
"3 Hari di rawat di rumah mami dengan di bantu suster yang mami pekerjakan, membuatku semakin stres. Jadi aku putuskan kembali ke rumah dinas bersama Raihan besok." Ucapanku saat makan malam bersama.
"Kok gitu sih kak, kenapa bukan tambah sehat. Mami perasaan sudah bener-bener Lo ya merawat kamu,"protes mami tidak terima.
"Coba papi pikirkan Elang di bawa mami pergi ke mana-mana, aku kan jadi tidak ada teman kesepian. Itu alasan pertama dan yang kedua, bagaimana tensi darahku tidak naik Suter bayaran mami selalu memandang lapar kearah suamiku."
"Emang suamimu makanan apa? Ko lihat doang bisa buat lapar,!" dengus mami pura-pura bodoh.
Radit yang mendengarnya hanya cekikikan,"Raihan itu makan gado-gado. Campur-campur terus di aduk-aduk, kalau udah campur terus hap hap di makan habis."
"Memang kamu pernah lihat dia merayu suamimu,?" tanya mami.
"Secara langsung sih ga mi , tapi secara tak langsung."
"Cemburuan,"dengus mami.
"Lebih baik kamu tinggal di rumah dinas, di sana kamu juga aman ko."
"Tapi bagaimana dengan lukamu ?"
"Sudah Lebih baik,mami bisa sesekali ke sana mengecek kondisi ku ko!"
"Ngelunjak gak sopan,masak dokter spesialis di suruh nyamperin pasien." Canda mami.
"Ya udah aku kontrol sama dokter jaga klinik batalyon saja."
"Ekhhm ekhm nanti 3 hari sekali mas anterin kontrol sama mami aja!"
"Bukannya Ratih dokter juga? Kenapa tidak minta tolong dia saja, rumahnya di sampingmu kan?" Tanya Radit yang sempat kenal Ratih.
"Sudah pindah yang tinggal di samping sekarang kapten Erlangga," jawab Raihan.
"Oya kapan pindahnya,?" tanyaku .
"Kenapa kangen, 3 hari yang lalu."
"Tidak ya! Aku cuma penasaran sama Cindy aja," jawabku.
"Haha dasar cemburuan semua,"dengus Radit.
"Cemburu itu bisa jadi bumbu dan penyedap sebuah hubungan, tetapi cemburu yang sehat. Bukan cemburu buta,"ucap mami.
"Oya mas tahu belum kabar berita terbaru Elang Samudra yang menggugat cerai istrinya?"
"Mas tidak tahu , mas kan tidak pernah baca berita-berita begituan."
"Aku juga tahu dari Om Arya yang kemarin di minta untuk menjadi pengacaranya."
"Tapi papi larang, biarkan Elang Samudra mencari pengacara lain saja!"
"Kenapa Pi,?"tanyaku penasaran.
"Setelah di selidiki pernikahan mereka pernikahan bisnis, perceraian yang di awali karena bisnis biasanya menjadi bahan berita wartawan."
"Ni lihat berita sudah ada majalah bisnis." Ucap Radit sambil menyodorkan ponselnya padaku dan Raihan.
Direktur utama salah satu BUMN, yaitu PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Telah menggugat cerai istrinya Vivi Irmawati, owner produk kecantikan. Diduga Elang ada selingkuh dengan mantannya.
"Selingkuh dengan mantannya, bukannya mantannya ibu kamu mas,?" tanyaku .
"Ya siapa tahu ada mantan yang lain,"jawab Raihan.
"Ada beberapa majalah yang sengaja seperti menjatuhkan nama baik Elang Samudra," ucap Radit.
"Bukannya kata Nadiva ayahnya tahun depan berencana masuk dunia politik!"
"Kapan kamu ketemu Nadiva ,?" tanya Radit.
"Sebelum terjadi kecelakaan di rumah ini!"
"Jangan bilang masalah kecelakaan itu,?" tanya Radit.
Aku hanya mengangguk, "Wah Sepertinya aku ketinggalan sesuatu ini."
"Gak usah kepo,"ucap papi.
"Misteri memang apaan ," ucapku sedangkan Raihan hanya tersenyum tipis.
"Luki sudah menjalani pemeriksaan, tidak ada luka bekas operasi. Jahitan yang ada di perutnya hanya jahitan kulit akibat luka tusukan yang terlalu lebar."
"Jadi yang ada di perut papa bukan luka bekas operasi ?" Tanya Raihan setelah mendengar penjelasan papi.
