
Tinggal di Sukoharjo yang lingkungan orang menggunakan bahasa Jawa membuat ke 3 anakku fasih berbahasa Jawa. Apalagi saat ini si kembar sudah duduk di bangku sekolah dasar kelas 2.
"Mama ada PR bahasa Jawa, aku gak bisa ngerjain." Waduh aku mana aku bisa?
"Dila ga bisa ngerjain ?"
"Gak bisa ma, kata Bu guru cuma 'Ngowahi ukara sing kasar dadi ukara sing sopan.'(Kata Bu guru cuma merubah kalimat kasar menjadi kalimat halus yang sopan.)
"Kalau bahas Sunda mama sedikit bisa, tar nugu papa saja bagaimana ?"
"Aku juga ada PR bahasa Jawa ma, menulis pakai aksara Jawa."
"Apa!"
"ora ana gunane yen ngomong marang Mama sampeyan ora bakal ngerti. Yen sampeyan nganggo basa Inggris, sampeyan bisa.(Tidak ada gunanya memberi tahu Mamamu tidak akan mengerti. Jika kamu berbicara bahasa Inggris, baru bisa.)
"Meskipun mama gak bisa, tapi mama paham Lo Dila apa yang kamu bilang." Ucapku membuat Dila dan Satria cekikikan.
"Assalamualaikum Diva pulang."
"Walaikumsalam,adik ko baru pulang ?"
"Tadi adik lihat anak kucing masuk got jadi adik tolong dulu deh ma."
"Pasti kamu juga memandikannya,tu lihat sepatumu sampai basah semua ?" Tanya Dila sambil melihat penampilan adiknya yang kotor semua.
"Iya kasihan,kak."
"Iya ga apa-apa ,sekarang adik ganti baju yang bersih. Jangan lupa cuci kaki dan tangannya ya!"
"Iya ma."
"Habis ini kalian makan, setelah itu kita pergi ke rumah Mbah Surip biar dia yang ngajarin!"
Mbah Surip adalah kakek tua yang rumahnya, terletak di depanku pas.
"Memang mama mau pergi kemana,?" tanya Satria.
"Mama ada kegiatan Persit, jadi Satria jaga adik-adik ya."
"Iya ma."
"Aku ikut mama saja deh,tar pr nya nyotek punya Diva saja."
"Kamu Kebiasaan,"ucap Diva yang baru keluar dari kamar.
"Habis kalau aku ikut pasti dia tanya ' Ini yang mana Dila dan mana Diva' selalu itu kami datang bersama. Tapi kalau kami datang terpisah,dia tidak akan bertanya."
"Ya udah Aya mas, kita tinggal Dila." Ucap Diva sambil menarik Satria keluar dari rumah.
Dengan menggunakan motor matic aku menuju Batalyon. Hari ini diadakan rapat untuk penggalangan dana dan penyaluran dana untuk korban tanah longsor.
"Ada Letkol Raihan di dalam ?"
"Tidak ada Bu ,lagi ada di klinik. Tadi tangan Letkol Raihan terluka karena membersihkan sepihan gelas yang jatuh."
"Ya udah saya nitip putri saya dulu ya!"
"Baik ibu siap laksanakan !"
Aku berjalan menuju klinik, Nampak pintu klinik terbuka kecil. Ko sepi katanya ke klinik tangannya terluka.
"Eghhh." Terdengar lenguhan panjang seseorang, apa mas Rai selingkuh ? Dengan siapa ?"
"Kita tidak boleh melanjutkan ini, jika istriku tahu dia bisa menuntut cerai padaku."
"Mas sayang dengan istri mas? Tapi aku sayang dengan mas."
"Kamu masih muda,kamu bisa mencari lelaki yang sesuai dengan umur mu!"
"Aku suka lelaki yang dewasa, yang bisa melindungi ku dan sayang padaku."
"Kamu pinter menggoda mas,cup."
"Aku juga tidak mau kehilangan kasih sayang mas. Jika mas tidak percaya aku bisa membuktikannya."
"Oya dengan cara apa ?"
"Aku bisa memberikan kesucian ku pada mas."
"Aku punya anak perempuan,aku tidak mau merusak mu ."
Karena tidak tahan aku hendak masuk ke dalam dan memergoki yang bersangkutan. Sampai sebuah tangan membekap mulutku," Kalian urus yang di dalam dan langsung bawa ke pengadilan militer !"
