Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
142. RR. Ini Salahku.



"Silahkan bertanya? Apa yang ingin anda tanyakan,?" ucap Raihan tenang.


"Apa benar kamu anak Lucy Rahmawati?"


Lucy Rahmawati apa itu nama ibu kandung Raihan, ibu yang melahirkannya.


To the poin, tanpa basa-basi.


"Sesuai akte yang tertera nama saya Raihan Elang Akbar, anak dari Luki Alamsyah dan Sandra Utami."


"Yakin kamu ,mereka menikah 2 bulan sebelum kamu lahir berarti."


"Means I'm an illegitimate child."(Berarti aku anak haram).


"Mas!" Ucapku sedikit keras," Tidak ada anak haram ya! Suami saya sudah menjawab tolong keluar dari kamar perawatan saya !"


"Tidak ada yang berani mengusir saya, semua pegawai dan satpam di sini lebih menurut kepada saya!" Ucapnya bangga, Apa maksudnya tidak ada yang berani mengusirnya.


"Karena rumah sakit ini salah satu anak cabang yayasan Samudra group !" Lanjutnya bangga.


Sial kenapa aku tidak mencari informasi tentang seberapa banyak anak cabang perusahaan mereka.


"Mari kita buktikan kekuasaan yang saya miliki. Panggil 2 sekuriti dan satu dokter kesini!"


"Baik pak," jawab asistennya yang dari tadi hanya diam. Hanya dalam 5 menit 2 sekuriti dan 1 dokter sudah berada di ruangan ini.


"Aku tahu keluarga mu juga punya koneksi, tapi aku terpaksa melakukan ini. Karena kalian tidak mau diajak kerja sama!"


Jangan menggagu keluarga Samudra, mereka salah satu keluarga yang kejam. Kira-kira apa yang di lakukan mereka, kurasa tidak mungkin mereka mengusir ku .


"Sekarang matikan CCTV !" Ucap asisten Elang Samudra membuatku dan Raihan menjadi waspada.


Dengan Gerakan cepat ke dua sekuriti langsung memegang kedua tangan Raihan. "Mohon maaf tolong kerjasamanya." Ucap sang dokter sambil mengeluarkan jarum suntik.


"Awas mas mereka mau ngambil darah mu!"


Bukan hal yang sulit buat Raihan lepas dari 2 sekuriti. Prok prok "Tida percuma kamu menjadi anggota Kopasus." Ucap Elang Samudra.


"Ini pak," ucap kedua satpam sambil menyerahkan helai rambut Raihan. Sebelum 2 sekuriti keluar,di ikuti dokter tersebut setelah mendapatkan persetujuan Elang Samudra.


"Sialan kalian !" Umpat Raihan.


"Aku sebenarnya lebih butuh darah mu, tidak masalah meskipun cuma sedikit. Bercak darahmu meski sedikit saja sudah mampu membuktikan segalanya."


" Dasar pecundang anda!"


" Aku sudah bertanya baik-baik , jadi jangan salahkan aku."


"Buat apa kamu memastikan siapa aku, sampai kapan pun aku hanya anak papa Luki ! Aku tidak butuh kamu."


"Tapi keluarga Samudra butuh lelaki buat penerus keluarga!" Ucap Bayu Samudra yang tiba-tiba muncul.


Oh tuhan keluarga macam apa mereka ini.


"Sebenarnya sekali melihat mu aku sudah curiga, apalagi melihat Sisi Lah keluarga mu. Tapi kami butuh bukti tertulis biar di akui secara hukum status mu !"


"Kalian orang baru dalam hidupku, aku tidak butuh pengakuan kalian."


"Kamu memang tidak butuh,tapi kami butuh tes DNA ini untuk melaporkan Luki papa mu." Ucap Bayu Samudra dengan tenang.


"Apa maksudnya ini?"


"Jika tes DNA benar kalau kamu ada darah kami mengalir. Aku akan menuntut papamu dengan tuduhan menculik anak Elang."


"Buset kalian semua, sudah jelas-jelas anda yang memaksa ibu kandungku menandatangani surat cerai yang anda sodorkan." Ucap Raihan dengan emosi meluap-luap, ini fakta baru yang baru aku ketahui.


