Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
110. Raihan Rihanna XXXII Bulan Madu



"Sudah siap,?"tanya Raihan saat kami berada di dalam mobilku. Hari ini Raihan minta aku temani menghadapi pernikahan Erlangga, yang diadakan di Bandung. Aku sempat heran menurutku seperti terburu-buru, mengingat dia sempat melamarku. Apa mungkin sudah ada calon sendiri, Erlangga Nya tanyaku dalam hati.


"Orang tua mu tidak di undang?" Tanya Raihan tanpa melihat kearah ku, matanya masih fokus dengan jalanan di depannya.


"Ga tau,tapi biasanya papi mami kalau tidak akrab cuma mengirimkan ucapan dan hadiah. Tau sendiri papi sering berinteraksi dengan orang asing, lagian kadang dia tidak mengingat siapa saja yang pernah jadi relasinya."


"Kenapa kamu tidak meneruskannya karir mami?"


"Aku mau nyari yang beda, begini-begini kalau cuma memberikan pertolongan pertama kepada orang keracunan,serangan jantung ringan dan pingsan aku bisa."


"Ternyata calon istri ku serba bisa, terus kalau kedua adik kembarmu itu apa ada yang mengarahkan ?"


"Tidak, mungkin karena terbiasa. Waktu SMA dan SMP Randi tinggal di pesantren. Radit sama papi dan mami, setiap liburan sekolah. Mami dan papi memberikan mereka liburan sesuai keinginan mereka. Tapi setelah 3-4 hari liburan mereka, akan menghabiskan waktu liburan dengan bekerja."


"Bekerja ?"


"Iya, bekerja. Waktu SMP Randi sering bantu-bantu di pesantren, waktu SMA menjadi karyawan part time om Haidar. Ob, cleaning service,tukang fotokopi, gudang."


"Yang beneran Han,?"tanya Raihan.


"Ya iyalah namanya baru anak SMA,mau suruh ngapain. Baru waktu jadi mahasiswa, baru bisa jadi staf."


"Radit juga?"


"Semua, Radit parah jika memilih ikut mama cleaning service. Jika memilih papi,papi akan menyuruh anak buahnya tidak boleh sungkan dan wajib memberikan pekerjaan kepada Radit."


"Jika menolak ?"


"Libur sekolah, libur uang jajan. Bahkan saat menjadi mahasiswa semua kartu kredit dan debit, harus di kumpulkan selama liburan dan akan di kembalikan setelah sebulan aktifitas perkuliahan di mulai." Ucapku bertepatan


"Gw kira hidup Lo bergelimang harta dari kecil?"


"Hidup mami dari kecil sudah, hidup terpisah dari Abi nya. Jadi dia mau putra dan putrinya bisa , bertahan juga seperti dia. Apalagi almarhum kakek selalu bilang, semua yang kita miliki hanya titipan yang bisa di ambil kapan saja." Ucapku bertepatan dengan mobil berhenti di lobby hotel.


"Mau ngucapin selamat kepada mempelai atau duduk dulu?" Tanya Raihan saat kami sampai di dalam gedung ,tempat acara pernikahan di selenggarakan.


"Lebih baik mengucapkan selamat kepada mempelai dulu, baru kita duduk menikmati hidangan baru pulang."


"Ya udah ayo!"


"Sepertinya gw kenal sama mempelai perempuan,"bisikku pada Raihan ,saat kami mengantri untuk mengucapkan selamat kepada mempelai.


"Selamat atas pernikahannya! Semoga pernikahanmu senantiasa penuh kebahagiaan, cinta, kasih, sayang dan kebahagian langgeng sampai kakek nenek." Ucapku yang berjalan di depan Raihan, sambil menyatukan kedua tangan di dada.


"Terima kasih atas kedatangannya."


"Selamat menikah! Selamat menempuh hidup baru! Selamat menempuh petualangan penuh cinta, kasih, rahmat, dan berkah dari Allah SWT!" Ucapku sambil menyodorkan tangan untuk berjabat tangan, dengan mempelai wanita.


"Rihanna kan ,dulu pernah kerja di Kemeninfo? Gw Cindy,"ucap mempelai wanita,membuat ku seketika ingat pada wanita yang selalu mengekor Bimo.


"Ya Allah ,maaf aku lupa. Pantas tadi waktu mau naik ke sini , saat melihat fotomu aku ngerasa gak asing dengan wajahmu."


"Ekhhm ekhm antriannya panjang Hana ," ucap Raihan lirih.


"Hehe maaf ya,aku harus turun duluuan ya, sampai ketemu lagi Cindy." Ucapku lalu berpindah menyalami kedua orang tua membela laki-laki, yang tidak terlalu di respon baik oleh mereka.


