Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
56. Pernikahan



Ijab qobul diadakan di rumah yang dulu ditempati Abi dan bunda, yang telah direnovasi sedemikian rupa oleh Abi. Sedangkan untuk Walimatul urs atau resepsi pernikahan di adakan di aula pesantren. Saat ijab qobul diadakan aku hanya melihat dari dalam kamar melalui saluran layar yang dipasang di depan. Dimulai dengan lantunan surat Ar Rahman yang di lantunkan oleh Kana dan langsung disambung ijab qobul yang di lakukan Abi dan Kana,baru aku diijinkan keluar dengan di temani mama Kana dan Nadira.


"Di cium dulu tangan suaminya sebagai tanda bakti pertama." ucap MC.


"Assalamualaikum makmumku"bisik Kana saat aku mencium punggung tangannya. "Walaikumsalam imamku " jawabku.


"Sudah sah ,biar tambah sah tanda tangan dulu di buku nikahnya "ucap pak penghulu yang di sambut tawa yang lain.


"Maklum pak mempelai pria sudah tidak sabar" celutuk Arya, membuat Kana melotot dan tawa yang lain. "Jangan melotot nanti bola matamu keluar tidak bisa memandangi istri cantikmu lagi" ucap Aryo.


Membuat semua tertawa," Terima nasib aja kalau hari ini kamu di bully" ucap Nando.


"Kita masuk kamar aja yuk biar mereka tidak met bully kita" ucap Kana, yang langsung di hadiahi tarikan telinga oleh mamanya. " Tida boleh satu kamar sebelum resepsi "ucap mama Kana yang disambut tawa yang lain.


"Sabar mas resepsi tar malem " ucap mama Arya dan Aryo."Siapa bilang seminggu lagi resepsi pernikahan di Jakarta ya mbak "ucap mama Kana membuat semua tertawa kecuali Kana yang menekuk wajahnya.


"Menunggu tahunan saja mampu ko seminggu ga mampu, Mama gak mau ya menantu mama kelelahan saat resepsi pernikahan di Jakarta gara-gara kamu "ucap mama Kana, yang disambut tawa oleh yang lain.


Acara ijab qobul dan jamuan kecil-kecilan berahkir saat adzan dhuhur berkumandang. "Dira layani suamimu dia juga belum makan siang " ucap Jiddah saat aku makan siang setelah selesai sholat Dzuhur dan Kana baru pulang dari musola.


"Mau makan apa?" tanyaku. " Panggil yang sopan mas atau AA gitu dong"ucap Jiddah lagi.


"Hehe belum terbiasa Jiddah "jawabku. "Dibiasakan pelan-pelan ya sayang, habis makan kalian istirahat "ucap Jiddah sebelum pergi.


Kami makan dengan tenang tanpa ada obrolan,"mau istirahat di mana ? Mau pulang ke hotel apa disini saja?"tanyaku. "Kalau boleh disini saja "ucap Kana.


"Ya udah bawa baju ganti buat istirahatkan, istirahat aja di kamar "ucapku sambil berjalan ke arah kamar sedang Kana keluar mengambil baju gantinya.


"Rambutmu hitam "ucap Kana saat masuk kamarku dan tidak menggunakan tutup kepalaku.


"Emang aslinya Hitam kaya rambut mama hitam legam, karena pingin yang beda aja aku warnai coklat" ucapku sambil berjalan ke kamar mandi untuk berganti baju santai.


Saat aku keluar ku lihat Kana sudah tertidur dengan hanya memakai celana kolor pendek dan kaos tanpa lengan. Ternyata aku salah baru 2 menit aku merebahkan badan Kana sudah memelukku dari belakang dan menciumi leherku.


"Terima kasih sudah mau menerima lamaranku dan bersedia menjadi makmum ku"ucapnya dengan suara lirih. "Hmm"jawabku meski aku dulu tidak menutupi seluruh auratku ,tapi ini pertama kalinya seorang lelaki mendekapku dan mencium leherku.


"Apa aku harus pakai cadar setelah sah menjadi istrimu?" tanyaku."Tidak. Aku pernah membaca sebuah buku,bahwa sebagian ulama berpendapat hukum mengenakan cadar bagi perempuan adalah wajib. Pendapat lain (qila) menyatakan hukumnya adalah sunah. Dan ada juga yang menyatakan khilaful awla. Ada juga ulama yang menegaskan bahwa wajah perempuan tidak termasuk aurat, sehingga tidak wajib ditutupi dengan cadar dan sejenisnya."


"khilaful awla itu apa ?"tanyaku."khilaful aula, sebuah perbuatan menyalahi yang utama atau yang afdha" ucap Kana.


