
Aku bersyukur di kelilingi anggota keluarga yang sayang sama aku,"Bagaimana cucu pagi ini sehat?"
"Alhamdulillah sehat opa."
"Gimana kontrolnya kemarin , masih gak mau cek jenis kelamin cewek atau cowok ?"
"Sama papanya ga boleh biar jadi kejutan,"jawabku. Meskipun Raihan tidak bersama tapi setiap kontrol kandungan,aku harus menyesuaikan dengan jam istirahat Raihan biar dia bisa melihat anaknya.
"Pagi-pagi gini ngopi di temani singkong goreng, enaknya sambil nonton berita. Bukan gosip-gosip selebritis,"ucap Radit yang langsung mengganti channel TV.
"Hot news hari ini. Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) melakukan aksi penembakan di Kampung Wako, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, Jumat dini hari . Akibat kejadian tersebut, seorang anggota TNI gugur setelah mengalami luka tembak dan satu anggota TNI mengalami luka serius."
"Jangan di ganti,!" teriaku saat Radit mengganti acara tv. "Papi bukannya itu tempat Raihan ?"
Baru semalam kami video call sebelum tidur merancang nama calon anak kami, semoga bukan suamiku Ya Allah.
"Tenang jangan negatif thinking kita hubungi Raihan dulu," ucap papi sambil menenangkan aku. Tapi nihil sudah 30 menit ponsel Raihan tetap tidak bisa dihubungi.
"Ada apa Pi,"ucap mami yang baru bergabung dengan kami. Lantas papi membisikan sesuatu yang aku tidak tahu apa.
"Sayang udara pagi bagus buat kesehatan, bagaimana kalau kita yoga. Biar papi yang mencari tahu tentang Raihan. Ingat ada nyawa yang juga bergantung pada mu." Ucap mami sambil membimbing aku berjalan ke taman belakang.
"Pikiran ku gak tenang sejak mendengar berita di TV tadi mi."
"Istiqfar sayang, bagaimana kalau kita membaca ayat suci Alquran yu." Mami membimbing ku berjalan ke mushola yang ada di rumah.
"Mi ko perut aku mules ya mi apa karena stres kepikiran berita tadi ya mi?"
"Bisa jadi iya, bisa juga emang sudah saatnya lahir dedeknya."
"Hari perkiraan lahirnya masih seminggu lagi tapi mi?"
"Itu kan perkiraan bisa maju dan bisa mundur. Ayo kita berbaring di dalam kamar coba mami cek." Mami membantu aku masuk ke kamar aku di bawa, yang terletak di samping kamar mami.
"Ternyata lebih berdebar menemani orang yang lahiran ya, dari pada kita sendiri yang melahirkan."
"Mami bisa aja."
"Bener Lo kak mami dulu waktu melahirkan kamu dan kedua adikmu, tidak berdebar kaya begini." Ucapan mami tidak bisa membuat ku untuk tidak tertawa.
"Sudah sekarang kakak tiduran biar mami cek!"
"Tapi sudah tidak terasa mules lagi ko mo."
Terdengar helaan nafas dari mami, "Ya udah sekarang kakak mandi habis itu sarapan!"
Begitu mami pergi aku tidak mandi malah mencoba menghubungi Raihan. Setelah 3 kali mencoba menghubungi Raihan tapi tetap tak bisa, baru aku putuskan buat mandi.
"Segerakan habis mandi,sini papi bantu mengeringkan rambut Kakak." Ucap papi yang ternyata sudah berada di dalam kamar ku.
"Ada apa sih Pi? Apa papi sudah mendapatkan kabar dari Raihan ?"
"Ponsel Raihan belum bisa di hubungi, tapi sudah papi pastikan Raihan tidak ada di tempat saat penyerangan berlangsung."
"Raihan kemana dong?"
"Raihan menyusuri hutan bersama warga ,untuk mencari seorang guru yang hilang kemungkinan tersesat."
Semoga di manapun berada suamiku selalu mendapatkan perlindungan Allah SWT dan bisa pulang dalam kondisi sehat tidak kurang apapun.
"Meskipun kita tidak tahu di mana Raihan sekarang berada, kita harus tetap optimis." Ucap papi sambil memelukku,baru mau 4 bulan Raihan satgas tapi terasa sudah sangat lama sekali.
"Kakak ngomol,"ucap papi.
"Tida!"
"Ini basa apa ini baju kakak juga basah," ucap papi sambil menunjuk rok panjang ku yang basah.
"Air ketuban Pi !"
"Kakak mau melahirkan papi panggil mama,"ucap papi lansung berlari keluar kamar.
Dalam hitungan detik papi sudah datang dengan mami , yang langsung mengecek kondisi ku.