"Kita nyapa teman-teman ku dulu yuk!" Aku hanya mengikuti ke mana Raihan akan membawaku. Setelah menyapa sebentar dan menikmati hidangan kami langsung pulang.


"Jadi mengenal istri kapten Erlangga ?"


"Teman kerja di tempat kerja yang lama."


"Langsung pulang apa mampir dulu?"


"Pulang aja, lagian juga sudah mampir ke rumah om dan Randi ini tadi."


"Oya kamu kapan terakhir kerja ?"


"Seminggu lagi, apa 2 Minggu lagi aku ya. Tergantung pekerjaanku sudah selesai gak nya, kenapa?"


"Kamu mau bulan madu ke mana?"


"Emang kamu dapat cuti berapa hari?"


"Gak tau makanya aku tanya dulu sama kamu mau kemana? Tapi jangan ke Luar uar negeri."


"Aku bertanya siapa tau kamu punya tempat yang pingin di kunjungi di Indonesia."


"Banyak tempat yang belum aku kunjungi di Indonesia. Kalau mau kamu bisa ajak aku ke wisata alam, camping ke gunung. Naik gunung mungkin."


"Aku dengar istri kapten Erlangga minta bulan madu ke Pulau Lombok."


"Terserah kamu aja, ga juga tidak apa-apa."


"Ya udah gak usah bulan madu, duitnya bisa kamu simpan buat keperluan yang lain."


"Ya udah,"ucapku dengan mata yang sudah mulai mengantuk. 2 hari kurang tidur weekend berharap bisa tidur, malah di ajak ke Bandung.


Pernikahan kami kurang 6 Minggu lagi, semua persiapan sudah 80 %. Jadi kami selain menghadiri pernikahan juga mengantarkan undangan kepada, beberapa teman dekat Raihan yang masih berdinas di Bandung. Bukan pesta pernikahan mewah, tetapi sederhana yang mami rencanakan. Karena untuk menghargai orang tua Raihan, biar tidak minder kata mami.


"Hana bangun Sudah sampai di depan rumah,"ucap Raihan sambil menarik-narik jilbabku.


"Gw udah bangun sejak Lo ngobrol dengan pak satpam,"ucapku sambil menutup mulutku karena menguap.


"Kirain belum bangun, soalnya masih terlihat pules."


"Gw mau masuk, langsung pulang saja."


"Aku ,kamu bukan Lo gw," ucap Raihan sambil menarik jilbab ku, saat hendak keluar dari mobil.


"Iya maaf,"ucapku sambil menarik jilbabku.


"Raihan suruh masuk dulu Hana ,!" ucap papi yang baru keluar dari rumah.


"Tu di panggil papi,"ucapku tapi ternyata Raihan sudah keluar duluuan.


Aku langsung masuk ke rumah setelah memberi salam kepada papi.


"Sudah pulang kak?"


"Sudah mi."


"Kakak mau kemana ?"


"Tidur mi , ngantuk banget."


"Bentar lagi magrib Kak!"


"Iya mi bentar aja ngilangin rasa pusing saja." Ucapku yang berlalu masuk kamar dan tidur karena rasa pusing di kepala. Hingga adzan magrib mami membangunkan aku untuk sholat magrib.


"Mi buatkan aku jahe merah dong mi, sepertinya masuk angin deh." Ucapku sambil duduk di samping papi dan langsung merebahkan kepalaku di bahu papi.


"Pusing kak,"ucap papi sambil mengusap-usap kepalaku yang tertutup jilbab.


"Iya Pi. Kok kamu belum pulang?"


"Bukan kamu mas Raihan, belajar sopan dengan calon suami." Ucap mami yang datang dengan membawakan request ku.


"Mau mami kerik?" Tanya mami setelah aku minum jahe madu buatan mami.


"Tar aja mi habis sholat isya,biar langsung tidur."


"Kertas apa ini Pi,?"tanyaku menujuk beberapa kertas yang ada di meja.


"Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan, untuk,Pelaporan bukti penerimaan atau penyampaian Laporan Harta Kekayaan Aparatur Negara (LHKAN)."


"Percuma kamu jelasin anaknya tidur,"ucap mami.


"Aku tidak tidur cuma mataku terasa panas,"ucapku yang di sambut tawa mereka.


"Radit ga ada masuk kamar sana, gak ada yang gedong kamu!"


"Takut mi,"ucapku lirih.


"Jika lagi gak enak badan,mau demam, atau apapun Hana pasti tidur ga mau di kamar sendiri. Jadi yang sabar ya nak Raihan,"ucap papi.


"Iya om insyaallah." Suara yang aku dengar sebelum tertidur.