
"Dari koneksi ponsel milik Bobby, sekarang Boby berada di lereng gunung Lawu,"Ucap Beny. Beny yang dulu pernah menjadi teman Hana , kebetulan sedang ada proyek di sekitar sini. Karena dia masih menjalin komunikasi dengan Radit, jadi begitu di minta datang dia langsung datang menemui kami.
"Kita kesana sekarang,"ucapku.
"Papi dan mami di sini aja siapa tahu Hana pulang,"ucap Randi .
"Percayakan kepada kami yang muda-muda ini,"ucap Radit. Sebelum berangkat tidak lupa aku mencium kening kedua anakku.
Dengan mengendarai 2 mobil kami pergi ke lereng gunung Lawu di tengah malam. Meskipun kami berbeda mobil, tapi kami saling bertukar informasi selama perjalanan. Karena Beny yang selalu memantau Boby melalui laptopnya. Apalagi semakin masuk ke lereng gunung Lawu, sinyal internet semakin susah.
"Lihat mobil itu sepertinya tidak beres,"ucap Randi .
"Mungkin orang mabuk,"timpal Beny di sebrang telpon. Selain itu kami melakukan komunikasi juga untuk saling mengingatkan karena kondisi jalanan yang berliku-liku dan naik turun. Serta kabut malam dan pencahayaan lampu jalanan yang kurang memadai.
"Gila aja orang mabuk di hutan,"celetuk Radit.
"Kalian lanjutkan ke titik di mana Boby berada, aku dan Randy mengikuti mobil itu!"
"Kamu yakin,?" tanya Randi.
"Yakin," ucapku sambil memutar arah mobil untuk mengejar mobil tadi.
"Bagaimana dengan Hana dan Diva ?"
"Instingku mengatakan orang itu dalam bahaya, jadi kita tolong dulu. Biarkan Boby dan Radit menuju titik lokasi Boby."
"Hati-hati bro siapa tahu salah satu penunggu lereng gunung Lawu,"canda Beny di tengah ketegangan kami.
"Tidak ada hantu atau setan yang mengendarai mobil. Bukannya tadi jelas ada yang mengendarai ." Ucapku segera tancap gas mengejar mobil tadi.
"Terlambat mas,"ucap Randi saat kami melihat mobil itu sudah menabrak pohon besar.
"Mas jangan mendekat lihat disana ada percikan api, kita tidak tahu bahan bakarnya bocor tidak !"
"Ini sudah tugas ku menyelamatkan semua yang bernyawa."
Aku gedor-gedor kaca mobil, tapi sepertinya perempuan itu pingsan. Dengan terpaksa aku pecahkan kaca mobil menggunakan batu dan segera ku buka pintu mobil.
"Mas menjauh dari sana ada bahan bakar yang bocor !!" Teriak Randi kencang, membuatku segera menggedong perempuan itu, setelah memastikan tidak ada penumpang yang lain. Tanpa melihat siapa yang aku tolong,aku berlari kearah Randi berpacu dengan api kecil yang mulai menjalar mendekati mobil.
DOORRR
"Mas tidak apa-apa ?"
"Alhamdulillah, kita lihat apa perempuan ini masih bisa kita tolong." Ucapku sambil menidurkan perempuan itu ke bawah.
"Hana, Raihana! Sayang bangun! Alhamdulillah aku bisa menemukan mu." Ucapku sambil mencium seluruh mukanya yang berlumuran darah.
"Kita bawa Hana ke rumah sakit sekarang !"
"Ayoo! Jangan lupa bilangan Radit fokus kita sekarang Diva!" Ucapku sambil menggedong Hana ke dalam mobil.
Kami segera membawa Hana ke rumah sakit terdekat, tidak lupa menghubungi mami dan papi.
"Bagaimana dengan kondisi istri saya dok?"
"Semua luka luar sudah kami obati , setelah sadar baru kami akan melakukan pemeriksaan secara intensif. Karena ada serpihan kaca yang di duga masuk kedalam kornea mata. Jadi kami juga akan menghubungi spesialis mata, untuk melakukan pemeriksaan lanjutan."
