Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
131.RR. Kembali ke Asrama



Elang Samudra pria paruh baya seumuran dengan papi. Istrinya seorang owner produk kecantikan, mempunyai 2 orang putri satu seumuran denganku 28 tahun satu lagi 25 tahun.


Kenapa Garis wajahnya mirip dengan Raihan? Apa ada hubungannya dengan Raihan? Sejak mendengar percakapan antara papa dan mama, membuatku penasaran tentang hubungan mereka.


"Hari ini kita ke dokter anak untuk melakukan imunisasi pada jagoan mami."


"Mi kenapa ga mau di panggil Oma, nenek atau Eyang aja sih ?"


"Kalau di panggil Oma atau sejenisnya, orang akan tahu kalau Elang itu cucuku. Itu tandanya mami sudah tua." Jawaban dari mami sontak membuat kami yang berada di ruang tengah tertawa ngakak.


"Papi setuju dengan pemikiran mami. Papi gak mau orang tahu kalau umur papi sudah 60 tahun."


"Mau nya berapa pi? 25 tahun." Timpal Radit memotong ucapan papi.


"Kalau papi bilang 25 tahun orang gak akan percaya, tapi klain papi itu pernah mengira umur papi 48 tahunan lo!"


"Iya 48 tahun di tambah 12 tahun. Dasar tua-tua keladi," ketus mami.


"Mami cemburu niii,"goda Radit.


"Enggak! Mami juga tahu yang ngatain papi 48 tahun."


"Siapa Mi,?"tanya kami bersamaan.


"Uminya Shifa."


"Kami tidak sengaja bertemu waktu itu mi, kenapa di bahas lagi sih?"


"Siapa yang membahas, cuma ke ingat aja ayuk berangkat ke rumah sakit!" Ucap mami sambil berdiri dengan menggendong baby Elang, "Sabar pi!"


"Kenapa kamu berkata begitu ? Memang mami menyiksa papi mu apa?" Ucap mami sambil berbalik menghadap Radit.


"Ga usah di ladeni bocah gemblung itu! Ayo kita berangkat !" Ucap papi sambil menggandeng mami.


"Seperti keluarga kecil yang bahagia, sepasang suami istri dan satu anak kecil!" Ucap Radit melihat tingkah mami dan papi. Hari ini Elang berusia 1 bulan, kami akan mengadakan imunisasi buat Elang. Sehabis dari imunisasi papi dan mami akan mengantarkan aku kembali ke asrama. Jujur aku masih belum siap kembali ke rumah dinas di asrama. Sejak aku menikah, aku habiskan waktuku di asrama dengan Raihan, mungkin kami tinggal masih dalam hitungan bulan. Belum Tahuna tapi, meskipun baru hitungan bulan itu tapi jujur banyak kenangan indah yang kami lalui bersama.


"Papi sudah dapat kabar belum tentang Raihan dari orang-orang yang papi kenal?"


"Sejauh ini belum,maaf ya kak." Ucap papi dengan pandangan fokus ke depan.


"Sabar ya kak,"ucap mami. Mami yang duduk di sampingku menggegam tanganku dengan erat.


"Raihan apa akan tetap di cari sampai sekarang pi?"


"Maksudnya ?"


"Aku takut pencarian di hentikan," ucapku lirih.


"Papi juga menyuruh orang untuk mencari ko, jadi tidak tergantung dari satu pihak saja yang mencari."


"Ini sudah sebulan aku takut mereka bosan mencari dan mengagap Raihan sudah gugur." Ucapku menyampaikan ketakutan ku pada papi.


"Setahu papi dalam hal Prajurit TNI hilang dalam tugas OMP/OMSP dapat ditetapkan status Gugur. Apabila setelah dilakukan upaya pencarian selama satu tahun namun tidak diketemukan."Jelas papi membuatku sedikit lega.


"Kita akan selalu lakukan yang terbaik buat kakak, mami juga akan terus bantu dengan doa."


"Terima kasih mi, terima kasih Pi."


Sesampainya kami di rumah sakit mami dan papi malah berperan seperti kedua orang tua Elang.


"Pi mi di sini aku itu orang tua Elang Lo bukan baby sister nya?" Tapi ucapanku seperti tidak mempan buat mereka.


"Sudah nak Hana biarkan saja, anggap saja nyenengin orang tua!" Ucap dokter anak yang ternyata junior mama dulu waktu masih kuliah kedokteran.


"Udah deh aku tunggu di luar saja,"kesal ku sambil berjalan keluar.


Aku duduk di bangku yang tidak jauh dari poli anak.


