
"Pagi dokter cantik "sapa Bisma yang baru datang."Pagi juga ganteng " jawab ku." Kalau gw ganteng kenapa Lo gak mau sama gw"ucapnya."Mulai deh resek"ucapku sebelum mulai aktivitas pagiku.
"Disuruh kumpul di depan ruang dokter Rio dalam 2 menit "ucap Aji yang baru masuk.
"Ah sial "ucap kami semua yang lagi makan siang,baru juga bisa makan sudah di suruh ngumpul lagi. Membuat kami harus segera menghabiskan makan siang dan berlari ke ruangannya.
"Maaf, saya buru-buru"ucapku pada seorang laki-laki yang sedang menggendong anak kecil yang tidak sengaja hampir aku tabrak.
"Tidak apa-apa"ucapnya"Kana" "Dira" meskipun kami sama-sama kaget karena tarikan Bintang membuatku langsung meninggalkan nya.
"Apa-apaan ini,ini rumah sakit bukan punya kalian juga bukan dinas sosial"teriak dokter Rio di depan kami semua.
"Siapa yang ngasih jadwal operasi jika biaya yang akan digunakan aja belum pasti "ucapnya membuatku maju satu langkah.
" Seharusnya tanyakan dulu jaminan yang dia punya bukan main buat jadwal operasi disaat biaya aja belum ada kejelasan kalau kaya gini pihak administrasi akan membebankan pada kalian, apa kalian siap. Jangan hanya karena kasihan kalian mengambil keputusan sesuka hati,rumah sakit punya peraturan dan prosedur yang harus di taati jika semua dokter kaya kamu rumah sakit tidak akan bertahan "ucap dokter Rio diakhiri memukul kepalaku dengan kertas yang dia bawa.
"Sekarang bagaimana solusinya jangan sok-sokan pakai uang pribadi, kamu aja biaya pendidikan dicover beasiswa" ucapnya.
"Keluarga pasien berjanji sehari sebelum operasi akan dilunasi dok"ucapku."Tapi pihak administrasi tidak mau tahu, bagaimana dong? Jika sehari sebelum operasi pihak pasien belum melunasi siap-siap pihak administrasi menagih mu" ucapnya."Saya akan bilang kepada keluarganya dok "ucapku.
"Ini pembelajaran buat kalian semua memang kita semua di sumpah untuk membaktikan hidup guna kepentingan kemanusiaan dan menjalankan tugas dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan kita. Tapi rumah sakit tempat kerja kita juga butuh dana operasional buat membeli alat-alat kedokteran, obat-obatan dan gaji semua karyawan ,jadi jangan main ambil tindakan semaunya patuhi peraturan yang ada"ucap beliau.
"Baik dok saya minta maaf "ucapku.
"Sekarang teruskan pekerjaan kalian , kecuali kamu!" ucap dokter Rio sambil menunjuk ke arah ku.
"Jangan mudah kasihan nanti kamu di manfaatkan sama orang-orang yang tidak bertanggungjawab "ucapnya.
"Pegang ini jika pasien tidak bisa melunasi biaya operasi kamu bisa gunakan ini"ucapnya sambil menyodorkan kartu kredit.
"Maaf dok tidak usah masih ada waktu 3 hari untuk menunggu kepastian keluarga pasien "ucapku menolak."Ya kamu pegang buat jaga-jaga sebagai dokter residen kamu kerja disini gak di gaji, apalagi saya juga denger untuk buat biaya hidup beli buku kamu kerja sampingan jadi dokter umum di klinik " ucapnya."Nanti kalau saya butuh bantuan saya hubungi dokter "ucapku menolak secara halus.
"Ya udah jika butuh bantuan temui saya"ucapnya sebelum masuk ke ruangannya.
Ah sial kenapa aku gak teliti ucapku sambil duduk bersandar pada dinding, dapat biaya dari mana lagi semoga keluarga pasien dapat melunasi ucapku dalam hati sebelum berdiri dan berjalan menuju ruang kamu para dokter residen.
Tanpa Dira sadari semua yang dilakukan di amati oleh seseorang.
"Dok waktunya kunjungan pasien " ucap perawat poli mengingatkan aku."Hari ini berapa pasien sus?" tanyaku.
"Di kelas III ada 5pasien ,kelas I ada 3 pasien ,di rawat Inap VIP 2 orang, Rawat Inap VVIP 1 orang"ucapnya.
"Ya udah kita dari kelas 1 aja dulu yang paling dekat lokasinya " ucapku.
