
"Lalu mata siapa yang aku gunakan ini?"
"Aku sendiri jujur tidak tahu."
"Hah, bagaimana ceritanya! Padahal menurut papi ,2 hari dilakukan pencarian tubuhmu di temukan sudah tidak dalam kondisi utuh. Kedua kaki terlepas sepertinya di makan binatang buas. Badannya penuh bekas cambukan, mukanya penuh luka lebam pukulan dan bekas cakaran binatang hutan." Aku menjelaskan sesuai yang aku tahu dari papi. Sedangkan Raihana yang mendengar tidak ada reaksi apapun.
"Sebelum berangkat ke Jakarta Nando menyiksa 4 tahanan di depanku, dengan memaksaku untuk menghubungi markas besar TNI. Seorang tahanan berprofesi sebagai wartawan memohon kepada ku untuk bertukar pakaian sebelum kabur. Dia berharap bajuku bisa menyelamatkannya."
"Terus apa ini mata wartawan itu ? Siapa namanya ?Aku harus bertemu dengan keluarganya !"
Nampak Raihan menarik nafas panjang," Hari pertama kami berhasil keluar dari tahanan, dengan melumpuhkan pengamanan tapi aku dan 2 tahanan tertangkap lagi."
"Kalian kabur berlima, tapi kembali tertangkap bertiga?"
"Iya, kami bertiga tertangkap dan di siksa mungkin selama 6 bulan , atau mungkin lebih. Karena aku tidak tahu hari, tiap hari hanya gelap yang aku lalui."
"Jadi ini mata siapa ?"
"Memang bajuku yang bawa jurnalis Iki, tapi suratku aku titipkan pada Anang seorang guru?"
"Bagaimana bisa seperti ini, Ya Allah siapapun itu aku mohon tempatkan dia di surga mu!"
"Kenapa kamu dari tadi mengurus siapa pendonor matamu, kamu tidak senang bertemu denganku."
"Aku cuma merasa bersalah , pahami dong !"
"Bukan Karena kamu lagi dekat sama laki-laki kan, siapa itu Yaser, yasir?"
"Siapa Yasir?" Tanyaku yang di jawab dengan mengakat bahu acuh Raihan.
"Kalau aku mau aku sudah lama nikah sama dia !" Kesalku sambil berjalan kearah balkon kamarku, meninggalkan Raihan yang masih duduk di dalam kamar.
Setelah bertahun-tahun tidak bertemu bukannya melepas rindu, malah di tuduh yang aneh-aneh.
"Maaf,"ucap Raihan sambil memelukku dari belakang. "Aku cemburu, melihat banyak sekali Lelaki yang ingin menggantikan posisiku di samping mu!"
"Lantas aku harus bagaimana? Hmm apa sebaiknya aku terima saja ya lamaran Yasir, kan mereka tahunya kamu sudah meninggal." Ucapku asal, karena kesal dengan tingkah Raihan.
"Kamu mau membunuhku untuk yang kedua kalinya?"
"Iya biar aku bisa nikah lagi puas!"
"Jangan dong, mas bercanda." Ucap Raihan sambil membalikkan badan ku menghadap kearahnya.
"Waktu mas di sekap , hanya kegelapan yang mas lihat. Mas tidak tahu siang karena tidak bisa melihat matahari, tapi mas masih bertahan karena matahari mas yang selalu ada di pikiran mas." Ucap Rai langsung memberikan kecupan di keningku, turun ke hidung ku dan berpindah ke pipi kanan dan kiri ku. Diahkiri dengan ******* singkat di bibirku.
"Karena mu mas mampu bertahan."
"Jika mas di sekap, kenapa tahu tentang Yaser. Terus selama bertahun-tahun ini mas kemana ? Jika mas di sekap sekitar 6 bulan, terus mas selama ini mas kemana saja ?"
"Mas lolos karena pura-pura mati!"
"Bagaimana bisa?"
"Selama di kurung kami disiksa , tapi dokter Hadi mengajari kami cara menahan nafas. Tadinya buat jaga-jaga jika kami bisa lolos dan bersembunyi di sungai. Karena mas mampu menahan nafas selama 2 menit dan mas juga bisa menyamarkan hembusan nafas, mas bisa kabur."
"Terus kenapa tidak langsung menemui kami ?"
"Ada penghianat di instansi pemerintah, mas ingin menangkapnya. Seminggu mas bisa lolos, mas membebaskan teman-teman mas. Kami bertiga saling membantu untuk mencari bukti, dan membutuhkan sekitar 3 tahun."
"Tapi mas kembali kesini 6 tahun lebih, bahkan hampir 7 tahun lo?"
"Ternyata melibatkan banyak orang jadi penyamaran mas berlanjut ke tingkat pusat. 2 Tahun mas melanjutkan sampai akhir, tapi mas ada sedikit insiden. Jadi mas harus memulihkan kondisi tubuh mas, biar layak di matamu dan anak-anak."
"Jangan-jangan lelaki yang dulu di lihat Adila sedang push up beberapa bulan yang lalu, kami mas?"
