
"Pakde kemana 2 hari gak keliatan ?"tanyaku pada Romi. "Papa sudah mulai masuk kerja cutinya habis, jadinya sekarang kalau malam aku yang jaga siang kadang mama"ucap Romi.
"Gw bawa makan, besok sudah boleh pulang kan?" tanyaku saat menyodorkan sebungkus nasi goreng. "Iya tadi katanya dokter visit kondisi sudah membaik kalau besok kondisinya bagus kaya sekarang sudah bisa langsung pulang. Kata papa kalian mau pulang ziarah ke makam, kalau Rara sudah sehat ?" tanya Romi.
"Iya rencananya begitu tapi belum ada kabar lagi kapan nya. Mau ikut sekalian jalan-jalan ?" tanyaku. "Boleh Kalau hari libur " ucap Romi. " Ok tar aku coba hubungi Om Hardi untuk memastikan kapan pastinya" .
"Eh mbak lelaki yang ketemu kita beberapa hari lalu di lift salah satunya cowok mu ya?" tanya Romi. "Yang mana ?"tanyaku.
"Yang bilang 'Wah ketemu lagi, sebagai orang asing boleh dong kenalan ' waktu itu kita dalam lift."
"Oo,2 lelaki gila itu sebatas kenal,"ucapku. "Bohong kalau sebatas kenal masak mbak bilang ' Kalau Lo gak mau ngerasain suntik mati lebih baik mulutmu diam deh' ngaku aja lagian umur juga sudah 30 tahun sudah waktunya nikah"ucap Romi.
"Nikah-nikah mbak terikat kontrak ya setelah wisuda" ucapku. "Kan terikat kontrak kerjasama bukan terikat larangan nikah"ucapnya.
"Anak kecil gak usah mikirin nikah,kejar karir mu dulu banggain orang tua baru mikir nikah"ucapku. "Iya itu berlaku untuk aku , tetapi gak buat mbak ingat umur."
"Sialan emang ada masalah dengan umurku"ketusku. "Ya iyalah mbak kan dokter tahu dong puncak masa subur dan kualitas telur terbaik wanita berada pada 20-30 tahun. Sedang mbak sudah 30"ucapnya. "Anak itu rejeki jadi gak usahlah di buat pusing,jalani saja seperti air mengalir " ucapku. "Tapikan sebagai hamba kita wajib berusaha mencari rezeki, juga mencari jodoh bukan pasrah "ucapnya. "Aiss pinter juga sekarang "jawabku .
"Kenalin sama yang sudah mbak bikin mati, setelah mbak curi kehidupannya" ucap Romi.
"Taulah gw pulang dulu mau istirahat, kalau butuh bantuan hubungi aku saja " ucapku sambil meninggalkannya.
"Bagaimana bekerja disini pasti banyak suka dukanya? Semoga setelah keluar dan terjun langsung ke lapangan akan menambah banyak pengalaman yang didapat dan ilmunya juga makin bermanfaat" ucap dokter Rio.
"Kami juga terima kasih atas bimbingannya dan ilmunya yang dokter bagi buat kami"ucap mas Bintang. Ya hari hari terakhir masa pendidikan residen kami di rumah sakit.
"Terima kasih dok " ucap kami, kami berpamitan pada semua penghuni rumah sakit.
"Wah kita pastinya bakal kangen kalian semua" ucap Yumi dokter residen THT tahun ke 3.
"Tentu kita juga pasti bakal kangen kalian "ucap Desty. "Grop jangan di hapus gantiin nama aja 'bukan Residen' sesuai kenyataan" ucap Bisma.
"Halah modus Lo biar gak hilang kontak Sam BESTie ku aja" ucap Desty.
"Sampai ketemu lagi aku bakal rindu kalian semua"ucap mas Aji, karena kami tidak dari universitas yang sama Kami bertemu disini berjuang bersama-sama disini, kedekatan kami juga di mulai disini.
"Lo mau pindah tempat tinggal?" tanya Desti saat menemaniku di kosan membereskan barang-barang ku. "2 hari lagi awal bulan kalau gw tidak pindah gw harus bayar kontrakan,sedang 2 Minggu lagi gw sudah harus kerja"ucapku.
Berdasarkan Undang-Undang Praktik Kedokteran hanya mengizinkan seorang dokter berpraktik di tiga tempat. Hal ini sesuai dengan Surat Tanda Registrasi (STR) yang dikeluarkan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI)
"Jadi karena gw pingin cepat selesai gw ambil 2 tempat sekaligus,"ucapku mantap. "Gw dukung,"ucap Desty. "Tap masalahnya 2 rumah Sakit itu masing-masing mempunyai jarak tempuh hampir 1 jam, gw harus merogoh kantong buat beli kendaraan" ucapku.