Poli kandungan, senengnya bisa kontrol di temani suami ya? Sayangnya aku hanya 3 kali kontrol di temani Raihan, selebihnya bergantian yang menemaniku. Itu bukannya Ratih ya?


Ku lihat Ratih keluar dari poli kandungan dengan kondisi perut besar, dan berjalan di temani mamanya. Karena penasaran aku ikuti mereka berjalan di belakangnya.


"Sudah dapat kabar dari Yusuf suamimu ?"


"Aku tidak tahu dan aku juga tidak mau banyak berpikir, aku hanya mau fokus menjelang kelahiran putri ku 2 bulan lagi!"


Saat kulihat Ratih duduk sendiri dan ibunya berjalan ke bagian farmasi aku bergegas berjalan mendekati Ratih.


"Walaikumsalam. Ba.. Baik mbak."


"Santai aja kaya aku gigit aja sih,"candaku.


"Jujur aku takut Lo kasih tahu Yusuf tentang keadaan ku."


"Masalah kehamilan mu?" Ratih lansung mengaguk. "Jadi kamu nggak tahu suamimu hilang di hutan dengan suamiku,?" tanyaku.


"Hilang bagaimana maksud kamu ?"


"Kamu tidak tahu Yusuf pergi satgas ?"


"Tidak !"


"Kapan terakhir ketemu suami mu?"


"Seminggu setelah aku keluar dari rumah sakit. Di menemuiku di rumah dan saat di panggil Letkol Rudy , setelah mengajukan permohonan gugatan cerai.


"Tepat 2 bulan kamu meninggalkan rumah dinas asrama Yusuf dan mas Raihan, pergi Satgas ke perbatasan Papua. Dan hari ini tepat sebulan mereka hilang," jelas ku.


"Tapi kata mas Yusril, mereka lagi menyiapkan pernikahan."


"Haha kamu aneh suamimu itu tentara dan tentara dilarang Poligami, bagaimana dia bisa menikah kalau kalian belum bercerai."


Ratih hanya diam sampai mamanya datang. Setelahnya mereka berpamitan pergi tanpa banyak bicara.


"Kamu dari mana sih,mami cari-cari juga? Ini Elang minta asi ."


"Kasian jagoan ku sami maminya tidak di kasih minum," ucapku sambil mengambil Elang dari gendongan mami.


"Menyusui di mobil saja, papi sudah stand bay di lobby!"


Selama perjalanan menuju asrama aku memberi ASI buat Elang ,sambil mengobrol dengan Mami dan papi tentang pertemuan ku dengan Ratih.


Sampai aku tiba di asrama aku disambut ibu-ibu yang rumah dinasnya tidak jauh dari rumah ku.


"Terima kasih atas kunjungannya dan doa-doanya untuk putra saya, rumah tangga saya dan suami saya." Ucapku jujur aku tak suka jika melihat ku penuh rasa simpati dan kasihan. Suamiku masih hilang belum wafat, suamiku pasti kembali menemui kami keluarganya.


"Mami nginep sini aja kali ya nemeni kamu?"


"Nggak usah aneh-aneh deh Mi! Di sini cuma ada satu kamar, jika Mami nginep di sini anak gede Mami bagaimana?"


Mami langsung melihat kearah papi yang cemberut aku sebut anak gede.


"Haha bener juga bisa bikin repot papi mu nanti. Apa perlu mami carikan baby sister buat Elang ?


"Tidak usah mi Insyaallah aku mampu, mami bantu aku doa saja ya!"


"Tentu itu kami sebagai orang tua pasti akan selalu mendoakan yang terbaik buat anak-anak kami."


"Dek Yanti titip cucu mami ya!"


"Iya mi." Aku hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah mami dan papi seolah rumah kita jauh.


"Mi Serang - Jakarta tidak sejauh Jakarta - Singapura,"ucapku.


"Yan itu rumah Letnan Yusuf ada yang menempati apa ko terang?"


"Orang tua letnan Yusuf kadang kala berkunjung untuk membersihkan rumah."


"Tiap hari datang?"


"Ga tiap hari sih cuma kalau hari-hari tertentu buat kirim doa,"jelas Yanti.


"Kata orang sudah meninggal aja pakai kirim doa."


"Mbak ga tau seminggu pasca hilangnya letnan Yusuf ada ibu bawa anak ingin masuk rumah asrama. Tapi karena gagal teriak-teriak katanya dia calon istrinya Letnan Yusuf."


"Terus gimana ?"


"Ya di usir lah."


Malam ini aku tidur dengan di temani Yanti dan putranya, karena suaminya dapat tugas jaga malam.