"Iya ya kalau tidak ada pangkat, pasti satu di panggil noleh semua."
Apa jadinya kalau Raihan tahu aku adalah Ning Hana orang yang sama? Tanyaku dalam hati.
Aku melangkah masuk ke mushola saat terdengar adzan dhuhur, nampak Beny dan Wisnu terbangun dari tidurnya dan mengambil air wudhu.
"Setelah ini kita kemana,?"tanya Beny di sela-sela makan siang Kami.
"Aku terserah kalian kan kalian yang bergantian jadi sopir."
"Kita beli oleh-oleh aja ya terus pulang, biar besok juga kerja bisa fresh," usul Wisnu.