Don'T Judge Me

Don'T Judge Me
66. Farida



"Bagaimana keadaan mu apa ada yang dirasakan, bilang ke mas jika ada keluhan," ucap Kana sambil mengusap-usap punggungku. kehamilanku menginjak 24 Minggu membuatku sering kelelahan dan mudah sekali ngantuk, apalagi jika sudah di usap-usap punggungku maka aku akan cepat sekali tertidur.


Sejak peristiwa penculikan beberapa bulan yang lalu, semu orang Lebih protektif terhadapku. "Besok mas harus ke Surabaya,ada kerjaan di sana," ucap Kana.


"Kan Aryo dan Nadira orang sana kenapa tidak minta tolong mereka saja yang mengerjakannya?" tanyaku.


"Mas kesana untuk menemui saksi kunci kasus yang sedang mas tangani, orangnya dirawat di rumah sakit jadi tidak bisa di terbang kan kesini,"jawab Kana.


"Ya udah hati-hati,tapi bisa tidak aku tinggal saja disini,"ucapku lirih. "Maksudnya adik tidak mau, tinggal sama mama,?" ucap Kana.


"Bukan ! Aku tidak mau tidur di rumah mama atau siapapun aku mau tiduran disini saja. Sekar lagi hamil muda, mama juga sering sakit-sakitan..Jadi aku tidak mau merepotkan siapa pun. Kana menarik nafas kasarnya sebelum bersuara, "Ok, tidak masalah tapi pengamanan buat menjagamu akan mas perketat."


"Tapi mas!" protes ku. "Ajeng masih di penjara statusnya juga belum di tetapkan meski bukti dan korban sudah ada. Jika pengadilan menetapkan dia gila maka keamananmu taruhannya, selama mas belum memastikan dia di penjara mas belum tenang!"


Aku hanya bisa menarik nafas panjang dan pasrah dengan apa yang terjadi. "Sabar ya, kalau Ajeng sudah di vonis pengadilan baru kita ambil tindakan,"ucap Kana.


"Kalau dinyatakannya gila otomatis dia masuk rumah sakit jiwa. Apa masih waspada seperti ini?" tanyaku.


"Mungkin mas akan menyuruh orang untuk mengawasi segala gerak-geriknya Ajeng selama di rumah sakit jiwa."


"Dia itu cantik tapi mengapa kamu tidak mau sama dia,?" tanyaku penasaran. "Aku tidak tahu, hatiku mengatakan no,"ucap Kana.


"Padahal pertama bertemu aku kamu tahunya janda Lo,!"


"Iya janda katanya, padahal masih ting-ting,"ucap Kana sambil mencubit pipiku.


"Suka sekali mencubit pipiku sih, pasti karena aku gemuk," kesalku. "Bukan gemuk tapi berisi, dan mas suka melihatnya,"ucap Kana yang ku balas dengan dengusan .


"Justru kalau kamu kurus mas sedih ,berati anak-anak kita tidak sehat di dalam sini,"ucap Kana sambil mengusap-usap perutku.


"Apa Arya pernah menikah sebelumnya,?"tanyaku. Dalam hati aku ingin memastikan kepingan-kepingan ingatanku apa bener, atau hanya ingatan semu.


Ingatan semu atau false memory adalah kumpulan hal yang terasa nyata di pikiran, padahal sebagian hingga seluruhnya adalah buatan.


"Pernah..Arya pernah menikah.. Arya menikah dengan Rahayu karena dijebak,Arya berusaha menerima semua itu tapi Rahayu merusaknya dengan menggugurkan calon anak mereka."


Benar berarti ini nyata, ucapku dalam hati. "Setelah mengalami penculikan. Beberapa memori suka terlitas dalam mimpiku,tapi aku takut itu hanya ingatan semu yang tercipta karena Misatribusi dan emosiku," ucapku lirih.


Misatribusi terjadi ketika diri kita mengingat sesuatu secara akurat sebagian, tetapi salah mengatribusikan seberapa detailnya seperti waktu, tempat, atau orang yang terlibat.


"Allhamdullilah.. Ingatanmu sudah berangsur-angsur pulih," ucap Kana sambil memelukku.


"Tapi hanya sampai aku mengalami penculikan yang dilakukan oleh Ajeng dan Rahayu, terus kamu datang bersama Arya dan Romi."


