Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
105. Raihan Rihanna XXVII Jodoh wasiat Kakek



"Jadi yang jadi sopirnya pas kejadian itu kamu, Han ?"


"Iya Alvin,"jawabku malas.


"Hebat Lo, belajar dari mana Han ?"


"Kenapa Ar? Minta suruh ngajarin lo. Ganti mobil dulu Lo,!"ucap Alvin.


"Aku belajar dari temanku yang berkewarganegaraan Jepang."


"Ga usah di dengerkan ucapan mereka. Han tentara yang tadi bukannya yang pernah gw liat ngobrol sama kamu waktu kita makan di angkringan?"


"Iya, mau gw kenali ke dia. Itu masih di dalam ,single dia."


"Bukannya itu calon suami Lo,?"tanya Arya.


"Bukan yang itu."


"Udah kapan kita pulangnya kalau ngobrol terus,mau gw tinggal kalian berdua !" Ucap Alvin membuat Wanda cemberut.


"Nanti kalau ketemu lagi gw kenalin,"ucapku. Hari ini mereka ikut pulang aku ke rumah, untuk mengikuti acara tahlilan 7 hari kepergian kakek.


"Ayo Wan, beginilah nasib orang numpang."Ucap Arya sambil menggandeng tangan Wanda.


"Kita pulang Hana , terima kasih bingkisannya. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam,"ucapku dan masuk ke dalam rumah setelah mereka pergi.


"Mungkin kami kurang sopan,tapi saya hanya memastikan kabar yang berhembus."Ucap papa Erlangga menghentikan langkahku untuk masuk ke dalam rumah.


"Kabar apa?"


"Kalau kapten Raihan kena sangsi militer,karena membiarkan calon istrinya melanggar aturan berlalu lintas. Apa benar orang itu Rihana?"


"Iya bener," ucap papi. Jadi Raihan tidak datang karena sedang menjalani hukuman kedisiplinan?


"Berati berita itu benar. Jadi dengan kata lain ,lamaran Raihan yang anda pilih."


"Maaf sebelumnya. Bukan saya yang memilih, tapi almarhum papa saya yang telah menjodohkan mereka."


"Tapi papa anda sudah meninggal? Kenapa anda harus menuruti, siapa tahu putri anda tidak setuju,?"ucap mama Erlangga.


"Mereka sudah mengenal lama, bahkan sekarang Raihan di hukum gara-gara Rihanna, gimana letak tidak setujunya."


"Kenapa anda tidak menjodohkan putri semata wayang anda, dengan setatus sosial yang sama ?"


"Maaf ibu Wirawan, saya pribadi tidak pernah memaksakan kehendak kepada anak-anak kami. Apalagi anak perempuan, dia saya bebaskan. Karena setelah menikah dia bukan hak kami orang tuanya, tetapi hak suaminya. Masalah perjodohan Hana, sebenarnya sudah terjadi 3 tahun lalu." Ucap mami panjang.


"Maaf Bu ijin bertanya? Apa bener Hana adalah orang yang sama dengan Ning Hana. Cucu kyai Prabu Atmaja pemilik salah satu pesantren di Bandung ?"


"Iya bener,nak Erlangga. Prabu Atmaja ayah kandung saya, meski saya tidak memakai nama Atmaja di belakang nama saya."


"Tidak usah di dengerkan,mau jalan-jalan." Ucap Randi dan Radit yang sudah mengapit ku.


"Boleh ayoo!"


"Kita mau kemana,?" tanyaku saat mobil yang dikendarai berhenti di depan batalyon.


"Menjenguk orang yang sedang menjalani hukuman,"ucap Randi.


"Memang boleh?"


"Boleh dalam penahanan ringan, terhukum dapat menerima tamu dan dapat dipekerjakan di lingkungan satuannya pada jam kerja." Jelas Radit sambil mengeluarkan 2 kantong besar plastik dari bagasi.


"Apa itu?"


"Makanan. Ayok Ki laporan dulu di pos jaga?" Aku menunggu sedangkan Randi dan Radit, menemui para tentara di pos penjagaan.


"Maaf mas kena hukuman gara-gara berada di tempat yang salah di waktu yang salah ." Ucap ku saat sudah berada di depan Raihan.


"Jika menyesal jangan di ulangi."


"Apa mas tidur di sel penjara?"


"Iya tidak apa-apa hanya 2 Minggu ini."


"Aku sudah denger dari nenek. Nenek bilang ini semua sudah di rencanakan kakek Abi, sedangkan kakek Cakra hanya meneruskan. Kakek Cakra sendiri baru menyetujui, setelah bertemu langsung dengan keluarga mas."


"Jadi kamu mau menuruti permintaan terakhir ke dua kakek mu?"


