
"Silahkan duduk, ada apa dengan putri saya ?"
"Maaf.. Kedatangan kami ke sini , mau bertanya. Apa benar Revalina putri kandung anda?"
"Dia putri kandung saya !"
"Maaf kalau saya lancang, saya harap andai jujur pada kami," ucap Raihan.
"Tolong katakan yang sejujurnya, kami sudah mencari selama 10 tahun. Namanya Diva, kita bisa menjadi orang tua buat dia secara bersamaan." Ucapku sambil meneteskan airmata, aku tahu mungkin wanita di depan ku takut kehilangan Diva.
"Aku tidak perduli siapa kalian, Niko usir mereka !" Ucap perempuan itu sebelum berdiri dan pergi meninggalkan kami.
"Lebih baik kita tidak bicara di sini."
"Kalau begitu di mana,?" tanya Raihan.
"Kalian silahkan keluar,saya akan pamit dengan kakak saya dulu!" Aku dan Raihan segera berjalan keluar,dan menunggu di luar. Untungnya tadi Rai tidak membawa sopir dan menggunakan mobil pribadi kami.
"Ikuti mobil Saya." Kami mengikuti mobil lelaki tadi sampai berhenti di kedai kopi, di tengah kota solo.
"Perkenalkan saya Niko,saya adik kandung perempuan tadi yang bernama Wiwit."
"Kami orang tua anak yang bernama Diva, yang kemungkinannya."
"Iya saya paham, saya secara pribadi minta maaf atas kelakukan kakak saya." Ucap Niko memotong ucapan Raihan.
"Apa anda percaya yang dibesarkan kakak Anda adalah putri kami ,?" tanya Raihan lagi
"Saya percaya, tapi maaf tidak bisa Percaya 100%. Karena selama 10 tahun baru Anda yang mencari ,berarti anda sudah berusaha dengan sangat keras mengingat dari pihak kami ,tidak pernah melaporkan tentang hal yang sebenarnya kepada pihak polisi."
"Jadi benar, semuanya seperti sengaja di tutupi?"
"Maaf itu ulah kakak ipar saya."
"Boleh saya tahu apa yang terjadi sebenarnya,?" tanya Raihan.
"Saya menemukan Reva atau Diva saat turun gunung bersama seorang perempuan. Kakak ipar saya seorang dokter, jadi dia saya bawa ke rumah kakak saya setelah dirawat ternyata Diva mengalami amnesia. Saat saya ingin melaporkan keadaan wanita yang bersangkutan, saya dengar sudah ada yang mencari jadi saya putuskan untuk menugu hasil pencarian tersebut. Tapi setelah saya dapat kabar kalau wanita itu meninggal Saya jadi bingung membawa kemana. Ahkirnya kakak saya minta suaminya untuk mengadopsi Diva,dan mengganti namanya menjadi nama almarhum putrinya yang meninggal."
"Jadi putri Kami amnesia,?"tanyaku sambil meneteskan airmata.
"Iya. Saya akan membantu anda bertemu dengan putri anda, jika anda mau. Saya juga akan bantu usaha anda untuk mengembalikan ingatan putri kalian."
"Kenapa anda membantu kami, bukannya kakak anda sangat mencintai putri kami ?"
"Mas,!" ucapku tak suka dengan ucapan Raihan. Aku merasa ucapan Raihan persis orang yang sedang curiga.
"Kakak saya hanya mau mengakhiri pernikahannya, yang menurut saya sudah tidak sehat. Jika putrinya sendiri yang meninggalkannya."
"Maksudnya anda pernikahan poligami ,?" tanya Raihan.
"Iya. Sepertinya anda sudah mencari tahu sampai ke sana?"
"Kalau tidak sehat kenapa masih diteruskan,?" tanya Raihan.
"Karena kakak ipar saya mengancam kakak saya. Jika kakak saya menuntut cerai, maka rahasia siapa Reva akan dibuka di depan umum."Nampak sekali kalau lelaki ini frustasi menghadapi kakaknya.
"Jadi anda ingin membuat Reva meninggalkan mamanya, biar kakak anda mau pisah dengan suaminya ?"
"Iya,saya sayang dengan kakak saya."
"Baik saya setuju." Ucap Raihan yang berahkir dengan bertukar no telpon.
Ahkirnya hari di mana kunjungan buat Dila tiba. Sehari sebelum kunjungan tiba sore hari , Satri pulang ke rumah kami yang di Semarang. Rumah dinas bukan rumah pribadi, suatu yang sangat membuat aku terkejut adalah Satria pulang bersama Diva.
"Ma, kenalkan ini Revalina. Mama bisa panggil dia dengan nama Reva atau Lina, terserah mama dan senyamannya mama."
