Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
152. RR. Bertemu



POV. Raihan


Aku tidak pernah merasa berada di masa seperti ini sedih, sakit tapi tidak bisa mengutarakan harus bersikap tegar. Ini pasti yang dirasakan Hana waktu aku sempat hilang dulu, apa lagi saat itu ada Elang putraku yang baru lahir. Sudah 6 bulan lebih aku mencari Hana , tapi aku belum menemukan titik terang keberadaan Hana.


"Kep di depan ada perempuan yang mencari anda?"


Pasti Nadiva lagi, beberapa kali dia menemuiku. Bahkan dengan gilanya dia bilang sangat sayang dengan Elang putraku , bahkan siap jika harus merawat Elang. Beberapa kali dia datang ke rumah dinas, tapi sudah 3 kali aku tolak. Aku selalu tutup pintu rumah dan bilang kalau lagi di luar rumah, padahal aku sedang berada di dalam rumah.


"Bilang padanya saya sibuk, suruh pergi saja !"


"Baik kapten !" Ucap prajurit muda sebelum pergi.


"Sepertinya perempuan itu sangat menginginkan kamu, meski di tolak tetep semangat."


"Anda jangan meledek saya kapten Erlangga."


"Haha aku tidak menyangka istri anda sudah dinyatakan meninggal bahkan sudah di kubur beberapa bulan yang lalu, tapi sepertinya anda masih merasa dia hidup."


"Dia masih hidup di hati saya. Permisi adzan dhuhur sudah memanggil saya."


Aku tidak bisa bilang ke semua orang kalau Hana masih hidup, tapi aku percaya Hana masih hidup. Apalagi mengingat tes DNA korban kemarin yang tidak sama dengan dengan orang tua Hana . Sayangnya aku tidak bisa mencari secara terang-terangan keberadaan Hana .


"Kapten sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan siang bersama,?" ajak Serda Ari.


"Saya sudah kenyang. Saya mau kembali ke kantor masih ada yang harus saya kerjakan, sebelum berangkat mengikuti latihan bersama Minggu depan."


"Jaga kesehatan kapten Raihan, jangan terlalu di porsi badannya butuh istirahat juga."


"Iya terima kasih." Ucapku sebelum pergi. Aku tahu aku sering di omongin ibu-ibu rumah dinas, katanya aku sekarang kaku tak pernah senyum. Bagaimana aku bisa senyum jika aku tidak tahu bagaimana keadaan istriku saat ini.


🎼✉️+628 2356 454xx


Istri anda masih hidup, saya mohon jangan pernah tergoda dengan wanita lain.


^^^Me^^^


^^^Buktinya ^^^


🎼✉️+628 2356 454xx


📷 (Foto Hana seperti orang gila)


Ini foto 6 bulan lalu.


☎️ +628 2356 454xx Berdering


'No yang ada tuju menolak panggilan anda '


Ah sial kenapa ga bisa di hubungi lagi. Aku percaya, tapi kenapa sekarang no ini ga bisa dihubungi lagi.


Karena pikiran ku yang tidak tenang aku putuskan ijin pulang cepat, dan langsung ke kantor papi.


"Tapi bapak Arkana sedang ada tamu klain, silahkan tunggu sebentar." Kata resepsionis, karena tidak sabar aku hubungi papi dan bilang kalau aku sekarang sedang menunggunya.


Mungkin buat mbak resepsionis aku terkesan arogan , disuruh nunggu malah telpon langsung bosnya.


"Assalamualaikum Pi."


"Walaikumsalam, ayo duduk."


"Maaf ya Pi mengganggu waktunya !"


"Tidak apa-apa,itu tadi juga sudah selesai karena teman lama jadi ngobrol dulu. Ada apa sepertinya penting ?"


"Papi lihat ini," ucapku sambil menyodorkan ponselku.


"Papi akan memberi tahu sesuatu hal tapi janji jangan gegabah." Ucap papi sambil meletakkan ponselku, dan mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan video padaku.


"Ini Hana Pi? Papi sudah bertemu ? Bagaimana keadaannya pi?"


"Satu-satu Rai akan papi jelaskan."


Aku hanya mengangguk sambil terus melihat gambar Hana di ponsel papi.


"Beberapa Minggu lalu saat video call dengan Randi ,mami melihat penampakan wanita tanpa hijab di apartemen Randi. Mami takut Randi salah pergaulan, apalagi ahkir-ahkir ini Randi jarang pulang dan selalu beralasan sibuk. Ahkirnya mami minta dianterin ke apartemen Randi setelah sholat subuh."


"Jadi Hana berada di Bandung di apartemen Randi ?" Tanyaku memotong cerita papi.


"Iya Hana melakukannya karena terpaksa, karena harus menjaga anak kembar kalian."


