Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
26. Aku minta maaf



"Semua sudah lengkap ayo kita naik jangan sampai ada yang ketinggalan, " ucap dokter Eki setelah memeriksa jumlah kami. Satu demi satu naik dan duduk manis "Yang bawa jaket atau baju tebal di pakai saja biar tidak dingin, karena angin akan langsung masuk" ucap Bima.


"Kapten saya gak bawa jaket mau dong di peluk biar tidak kedinginan," ucap Nadia yang langsung di sambut sorakan dan senyum tipis Bima.


"Ganjen ga punya malu ngomong kaya gitu apa,ya"ucap Perawat Dinda.


"Bercanda kali suda tidak usah dianggap mending kita tidur, "ucapku lalu mengambil headset untuk menutup telingaku tanpa menyalakannya.


Samar-samar aku mendengar beberapa masih ada yang ngobrol dan bercanda, sampai truk yang membawa kami sampai di citra Medika pusat tepat tengah malam.


"Dok bermalam aja di kosan ku udah malam ni" ucap Perawat Dinda .


"Dokter Lya nanti saya yang anterin pulang jangan kuatir "ucap Bima sambil berjalan kearah ku.


"Yakin kapten akan mengantarkan teman saya, tidak ada yang menggagu atau marah?"ucap Perawat Dinda.


"Ga ada saya Single " jawab Bima mantap, " Mas Bima antar aku pulang dong kakakku ga bisa jemput ni" ucap Nadia yang baru datang memotong perkataan Bima.


"Tu Kep ada yang minta diantar,dokter Dira biar nginep di kosan aku aja" ucap Perawat Dinda sambil menarikku menjauh. Malam ini aku menginap di tempat Dinda yang hanya 10 menit berjalan kaki dari citra Medika.


"Makasih ya Din atas bantuannya", ucapku setelah semalam merepotkan Dinda karena harus berbagi tempat tidur dengan ku.


"Apaan sih dok aku seneng kok bisa membantu dokter"ucap Dinda, " Jangan lupa aku tunggu undangan pernikahanmu" ucapku sebelum masuk ke dalam taxi online.


Seminggu sudah berlalu aku sudah kembali kerja seperti sedia kala, beberapa kali Suster Mia dan perawat yang lain menanyakan pengalamanku menjadi relawan disana,aku bilang aku akan ikut lagi jika ada meski sinyal ponsel susah di sana tapi menjadi relawan ada kebahagiaan tersendiri buatku.


"Kamu ko di sini? Eh lagi pedekate ya" ucapku pada Arya yang sedang bercandaan dengan Suster Mia sedang aku sendiri baru pulang.


"Sialan nuguin Lo, kontak ku Lo blok ya "ucap Arya sambil meloncat ke arah teras kamarku."Dek Mia terima kasih kopi dan kuenya" ucap Arya yang sudah pindah duduk di teras tempat tinggal ku. "Iya mas Arya,aku tidak keberatan ko"ucap Suster Mia sambil tersenyum malu-malu sebelum masuk ke tempat tinggalnya.


"Emang sengaja "jawabku sambil membuka pintu lantas duduk di kursi teras di samping Arya.


"Jadi Lo mencari aku gara-gara kontak Lo gw blok atau ada perlu lain?"tanyaku.


"Itu salah satunya kenapa kontak gw Lo blokir, kalau aku tidak bertanya pada Suster Mia aku tidak bakal tahu kalau Lo sudah seminggu balik ke sini. Aku dan Kana sudah tahu kalau Lo bukan janda"ucap Arya.


"Terus masalahnya apa buat gw,Lo dan Kana tahu ga ada ngaruhnya dalam hidupku!"ucapku.


"Banyak ngaruhnya, Lo kan tahu selama ini orang tua kami tidak setuju sama Lo karena status janda Lo, jika sejak awal mereka tahu Lo bukan janda ceritanya tidak akan begini "ucap Arya.


"Gw tegaskan gw gak ingin tahu apapun lagi yang terjadi antara kalian beserta keluarga kalian, jadi jika kamu masih ingin berteman dengan ku tolong tidak usah membahas apapun tentang keluarga kalian. Ok paham" ucapku sambil melangkah masuk ke dalam kamar meninggalkan Arya sendirian.


"Ko Lo belum pulang sih?" tanyaku pada Arya yang masih duduk di teras sambil merokok,dan nampak sekantong plastik berlogo mini market berisi makanan dan minuman di depannya serta beberapa sampah.


"Gw sengaja, Kana ngasih kabar katanya mau kesini jadi gw nungguin Kana di sini "ucapnya sambil menghembuskan asap rokoknya.


"Lo beritahu dia kalau aku dah pulang ?"tanyaku.


