Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
149. RR. Hamil



Kami bertiga bekerja sama, obat yang yang diberikan Nadiva di campurkan ke dalam air galon oleh Tegar. Tegar bilang sehari kita bisa minum lebih dari 3 kali, jadi obatnya biar cepat beriaksi. Juga untuk menghindari kecurigaan, karena semua penghuni rumah juga meminumnya. Padahal kenyataannya setia pagi Tegar dan Arif pergi, pulangnya mereka akan memenuhi tas ransel mereka dengan makanan dan minuman buat aku.


Sudah 3 hari aku di kurung di sini, menurut cerita Tegar dan Arif, Bayu dan Nadiva sempat curiga saat aku tidak berusaha kabur atau berontak. Tapi dengan penjelasan bahwa obat penenang dari mereka telah bekerja membuat mereka percaya.


"Aku bisa minta tolong pada kalian untuk membeli kan aku taspek kehamilan ?" Tanyaku lirih tidak enak hati.


"Bisa ,aku akan belikan testpack untuk mu kamu tidak perlu merasa tidak nyaman."


"Maaf merepotkan."


"Seharusnya kami yang minta maaf, gara-gara kami mbak jadi terpisah dengan keluarga mbak."


Aku hanya tersenyum, ingin sekali aku marah. Tapi sadar himpitan ekonomi membuat mereka terpaksa melakukan ini semua. Meskipun begitu aku masih bersyukur karena, di pertemukan dengan orang-orang yang mau menolongku. Meskipun dari awal rencana mereka tidak baik padaku.


"Mbak aku kemarin sempat mendengar Nadiva membeli mayat seorang wanita tuna susila, yang mati overdosis. Padahal rencananya mayat tersebut mau di awetkan untuk Cadaver." Jelas Tegar, Cadaver adalah jenazah atau mayat manusia yang telah diawetkan secara resmi atau legal dapat dipergunakan untuk keperluan Pendidikan khususnya dalam pembelajaran anatomi.


"Hah buat apa?"


"Karena poster tubuhnya mirip dengan mbak ."


"Apa jangan-jangan dia membuat aku seolah mati," ucapku sambil mengepalkan tanganku.


Dasar wanita gila !


"Dugaan ku juga begitu mbak, karena baju terahkir mbak dan semua tanda pengenal mbak di ambil olehnya."


"Sekarang apa rencana mu,?" tanya Arif.


"Aku belum bisa berpikir, aku harus memastikan kondisi aku dulu apa benar aku hamil atau tidak !"


Aku sungguh tidak tahu apa yang harus ku lakukan, pikiran ku terasa buntu. Aku tidak menyangka hidup keluarga aku akan serumit ini. Hanya sujud memohon petunjuk yang terbaik, saat ini yang bisa aku lakukan.


Ahkirnya yang ku takutkan terjadi, aku hamil di saat yang tidak tepat. Aku ingin marah pada Raihan, karena semua berawal darinya.


"Tok tok tok Hana ,Hana bia buka pintunya sebentar ! Saya mohon Hana ?"


Dengan langkah malas aku berjalan dan membuka pintu untuk Arif. Setelah tahu kehamilan ku tadi pagi, aku hanya mengunci diri di dalam kamar.


"Ada apa ?"


"Bisa kita bicara sebentar !"


"Silahkan !" Setelah kurasa aman,aku baru tutup pintu kamarku.


Aku berdiri memandang tajam kearah lelaki yang sekarang berdiri di depanku.


"Aku dan Tegar minta maaf, karena kamu jadi seperti ini. Jika sekarang kamu meminta kami mengantarkan mu pulang ,kami siap. Siap menjadi saksi juga, untuk kejahatan Nadiva dan pak Bayu !"


"Kamu yakin? Sedang anakmu saja baru keluar dari rumah Sakit," sinis ku.


"Yakin! Aku bisa menaruh putraku di panti asuhan selama aku di penjara."


Kamu yakin tega melakukannya Hana? Sedangkan putramu yang kamu tinggal bersama suamimu dan keluarga besar mu saja ,kamu masih menangis nya tiap malam. Padahal selain ada keluargamu ada juga baby sister yang menjaga Elang 24 jam, sedangkan bocah 7 tahun itu hanya punya Arif ayahnya ?


"Diam! Keluar kamu persiapkan diri untuk tidur di dalam penjara dan terpisah dengan putra mu!"