"Boleh Mama panggil dengan nama Reva?"
"Silahkan tante," ucapnya lirih.
"Boleh Tante peluk kamu?" Tanpa menjawab Diva hanya mengagukan kepalanya.
Aku langsung berdiri dan memeluk Diva ku," Terima kasih telah mengijinkan tante untuk memelukmu." Ucapku sambil meneteskan air mataku. Air mata bahagia yang telah lama aku rindukan, rindu untuk memeluk Putri kandungku yang 10 tahun hilang entah ke mana.
"Ayo masuk, Reva sudah makan apa belum?"
"Ayo ikut Tante kamu bisa istirahat." Aku membawa Reva ke kamar yang biasa ditempati oleh Dila.
"Kamu bisa beristirahat dan tidur di sini, di situ ada dua lemari satu lemari berisi baju Dila. Satu lemari berisi baju baru punya kembarannya Dila yang belum pernah dipakai ,kamu bisa memakai itu dan pilih sesuai selera kamu."
"Apa kembarannya tidak marah mengingat baju itu masih baru?"
Aku hanya bisa menggeleng dan meneteskan air mataku, "Tante yakin dia tidak akan marah. Kamu istirahat lah,Tante akan menyiapkan makan buat makan kita."
"Terima kasih mama." Ucapnya sambil memelukku dari belakang, tanpa dicegah air mataku langsung mengalir. Aku membalikkan tubuhku dan langsung memeluk erat Diva ku.
"Maaf Tante mengingatkan aku dengan mamaku!" Aku hanya bisa mengaguk, meski air mataku terasa ingin tumpah.
Hari ini aku memasak kesukaan Diva, Diva kecilku paling suka makan makanan laut.
"Wih mama masak Kepiting saos tiram dan Cumi goreng tepung."
"Reva sudah lapar belum,?"tanyaku.
"Belum Tante."
"Kalau begitu kita tunggu papa ya?"
"Iya Tante."
Setelah 15 menit menunggu ahkirnya Raihan pulang, meski sedikit terkejut tapi Raihan bisa menguasai diri tidak seperti aku.
"Reva mau makan kepiting ?" Tanyaku karena waktu kecil Diva penyuka kepiting.
"Reva suka, tapi Reva tidak pandai mengupas kepiting biasanya mama yang mengupaskan ." Ucapnya malu dengan menundukkan kepalanya.
Ternyata perempuan bernama Wiwit itu sangat sayang kepada Diva.
"Sini aku bantu," ucap Satria yang langsung mengambil Kepiting dan membuang cangkangnya.
"Terima kasih."
Setelah makan kami menonton bersama di ruang keluarga. Sebelum ahkirnya Reva pamit masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
"Bagaimana,?" tanya Raihan.
"Aku senang, meskipun dia belum mengakui mama. Aku senang bisa melihat Diva ku. Aku tidak akan memaksa Diva untuk mengakui ku, karena aku sadar wanita yang membesarkan Diva juga sayang padanya."
"Kamu yakin ?"
"Aku yakin mas,aku tidak mau keegoisan ku untuk mengambil Diva akan membuat Diva terluka. Aku tidak mau menyakiti orang yang sudah menyayangi Diva, dan membuat Diva pergi lagi dari kita."
"Allhamdullilah kalau kamu sadar. Sebenarnya mas takut kalau memaksa Diva, membuat Diva membenci kita, membuat Diva terluka."
Paginya kami mengunjungi Dila, aku mengunakan baju dengan warna senada dengan baju Diva.
"Itu anak perempuan Tante adik Satria."
"Mama,"ucap Dila lirih melihatku berdiri dengan Diva.
"Sayang kenalkan ini Revalina teman Satria,"ucapku.
"Dia teman Affan yang dikenalkan padaku."
"Hallo aku Adila,"ucap Dila dengan suara bergetar.
"Aku Revalina, Aku tidak menyangka wajah kita begitu mirip. Mungkin jika aku memakai baju dan model rambut yang sama, orang tidak akan bisa membedakan kita."
"Mama bisa membedakan kita," ucap Dila.
"Oya bagaimana caranya,?" tanya Reva.
"Adila memiliki warna mata hanzel seperti mami dan kakek.Sedangkan Reva seperti kita semua warna mata coklat. Kulit Adila putih susu ikut mami dan kakek,kalau kulit Reva seperti Papa dan Satria kuning Langsat." Ucapku dengan suara bergetar menahan air mataku, untuk tidak keluar.
Sesi kunjungan kali ini kami bisa foto bersama berlima, setelah 10 tahun. Raihan dengan seragamnya,Adila dengan seragam Taruni, aku dengan baju senada dengan Reva dan Satria.
...TAMAT...