"Tidak apa-apa pelan-pelan jangan dipaksakan untuk mengingat,"ucap Kana sambil mengusap-usap perutku.


"Anak-anak papi lagi ngapain di dalam, papi akan pergi sebentar jaga mami kalian ya. Jangan nakal ya selama tidak ada papi ya,"ucap Kana yang disambut tendangan-tendangan kecil.


Membuat Kana tersenyum bahagia, senyum yang selalu kulihat saat sudah menikah dengannya.


"Aku akan siapkan baju yang akan mas bawa," ucapku sambil berusaha berdiri, tapi Kana malah menarikku untuk duduk kembali.


"Tidak usah kamu duduk aja ,biar mas yang nyiapin. Kamu cukup bicara saja dan tunjukkan yang mana yang harus mas bawa."


Aku terpaksa duduk dan Kana yang mondar-mandir mengambil baju dan keperluan pribadinya, untuk di masukan ke dalam koper ukuran medium.


"Nanti kalau tidak ada mas dan tidak bisa tidur, kamu telpon mas ya," ucap Kana sambil mengusap-usap punggungku supaya tidur.


Kana pergi membuatku seperti burung lepas dari sangkar, meski ada pengawal tapi para pengawal sewaan tidak menempel seperti Kana yang menempel persis perangko dengan amplop.


"Tumben bodyguard mu ga keliatan 3 hari ini ?"tanya dokter Eki menemani ku makan siang di kantin .


"Ke Surabaya ada pekerjaan yang tidak bisa di wakilkan," ucapku sambil menikmati soto Banjar tanpa nasi atau lontong.


"Berapa usia triple?"


"Baru jalan 6 bulan ."


"Berarti sudah ketahuan kembar identik atau tidaknya?"


"Dua-duanya,"


"Bener,"ucap dokter Eki sambi melotot kearah ku.


" Ada satu plasenta dan 2 embrio dan 1 kantong embrio terpisah dengan plasenta yang berbeda."


"Hati-hati hamil ganda lebih beresiko dari pada tunggal, pantas laki Lo kaya singa yang siap memakan siapa saja yang menggagu Lo, kalau lagi di dekat Lo."


"Berapa hari di Surabaya ?"


"Mungkin besok pulang,tadi pagi memberikan kabar."


"Kamu kapa mulai cuti, gw lihat perut Lo ngap sendiri," ucap dokter Eki. "Sekarang sudah mulai mengurangi pasien, tapi gw bukan cuti tapi Risen."


"Yakin Lo,di saat karir Lo mulai di kenal banyak orang tida sayang?"


"Gw tidak masalah,gw akan lebih sibuk mengurus 3 bayi bersama-sama."


"Good gw suka alasan Lo,anak adalah anugrah terindah. Gw duluan ada jadwal visit 30 menit lagi."


Aku mengagukkan kepalaku saat dokter Eki meninggalkan aku sendiri, biasa hidup selalu di dampingi Kana,membuatku kesepian tanpanya.


Bahkan setiap malam harus video call dengan Kana baru bisa tidur, bahkan tidak jarang aku tertidur saat ponselku masih terhubung dengan Kana.


"Ibu sebaiknya ibu langsung masuk apartemennya, angin malam tidak baik buat kesehatan wanita hamil!"


"Pasti Kana baru memarahi kamu ya?" tanyaku pada Edi salah satu bodyguard yang Kana sewa. Edi tidak menjawab hanya tersenyum. Ternyata tanpa perhatian Kana membosankan juga, "Hallo Dira?"


"Farida," ucapku pada perempuan yang menyapaku saat hendak masuk ke lobby apartemen.


"Apa kabarmu,?" ucapnya sambil berusaha mendekatiku tapi langsung di hadang Edi.


"Woo , sekarang hidup Lo seperti putri raja. Dikawal bodyguard 24 jam. Bergelimang harta tanpa perlu bekerja pun."


"Apa mau mu,?"tanyaku. "Good pinter sekali kamu aku ada maunya,?" tanyanya dengan senyum jahat bertepatan dengan pintu lift terbuka.


"Sudah malam lain kali nunggu Kana pulang saja," ucapku sambil berjalan meninggalkan Farida.


Hari ini ketemu Farida sepertinya ini pertanda hidupku akan terusik kembali ," Ed jangan bilang-bilang Kana kalau aku ketemu wanita itu!"


"Maaf Bu ,saya telah mengirim foto wanita tadi sama bapak."