"Siapkan mobil,Papua bawa perlengkapan yang sudah mami siapkan itu!"
🎼🎼☎️+62833 65431 11xx
"Bentar Pi aku angkat dulu ini yang telpon,"ucapku sambil berjalan menuju mobil.
"Assalamualaikum huhu
+62833 65431 11xx: "Walaikumsalam dek,kamu kenapa deek?"
"Ini siapa? Mas Rai ?"
"Aku mau ke rumah sakit, ketuban ku pecah. Hua Hua mami perutku mulai sakit."
"Tahan kamu pegang yang kuat tangan papi mu, Radit konsen fokus kedepan!"Ucap mami memberikan instruksi.
"Rai ini anak kamu kenapa papi yang jadi sasaran ?"
+62833 65431 11xx:" Maafkan Rai Pi gak bisa nemenin."
"Atur nafas tarik nafas panjang buang nafas,"ucap mami.
"Ponsel mu kemana mas,?" tanyaku di sela-sela menahan sakit.
+62833 65431 11xx : "Kehabisan daya, waktu di hutan ini aku pakai ponsel Letnan Yusuf."
"Udah mas perutku mulesnya sudah tidak karuan,"ucapku sambil memberikan ponsel kepada mami.
"Rain mau menemani istri mu melahirkan tidak,?" tanya mami .
+62833 65431 11xx :" Mau mi!"
"Pindah ke vidio call ,biar kamu tahu perjuangan seorang istri itu berat dalam melahirkan seorang anak."
+62833 65431 11xx : "Iya mi, Rai pindah. Ko gelap mi?"
"Kami masih di dalam mobil mungkin 5 menit lagi sampai di rumah sakit,"ucap mami.
Selama perjalanan, sampai proses melahirkan tidak lepas dari penglihatan Raihan melalui ponsel yang mami bawa. Tepat saat adzan luhur berkumandang bayi laki-laki ku ahkirnya lahir.
"Rai kamu masih di sana,?" tanya mami.
+62833 65431 11xx : "Masih mi,"ucap Raihan dengan suara serak.
"Mau adzan putramu?"
+62833 65431 11xx : "Mau mi!"
"Ambil wudhu sana!"
+62833 65431 11xx: "Letnan Yusuf tolong pegang sebentar jangan di matikan ya , saya mau wudhu!"
"Siap, kapten." Terdengar suara Yusuf meski tidak secara jelas.
Setelah Raihan kembali dan mengumandangkan adzan buat putra kami, Raihan mengakhiri panggilannya. Karena mami memintaku untuk istirahat,biar siap untuk melakukan
Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
"Lucu ya mi gemesin,"ucapku saat mami meletakkan bayi dalam posisi tengkurap pada dada ku. Putraku tengkurap tanpa terhalang oleh kain di dadaku seperti mimpi buatku.
"Assalamualaikum jagoan papa , atau ayah ni manggilnya nanti?"
"Walaikumsalam,"ucapku sambil menahan nyeri saat putraku mulai menghisap sumber makanannya. Mami meninggalkan aku setelah mengakat telpon Raihan, katanya memberikan privasi.
"Kenapa dek,?" tanya Raihan dari sebrang telepon. Kali ini Raihan menghubungi ku dengan no nya sendiri
"Nyeri dan tidak nyaman ***** ku, kata mami itu wajar di minggu pertama. Nyeri terjadi saat 15-20 detik pertama saat dedek mulai menarik ******
masuk ke dalam mulut dedek."
"Coba kalau aku di situ , aku yang membuka jalan dan mengajari dedek menyusu dengan benar." Ucap Raihan dengan santai,tapi aku yang mendengarnya malah malu.
"Eh mama merah pipinya,"ledek Raihan.
"Kapan mas pulang ?"
"Ya kalau lancar 6 bulan lagi. Sabar ya , mas juga kangen pingin lihat jagoan papa."
"Tadi Rita juga sudah menelpon, besok pagi ke sini dengan mama dan papa."
"Wah jadi ngiri pingin segera ketemu jagoan papa."
"Mas sudah siapkan namanya ? Jangan berawal huruf A dan R yang lain."
"Kenapa ?"
"Nama papi dan ke 2 sepupunya A, Arkana, Arya ,Aryo. Terus nama kita Rihanna, Raihan belum Randi dan Radit semua berawal R."
"Oke mas cari nama yang cocok nanti oke. Sekarang adek istirahat yang cukup biar asi dedek banyak !"
"Mas udah ya ini dede nya gerak terus aku mau manggil mami."
"Iya, maafkan mas belum bisa menjadi suami yang baik dan ayah yang baik buat putra kita. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam papa."