"Jadi benar Hana hamil dan kembar,"ucapku terharu. Keinginanku untuk menambah anak sebelum genap 35 tahun ahkirnya tercapai.


"Iya papi sebenarnya ingin memberi tahu mu saat itu juga,tapi belum ketemu momen yang tepat. Apalagi ternyata ada mata-mata Nadiva di rumah papi."


"Apa, bagaimana Hana bisa tahu?"


"Apa mereka lelaki semua pi?"


"Haha kamu cemburu ? Jangan kuatir satu seorang duda bekerja di rumah Bayu sebagai satpam. Satu lagi mahasiswa kedokteran yang sekarang sedang sibuk skripsi, mereka tetangga kontrakan."


"Apa aku bisa bertemu dengan Hana pi?"


"Silahkan tapi jangan terlalu menekan Hana , tentu kamu paham maksudku."


"Iya Pi, makasih aku pergi dulu Pi."


"Hati-hati."


…Apartemen 🏢 Randi …


"Perut lapar kulkas kosong,ah ke swalayan bawah saja kali ya. Lagian sudah jam 8 malam kemana ini orang belum pulang."


Aku siap-siap saat aku keluar ku lihat Saras sedang keluar dari lift dan seorang lelaki di belakangnya, yang tidak kelihatan wajahnya karena tertutup topi dan kacamata hitam.


"Mau kemana mbak ?"


"Lapar! Isi kulkas habis, kemana Randi ?"


"Pak Randi menghadiri acara undangan salah satu kolega perusahaan. Saya di suruh melihat kondisi mbak ?"


"Ya udah kamu temenin saya belanja lumayan kamu bisa bantu-bantu saya membawa belanjaan. Siapa lelaki itu Kenapa berdiri di belakangmu dari tadi ?" Saras menoleh ke belakang bertepatan dengan lelaki tersebut membuka topi dan berlanjut kacamata hitamnya.


Deg deg deg mas Rai, apa mataku tak rabun. Mengapa ada mas Rai di sini ? Pasti ulah papi atau mami, dugaan ku benar makin bertambah orang yang tahu keberadaanku. Belum genap seminggu sekarang bertambah Raihan yang tahu. Aku senang tapi juga takut, akan hal buruk terjadi.


"Assalamualaikum wahai bidadari surga mas?"


"Walaikumsalam, mas." Jawabku yang langsung di balas pelukan oleh Raihan.


Plak aku pukul bahu Raihan sekencang mungkin, "Jangan kencang anak-anak jadi tergencet,!" Keselku.


"Maaf sayang." Ucap Raihan sambil mengusap perutku.


"Saras tolong belikan makanan apa saja ya,aku tunggu di apartemen saja. Oya kenalkan ini suamiku,mas Raihan."


"Saraswati mas." Mas Raihan tidak menjawab hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Ayo masuk mas, kita bicara di dalam."


Baru saja pintu tertutup Raihan sudah memelukku dari belakang, sampai terasa hangat nafasnya yang memburu.


"Mas."


"Biarkan begini,mas kangen sama kamu."


Sampai 10 menit," Tapi aku capek kalau berdiri terus."


"Ayo duduk,"ucap Raihan sambil membantuku duduk. "Sayang berapa usianya ?"


"Kalau gak salah sekarang 32 Minggu."


"Kenapa tidak menemui mas?"


"Aku belum memiliki bukti yang cukup, dan aku tidak mau membuat mata-mata Nadiva curiga. Aku mau Nadiva merasa rencananya berhasil."


"Kamu mau rencananya Nadiva berhasil ?"


Aku hanya mengangguk,"Aku merasa percuma memenjarakan orang licik kaya dia. Pasti dia masih bisa berulah di penjara, atau mungkin bebas dari penjara."


"Kenapa kamu bisa berpikir begitu ?"


"Om Arya pernah punya klain yang berurusan dengannya, tapi di tengah jalan malah klain om Arya yang menyerah. Hanya karena tekanan uang dan ancaman."


"Bagaimana kalau aku kamu jadikan,alat buat menjebaknya."


"Mas mau melakukannya ?" Tanpa menjawab Raihan langsung mengaguk mantap.


"Oke setelah dedek lahir kita buat rencana SE matang mungkin, biarkan dia menerima ganjaran akan dosa-dosanya."


"Apa rencana mu?"


"Memiskinkan dia, selama dia masih punya uang, atau backing yang kuat akan sangat susah. Apa kamu tahu siapa backing nya?" Raihan hanya mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepalanya.


"Bayu Samudra kakekmu."


"Hah yang benar !"


"Aku melihat dan mendengarkan sendiri,saat aku pura-pura tidak sadarkan diri."


Obrolan kami berhenti saat Saras datang mengantarkan makan malam, setelah Saras pergi tidak lama Randi pulang.