"Laksanakan !"
"Mas ,kok kamu di sini yang di dalam siapa. Aku kira kamu ?" Ucapku pada Raihan yang berdiri di sampingku.
"Ko kamu bisa berpikir begitu ?"
"Tadi aku ke ruangan mu dan.....(Aku ceritakan semua yang kualami dan ku dengar dari obrolan pasangan mesum tadi)."
"Usia mereka terpaut 15 tahun, kapten Yusuf 36 tahun sedangkan perawat Nisa baru 21 tahun."
"Kapten Yusuf mantannya Ratih ?"
"Iya,"ucap Raihan sambil menarikku untuk berjalan mengikutinya.
"Gila! Memang mereka sudah resmi bercerai ?"
"Sudah."
"Kapan aku ko gak tahu? Terus bagaimana kabar Ratih ?"
"Aku tidak tahu kabar Ratih, Yusuf juga gak tahu. Gak usah ikut campur urusan orang lain."
"Terus ko ada PM tadi yang manggil mas?"
"Iya,pas mas mau masuk mereka lagi berciuman, karena itu mas panggil PM biar terkena sangsi militer. Karena kalau mas yang tegur langsung, jujur mas ga nyaman juga."
"Aneh," ucapku membuat Raihan tertawa kecil.
"Kejadian hari ini membuat jantungku hampir berhenti berdetak."
"Mati dong dek?"
"Ohh kamu senang kalau aku mati ya,biar bisa nikah Lagi."
"Eh bukan begitu yang, jangan gitu malu di lihat orang."
"Bodo amat," ucapku berjalan meninggalkan Raihan.
Aku berjalan meninggalkan Raihan menuju ,ke tempat acara Persit. Ternyata kejadian yang kudengar sudah menyebar, bahkan ibu-ibu menjadikan bahan gunjingan.
"Bu Sofi, kalau boleh tahu istri kapten Yusuf yang mana sih?" Tanyaku sambil berjalan menuju ke ruangan Raihan, bersama beberapa ibu Persit lainnya.
"Siap ibu,ijin menjawab hari ini Bu Yusuf ijin tidak ikut kegiatan karena anaknya sakit."
"Sudah berapa lama mereka menikah ya Bu ?"
"Ijin menjawab kalau tidak salah sekitar 2 tahun."
Sudah 2 tahun menikah dan aku tidak tahu , ternyata aku Danyon yang buruk.
"Ternyata saya ibu Danyon yang buruk ya,masa gak kenal dengan nama anggotanya."
"Maklum Bu Yusuf juga kerja,jadi sering absen dan di gantikan oleh yang lain bu,"ucap Sofi.
"Denger-denger itu karma bu. Dia kan merebut suami orang jadi sekarang ada balasannya."
"Hus ga boleh ngomong begitu masalah karma Biarkan urusan dia dan Allah saja. Kita manusia yang juga banyak memiliki dosa, tidak boleh ngomong begitu."Ucapku sok bijak kepada istri mayor Heru, sekaligus ibu Wadanyon yang selalu membantuku.
"Ibu aja yang gak tahu cerita di komplek rumah dinas. Eh maaf ya Bu,"ucap Bu Heru membuatku menggelengkan kepalaku.
"Tidak apa-apa santai saja, kita sama-sama manusia, sama-sama makan nasi juga."
"Ibu bisa aja,"jawab mereka sambil bercanda. Sampai aku sampai di ruangan Raihan nampak Dila sudah tidur pulas di sofa panjang ruangan Raihan.
"Mas anter saja pulangnya ,biar motor mu prajurit muda yang anterin nanti !"
"Ternyata ibu-ibu di rumah dinas banyak yang sudah tahu mad!"
"Biarkan saja,kamu jangan ikut-ikutan cerita. Tidak baik membicarakan aib saudara kita yang lain!"
"Iya-iya."
"Awas mas denger kamu ikut gosip, sebagai ibu Danyon kamu harus memberikan contoh yang baik paham !"
"Iya ! Ayo buruan gedong Dila !"
"Kalau kamu buat ulah kamu akan mas hajar,tau." Ucap Raihan sambil tersenyum mesum, dan mulai menggedong Dila.
"Iya tau,"dengusku karena paham dengan kata 'hajar ' yang dia maksud.