"Ah aku tidak paham, ilmu agamaku belum sejauh itu. Jadi intinya saja pakai tidak "ucapku sambil berusaha bangun melepaskan diri dari pelukan Kana, karena aku merasa perbuatan Kana tidak bagus untuk kesehatan jantungku.


Jilbab tidak bertujuan membatasi gerak, aktualisasi, kemajuan dan perkembangan seorang perempuan. Jilbab juga bukan simbol keterbelakangan, kelemahan, atau kekalahan kaum wanita terhadap suatu kelompok di zaman tertentu."


Entah Kana bicara apa lagi penjelasan Kana bagaikan lagu Nina Bobok buatku hingga aku tertidur.


Seperti mimpi tapi seperti nyata ada yang sibuk mencium bibirku dengan ganasnya, membuatku yang nyenyak tidur jadi terbangun. "Bangunkan. Sepertinya sangat kelelahan istriku ini sampai tidak dengar aku bangunkan," ucapnya santai.


"Apa yang baru saja kamu lakukan?"kesalku. "Membangunkan Mu yang lagi tidur" ucapnya sambil berjalan menjauh dan memakai baju Koko. "Belum ada 24 jam sudah ramah sekali mulutmu bersilaturahmi"kesal ku yang di sambut tawa renyah olehnya.


"Kamu anggun kalau pakai jilbab jadi pingin memakai jilbab sepertimu" ucap Nadira yang menemaniku yang lagi di rias untuk resepsi pernikahan.


"Jangan pernah melakukan sesuatu karena terpaksa karena ,Islam melarang segala bentuk pemaksaan karena pemaksaan adalah kekerasan psikis yang bisa menjadi kekerasan fisik dan seksual. Tergantung hal apa yang dipaksakan. Meskipun menutup aurat wajib, tetapi penerapannya tidak boleh dilakukan dengan cara paksa, intimidasi, dan atau kekerasan."


"Masyaallah temanku yang dulu bar bar sekarang jadi lema Lembut "ucap Nadira. "Aku kan bar-bar karena kebawa kamu "ucapku.


"Enak aja" jawab Nadira. "Assalamualaikum "ucap Kana yang masuk bersama Arya dan Aryo.


"Kenapa kalian kesini, bukannya menunggu di depan bersama para tamu"ucap Nadira." Jagoanmu merengek minta makan "ucap Aryo sambil memberikan anak lelaki 2 tahun ke pangkuan ibunya.


"Ah kasihan ayo kita makan dulu "ucap Nadira sambil menggendong putranya dan menyeret Aryo keluar. "Ahkirnya mereka bahagia setelah melalui proses yang panjang"ucapku.


"Kapan Lo nyusul kita,apa mau rujuk lagi"ucap Kana. "Emang kamu sudah menikah ko rujuk?" tanyaku.


"Ah Lo lupakan kalau istrimu itu amnesia"ucap Arya sambil terkekeh. "Mbak itu makeup nya jangan terlalu tebal kenapa, itu juga lipstik merah banget bisa menggoda tamu tar "ucap Kana membuatku malu dan Arya tertawa.


"Belum apa-apa sudah posesif ,ayo mbak tinggal aja tar kamu di komplain lagi"ucap Arya berjalan keluar.


"Bener Arya sudah menikah dan bercerai, istrinya siapa ?" tanyaku. "Ga usah di bahas nanti kalau ingatanmu kembali pasti akan tahu dengan sendirinya,"ucapnya sambil memelukku dari belakang yang masih duduk di depan meja rias.


"Bagaimana kalau tidak usah di adakan resepsi"ucap Kana. "Gak usah aneh-aneh, jangan nempel-nempel tar rusak kasian mbaknya merapikan lagi. Aku tak usah pakai Kruk ya, kamu mau kan jadi pengganti Kruk buat aku berjalan dan berdiri "ucapku, jujur aku malu berjalan dengan Kana kalau memakai alat bantu jalan.


"Jangankan menjadi Kruk buatmu mengorbankan nyawaku demi kamu aku juga rela"ucapnya. "Dasar tukang gombal "ketusku.


"Udah ah ayo kita keluar "ucapku berusaha berdiri dengan di bantu Kana. "Aku gendong aja yu sampai tempat resepsi,biar kakimu tidak capek "ucap Kana dan langsung menggendongku , membuatku spontan memeluk lehernya karena takut jatuh.


Tanpa rasa malu Kana menggendongku dan menurunkan aku di pelaminan, membuatku malu dengan tingkahnya.


Acara resepsi allhamdullilah berjalan dengan lancar.