
Sejak pertemuanku dengan Ajeng sikap semua orang jadi seperti lebih protektif, bahkan untuk bekerja aku harus diantar jemput. Setiap aku bertanya mereka akan menjawab demi keamananku.
Hari ini acara syukuran 4 bulanan kehamilanku yang akan di selenggarakan di rumah orang tua Kana.
"Sebelum kerumah mama kita kontrol kondisi triplek dulu,mas juga sudah telpon dokter Clara dan membuat janji dengannya."
Aku menarik nafas sebelum menjawab ucapan Kana, "Kenapa kontrol lagi 2 Minggu lalu udah ke dokter teguh," keluhku.
Kana menaruh sendok makanya sambil menatapku," Kehamilan ganda memiliki tingkat resiko lebi besar dari pada kehamilan tunggal. Apalagi adik tidak hanya kembar 2 tapi triple."
Aku hanya bisa pasrah kalau sudah begini, karena aku tidak akan pernah menang jika Kana sudah memasang wajah galaknya.
Selesai sarapan Kana langsung membawaku kerumah pribadi dokter Clara, " Bagaimana masih sering morning Sickness,?" tanya dokter Clara dengan tangan bergerak mencari posisi bayiku.
"Masih sering mual cuma tidak separah kemarin, mual dan muntah hanya untuk masakan tertentu seperti seefood," ucapku.
"Padahal seafood kesukaan saya dok,jadi demi dedek saya rela tidak makan seefood sekarang," ucap Kana sambil tertawa.
"Usianya suda 17 Minggu, pasti sudah mulai bergerak."
"Iya Dok, sudah mulai bergerak."
"Ko adek gak bilang mas kalau sudah bergerak," ucap Kana memotong ucapanku.
"Kalau hamil tunggal biasanya usia kehamilan 20 Minggu baru terasa gerakannya, karena kembar jadi lebih cepat gerakannya."
"Apa triple sehat semua dok? Apa ada yang perlu diperhatikan atau yang perlu saya lakukan."
"Tida cukup jaga asupan gizi,Istirahat yang cukup. Cukupi asupan kalori dan nutrisi, jangan setres. Saya rasa dokter Dira paham lah sebagai dokter juga."
Aku hanya tersenyum menanggapinya, tetapi Kana masih aja ada yang di tanyakan hingga membuatku malu sendiri.
"Tapi istri saya sering kelelahan apa tidak apa-apa,?" tanya Kana.
"Itu wajar pak mengingat ini kehamilan kembar,jadi tidak perlu kuatir, yang penting selalu jaga kesehatan dan jangan stress."
Setelah melihat kondisi triple kami melanjutkan perjalanan menuju ke rumah orang tua Kana, sesampai kami di sana nampak sudah ramai. "Bagaimana kondisi cucu Abi ?"Sehat !" tanya Abi.
"Allhamdullilah sehat semu BI."
"Sepertinya kehamilan ini membuat perutmu kelihatan lebi besar dari pada orang hamil 4 bula pada umumnya,"tanya Abi.
"Doakan ya Bi, semoga lahir anak-anak kami dengan sehat. Tidak kurang satu apapun baik ibu dan bayi-bayinya," ucap Kana dengan senyum.
Arya yang di situ tiba-tiba melihat kearah ku aneh, " Anak-anak, bayi-bayi apa anak kalian kembar?"tanya Arya. Kana melihat kearah ku dan langsung mengaguk ,membuat beberapa orang histeris mendengarnya.
"Allhamdullilah punya ponakan kembar, semoga tidak kaya papanya nyebelin," Teriak Nadira. Membuat Kana langsung memasang wajah galaknya yang di sambut tawa oleh yang lainnya.
"Apa sebaiknya kamu tidak berhenti kerja aja, mama ngeri melihatmu mondar-mandir dengan perut Sebasar itu kemana-mana."
"Iya ma marahi aja,aku bilangin ngeyel tetap kerja alasannya bosan di apartemen sendirian," ucap Kana, membuatku tertawa geli.
Gimana tidak geli ,hampir semua orang yang berkomentar selalu di bilang begitu, " Cucu-cucu mama sedang apa di dalam sana, jangan nakal ya," ucap mama Kana sambil mengusap-usap perut besarku.
"Mas aku mau es krim di mini market,!"