"Gak VVIP dulu dok?" tanya suster Mika yang menemani ku visit.
"Kalau VVIP dulu,meski keatas dulu baru turun kebawah mbak"ucapku pada suster Mika.
"Di ruang VVIP yang kemarin operasi dok tidak taunya anak dan cucunya orang-orang semua penting dok,tadi pagi saya ganti infus sampai gemetaran di awasi" ucapnya.
"Pantes pada sibuk semua"ucapku.
"Anak nya 2 yang satu dokter bedah syaraf yang satu pengacara kondang, belum lagi cucunya 3 ganteng semua baru satu yang sudah nikah kata ajudannya" ucapnya,terus membuat obrolan-obrolan ringan dengan ku sampai pada visit yang terakhir.
"Dok tidak buka maskernya?" tanya suster Mika saat kami keluar dari lift. "Kenapa harus buka masker?" tanyaku bingung.
"Siapa tahu cucunya tertarik sama dokter "Ucapnya sambil cekikikan dengan tangan satu memegang laporan kesehatan dan tangan satunya sibuk merapikan rambut dan pakaiannya aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Permisi " ucap suster Mika."Masuk dok" ucap pak Ucup yang kata Mika ternyata adalah asisten
"Bapak sama siapa di dalam pak?" tanyaku saat ku lihat pak Ucup di ruang tamu."Bapak ditemani sama anak dan cucunya dok, mari dok"ucap pak Ucup sambil membukakan pintu kamar pasien.
Deg deg deg jantungku berdetak kencang saat melihat siapa di ruangan pak Handoko, untung tadi aku gak ngikutin saran suster Mika untuk membuka masker.
Kenapa aku bisa lupa wajah pak Handoko ,paling tidak jika aku lupa wajahnya kenapa aku tidak memperhatikan nama lengkapnya Handoko Wiraguna,Ardi Wiraguna,Cakra Wiraguna,Arkana Wiraguna ahhh sial keluhku dalam hati tetapi tanganku tetap memeriksa kondisi pak Handoko.
"Ada keluhan ga pak?"tanyaku."Ko pak, kakek gitu lo itu ada cucu-cucu saya tinggal pilih yang mana"ucapnya sambil tertawa.
"Aduh Kenapa buat tertawa sakit ya"ucapnya."Makanya jangan suka jangan tertawa,"ucap Kana.
"Kalau dokter Dira tidak mau buat saya boleh gak kek cucunya " ucap suster Mika yang disambut tawa asisten pak Handoko dan pak Handoko menahan tawa begitu juga dengan pak Ardi dan pak Cakra.
Berbeda dengan para menantu yang melihat suster Mika dengan tatapan menyelidik,masih tetap sama . Berbeda dengan mereka dengan mereka aku merasa rahasiaku akan ketahuan saat suster Mika memanggil namaku.
"Boleh kek,tapi sebelum itu boleh dong melihat wajah dokter Dira" ucap Arya dengan senyum jahil.
"Wah kamu meragukan pilihan kakek mu ini, Dokter kakek ini cantiknya satu level di bawah nenekmu ya" ucap pak Handoko.
"Karena itu buktikan dong kek, suruh dia buka maskernya "ucap Arya. 'Ah sial sepertinya Arya sudah curiga ' ucapku dalam hati.
"Maaf pak saya masih ada visit pasien lagi, permisi pak"ucapku mengalihkan perhatian.
"Kakek panggil kakek "ucap pak Handoko."Tu kan dia gak mau buka masker berarti mukanya jelek"ucap Arya. "Kalau dokter Dira jelek gak bakal jadi dokter spesialis favorit di sini,ayo dok buka maskernya tunjukkan kalau wajah dokter tidak jelek"ucap suster Mika, aduh dasar Arya provokator.
"Saya rasa gak perlu kek permisi " ucapku sambil menyeret suster Mika.
"Tunggu "ucap Arya membuatku dan Suter Mika berhenti melangkah saat sudah berada di ruang tamu
"Suster berapa pasien lagi yang harus visit?" tanya Arya .
"Sudah, sudah " ucap suster Mika gugup sambil melihat kearah ku.
"Mau apa sih Lo "ketus ku sambil membuka masker."Bener kan dugaan ku kalau itu kamu"ucapnya sambil tersenyum jahil.
Belum sempat aku menjawab perkataan Arya dari ruang perawatan keluar pak Ardi dan pak Cakra di ikuti istrinya masing-masing dan Kana membuat suasana menjadi hening dan canggung.