"Tentu mari kita penuhi wasiat terakhir kakek. Mari kita belajar semua dari awal termasuk belajar saling mencintai."


"Sudah ngobrolnya sudah jam 10 malam," ucap Radit sambil menghampiriku.


"Ayo kita pulang, kita tunggu mas di rumah."


"Terima kasih sudah berkunjung," ucap Raihan sambil memukul bahu Randi dan Radit.


Setelah hari itu tidak ada lagi komunikasi yang terjadi antara aku dan Raihan, mungkin masih menjalani hukumannya. Yang kata Randi di hukum penjara 14 hari.


"Kakak ada yang mau papi sampaikan,"ucap papi saat kami sarapan pagi.


"Lusa bertepatan dengan 40 hari berpulangnya kakek, keluarga Raihan akan resmi melamar mu. Apa kakak siap?"


"Siapa gak siap Pi. Lagian kami juga sudah sepakat untuk belajar membuka hati dan belajar saling menerima."


"Sebelumnya nenek gak setuju kamu menikah dengan tentara. Ingat kakekmu yang kaku,tapi setelah melihat calonmu nenek jadi setuju."


"Karena calon Hana ganteng nek,?"tanya Radit.


"Aku melihat sosok papi mu waktu muda."


"Aku kira lihat sosok kakek,?"canda Radit.


"Jangan anggap pernikahan kalian, sebagai pernikahan wasiat. Jalani dengan ikhlas dan niat ibadah karena Allah."


"Iya Pi."


"Jangan lama-lama menentukan tanggal pernikahan kalian!"


"Iya Nek." Gini amat nasib jadi anak dan cucu perempuan satu-satunya di keluarga.


"Lusa menghadiri pernikahan Jelita di Surabaya,kamu bisa mengajak Raihan sekalian perkenalan."


"Orang tua Raihan kan pasti ada di sana,biar kamu bisa mengenal keluarga Raihan sekalian."


"Udah kenal mi."


"Tapi itu kan dulu sebagai teman papi, sekarang mencoba menerima keluarganya sebagai keluarga mu!"


Bukan lamaran mewah, hanya lamaran sederhana yang ada antara dua keluarga. Aku diikat dengan sebuah kalung yang aku yakin harganya menghabiskan melebihi 1 bulan gaji Raihan.


"Titip sepupu cantik gw, jujur jika sampai umur ke 28 dia belum nikah. Gw sendiri yang akan meminta untuk menjadi suaminya."Ucap Bintang membuatku spontan melotot tak percaya.


"Gila lo!"


"Yang sepupu kan orang tua kita,kita saudara jauh tidak ada hubungan darah. Jadi ya sah-sah saja jika kita menikah."


"Gw punya banyak teman cewek mau gw kenalin, biar itu mulut tidak ngaco kalau ngomong." Ucapku sungguh tidak nyaman dengan candaan Bintang.


"Tentu Hana akan aku jaga melebihi nyawaku sendi. Tetapi tetep diurutan ke 2 setelah tanah airku."


"Haha kalian berdua tidak asik bercandanya, sama-sama ga masuk akal." Ucapku melangkah meninggalkan mereka berdua.


"Oya, jika ada waktu lusa ikut ke Surabaya menghadiri pernikahan sepupuku," ucapku yang baru berjalan 3 langkah.


"Akan aku usahakan."


"Jika calon suami mu tidak bisa , jangan kuatir aku akan siap mendampingi mu."


Aku hanya mengangguk kepala malas menjawab mereka. Biar tidak terlalu tergesa-gesa, kedua keluarga sepakat mengadakan pernikahan 6 bulan lagi. Tidak terlalu cepat,tapi juga tidak terlalu mepet. Semua konsep diserahkan kepada ku, tetapi Oma dan para ibu siap membantu.


"Gimana caranya mami bisa mencintai papi. Aku denger disaat pernikahan hati mami masih tidak yakin dengan perasaannya mami sendiri."


"Cintai dia dengan segala kekurangannya, jangan kelebihannya. Belajarlah mencintai yang halal niat kan untuk ibadah, jangan berpikir negatif. Percayakan kepada sang Maha Pencipta yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya."


"Sok puitis mami."


"Dasar ga bisa di ajak romantis," ucap mami sambil menyentil hidungku.


"Aku sudah sering baca pesan rayuan gombal Radit sama cewek-ceweknya, jadi kaya sudah hafal tipe cowok perayu."


"Haha, hidup mami dulu dipaksa lurus karena keadaan. Tetapi mami bersyukur hidup mu selalu lurus, meski berlimpah materi. "


"Radit dan Randi mami tahu juga gak ?"


"Tahu, Radit persis papamu sedikit bandel dan play boy kalau Randi perpaduan sifat kami."Ucap mami sambil mengusap-usap kepalaku yang bersandar di pundaknya.