"Bukan hanya jahitan luka yang bertujuan untuk menutup robekan kulit, sehingga dapat menghentikan perdarahan, mempercepat penyembuhan, mengurangi jaringan parut, serta mengurangi risiko infeksi pada luka."
Terdengar helaan nafas kasar Raihan, "Tega sekali dia!"
"Elang punya kakak perempuan, tapi dalam tradisi lelaki yang berhak mengurus semua harta peninggalan. Ibu Elang adalah istri kedua," jelas papi.
"Padahal ibu kita Kartini sudah berjuang untuk kesetaraan kaum perempuan , tapi masih saja ada ya yang berpikir sempit di jaman sekarang!" Ucap mami sambil berjalan meninggalkan meja makan.
"Maafkan mami ya!"
"Tidak masalah, apa yang di katakan mami ada benarnya juga ko." Ucap Raihan sambil mengusap-usap lenganku.
"Kalau ada apa-apa segera hubungi kami, jangan di simpan sendiri ya!"
"Tentu Pi."
"Bagaimana kalau Elang biar di sini nemeni mami aja?" Tanya mami yang baru keluar dari belakang sambil menggedong Elang.
"Mami aja masih kerja, pasti suster yang akan ngurusin Elang," jawabku.
"Iya sih, tapi kalau Elang kamu bawa. Nanti pas mami pulang kerja rumah sepi dong, gak ada yang suka berantakan mainan."
"Memang kalau Elang mami bawa,aku gak kesepian apa."
"Tu Dit kode keras supaya cepat nikah!"
"Pinginnya sih gitu mas,tapi belum ada calonnya."
"Mami cariin mau," ucap mami.
"Gak mau,bisa malu aku kalau ketahuan di jodohkan." Acara ngobrol kami setelah makan terhenti, saat ada pemberitahuan kalau ada tamu yang datang mencari Raihan.
Nampak Elang duduk dengan seorang lelaki yang mungkin usianya tidak jau berbeda dengannya.
"Perkenalkan saya Harimurti, Kakak sambung Elang Samudra. Kami saudara seibu tapi beda ayah, jadi tidak ada darah Samudra."
"Kami tidak tertarik dengan penjelasan anda, jadi katakan saja tujuan anda datang ke sini." Ucap Raihan sambil terus menatap tajam kearah Elang Samudra, terlihat mereka saling memandang dan saling berusaha untuk mengenal lebih dekat.
"Aku ingin memastikan ucapan.. Raihan tentang Lucy yang di paksa mendatangi surat cerai kami," ucap Elang.
"Ayah anda memanfaatkan kondisi Luki yang terluka saat kecelakaan, dengan membayar dokter untuk membuat laporan kesehatan palsu."
"Maksud anda tolong jelaskan dan kasih saya bukti nyata. Jangan asal menuduh ,saya akui ayah saya bukan orang baik ,tapi bukan berarti anda bisa menuduh tanpa bukti."
"Saya ambilkan buktinya,"ucap papi berjalan ke ruang kerja.
"Apa kabarmu nak?" Ucap Elang sambil melihat kearah Raihan, terkadang juga melirik kearah Elang junior.
"Seperti yang anda lihat sehat."
"Boleh aku gedong putra kalian ?"
Belum sempat aku dan Raihan menjawab.
"Ini hasil pemeriksaan Luki, yang katanya harus operasi. Karena kecelakaan itu membuat ada luka sampai ke dalam lambung Luki. Tapi kenyataannya hanya sayatan perut yang dalam dan harus di jahit." Jelas papi sambil menyodorkan amplop tersebut.
Setelah membacanya terlihat Elang meremas kertas tersebut , yang langsung diambil oleh Harimurti dan dibaca olehnya.
"Dia bilang Lucy lebih memilih uang ayah, makanya Lusy bersedia menandatangani surat cerai tersebut."
"Kalau begitu saya mau memperlihatkan sesuatu pada anda. Ini foto copy diary Lucy, coba anda periksa apa benar ini tulisan tangan Lucy." Ucap papi sambil menyodorkan kertas yang sudah di jilid rapi.
Elang berjalan kearah Elang junior yang di gedong Raihan. "Saya pastikan tidak akan ada yang mengusik kehidupanmu," ucapnya diahkiri kecupan di dahi Elang junior.
"Bisa kita bicara sebentar,"ucapnya.
Aku tidak apa yang mereka bicarakan di ruang kerja papi. Hanya para lelaki,aku masuk ke dalam kamar ditemani mami.