Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
118. RR. Alergi



Sudah sebulan umur pernikahan kami, setelah Raihan berangkat kerja aku akan sibuk dengan laptop dan komputer ku. Meskipun aku sudah tidak terikat kerja di google, tapi aku membantu mengawasi keamanan data perusahaan garmen warisan kakek. Kadang juga jadi IT konsultan buat pabrik garmen, atau teknisi yang harus siap membantu pabrik garmen atau firma hukum.


"Mbak Hana bawa apa,?"tanya Yanti yang berjalan menghampiriku.


"Semalam beli brownies,ni cobain."


"Enak mbak, pasti mahal."


"Enggak juga,"ucapku.


Hari ini aku janjian dengan Yanti, mau ke rumah Bu Rudy. Bu Rudy nanti malam mengadakan acara syukuran dan ijab ulang. Ya Bu Rudy tidak jadi bercerai, makanya mengadakan acara syukuran dan ijab ulang. Aku sendiri belum pernah ke temu Bu Rudy sejak di rumah sakit. Karena aku juga sibuk dengan komputer ku dan laptopku.


"Eh Bu Yusuf mau ikut ke rumah Bu Rudy gak,!" ajak Yanti. Aku sendiri sejak tahu Ratih mantan Raihan, sedikit menjaga jarak. Karena beberapa kali aku melihat Ratih selalu mencuri pandang ke arah Raihan.


"Enggak bisa ,maklum saya orang sibuk harus kerja." Jawabnya terkesan sombong dan angkuh.


"Sombong banget mentang-mentang wanita karir,"ucap Yanti.


"Sudah biarkan saja,ayo kita berangkat."


"Mbak tau gak? Bu Yusuf beli mobil itu mengadaikan SK kerja pak Yusuf Lo," ucap Yanti sambil berjalan.


"Ko kamu tahu?"


"Kan adikku kerja di bank bagian survey. "Denger-denger dari sepupunya letnan Yusuf,mas kawinnya minta mobil." Aku hanya tersenyum menanggapinya, padahal dalam hatiku penasaran.


Ternyata hidup di asrama seperti yang kebanyakan, cerita-cerita yang sering aku dengar. Nenek yang pernah tinggal di asrama banyak memberikan masukan kepada ku.


"Eh ada pengantin baru,"ucap Bu Hanif.


"Sudah sebulan Bu, sudah pengantin lama." Jawabku sambil bergabung dengan ibu-ibu yang lain.


"Sini bantu bikin box buat kue!"


"Bu Sugeng katanya sakit, sudah sehat bu?" Tanya Visa istri Letnan Roni.


"Alhamdulillah Bu Roni,"jawab Rachel istri Serda Sugeng.


"enya kumaha teu gancang cageur, dokter teh kasep pisan." (Ya, gimana gak cepat sembuh dokternya ganteng sekali.) Ucap Bu Hanif yang di sambut tawa ibu-ibu yang lain.


"Ngerti gak mbak yang mereka omongin,"bisik Yanti.


"Ngerti sedikit, kenapa."


"Syukur tidak perlu aku jelaskan."


"Haha bisa aja kamu." Semua kue dan makanan catering, kami hanya membantu menyiapkan. Setelah kue masuk box semua,kami dipersilahkan untuk makan siang sebelum pulang.


"Ya beginilah nasib punya suami kalau pangkatnya rendah." Ucap Bu Sugeng yang lagi mencuci piring dengan Yanti.


"Tidak apa-apa bersyukur saja, ga tiap hari ini,"ucap Yanti.


"Tapi aku mau pergi Bu Ari," ucap Bu Sugeng.


"Ya udah Bu Sugeng sini saya gantiin , saya lagi gak ada kerjaan. Lagian rumah saya sama Bu Ari,kan bersebelahan." Ucapku yang dari tadi mendengar obrolan mereka. Tadi aku sempat ngobrol dengan Bu Rudy sebentar,tapi karena ada tamu aku undur diri. Berniat mengajak Yanti pulang,malah mendengar keluhan Rachel istri Serda Ari.


"Tapi Bu,"ucapnya ga enak hati.


"Udah sana gak papa," ucapku lantas mengambil busa sabun cuci yang dipegangnya.


"Terima kasih Bu Raihan,"ucapnya sebelum pergi.


"Mbak Hana ga boleh begitu, suami mbak itu kapten Lo ."


"Ga ada hubungannya suami dan cuci piring,"ucapku sambil menyabuni piring. Hampir 30 menit kami berdua membersihkan semua perlengkapan dapur yang kotor. Hingga Bu Rudy datang setelah tamu-tamunya pergi.


"Ko dek Raihan yang cuci piring,cuma berdua dengan Bu Ari?"


"Ga apa-apa Bu cuma cuci piring ini. Ya udah ya Bu kami pamit pulang, sebentar lagi jam istirahat mau nyiapin makan siang."


"Terima kasih ya deh Raihan,dek Ari."


