
Kata ibu-ibu Persit aku hamil kebo, karena tidak mual-mual dan tidak ada gejala aneh-aneh. Padahal aku tidak tidur kalau gak mencium bau bekas Raihan. Pernah waktu aku tidur di rumah mami, karena bajunya bau sudah sebulan gak aku cucu.Di cucilah sama mami, membuat aku tidak tidur dan hanya menangis.
Ahkirnya Randi yang disuruh papi ke Papua menyusul Raihan hanya untuk meminta baju kotor Raihan. Kata Raihan waktu vidio call untung kakeknya kaya. Beli tiket Papua Jakarta pulang pergi kaya beli kerupuk di warung. Aku menanggapi ucapan dengan Raihan, dengan mogok bicara.
Kehamilan ku sekarang sudah masuk minggu ke 36 tinggal menghitung hari. Meskipun begitu aku masih aktif mengikuti kegiatan Persit. Seperti hari ini untuk memperingati hari gizi, ibu-ibu mengadakan acara bagi-bagi makanan sehat. Ke anak-anak TK dan SD terdekat dan cek kesehatan oleh petugas kesehatan militer.
"Ibu Raihan sebaiknya istirahat dulu ngeri saya ngelihatnya,!" ucap ibu Danyon.
"Ayo Bu saya bantu duduk di bawah pohon besar itu,"ucap Yanti.
"Bilang aja kamu modus mau istirahat juga,"ledeku.
"Haha tau aja sih mbak. Tapi aku juga ngeri lihat kamu dengan perut udah gede begitu, masih ajak gerak kesana-kemari."
"Haha ga apa-apa Yanti, santai aja."
"Ya udah ,aku tinggal pergi dulu untuk ambil minum."
"Capek minum nih ,"ucap Faizal menyodorkan sekotak susu.
Aku melihat ke kanan dan kiri sebelum bicara," Untuk ku."
"Ya iyalah kan sudah jelas susu hamil ya untuk ibu hamil lah,"ucap Faizal sambil duduk di sampingku. Secara reflex aku bergeser duduk hingga berjarak sekitar 2 meter.
"Gw sehat kali bukan penyakitan harus jaga jarak segala."
"Bukan masalah penyakitan tapi untuk menghindari fitnah. Kamu kan tahu suamiku tidak ada di sini."
"Beruntung sekali Kapten Rehan bisa mendapatkan yang setia."
"Ini ujian apa sekedar ledekan,?" tanyaku.
"Pujian lah. Andai aku dulu tidak meninggalkan mu, pasti aku yang sekarang berbahagia di samping mu."
"Belum tentu,"jawabku."Banyak yang pacaran dengan si A bertahun-tahun, giliran nikah sama si C yang cuma berkenalan hitungan bulan."
Faizal tidak menjawab tetapi tersenyum tipis sambil mengagukan kepala.
"Kenapa pergi ke Jepang tidak pamit, harusnya kamu menemuiku dan bilang baik-baik hingga aku tak salah paham?"
"Tidak ada salah paham, seminggu setelah pemberkasan selesai. Aku menemui mu di rumah sakit tempat Kakak caos." Ucapku berhenti membuatku ragu untuk melanjutkan cerita ku.
"Benarkah kapan?"
"Kebetulan aku lewat rumah sakit sehabis sholat isya. Aku mencari mu di UGD dan mengaku sebagai saudara mu yang sedang mengantarkan barang mu yang tertinggal."
"Siit jangan bilang kamu lihat?" Aku yang paham langsung mengagukkan kepalaku, terlihat Faizal meremas rambutnya.
"Maaf bukan muhrim," tolak ku saat tiba-tiba Faizal mendekat dan hendak memegang tanganku.
"Kamu berubah. Aku bisa jelaskan dia seniorku setahun lebih tua dari aku, dia mengejar-ngejar aku terus. Ciuman itu juga dia yang mulai duluan."
"Tapi kamu menikmati sampai tidak sadar, ada yang masuk ruangan dan melihat aksi kalian."
"Aku aku hanya terbawa suasana sebagai pria normal," ucap Faizal.
"Terbawa suasana sampai berlomba-lomba membuka baju ya." Ucapku sambil berdiri, "Aku bisa berdiri sendiri, makasih."
"Apa kamu jijik padaku hingga tidak mau aku pegang !"
"Bukan tapi kita bukan muhrim."
"Persetan ga ada larangan kalau cuma pegangan tangan."
"Iya itu untuk Hana yang dulu,tapi maaf Hana yang sekarang harus menjaga dirinya hanya untuk suaminya." Ucapku sambil menghempaskan tanga Faizal,tapi Faizal terlalu kuat dengan terpaksa aku menggigit tangannya. Maksud hati ingin segera lari,tapi karena keseimbangan badan yang tidak kuat kakiku malah terkilir.