"Mas beli sendiri apa adek mau ikut ?"tanya Kana.
"Ikut! Aku mau minum es krim sambil duduk menikmati lampu taman," ucapku langsung berdiri untuk mengambil hijab ku.
"Enak ?" tanya Kana sambil melihat kearah ku yang sedang makan eskrim. "Enak, terima kasih,"
Kami menikmati malam di taman hijau apartemen hampir satu jam sebelum memutuskan untuk kembali ke Apartemen. Saat kami berjalan bergandengan tangan Kana tiba-tiba pamit ke toilet, tetapi aku melihat ada 2 orang lelaki tiba-tiba membekap mulut Kana dari belakang hingga Kana pisang. Belum sempat aku berteriak aku juga merasa ada yang membekap ku, sebelum tidak sadarkan diri.
POV. Kana
Kebahagiaan ini terasa sangat lengkap menikah dengan seorang wanita yang aku cintai, meski di awal aku mengenalnya sering terjadi kesalah pahaman. Apa lagi setelah kami di karuniai triple yang tumbuh sehat di perut Dira, serasa sempurna hidupku. Punya istri cantik dan anak-anak yang lucu dan menggemaskan 4 bulan lagi ulang tahunku dan 5 bulan lagi triple akan lahir, andai bisa tanggal lahirnya disamakan denganku. Kami bisa merayakan ulang tahun bersama-sama berempat.
Byurrr siraman air dingin yang menyiram tubuhku membawaku kembali ke dunia nyata. Aku terbangun dengan kedua tangan terikat di atas, nampak di depanku Dira duduk di kursi dengan tangan diikat di belakang dan mulut ditutup dengan kain.
Siapa yang melakukan ini semua padaku ,kalau ada dendam seharusnya langsung padaku bukan melibatkan istriku pengecut ! ucapku dalam hati.
"Apa mau kalian, lepaskan istriku dia tidak tahu apa-apa !" ucapku pada 2 pria yang menyiram ku pakai air es tadi.
"Maaf kami hanya melakukan tugas, jadi tunggu saja bos kami datang !"
"Ajeng ," ucapku tak percaya melihat wanita yang katanya gila berjalan kearah ku.
"Halo sayang," ucap Ajeng mendekat dan lansung menarik kepalaku dan ******* bibirku dengan ganasnya." Auuh,sialan kamu di kasih enak malah nolak," ucapnya marah karena aku gigit bibirnya yang dengan lancangnya berani mencium ku.
"Siksa lelaki ini jadikan dia samsak tinju kalian, jangan berhenti kalau istrinya belum sadar."
Dua lelaki itu berjalan mendekatiku dengan masing-masing melilitkan kain ke tangan mereka. Aku terima pukulan bertubi-tubi dari mereka berdua hingga mereka kelelahan. Aku gigit bibirku supaya tidak mengeluarkan suara, Dira tidak boleh melihat aku di hajar. Itu bisa membuat dia tertekan dan stress dan itu tidak baik untuk anak-anak kami.
"Begitu sayang kamu sama dia hingga rela menggigit bibirmu supaya tak bersuara," ucap Ajeng dengan menggerakkan pisau kecil ke wajahku dan turun kebawah. Menyobek kaos yang kupakai dengan pisaunya, gila wanita ini benar-benar gila , psikopat gila umpatku dalam hati tanpa berani bersuara. Jika aku bersuara aku takut akan berdampak pada Dira, lebih baik aku yang mati disiksa sama psikopat ini. Daripada harus melihat Dira ku menangis karena aku, itu lebih menyakitkan.
"Apa yang akan dipikirkan oleh istrimu jika aku membuat tanda tato di tubuhmu, dengan namaku,"ucapnya sambil menggerak-gerakkan pisau di dadaku.
Perih yang kurasakan saat pisau wanita itu mulai bergerak di dadaku membentuk huruf ' A ' besar. Aku hanya bisa menatapnya nyalang sebelum terdengar dobrakan pintu nampak Arya berlari kearah ku.
"Jangan bergerak kalau kalian bergerak aku bunuh wanita hamil ini, "ucap Ajeng dengan meletakkan pisau di leher Dira membuat Dira mulai mengerakkan matanya. Ya tuhan jangan sampai Dira melihatku dalam kondisi begini.