
Semalaman aku tidak tidur, bukan karena kepikiran. Tapi aku semalaman berada di depan laptop dan komputer yang ada dikamar pribadiku. Iya aku menggunakan teknologi dan kemampuan yang ku punya, untuk mencari dalang yang mengambil fotoku. Tidak hanya itu aku juga mengumpulkan bukti dan mencari ke keburukannya. Aku harus menyiapkan amunisi untuk melakukan serangan balik.
Aku akan buktikan, kalau aku juga bisa berbuat lebih kejam dari perbuatannya. "Kamu kenapa belum tidur,?" tanya kakek yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarku. Mungkin karena pintu kamar yang tidak ku tutup rapat, jadi kakek langsung masuk.
"Ada apa kakek kesini?"
"Kakek mau ke masjid. Tapi melihat pintu kamarmu yang masih terbuka kakek penasaran. Sepertinya cucu Kakek belum tidur." Ucap kakek sambil melihat kearah laptop dan komputer ku yang keduanya masih menyala.
"Astaghfirullah ini kan?" Ucap kakek sambil menunjuk gambar seorang wanita berpakaian seksi.
"Ini orang memfoto ku dan mengirimkan ke pada salah satu ustadzah disini."
"Kamu semalaman di depan komputer melihat ini?"
"Mencari dalangnya kakek, juga buktinya."
"Dalang apa?"
"Ga usah pura-pura gak tahu lah kek,!" kesalku.
"Iya kakek paham, kakek juga percaya dan tahu semuanya."
"Termasuk gambar foto ini?"
"Iya, orang-orang kenalan kakek yang cerita dan ngasih bukti."
"Tapi kenapa kakek diam dan tidak menegurnya ?"
"Karena dia melakukannya di luar pesantren. Sudah kakek sudah di tunggu. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Setelah mendengar adzan subuh,aku baru mengistirahatkan tubuh dan pikiranku.
"Bangun, bangun !" Ucap Randi sambil menggoyangkan badanku. " Pukul berapa sekarang ?"
"Pukul 08.00. Ayo buruan bangun ditunggu kakek di ruang utama."
"Hmm gw cuci muka dulu."
"Ga mandi lo?"
"Ga. gw masih wangi."
"Pingsan orang-orang yang satu ruangan dengan mu nanti!"
"Bagus. Tidak perlu ada sidang segala." Selesai cuci muka dan aku menemui kakek yang lagi ngobrol bersama Om Hardi.
"Assalamualaikum," ucapku sambil duduk di samping kakek.
"Walaikumsalam."
"Mana yang lagi katanya mau disidang ?"
"Kamu itu persis kakek mu, waktu muda." Kata Om Hardi sambil terkekeh geli melihatku.
"Aku tidak salah,juga tidak berbuat mesum seperti yang dibicarakan oleh para ustadz dan ustadzah di group pengajar."
"Tapi Masalahnya pria itu berpakaian tidak sopan, tidak sesuai aturan pesantren."
"Om bukannya aurat lelaki itu adalah antara pusar hingga lutut. Artinya pusar dan lutut sendiri bukanlah aurat. Jadi tidak ada masalah dengan pakean lelaki tersebut. Lagian di foto itu juga jelas baik aku maupun lelaki itu menahan pandangan kami." Ucapku dengan suara sedikit kencang karena menahan emosi, hingga tidak mendengar suara ketukan pintu dan salam ,beberapa orang yang berdiri di depan pintu.
"Assalamualaikum." Ucap mereka sekitar 10 orang yang di panggil kakek, untuk meluruskan kesalah pahaman ini .
"Walaikumsalam,maaf kami tidak mendengar salam kalian," ucap Om Hardi.
"Aku dengar ko,cuma tadi mau jawab gak mungkin. Karena lagi ngomong,"uacapku sedikit ketus.
"Astaghfirullah. Ini kalau anaknya beda dari orok."
"Ya beda lah semua laki-laki aku perempuan sendiri."
"Makanya setengah lelaki setengah perempuan."
"Hardi ! Hana ! Jaga adab. Kamu juga Hardi sudah tua kasih contoh yang baik. Hana bersikaplah selayaknya perempuan!"
Aku dan om Hardi hanya saling melirik dan menunduk, mendengar teguran kakek.
"Kalian silahkan duduk!"
"Ustazah Dila Karena Anda yang mengirim foto itu, bisa tolong di jelaskan itu dapat gambar dari mana ?" Nampak ustazah Dila gemetar ketakutan mendengar suara kakek.
"Iya pak kyai, Ustazah Dila minta ijin saya untuk istirahat sore karena kurang enak badan."
"Kakek ku tersayang yang paling ganteng setelah papi. Kalau kakek bertanya begitu bisa adzan luhur baru ke bongkar dalangnya. Terus apa gunanya aku semalam bergadang nyari pelakunya." Ucapku gemes dengan cara kakek.
"Itu kamu lihat,!" ucap Om Hardi sambil menujuk kearah Langga, Raihan dan teman-temannya. "Iya kenapa dengan mereka ?"