"Auhh kakiku. Please jangan pegang kita bukan muhrim."
"Ya Allah Bu Raihan kenapa ini,?" tanya Yanti. Yanti memanggilku hanya jika kami lagi berduaan, atau ada suami kami masing-masing.
"Ini ibu Raihan kakinya terkilir tapi tidak mau saya tolongin, katanya bukan muhrim."
Kalau kamu gak main pegang-pegang tangan aku juga bakalan berusaha kabur, dan berahkir seperti ini.
"Ini urgent Lo bu Raihan! Wah kebetulan ini ,kalian memang bener sehati. Lihat ponselmu," ucap Yanti sambil menujuk ponselku yang tergeletak di tanah.
"Assalamualaikum mas."
"Walaikumsalam bidari mas."
"Maaf kapten main serobot saya istri Serka Ari, ini Bu Raihan kakinya terkilir tapi gw mau di tolong sama dokter Faisal. Katanya bukan muhrim padahal urgent,gak mungkin saya perempuan yang menggedong."
"Sayang dengerin mas, urgent ga apa-apa Allah maha tahu?" Ucap Raihan membuat jantungku berdetak kencang.
🎼✉️ Radit
Gw di dekat batalyon 15 menit lagi sampai.
^^^Me^^^
^^^Buruan gw tunggu di taman kanak-kanak komplek asrama^^^
"Ya udah mas Assalamualaikum." Ucapku langsung mematikan ponselku, tanpa menunggu jawaban dari Raihan.
"Yanti bantu aku duduk di bangku itu !"
"Iya bu."
"Sekarang dokter Faiz bisa pergi,"ucapku setelah aku bisa duduk.
"Tapi kamu kan tahu tadi suami mu bilang ?"
"Tidak apa-apa, Yanti ambilkan aku minum air putih."
"Aku tolong pergi. Raihan ga bakalan ngijinin jika tahu ini ulah mu!"
"Tapi aku gak bilang apa-apa ke suamimu,"ucap Faizal bertepatan dengan mobil Randi tiba. Randi dan Radit keluar dari mobil ku, dengan wajah cengengesan.
"Kenapa mobilku kalian yang bawa?"
"Assalamu'alaikum dulu,"ucap Radit sambil mencium punggung tanganku.
"Walaikumsalam,"ucap Randi dengan melakukan hal yang sama kepada ku.
"Kami hanya melakukan perawatan, kalau gak di pakai nanti tambah rusak,"jelas Radi.
"Akal bulus kalian berdua itu, gw mau pulang gedong!"
"Buset badan Lo sekarang Segede gajah ya,"jawab Radit.
"Sini biar aku saja yang gendong kamu, jika kedua temanmu tidak kuat ." Ucap Faizal, memang badanku naik 20 kg dari sebelum hamil.
"Siapa anda,?" tanya Randi.
"Saya dokter militer yang akan kondisi kaki Bu Raihan."
"Kakimu memang kenapa,?"tanya Radit.
"Cuma terkilir kakiku."
"Buruan naik ke punggung,!" ucap Randi. Tanpa memperdulikan Faizal aku pergi meninggalkannya.
"Diam selonjoran biar aku urut kaki mu!" Ucap Radit setelah Randi menurunkan aku di dalam rumah. Kami bertiga tidak ada yang mengikuti jejak mami, meskipun begitu mami membekali kami dengan dasar pertolongan pertama.
"Ini buat mengompres,!"ucap Randi.
"Permisi!"
"Kamu duduk saja biarkan aku yang menemui tamu mu,!"ucap Randi.
"Oh pak dokter ada apa ya?"
"Saya hanya akan memeriksa kondisi kaki Bu Raihan,"ucap suara Faizal yang dihalangi masuk oleh Randi.
"Anda tidak perlu kuatir kami sudah melakukan pertolongan pertama,habis ini akan kami bawa pergi. Kami kesini memang sengaja menjemput Hana untuk pulang."
"Anda siapa ya?"
"Kami berdua adik Hana , jadi anda tidak perlu cemas silahkan pergi!"
"Siapa sih maksa banget pingin dekati kamu,?" tanya Randi.
"Seniorku waktu kuliah beda jurusan."
"Oo pantes. Mami minta kami menjemput mu, usia kehamilan mu sudah 9 bulan mami takut kamu lahiran ga ada temannya."
"Bukannya samping Lo duda,"timpal Radit. Radit yang menjadi pengacara Ratih tau sedikit kisah Ratih.
"Kalau Lo ga mau ikut besok kanjeng mami yang menjemput lo ke sini,!" ucap Radit.
"Hah kebiasaan deh mami, nanti gw pamit dulu sama Yanti dan ketua Persit."