"Katanya dokter itu kaya,"ucap Desty sambil terkekeh. "Mereka tidak tahu yang kaya itu biasanya sudah kaya sebelum jadi dokter alias orang tuanya yang kaya. Punya klinik / tempat praktek sendiri dan menetapkan tarif kunjungan.Jam terbang, buka praktek di atas 15 tahun akan punya pasien tetap yg lumayan.Ya kalau kita gak bakal bisa jadi spesialis kalau bukan dibiayai pihak ketiga" ucapku. "Sama aja aku juga kalau bukan dukungan suami dan mertua juga gak mampu lanjut ke spesialis" ucapnya. Desty suaminya seorang IT handal di perusahaan komunikasi, mertuanya punya klinik keluarga.
"Haha ibarat orang berhutang sekarang waktunya gw membayar hutang " ucapku sambil terkiki yang di ikuti Desty.
Sebelum memulai aktivitas sebagai dokter spesialis bedah jantung, Pakde dan Abi mengajar aku mengunjungi makam bunda. Kami pergi berenam aku,Abi,Romi,Rara,Pakde dan om Hardi. "Jadi mulai lusa kamu sudah praktek di 2 rumah sakit ?" tanya om Hardi sambil mengendarai mobil.
" Iya om kalau cuma salah satu rumah Sakit masa terikat nya 5 tahun,tapi kalau 2 rumah sakit cuma setengahnya"ucapku. " Jika tidak cocok dengan suasana kerjanya dan mau pindah bilang aja,Abi tidak masalah kalau harus membayarkan sejumlah denda ganti rugi"ucap Abi.
"Tapi masalahnya bukan dendanya tapi tanggung jawabnya"ucapku. "Bener itu,kamu memang keturunan keluarga ku kamu persis Bundamu, keluarga kita adalah orang yang memegang teguh tanggung jawab. Jangan hanya mengandalkan uang, lihat Abi mu istri pertama dan ketiganya kan semuanya bertahan karena limpahan materi bukan rasa tanggung jawab sebagai seorang istri " ucap pakde. " Cocok aku setuju kata-kata mu mas"ucap Om Hardi sambil terkekeh.
Melihat Pakde dan Abi ahkirnya bisa akur , saling meledek, saling bercanda aku yakin bunda di syurga pasti juga senang melihatnya. "Mbak ada air mata, mbak menangis" bisik Rara. "Ini air mata bahagia" bisikku sambil memberi isyarat tutup mulut, yang langsung di angkukin. Kami langsung berziarah ke makam bunda begitu sampai di kota kecil, kota kelahiran ku dan tempat peristirahatan terakhir bunda.
"Jalan-jalan yuk"ucap Romi menghampiriku yang sedang menikmati makan malam di hotel tempat kami menginap. "Ayuk aku mau healing healing " ucap Rara yang mendengarnya. "Ayuk kita menikmati Kota Proklamator, sebelum besok pagi kita balik" ucap Om Hardi.
"Sana kalian anak-anak muda!" ucap Pakde. "Berarti Om gak boleh ikut, karena om bukan anak muda" celetuk Romi, membuat semua ketawa.
"Aku memang bukan anak muda tapi aku anak sudah Mateng, ayuuk tar Om yang traktir kalian kalau mau beli apa-apa" ucap Om Hardi. Membuat kami semangat menghabiskan malam ini dengan mengelilingi kota proklamator.
"Rara mau lanjut sekolah SMP sama papa aja, boleh ?" tanya Rara saat di perjalanan kami pulang.
"Bener Rara mau tinggal sama papa, papa sangat senang mendengarnya" ucap Pakde . "Tapi pasti mama gak ngizinin"keluh Rata.
"Bagaimana kalau Rara masuk pesantren Om aja,kan pesantren Om ada di kab.Bandung dan papak kerja di Polda Jabar yang letaknya di kota Bandung. Paling tidak jaraknya lebih dekat"ucap Abi.
"Boleh tar papa bisa pindah tinggal di sekitar pesantren aja"ucap Pakde. "Boleh mas rumah ku selalu terbuka buat mu mas"ucap Abi.
"Bibi Ratih bilang 3 bulan lagi yang ngontrak rumah bunda mau pindah,ke rumah baru jad kosong Pakde bisa tinggal disana" ucapku. " Wah boleh itu. Rumah bunda Dara masih satu area sama pesantren,jadi Rara bisa tinggal di pesantren Putri atau sama mas juga bisa" ucap Abi.
Semoga kebersamaan dan kebahagiaan ini akan selalu kami nikmati, ternyata dengan saling memaafkan dan menerima serta melupakan sakit hati bisa melihat kebahagiaan ini , kenapa tidak dari dulu aku buang gengsi dan egoku.