"Iya,makanya dia nyuruh aku disini takut khilaf katanya emang apa yang terjadi terakhir kali kalian bertemu "ucap Arya sambil tersenyum misterius.


"Bagus deh aku bisa balikin uangnya kalau begitu,ya udah gw ambil dulu uangnya sekalian gw mau nyari makan "ucapku.


"Gak usah nyari makan aku dah pesan Kana untuk membeli makan"ucap Arya menarik tanganku supaya ikut duduk.


"Apa ?" ucapku galak.


"Jangan galak-galak bukannya takut gw malah pingin ketawa tahu"ucapnya sambil terkekeh.


"Emang gw badut bikin Lo ketawa"ucapku yang disambut tawa renyah olehnya.


"Menertawakan apa sih? Kayanya seru banget obrolannya " ucap Kana sambil duduk di samping Arya.


"Ini makanan buat kita ?"tanya Arya.


"Iya,Dir ayo makan bareng "ucap Kana.


"Gak usah malu sana ambil sendok dan air minum !"perintah Arya sambil terkekeh.


"Sialan emang aku babu mu apa"ucapku tetapi aku tetap berdiri untuk mengambil apa yang di perintahkannya.


Kami makan bertiga sambil ngobrol ringan tetapi hanya aku dan Arya, yang lebih tepatnya saling meledek,


"Alhamdulillah kenyang tinggal rokok tambah nikmat ini"ucap Arya sambil menyalakan rokoknya.


"Pergi sana kalau mau merokok jangan disini"ucap Kana.


"Modus Lo bilang aja mau ngusir gw,kaya Lo ga pernah ngerokok aja"ucap Arya. "Dir gw balik kalau ada apa-apa bilang aku tar kita laporin dan kita tuntut dia. 'Seorang aparat polisi mencabuli seorang dokter wanita ' langsung heboh tar beritanya "ucapnya dengan spontan aku memukul bahunya.


"Pulang sana"usir Kana dingin membuat Arya ahkirnya pergi.


"Berapa no rekening mu akan gw balikin uang lo"ucapku sambil menatap Kana, padahal dari tadi aku tidak melihat kearah nya sama sekali.


"Tidak usah uang itu sudah menjadi hak mu,aku kesini mau minta maaf atas kejadian waktu terakhir kita bertemu "ucap Kana.


Kami saling diam cukup lama, hanya ada kecanggungan di antara kami.


"Aku tahu kamu bukan seorang janda, kenapa kamu diam saja dikatakan sebagai janda kembang ?" tanya Kana.


"Aku gak pernah bilang kalau aku janda, kamu sendiri yang bilang ke Arya dan ke yang lain kalau aku janda"ucapku.


"Hehe iya aku yang salah,aku yang percaya dengan omongan Nadira" ucap Kana sambil menggaruk-garuk kepalanya yang pasti tidak gatal.


"Kalau begitu sebaiknya Lo pulang,gw udah memaafkan mu jadi mulai sekarang kita sebaiknya bersikap seperti orang asing aja" Ucapku.


"Kenapa harus bersikap seperti orang asing, kenapa tidak bersikap seperti selayaknya teman atau kekasih " ucap Kana.


"Jangan cari masalah, gw gak mau berurusan dengan keluarga mu lagi apalagi mama lo"ketus ku.


"Aku yakin mama ku akan menerimamu kalau tau kebenarannya" ucap Kana.


"Ha ha jangan terlalu percaya diri statusku yang janda hanya alasan, tetapi kenyataannya mama lebih setuju kamu dengan Rahayu. Saranku ikut saja kemauan mamamu siapapun yang kamu bawa aku yakin mama tidak akan setuju "ucapku.


"Bagaimana kalau kita buktikan " ucap Kana. "Ga sah aneh-aneh "ucapku tak suka.


"Apa kamu takut menghadapi mamaku ?" ucapnya dengan senyum meremehkan " Takut kenapa, tidak ada yang perlu aku takutkan, mamamu bukan Tuhan yang perlu aku takuti, aku juga tidak bersalah mengapa harus takut dengan mamamu"ucapku.


"Kalau begitu tunjukkan kalau kamu tidak takut !" ucap Kana.


"Ok siapa takut,tapi kamu harus ingat jika pestamu kacau jangan pernah menyalahkan aku" ucapku.


"Tentu aku malah seneng kalau pestanya kacau, kalau bukan karena papa aku juga malas menghadiri pesta ulang tahunku sendiri " ucap Kana.


"Dasar orang kaya aneh,sono pulang "ucap kesel.


"Jangan lupa datang dan terima kasih sudah memaafkan ku untuk kejadian yang kemarin," ucapnya sambil mengacak-acak rambutku sebelum bener-bener pergi dari tempat tinggalku.