"Iya Bu sama-sama, permisi. Assalamualaikum,"ucap kami bersamaan.


Selama perjalanan pulang aku mulai merasakan alergi ku kambuh, karena itu aku sembunyikan tanganku ke dalam jilbab lebar ku.


Hingga sampai di rumah kulihat Raihan sedang ngobrol dengan beberapa tentara muda, sambil menikmati rokok.


"Assalamualaikum," ucapku dan langsung mencium punggung tangan Raihan. Tanpa mengeluarkan tangan dari dalam jilbab.


"Walaikumsalam."


"Nyari apa dek,?" tanya Raihan yang sudah berdiri di sampingku.


"Salep."


"Coba liat tangannya,!" ucap Raihan sambil menarik tanganku. Nampak ruam kemerahan, muncul luka bekas garukan dan mulai membengkak.


"Kenapa,?" tanya Raihan sambil memperhatikan kulit putihku ,yang sudah berubah warna menjadi merah.


"Kamu duduk,mas akan carikan di meja rias sini kan."


"Kita cari berdua biar cepat ketemu. Aku sudah tidak tahan dengan rasa gatalnya dan rasa panasnya, seperti membakar kulitku." Ucapku sambil menahan rasa gatal dan panasnya,di sela-sela jari-jari tangan.


"Hah habis! Aku lupa beli,"ucapku lemas saat sudah ketemu.


"Mas belikan di apotik."


"Tidak ada ini mami dan papi bawa dari Jepang langsung."


"Ambil kan air es aja atau es batu mas buat ngopres. Buat meredakan kulit yang mengalami peradangan." Ucapku Raihan dengan cekatan langsung bergerak.


"Aku sudah telpon Radit, katanya di rumah mami masih ada. Radit yang akan mengantarkan langsung kesini."


"Terima kasih mas," ucapku sambil memejamkan mataku. Rasa dingin juga mampu mengurangi sensasi panas terbakar yang kulitku alami.


"Kenapa bisa kaya begini sih,"ommel Radit sambil mengolesi salep ke tanganku.


"Tida apa-apa hanya alergi Kambu."


"Sekarang mana mas Rai?"


"Balik kantor."


"Seharusnya kalau tahu punya alergi jangan di paksakan." Sepanjang mengolesi salep, mulut Radit tidak berhenti bicara persis mak-mak kompleks.


"Ini obat anti alergi ,kamu minum dan tiduran di kamarmu sana."


POV. Raihan.


"Mau pulang Ndan ?" Tanya Praka Rama yang bertemu denganku di parkiran motor. Sungguh aku tidak tega meninggalkan Hana yang kesakitan. Tadinya aku tidak percaya dengan cerita Hana tentang alerginya, karena aku baru tahu ada alergi sabun sampai kaya begitu.Sebenarnya aku ingin sekali marah dengannya, sudah tahu ada alergi masih aja memaksakan diri.


"Sudah pulang mas,?" tanya Ratih yang sepertinya juga baru pulang kerja.


"Hmm,"jawabku tanpa melihat kearahnya.


"Kulihat di dalam ada lelaki, sepertinya istrimu main serong."


"Istriku bukan seperti itu !" Ketusku langsung berjalan masuk,ke dalam rumah yang terbuka.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


"Radit masih disini ?"


"Masih mas,Hana lagi tidur sehabis minum obat pereda nyeri dan gatal. Bisa bicara sebentar mas?"


"Tentu Radit mau bicara apa."


"Kalau Hana sakit atau mengalami kaya begini cukup mas telpon aku atau Randi,ya. Jangan telpon papi atau mami , bisa panik mereka nanti!"


"Oh iya, tadi aku sempat telpon mami tapi tidak ada yang mengakatnya."


"Syukur kalau begitu. Kami bertiga kembar,tapi Hana lahir 2 bulan lebih cepat. Karena itu selama sebulan lebih saat kami hidup di dalam perut mami, Hana harus bertahan hidup dengan alat-alat bantu. Karena itu tubuh Hana tidak sekuat yang terlihat."


"Mas baru tahu akan mas usahakan."


"Di saat orang lain drop hanya demam tinggi, Hana bisa di sertai dengan mimisan. Karena tolong kalau keadaannya ada masalah hubungi saja kami, tubuhnya juga ada alergi terhadap beberapa obat. Jadi tidak sembarang obat yang bisa masuk ke dalam tubuhnya."


"Terima kasih mas akan selalu ingat."


"Ya udah aku balik dulu,mobilku aku parkir di depan. Tadi aku kesini mintak tolong orang yang kebetulan lewat."


"Kenapa tidak di bawa masuk mobilnya?"


"Hehe aku bawa Mobil Hana,"ucapnya sambil nyengir sebelum berpamitan pergi.


Istriku yang kuat di luar ternyata tidak sekuat yang terlihat, ucapku sambil mengusap kepalanya. Banyak hal yang tidak aku ketahui tentangnya.