"Iyaa,aku senang ahkirnya bisa melihat kalian dari dekat. Setelah misi mas selesai hanya bisa melihat mu dan anak-anak dari jauh."
"Salah sendiri kenapa dari jauh."
"Karena kondisi yang tidak memungkinkan."
"Padahal seminggu yang lalu ada yang melamarku, dan aku minta waktu seminggu untuk berpikir."
"Siapa yang berani ambil kamu dari mas?"
"Ada deh." Ucapku sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi berganti piyama.
"Dasar laki-laki."
"Kami normal, lagian kasian juga sudah puasa bertahun-tahun."
"Yakin ada jajan di luar sana?"
"Mas ingat dosa, mas ingat punya 2 anak perempuan yang bisa saja akan menanggung dosa mas."
"Alhamdulillah kalau mas masih berada di jalan yang benar."
"Berarti boleh ya mas buka puasa?"
"Hmm."
Tok tok tok"Mama, mama papa ?"
"Mas udah dulu!" Ucapku sambil bangun lalu membuka pintu, nampak Adila berdiri di depan kamar sedang membawa selimut dan bantal.
"Kenapa sayang ?"
"Aku mau tidur dengan mama dan papa, untuk memastikan kalau papa tidak akan pergi lagi." Ucap Dila sambil berjalan masuk ke dalam kamar, sontak membuat ku menahan tawa. Berbeda dengan Raihan yang menampilkan wajah lesunya.
"Aku mau tidur di sini!"
"Ya udah adek tidur di situ biar mama tidur di tengah ,"ucap Raihan lesu.
Aku tak menyangka akan mengalami momen seperti ini lagi, bedahnya jika dulu Dila akan menggunakan Diva sebagai alasan tapi sekarang tidak Dila mengakui keinginannya, tanpa di pendam sama sekali.
Aku hanya berharap ini awal yang baru dalam keluarga kami. Aku juga berharap setelah ini Diva bisa berkumpul dengan kami.
Pagi harinya Raihan mengajakku untuk mendampinginya menerima kenaikan pangkat menjadi Brigjen TNI ( Brigadir jenderal) di markas besar TNI. Aku sempat menolak karena sudah tidak ada baju Persit ku, tapi ternyata sudah di persiapkan oleh Raihan dan mami. Acara kebaikan pangkat, membuatku bertemu dengan beberapa Persit yang aku kenal.
"Selamat ya Bu Raihan."
"Siap ibu , terimakasih."
"Mulai sekarang kalian tidak akan terpisahkan lagi?"
"Siap benar ibu."
"Negeri ini mengucapkan terima kasih atas pengorbanan kalian selama ini."
"Siap ibu kami bangga melakukannya demi Negera," bohongku. Kenyataannya terkadang aku bertanya kenapa aku bisa mencintai seseorang Raihan. Yang sudah menyakiti aku beberapa kali, apa ini yang di maksud cinta buta.
"Terima kasih sudah menemaniku sampai di titik ini tanpa meninggalkan aku. Terima kasih sudah sabar menungguku selama ini , aku berharap kita tidak akan berpisah lagi." Ucap Raihan sambil satu tangannya menggenggam tanganku, Dan satu tangan memegang stir mobil.
"Sebagai ucapan terima kasih kamu harus berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku lagi. Kamu harus mengajakku ke manapun kamu pergi !"
"Siap ibu negara. Aku akan selalu membawamu pergi ke manapun aku pergi, bahkan ke surga nanti juga begitu. Aku akan mengajakmu !"
Untuk pertama kalinya kami bisa makan bersama dengan keluarga kecilku, setelah beberapa tahun Raihan pergi.
"Masakan mama adalah makanan yang sangat papa rindukan kalau berjauhan."
"Cie cie cie mama langsung salah tingkah ni pa,"ucap Satria.
"Bukan salah tingkah,papamu itu bohong. Bagaimana dia ga rindu masakan mama, karena di hutan ga ada masakan kaya begini. Tidak ada Udang saos tiram, tidak ada ikan bakar madu."
"Haha pinter sekali istri mas. Masih bisa mengingat semua tentang mas cerita masa lalu."
" Ma karena sekarang papa sudah ada di samping mama, Setelah SMA aku mau lanjut perjuangan papa."
"Aku tetap mau melanjutkan SMA sama kakek Elang."
"Masak papa pulang kalian malah pergi semua,"ucap Elang.
"Bukan pergi tapi kami membiarkan papa dan mama menikmati kebersamaan, seperti muda mudi pacaran."
"Lagian kalau kita tinggal terpisah,siapa tahu kemungkinan kita untuk menemukan Diva jadi lebih besar." Ucap Dila langsung membuat kami yang tersenyum langsung diam.
"Benar-benar kita akan mencari Diva lebih giat lagi,"ucapku membenarkan ucapan Dila.
"Papa juga di mutasi, semoga di tempat baru kita akan menemukan adik kalian."
"Amin!" Jawab kami semua kompak.