Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
45. Cerita Camelia



Hari ini acara wisudaku hari ini di namaku menambah satu gelar dr.Adira Carissa maharani. Sp.BTKV (Dokter bedah toraks dan kardiovaskular (Sp. BTKV). Momen wisuda kali ini aku ditemenin oleh banyak banyak orang, bahkan beberapa belum aku kenali seperti adik Jiddah dari Turki juga datang katanya ingin melihat keturunan Prabu ponakannya dan orang-orang yang baru aku kenal pamannya Abi, Hafiz, Jiddah,om Haidar semua datang tidak lupa Romi, Rara dan pakde. Setelah menghadiri acara wisuda kami semua melaksanakan makan siang bersama di sebuah restoran mewah, yang sudah di pesan Abi,


"Assalamualaikum "ucap Rahayu yang tiba-tiba muncul, membuat semua orang melihat kearah nya.


"Ini ada acara apa Abi !" tanya Rahayu sambil berjalan berkeliling mengalami semua orang satu persatu.


"Acara makan siang bersama " ucap Abi. "Boleh kami bergabung ?" tanya Rahayu sambil melirik meja di sebrang nampak Ajeng mulai berdiri dan berjalan mendekati meja kami.


"Maaf ini makan siang bersama untuk merayakan keberhasilan cucuku,jadi jangan di rusak " ucap Jiddah.


"Aku hanya ingin ikut makan siang bersama. Aku rindu makan bersama dengan kalian semua,apa aku sudah tidak ada di hati kalian semua "ucap Rahayu .


"Kalau begitu lain kali saja Jiddah akan mengundangmu makan siang bersama di kediaman Jiddah bersama keluarga mu juga tentunya,tapi tidak untuk kali ini" ucap Jiddah. Aku tidak tahu mengapa Jiddah terkesan menolak kehadiran Rahayu .


"Maaf tolong hargai kepingan Umi "ucap Abi. "Punya Lah malu sedikit kehadiranmu tidak diharapkan, jadi sebaiknya kamu duduk di mejamu kembali" ucap Om Hardi.


" Awas kalian "ucap Rahayu sebelum pergi. "Astaghfirullah " ucap Abi, Jiddah dan om Haidar bersamaan. " Lihatlah meskipun dia lahir dan besar di pesantren kelakuannya tidak mencerminkan apa yang dia pakai"ucap kakek Dadang paman Abi.


Selepas kepergian Rahayu acara makan kami berlanjut meski tidak sehangat tadi,ada perubahan dari sikap semua orang-orang dari pesantren. Ingin aku bertanya tapi aku takut menyinggung.


"Kamu bener tidak mau makai salah satu mobil Abi, masak dokter spesialis naik ojek "ucap Abi. "Tidak masalah, orang tidak akan bertanya dokter ke rumah sakit naik apa?" jawabku. "Aku setuju cara berpikir mu jangan terlalu mikirin kata orang selama yang kita lakukan baik dan tidak melanggar aturan " ucap kakek Husain adik Jiddah. "Sepertinya bukan karena itu deh kamu tidak bisa mengendarai mobil kan mbak ?" tanya Romi. "Hehe itu salah satunya,tapi lebih baik begitu bagi-bagi rezeki sama para driver ojek" ucapku yang disambut tawa. "Kalau teteh mau nanti ku ajari gimana "ucap Hafiz. "Emang kamu sudah bisa ?"tanyaku tak percaya, Hafiz baru kelas 13 sudah bisa mengendarai mobil. "Hehe di ajarin bunda"jawabnya.


Acara makan siang berjalanan lancar meskipun tadi ada sedikit kendala, aku pulang diantar Abi dan Hafiz "Ini sertifikat rumah yang kamu tempati,sudah Abi balik nama mu"ucap Abi. "Kenapa harus di beli buang-buang duit aja" gerutuku. "Anggap saja investasi masa depan , sana istirahat besok pagi sudah kerja lagi kan " ucap Abi saat mobil sudah berhenti di depan rumah.


"Tidak mampir dulu itu ?" tanyaku. "Lain kali saja habis magrib Abi harus terbang ke Malaysia, Rencana Abi dan kakek Husain membuka cabang pabrik garmen Abi disana "ucap Abi. "Allhamdullilah semoga di beri kelancaran ".


"Amin terima kasih doanya , assalamualaikum " ucap Abi setelah aku mencium punggung tangannya,sedang Hafis masih pules tidur di belakang.


Sehabis Abi pulang hari ini aku benar-benar istirahat hingga bel rumah berbunyi."Ngapain lagi "ucapku melihat tamuku yang datang masih menggunakan seragam, sepertinya baru pulang kerja.


"Memberikan hadiah buat yang baru wisuda"ucapnya sambil menyodorkan bunga mawar putih. "Mawar putih melambangkan cintaku yang suci padamu"ucapnya. "Buang-buang duit aja ,dari pada buat beli bunga lebih baik buat beli bakso kenyang ini mah nggak bisa di makan."