"Mereka abadi negara dan om yakin kamu mencari pelakunya dengan cara ilegal ," ucap om Hardi.
"Aku tidak mencuri data negara kenapa di katakan ilegal. Mereka tentara tugasnya menjaga keamanan dan keutuhan NKRI. Bukan menangkap penjahat."
"Astaghfirullahal 'adziim," ucap kakek sambil menarik nafas panjang.
"Maaf atas keributan yang di buat mereka. Sekarang Hana mau apa ?"
"Aku ingin pelaku yang ngambil foto di bawa kesini dulu. Jika sudah jelas motifnya terserah kakek mau hukum siapa, tapi jangan aku karena aku tidak salah."
"Kamu juga salah," ucap Om Hardi sambil menarik hidungku. " Aku salah apa? Om bisa lihat dong di foto itu dia memegang lenganku yang berlapis baju."
"Kamu salah karena melewati wilayah santri, harusnya kamu lewat depan.
"Aku juga biasanya lewat situ."
"Ya Allah, kalian itu kenapa sih?"
"Habis ini bocah jawab mulu orang tua ngomong, kenapa ga jadi pengacara saja sih,"
"Sudah Hana sekarang Hana mau apa ?"
"Aku ingin bertanya kepada Shifa,?" ucapku membuat Shifa yang dari tadi hanya diam langsung melihat kearah ku.
"Kenapa aku. Aku tidak tahu apa-apa? Jangan menuduhku !"
"Siapa yang menuduh mu?," tanyaku dengan menyeringai kearah nya. Syifa langsung diam menunduk menghindari kontak mata langsung denganku.
" Bisa di jelaskan secara detail, biar tidak terjadi fitnah dan salah paham." Ucap Kakek Husein salah satu kyai sepuh di pesantren selain kakek.
"Ustazah Dila hanya korban bukan penyebar sebenarnya. Saya percaya dengan keterangan ustazah Dila."
"Kenapa begitu ,?" tanya Ustadz Aziz putra cucu kyai Husein.
"Maaf sebelumnya ustazah Dila bisa lihat ponselnya."
"Ini Ning,"ucapnya sambil menyodorkan ponselnya kepadaku.
"Jika Foto ini diambil pakai kamera ponsel Ustazah Dila,maka foto akan tersimpan di galeri foto Camera. Tapi di sini tersimpan di galeri WhatsApp. Sayang orang yang mengirim kesini hanya menghapus di chat WhatsApp," seringai ku.
"Jadi orang itu langsung menghapus WhatsApp setelah mengirim ke grup para pengajar,?"tanya Ustadz Aziz.
"Ya begitulah, AA. Tapi aku mau kasih lihat kalian," ucapku sambil membuka laptopku dan menyalakannya.
"Maaf Syifa bisa AA lihat ponselmu sebentar ?"
"Buat apa aku tidak salah. Bukan aku yang mengambil foto mereka ?" Ucap Shifa sambil memegang erat ponselnya.
"Kalau kamu tidak salah kamu tidak perlu takut. Dan maaf buat ustazah Dila dan Anis silahkan lanjutkan pekerjaan kalian!"
"Assalamualaikum," ucap Dila dan Anis sebelum pergi.
"Kapten Erlangga buat rekan kerjanya yang tidak ada kaitannya bisa di suruh keluar sebentar !" Tanpa di suruh mereka semua langsung keluar. Hingga di ruang ini hanya menyisakan aku, Om Hardi, kakek,Shifa, kakek Husein, Aziz, Erlangga dan Raihan.
"Aku berbicara sebagai kakak Shifa. Bisa AA lihat ponselmu sebentar ?"
"Aku tidak suka dengan kalian yang selalu sayang dengan Hana. Kakek tidak pernah memarahi Hana, padahal Hana tidak pernah mau mengabdi ke pesantren. Hana juga tidak berhijab, bahkan teman-teman Hana semua lelaki."
"Astaghfirullahal 'adziim. Ingat Shifa iri itu tidak baik , jangan sampai rasa iri mu di manfaatkan setan." Ucap Aziz, Kakek dan kyai Husain hanya beristighfar mendengar ucapan Shifa.
"AA minta maaf untuk sementara kamu tidak AA ijinkan mengajar dulu. AA harap kamu bisa introspeksi diri."
"Mulai hari ini aku menyatakan berhenti mengajar di pesantren. Tidak perlu sementara,aku tidak akan mengajar seterusnya." Tanpa berbicara lagi Shifa langsung berlari ke luar.
"Padahal Aa cuma aku suruh melihat ponselnya, kenapa dia melantur kemana-mana ?" Ucapku lirih kepada Aziz.
"Astaghfirullahal 'adziim. Hana kelamaan tinggal di negri orang sepertinya kamu perlu di rukiyah ya!"
"Emang aku kemasukan setan apa?" Ketusku menjawab Aziz.
"Ekhm ekhm." Deheman kyai Husain membuatku diam. "Sekarang sangsi buat Hana yang keluyuran malam di area tempat tinggal santri."