
"Kamu langsung pulang ? Tidak di sini saja nemeni kakek Abi?"
"Malu ah. "
"Kenapa malu. Kamu kan disini nemuin kakek."
"Iss Kakek tidak tahu saja. Kan orang-orang selalu bilang, 'Itu cucu kyai ko aneh bukan pakai niqab tapi make nya masker! " Ucapku menirukan omongan yang pernah aku dengar. Menempuh pendidikan di Singapura untuk jenjang SMP dan SMA, membuatku jarang pakai hijab. Hingga terbiasa sampai sekarang. Karena itu setiap kali berkunjung ke pondok pesantren, selain memakai hijab aku lebih suka memakai masker medis. Hingga semua keluarga tahu alasannya,biar kakek ga malu saat cucunya tidak berhijab di luar sana.
Kakek yang mendengarkannya malah tertawa, "Ya emang bener apa yang mereka katakan. Mereka itu penasaran dengan wajah cucu kakek yang paling cantik ini." Kata kakek sambil mencubit pipiku gemes.
"Kakek aku itu sudah dewasa bukan anak-anak lagi ," ucapku sambil mengusap pipiku.
"Tapi bagi kakek kamu tetep cucu kecil kakek. Yang paling cantik."
"Ya pastilah cucu kakek kan cuma 3 dan perempuan cuma aku."
"Siapa bilang aku juga cucunya, Assalamualaikum kakek!" Ucap Syifa yang tiba-tiba muncul dan duduk di samping kakek.
"Walaikumsalam wr.wb." Ucapku dan kakek bersama." Lagi liburan kamu?"
"Tidak ! Nganterin teman mau ikut wisata religi."
"Semoga teman mu dapat hidayah begitu juga kamu,?" ucapnya sambil cekikikan.
"Sialan."
"Hana ! Dilarang berkata kasar,!" ucap kakek membuat Shifa cekikikan.
"Itu kek dicari para pemuda yang yang hendak Murojaah."
"Oya udah kakek ke depan menemui mereka dulu,"ucap kakek sebelum meninggalkan kami.
"Siapa yang murojaah ?"
"Ada 5 Pemuda, abdi negara semua. 2 bulan lalu kakek mengisi tausiyah di masjid batalion dari sana mereka kenal kakek." Aku hanya menganggukkan kepalaku.
"Teh , itu teh buat tamu kakek ?"
"Iya Ning Syifa."
"Biar aku saja yang anter sini," ucap Shifa sambil mengambil baki, tanpa persetujuannya teh Anis. Teh Anis umurnya di atas ku setahun.
"Teteh gak ngajar?"
"Ngajar pagi. Ning Hana tidak kedepan siapa tau ketemu jodoh."
"Kenapa tidak teh Anis saja. Teh Anis kan juga seharusnya bertemu jodoh."
"Teteh masih fokus membiayai si Haidar, tahun ini dia lulus SMA."
"Ga ada hubungannya kali teh ."
"Ya ada atu Ning."
"Assalamualaikum, maaf saya mau ke kamar mandi sebelah mana ya?" Tanya suara yang tiba-tiba muncul, membuatku langsung memakai masker.
"Itu AA lurus saja nanti kelihatan."
"Terima kasih."
"Sudah gak ada orangnya, lepas saja maskernya."
"Enggak ah. Orangnya kan belum lewat,tar pasti lewat sini lagi."
"Kamu itu aneh. Karena kebiasaan mu memakai masker ini, kamu tidak takut di katakan buruk rupa?"
"Lebih baik di katakan buruk rupa."
"Aneh kamu !"
"Aku tidak mau karena belum kesiapan aku memakai hijab kaya teteh ,bisa menjadi masalah buat kakek Abi."
"Makasih teh,"ucap lelaki itu sambil berjalan melewati kami. Teh Anis hanya tersenyum tipis tanpa melihat kearahnya.
" Para santriwati kalau lihat orang berseragam apalagi tampan ,pasti pada heboh," ucapku.
"Itu wajar asalkan jangan berlebihan dan menjerumuskan kita kedalam dosa. Baik itu Zina ain yaitu ketika seseorang memandang lawan jenisnya dengan rasa hawa nafsu (zina mata). Zina qalbi yaitu ketika memikirkan atau berimajinasi tentang lawan jenis dengan perasaan senang dan bahagia (zina hati)."
"Kalau cuma liat sekedarnya. O laki-laki. O perempuan cantik ga pa pa kali." Kataku teh Anis tersenyum tipis. "Kamu itu sengaja mau nge tes teteh sepertinya?"
"Ya gak lah teh. Mana berani aku ngetes teh Anis yang seorang guru fiqih."
"Ini anter kedepan sudah Mateng singkong rebus nya."
