Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
151. Ketahuan



"Lihat perutmu ?"


"Kenapa dengan perutku, tidak ada yang aneh dengan perutku ?"


"Ya Allah, beri hambamu ini kesabaran extra untuk menghadapi bumil satu ini." Ucap Randi sambil meraup mukanya kasar, yang malah membuat Saras sekertarisnya menahan tawa.


"Kamu itu sedang hamil besar. Kamu itu kemana-mana membawa tidak hanya membawa nyawamu Hana , tapi juga 2 nyawa keponakan aku! Jadi bisa tidak kalau mau pergi kasih aku kabar dulu!"


Karena Randi pulang telat dan aku lapar kepingin makan bakso sambil menikmati matahari terbenam. Aku putuskan browsing tempat itu di internet, begitu menemukannya aku langsung pergi dan lupa untuk meninggalkan pesan buat Randi. Ahkirnya sampai apartemen aku di marahin Randi , persis anak sekolah di marahi seniornya.


"Ya maaf namanya juga lupa, aku terlalu bersemangat sampai lupa memberikan kabar padamu." Ucapku sambil memasang wajah mengiba.


"Kalau kamu susah di bilangin terpaksa aku hubungi mami, dan suamimu paham !" Ancam Randi membuatku langsung mengangguk.


"Sekarang kamu ganti baju, habis itu kita berangkat kontrol kandungan." Ucapnya sebelum pergi ke kamar, untuk berganti baju.


"Mbak bikin takut tau, pak Randi bingung harus berbuat apa untungnya mbak segera pulang!"


"Hehe kalian lama pulangnya ?"


"Ya sekitar 15 menit lah."


"Oh belum terlalu lama. Ga papa latihan sabar, biar hidupnya tidak terlalu kaku." Ucapku sambil cekikikan dan mengusap-usap perut besar ku. Maklum kali ini hamil kembar 2, jika di tanya apa aku kangen dengan Elang putraku dan suamiku? Jawabku tentu saja aku juga kangen mereka, tapi aku juga harus memikirkan keselamatan bayiku. Aku belum punya bukti yang kuat, untuk menyeret Nadiva ke penjara.


Aku selalu meminta Randi untuk melakukan panggilan video call kepada Elang,mami atau Raihan jika aku kangen mereka. Awalnya mereka meresa aneh kenapa harus video call, tapi Randi selalu memberikan alasan yang cukup masuk di akal.


"Ayo kita berangkat !"


Aku dan Saras mengikuti Randi dari belakang, setelah mengantarkan Saras pulang baru kami ke dokter kandungan.


"Usia kandungan 30 Minggu, semua sehat cuma salah satu janin beratnya kalau bisa di tambah ya bu!"


"Iya dok, akan aku usahakan."


"Kehamilan kembar rawan prematur, jadi saya harap istrinya bener-bener di jaga ya pak!"


"Iya dok "


"Seperti biasa saya kasih resep vitamin ya Bu."


"Iya dok ."


"Kamu tidak mau menghubungi mami buat nemenin kamu lahiran


nanti?" Tanya Randi saat kami sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.


"Aku takut nanti malah mami repot dan menimbulkan kecurigaan, mata-mata Nadiva."


Ya dirumah ku ada seorang pelayan yang menjadi mata-mata Nadiva, aku tahu dari Arif yang masih bekerja di rumah Bayu. Sedangkan menurut Randi itu pembantu baru belum terlalu lama bekerja di rumah papi, dia baru bekerja 1 Minggu sebelum aku dinyatakan meninggal.


"Habis ini kita langsung pulang atau mau mencari sesuatu ?"


"Aku mau makan di tenda pecel lele tidak jauh dari pondok !"


"Oke,tapi kalau ketahuan orang pondok bagaimana ?"


"Aku akan pulang sendiri ke apartemen, kamu nginep aja ke pondok dan cari alasan yang tepat oke."


"Bener kata orang kalau sekali membuat kebohongan ,akan timbul kebohongan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang sudah ada. Ya Allah Ya tuhan ampunilah hambamu ini yang telah banyak berbuat kebohongan."


"Maaf jika kamu tidak mau lagi tak apa-apa, tapi kamu tidak kasihan dengan keponakanmu ini."