Setelah Arif pergi aku hanya menangis sampai aku tertidur karena capek menangis.


Siapa yang harus aku salahkan saat ini? Apa Raihan, padahal dia sudah tahu kalau aku mau hamil anak ke dua dengan ditemani olehnya. Apa para penculik itu gara-gara dia yang kesusahan ekonomi, kenapa aku yang di seret?


"Hana ?"


"Kakek !"


"Kakek Abi, kakek Cakra ! Kok kalian di sini ?"


"Kakek rindu sama,cucu perempuan kakek yang paling cantik,"ucap Cakra Wiraguna.


"Ya iyalah hanya aku cucu perempuan kakek."


"Ada kalanya musibah itu menyadarkan kita untuk memperbaiki kualitas ibadah kita. Mulai dari baca Al-Quran, bersedekah secara rutin." Ucap Abi sambil mengusap-usap kepalaku.


"Berbakti kepada kedua orang tua.


Membantu hamba Allah yang dalam kesulitan. Itu juga termasuk di dalam nya." Sambung kakek Cakra, sambil menggenggam tanganku. Rasanya senang bisa berbicara dan ngobrol dengan kedua kakek ku.


Sampai adzan subuh membangunkan aku, Astaghfirullah hanya mimpi. Aku berjalan ke kamar mandi mengambil air wudhu, setelah sholat subuh aku lanjutkan dengan berzikir dan berdoa sampai ada yang mengetuk pintu kamarku.


Tok tok "Mbak waktunya sarapan !" Suara art vila di sini.


"Saya masih ngantuk mau tidur, nanti kalau lapar saya akan mengambil sendiri."


"Iya mbak !"


Ya Allah apa yang harus aku lakukan sekarang, aku takut keputusan ku akan membuat orang lain juga dalam masalah.


Tok tok "Mbak ini Tegar bisa bicara sebentar !"


"Masuk,!" teriaku dari dalam.


"Ada apa ? Kalau mau ngomong kunci pintu !"


"Nanti malam Nadiva akan kesini, untuk melihat apa mbak masih ingat tentang dirinya. Mas Arif juga sudah bilang padaku, tentang keinginan mbak yang dulu. Kami siap untuk menjadi saksi, meski harus di penjara !"


"Kenapa begitu ?"


"Mas Arif tidak masalah di penjara, dia sudah senang bisa melihat putranya tidak kesakitan lagi."


"Kalau kamu sudah siap masuk penjara, bukannya kamu lagi melanjutkan pendidikan mu?"


"Paling tidak aku sudah tenang hutang-hutang orang tuaku sudah lunas. Jadi orang tuaku bisa pergi dengan tenang, tanpa terhambat hutang."


"Bagus, kalau kalian sudah sadar !"


"Aku mau keluar dari sini esok hari, yakinkan Nadiva kalau aku sudah benar-benar amnesia."


"Hanya itu mbak ?"


"Sementara itu !"


"Baik kita akan usahakan nanti malam."


"Keluarlah aku hanya ingin sendiri dulu !"


"Tapi mbak harus makan kasihan bayi di perut mbak !"


"Aku tahu itu, pergilah !"


"Baik mbak !"


Setelah kepergian Tegar,aku habiskan hari ini dengan berzikir dan berdoa, dan tidur tanpa keluar dari kamar. Hingga malam hari Nadiva datang aku baru keluar karena di panggil olehnya.


"Hallo Hana , bagaimana kabarmu. Masih ingat aku ?"


Aku tidak menjawab hanya melirik ke arah Arif dan Tegar, seolah aku bingung dengan pertanyaannya.


"Haha bagus sesuai harapan ku ,"ucap Nadiva.


"Apa yang bagus dan sesuai harapan ?"


"Tidak ada. Kalian berdua besok lepaskan dia di mana saja, pasar atau jalanan terserah kalian ! Mau kalian pakai dulu juga tidak apa-apa."


Aku mengepalkan tanganku mendengar ucapannya, yang sangat menjijikkan buat ku. Aku memandang kepergiannya dengan menahan amarah, yang sudah di ubun-ubun kepalaku .


"Istighfar Hana , ingat ada anak dalam perutmu."


Astaghfirullah, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaih. Artinya: Aku memohon ampun kepada Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan kecuali Dia.