"Teteh saja,lah . Tamu kakek laki-laki semua."
"Tapi di depan juga ada Syifa."
"Biarin saja Shifa." Setelah 15 menit teh Anis ke depan, dia kembali dan bilang aku suruh ke depan.
"Mau ngapain sih teh ?"
"Enggak tahu kyai."
"Ya udah Ayuk temanin."
Nampak Kakek duduk dengan 5 Pemuda di depannya dan Shifa duduk di belakang kakek.
"Kakek memanggilku?"
"Jaga adab. Duduk yang sopan jangan hanya berdiri."
Aku duduk di antara para pemuda dan kakek. "Kenapa kamu ajak Anis segala? Emang kamu berbuat salah ,?"tanya kakek saat melihatku juga menarik Anis untuk duduk.
"Buat teman bicara di jalan," ucapku membuat pemuda yang tadi sempat melihat kami di area dapur cekikikan.
Kakek terlihat menarik nafas dalam-dalam dan beristighfar sebelum di hembuskan keluar. "Ini laptopnya si AA waktu numpang di cas tidak sengaja kena air!" Ucap kakek sambil menunjuk laptop yang lagi di lap sama pemiliknya. Raihan !!" kataku dalam hati.
"Ya tergantung air apa dulu, yang lebi simpel buka saja Sasis. Saat membuka sasis, sangat mudah untuk menemukan kerusakan pada laptop. Jika hanya menumpahkan air ke dalam laptop, tentu saja komponen hanya perlu dicopot dan dikeringkan. Namun, jika menumpahkan sesuatu yang lengket atau manis, komponen dalam sasis kemungkinan perlu dibersihkan dengan benar ."
"Udah tidak apa-apa pak kyai," jawab Raihan. Oh punya Raihan ternyata, ucapku dalam hati .
"Coba kamu cek itu laptop. Tadi di waktu di ces tidak sengaja ketumpahan kopi!"
"Ceroboh ,!" ucapku.
"Hana !" Ucap kakek sambil melotot kearah ku.
"Hehe," nyengir ku sambil mengambil laptop untuk melihat kondisi laptop.
"Mati total sepertinya," ucap Shifa.
" Coba kita lihat ," ucapku sambil melepaskan beberapa komponen.
"Sif ,ambil kain kering yang lembut dan jangan berbulu untuk membantu mengeringkan laptop lebih cepat.
"Oke."
" SSD atau Hard Drive serta batang RAM yang terpasang di motherboard Keringkan semua! bercak-bercak air yang terlihat di laptop sampai benar-benar kering!"
"Iya!" Jawab Shifa. Setelah dikeringkan dan benar-benar kering baru aku pasang kembali.
"Oke tidak ada masalah yang serius," ucapku setelah laptop tersebut bisa menyala dan tidak ada tanda-tanda kerusakan.
"Maaf ya nak Raihan atas apa yang terjadi," ucap kakek.
"Tidak apa-apa, pak kyai."
"Mereka cucu pak kyai semua,?" tanya Langga yang juga ada disitu.
"Iya mereka cucu saya semua. Meski hanya satu yang keturunan saya, tapi buat saya mereka sama saja."
"Ada apa ada yang Lo taksir,?" tanya seseorang pemuda yang tadi sempat ke toilet.
"Cucu saya. Saya larang keras buat menjalani hubungan yang namanya pacaran. Jika diantara kalian ada yang berminat, silahkan khitab."
Langga dan yang lain hanya diam tidak ada jawaban, "Kalau saya boleh tahu syarat untuk mengkhitab cucu kyai apa,?"tanya Pemuda yang tadi ke toilet. Membuat teman-temannya kaget mendengarnya.
"Syarat mengkhitab cucuku mudah kok, nak Fauzi. Seiman biar bisa se amin," canda kakek. "Tidak ada syarat khusus buat kakek, kesini bersama walimu,"sambung kakek lagi.
"Dari ketiga cucu Kakek apa ada yang Single,?" tanya Fauzi.
"Alhamdulillah masih Single. Yang memakai syar'i navy umurnya 25 tahun mengajar di sini, namanya Anis. Yang memakai syar'i abu namanya Syifa pasti kalian sudah kenal. Kalau pakean yang berbeda ini adalah, Rihana."
"Bilang aja paling tidak anggun atau paling tidak tertutup," gerutu ku tapi masih bisa terdengar mereka.
"Kakek gak bilang Lo ya,kamu sendiri yang bilang." Disaat semua memakai baju syar'i atau rok panjang. Aku malah memakai celana bahan tanpa rok dan sweater, dengan jilbab instan.
"Apa sih kek!" Kakek akan selalu begitu. Tapi aku sadar itu hanya karena dia terlalu sayang padaku, dan berharap aku juga bisa berhijab seperti para santriwati disini.