"Setelah ponakan ku lahir , kita atur rencana yang lebih matang. Kalau perlu kita kerjasama untuk memenjarakan Nadiva dan Bayu pria tua itu."


"Kerja sama dengan siapa ?"


"Dengan semua keluarga kita !"


Karena warung tenda tujuan kami penuh, kami membatalkan untuk makan di sana dan memilih untuk di bungkus. Selama makan kami juga sempat video call dengan mami, dan memperlihatkan Elang yang sudah tidur dengan papi. Menurut mami Elang biasa tidur di mana saja, dengan Radit, bahkan jika Raihan libur Elang akan di jemput Raihan untuk tinggal di asrama.


"Kamu kenal Nadiva dari Samudera grup ?"


"Dia beberapa kali ke rumah berusaha mendekati Elang."


"Terus bagaimana tanggapan Elang?"


"Biasa saja, kadang malah nangis."


"Itu siapa Ran?"


Membuat jantungku berdetak kencang dan langsung bersembunyi.


"Siapa mi?" Ucap Randi sambil mengarahkan kamera ponsel ke seluruh penjuru ruangan apartemen .


"Sepertinya mami salah liat,"ucap mami di sebrang telpon membuatku bernafas lega. "Gak mungkin orang kaya kamu memasukkan wanita ke apa malam-malam."


"Iya lah mi,aku juga masih takut dosa. Tidak mungkin ada perempuan yang bukan muhrim ku ada di apartemenku, malam-malam begini."


"Ya udah mami mau tidur, Elang juga sudah pulas dengan papi."


"Iya mi."


"Usahakan weekend ini pulang jangan kerja terus!"


"Iya mi." Setelah saling mengucapkan salam, Randi hanya menghela nafas dan masuk ke dalam kamar. Sedangkan aku membersihkan bekas makan sebelum kembali ke kamarku.


Seperti biasa aku akan menyiapkan sarapan pagi buat kami sebelum Randi pergi ke kantor. Hingga bel apartemen berbunyi di saat Randi keluar dari kamar.


Paling juga Saras, kalau Keluarga pasti langsung masuk bukan neken bel apartemen.


"Ayo sarapan bersama dulu sebelum bekerja,"ucapku sambil menyiapkan makan di meja makan.


"Mami,papi."Ucapku lirih saat melihat mami dan papi melihat kearah ku.


"Kenapa kamu tega membohongi mami dan papi."Ucap mami marah sambil menangis.


" Tenang mi kita dengarkan penjelasan Hana dulu, oke." Ucap papi sambil menuntun mami duduk, sedangkan Randi membawa Elang ke kamarnya.


"Aku terpaksa mi, menurutku semakin sedikit yang tahu keberadaanku. Aku akan semakin aman,aku lakukan ini demi ini."Ucapku sambil mengusap perutku.


"Kamu hamil?"


"Iya Pi."


"Berati bener dugaan Raihan !"


"Raihan, memang kenapa ?"


"Raihan bilang kemungkinan kamu hamil. Dia juga percaya itu bukan jenazah mu, bahkan Raihan melakukan tes DNA dengan jenazah korban."


"Ada yang tahu tidak Pi, bisa bahaya kalau ada yang tahu pi?"


"Tidak. Raihan meminta kami secara rahasia."


"Syukur deh."


"Sekarang ceritakan kenapa kamu bohongin kami semua ."


"Nadiva sengaja membuat aku gila mi dan membuang ku, biar dia bisa mendekati Raihan."


"Apa!!" Teriak mami dan papi bersamaan. "Terus bagaimana kamu bisa di sini,?" tanya mami.


"Aku kerja sama dengan yang menculik ku, dari dia juga aku tahu di rumah Kita ada mata-mata mi makanya aku memilih mengikuti rencana mereka." Bohongku, jika aku tidak bohong bisa marah besar mami.


"Sekarang ceritakan semuanya,!"ucap mami .


Ahkirnya aku ceritakan semua yang menimpa ku,dan hari ini bertambah 2 orang yang tahu tentang kondisi ku. Mungkin besok akan bertambah lagi yang mengetahui keberadaan ku.


Mungkin sudah saatnya aku harus mulai berhati-hati dan waspada.