"Apapun permintaan Hana setelah sadar kamu harus turuti, meskipun Hana minta bercerai dari mu." Ucap mami membuatku hanya bisa menggelengkan kepalaku.
"Ingat Rai ,ini yang kedua akibat kelalaian mu. Dulu mami pernah bilang waktu Hana terluka. Mami akan mengambil Hana jika terluka lagi!"
"Mi Rai mohon mi, jangan pisahkan Kami."
"Kamu sudah gagal menjaga putri mami, bahkan cucuku tidak tahu keberadaannya di mana ?" Raihan tidak menjawab hanya duduk diam dan menunduk.
Raihan sedih dan menyesal jika dia bisa menggantikan posisi Hana ,dia rela asalkan anak dan istrinya baik-baik saja.
Raihan hanya diam tidak tahu harus berkata apa lagi, untuk menolak keinginan mami. Hingga adzan subuh terdengar kami pergi ke mushola rumah sakit, bersujud kepadanya sekaligus memohon untuk di berikan yang terbaik buat keluargaku.
Saat kembali dari mushola terdengar tangis Hana , membuat ku, Radit dan Randi langsung berlari ke kamar perawatan Hana .
"Diva masih di dalam hutan, papi harus mencari sampai ketemu sekarang !" Ucap Hana sambil memeluk papi .
"Iya papi akan cari tapi Hana jangan nangis, tidak baik buat matamu."
"Sayang di mana Diva biar mas susul?"
"Setelah kami bertiga kabur, ternyata mobil yang kita kendarai remnya blong. Jadi aku titipkan Diva sama Tantri, coba mas cari di hutan!"
"Akan mas cari sekarang kamu tenangkan diri dulu!"
"Apa kita tidak interogasi Nadiva dulu, siapa tahu ada campur tangan mereka ?"
"Kita interogasi mereka, tetapi juga harus mulai mencari di hutan sekarang. Aku akan minta tolong tim SAR ,"uacapku menyetujui usulan Radit.
"Nadiva sudah kalian tangkap,?"tanya Hana.
"Iya semalam,tapi kami belum menyerahkan kepada polisi karena kami belum cukup bukti ,"ucapku.
"Tidak perlu di serahkan ke polisi."
"Kenapa,?"tanyaku heran dengan permintaan Hana .
"Nadiva sengaja melakukannya untuk balas dendam, meski tidak ada harta dia membayar dengan tubuhnya. Aku takut jika kita penjarakan lagi, maka akan berulang lagi."
"Dan tidak akan pernah ada habisnya, balas dendam lagi dan lagi begitu ?" Tanya mami yang di anggukin Hana .
"Mami setuju dengan keputusan mu, tapi kalian harus bisa menjamin dia tidak berulah lagi."
"Sekarang kita fokus mencari Diva dulu ke lereng gunung Lawu,!" ucap papi.
"Aku akan segera menghubungi tim SAR, untuk menyusuri hutan untuk mencari keberadaan Diva. Mas minta maaf sekali lagi atas semua yang terjadi." Ucap Raihan sambil menggegam tangan Hana dan menciumi tangan Hana , sebelum pergi meninggalkan rumah sakit.
Setelah menghubungi Tim SAR dan meminta bantuan para tentara, kami menyusuri hutan di lereng gunung Lawu. Pukul 8 pagi kita memulai melakukan pencarian,sejam pertama tidak ad hasil apapun. Tapi di 2 jam berikutnya kami menemukan Tantri yang terluka parah terjatuh di tepi jurang.
Sungguh melihat kondisi Tantri yang terluka parah, membuat pikiranku melayang kemana-mana.
Jika Tantri wanita dewasa saja badannya bisa penuh luka begini, bagaimana dengan keadaan Diva putriku. Ya Allah kenapa bukan aku saja yang terluka,aku sudah terbiasa terluka tapi jangan putriku. Diva ku masih terlalu kecil , untuk mengalami luka seperti itu.
"Komandan sebaiknya anda istirahat dulu!"
"Kalian saja yang beristirahat, aku masih mau mencari putri ku." Ucapku sambil terus mencari, bener kata mami ini semua karena kelalaian aku. Sampai menjelang malam pencarian baru di hentikan, tapi tidak ada hasil apapun.