"Gak bisa diajak romantis "ucap Kana sambil duduk di teras."Ini jam berapa? kenapa Lo duduk bukan pulang sana!"ucapku. "Jam 10.00 malam , habis ini aku pulang "jawab Kana.


"Habis apa?"tanyaku. "Aku cuma mau memastikan yang ku dengar kemarin, bener pak Prabu ayah kandung mu?" ucapnya sambil memperhatikan diriku. "Tunggu tetapi warna mata mu sama,warna kulit dan wajah mu juga mirip dengannya, dari pada Rahayu."


"Sebulan lagi masa kerja ku menjadi ajudan akan habis,aku harap bisa tetap bekerja di sekitar sini biar bisa selalu bersamamu "ucap Kana.


"Gw berharap Lo di kirim ke Papua "ketusku bukan marah Kana malah tertawa. "Gw pulang jangan lupa bangun tengah malam, kita sama-sama berdoa di sepertiga malam semoga kita berjodoh " ucap Kana.


"Gw tahajud supaya di jauhkan dari lo"ketusku. "Kalau begitu bagaimana kalau taruhan doa siapa yang akan di kabulkan sama Allah SWT."


"Pergi,pergi dah malam "usir ku sambil menarik tangannya untuk pergi dari rumahku. Sungguh menyebalkan, kenapa juga harus berurusan lagi dengan manusia egois dan pemaksa kayak dia kataku dalam hati sambil mengecek semua pintu.


"Dok hari ini pasiennya agak banyak, sepertinya nama dokter sudah mulai di kenal banyak orang "ucap suster Lusi yang menjadi pendamping ku hari ini. "Amin, semoga aku bisa membantu mereka semua ". Satu demi satu pasien aku periksa hingga pasien terahkir, semua berjalan meskipun ada sedikit kendala tetapi allhamdullilah selesai.


"Dok pasien sudah habis tetapi ada seorang ibu-ibu memaksa ingin bertemu dengan anda ".


"Ya udah suruh masuk aja !" ucapku sambil merapikan meja kerjaku. "Malam Andira "ucap Camelia.


"Malam Tante silahkan duduk,"


"Sus tolong tinggalkan saja kami tidak apa-apa" ucapku." Ada perlu apa Tante mencari ku kalau masih membahas Kana maaf aku tidak berminat "ucapku.


"Kamu tahu aku kenapa membencimu ?"tanyanya. "Itu hak Tante dan aku tidak ingin tahu" jawab ku bohong. Karena aku tidak suka memperlihatkan kelemahanku dan rasa penasaran ku di depan orang, apalagi orang yang sudah beberapa kali menghinaku di depan keluarganya.


"Aku suka rasa berontak dan percaya dirimu, karena aku tidak seberani kamu. Aku sengaja mengatur dan mengekang Kana. Aku mau Kana menjadi lelaki yang punya pendirian, meskipun harus memberontak . Tapi dasar sifat dari orang tua kandungnya yang tipe penurut semua , menjadikan Kana anak penurut."


"Tante kesini mau menceraikan Kana atau berkeluh kesah !" ucapku. "Kata-kata mu kasar dan tidak sopan tapi aku suka karena kamu jujur dengan isi hatimu.


Cempaka menikah dengan Cakra saat umur Cempaka 17 tahun lebih 3 bulan, sedangkan aku mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Cempaka gadis yang penurut, aku tahu dia sebenarnya tidak mau di nikahkan. Cempaka meninggal saat melahirkan Kana yang lahir prematur,kata dokter kecapean karena sibuk kuliah dan kegiatan.


Kami dipaksa menikah Karena Kana terlibat perkelahian antar sekolah dan di tangkap polisi, aku perawan tua yang tak kunjung menikah di umur 34 tahun ahkirnya menuruti. Kami menikah karena orang tua, selama 17 tahun kami bersama hati suamiku masih untuk saudara kembarku bahkan saat kami melakukan hubungan suami-istri tidak jarang dia mengatakan maaf karena belum bisa melupakan almarhum istri pertamanya,aku tidak tahu itu penyesalan atas meninggalnya kembaranku atau cinta buat kembaranku."


"Kenapa Tante cerita padaku,?"tanyaku Setelah mendengar cerita panjangnya. "Tante akan bercerai meski kami belum resmi masih tahap mediasi. Tante ucapkan terima kasih atas perubahan Kana yang mau berjuang untuk kebahagiaannya, tidak seperti mama kandungnya dan papanya yang selalu menjadi anak penurut meskipun mengorbankan kebahagiaan mereka demi bakti kepada kedua orangtuanya."


Aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik, sebelum Tante Camelia bener-bener pergi meninggalkan ruang kerjaku.