"Aku tidak memaksa,aku hanya memberikan pilihan. Dan ibumu lebih memilih uangku."


"Pilihan antara nyawa saudara lelakinya yang kritis! Anda menggunakan kondisi papa yang kritis untuk memaksa wanita lemah."


"Haha ahkirnya Elang kecilmu mengakuinya!"


"Mas! Lepas!" Dengan menahan nyeri aku bangun melepaskan tangan Raihan.


"Dia licik jangan kepancing emosi, yang bisa merugikan mas." Bisikku bertepatan dengan pintu yang terbuka, nampak Elang putraku dalam gendongan papi.


"Wah ada tamu tidak di undang ternyata," ucap papi.


Kenapa Elang harus datang disaat yang tidak tepat, ucapku sambil memejamkan mataku.


"Baby Eagle!" Ucap Bayu berusaha mengelus rambut Elang, tapi langsung di tepis oleh Raihan.


Nampak Elang Samudra meneteskan air matanya.


" Apa Yang kau lakukan !" Teriak Bayu Samudra, saat Elang Samudra membakar helaian rambut Raihan.


"Tidak perlu pengakuan, biarkan dia menjadi burung Elang yang bebas, selayaknya burung Elang. Jangan jadikan dia Elang piaraan ayah, cukup aku saja yang menjadi Elang piaraan."


"Jangan gila kamu! Kamu mau kehilangan semua harta kekayaan mu"


"Ambil semua harta ayah. Aku tidak butuh harta ayah, tapi jangan ganggu keluarga putraku."


Aku lihat papi membisikan sesuatu ke telinga Raihan dan Raihan langsung merapikan semua barang-barang ku.


"Kalian teruskan saja drama keluarga kalian, kita tidak ada waktu untuk menontonnya!" Ucap papi menghentikan perdebatan ayah dan anak tersebut.


"Bagaimana administrasinya? Memang bisa langsung keluar, tanpa persetujuan dokter ?" Tanyaku saat Raihan tiba-tiba menggedong ku.


"Sudah di urus mami semuanya."


Saat aku keluar mami datang dengan Radit dengan membawa kursi roda.


"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Radit saat sudah berada di dalam mobil.


Radit mengemudi mobil dengan Raihan duduk di sampingnya, sedangkan papi naik mobil berbeda dengan mami dan Elang.


"Kita bahas di rumah, nanti mas jawab semua yang membuat kamu penasaran !"


"Kamu tidak apa-apa,tadi kamu sempat memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan ?"


"Sedikit terasa nyeri."


"Istirahat lah !"


" Maafkanlah aku,ini semua salahku. Aku hanya berniat mempertemukan kamu."


"Sudah cukup! Radit berhentikan sebentar mobilnya mas mau pindah ke belakang !"


"Kenapa berhenti loncat saja ke belakang !" Tanpa bicara lagi Raihan langsung loncat kesamping ku.


"Aku tahu niat baikmu, tapi ternyata kita yang terlalu naif. Kita terlalu polos, lugu, dan kekanak-kanakan. Hingga tak berpikir sampai seperti ini." Ucap Raihan sambil memelukku dan mengusap punggungku, sesekali memberikan kecupan di kepalaku yang tertutup jilbab.


"Ekhhm ekhm ada anak di bawah umur disini ya!"


"Dibawah umur apaan umur sudah mau 29 tahun juga. Jadi Lucy Rahmawati itu nama ibu kandung mas ?"


Raihan hanya menganggukkan kepalanya, "Terus soal perceraian itu mas tahu dari mana ?"


"Diary ibu kandungku, mama yang memberikan padaku saat aku bertanya padanya. Tapi mama melarangku untuk membahas apapun tentang ibuku, pada papa ?"


"Kenapa mas,?" tanya Radit.


"Mama tidak mau papa bersedih jika mengingat ibu kandungku."


"Jadi Om Luki dan Tante Sandra bukan orang tua mu mas? Jangan bilang kamu keturunan Samudra ? Oh my god why didn't I realize."(ya tuhan kenapa aku tidak sadar.)


Raihan hanya tersenyum menanggapi Radit, "Kita bahas di rumah ya!"


"Oke mas, aku ngebut biar cepat sampai di rumah !"