
Benar dugaanku keberadaan Farida yang menemuiku, membuat Kana malam itu langsung pulang dan lebih proaktif. Tapi ternyata ketakutan itu tidak beralasan, buktinya sudah sebulan sejak pertemuan dengan Farida tidak menemuiku lagi.
"Mas tadi lewat penjual bunga jadi kepikiran untuk membelikan bunga mawar merah buatmu,"ucap Kana sambil menyodorkan setangkai bunga mawar merah.
"Terima kasih.Mawar melambangkan cinta dan keromantisan.. Mas ko aku merasa seperti pernah mengalami hal serupa ya?"
"O,ya apa yang kau rasakan?"
"Aku seperti pernah mengalami momen seseorang memberi aku bunga,"ucapku berusaha mengingat.
"Tidak usah di ingat-ingat nanti sakit kepalamu."
"Tapi, mas. Aku seperti dejavu gitu Lo mas?"
"Tapi kalau mengingat membuatmu sakit kepala mas gak mau ya?"
Hari ini kami baru saja memeriksakan kehamilan yang sudah memasuki trimester ketiga , tepatnya Minggu ke 29. "Padahal aku mau nyiapin nama buat mereka, masak satupun tidak ada yang mau menunjukkan jenis kelaminnya pada papinya , sih " protes Kana.
"Bunganya mas buang aja ya,?"ucap Kana, membuatku merasa aneh baru tadi dia memberikan bunga itu padaku kenapa sekarang malah mau dibuang.
"Kenapa harus di buang? Mas baru membelinya tadi dan itu sudah mas berikan padaku!"
"Mas tidak mau kamu memaksakan diri untuk mengingatnya, mas takut akan membahayakan kamu dan triple,"ucap Kana menghentikan langkahnya.
"Tapi tidak harus di buang juga kan," sewotku.
"Ya udah deh gak bakal mas buang. Tapi ini bunga terakhir dari mas."
"Kaya mau mati aja bunga terakhir," ketus ku.
"Tunggu sini aku mau memberikan mu bunga terakhir "ucap Kana. "Enak aja bunga terakhir, emang gw mau mati"ucapku yang disambut tawa olehnya.
Tida lama Kana kembali dengan sebuket bunga mawar beraneka ragam "Setiap warna dalam bunga mawar ini melambangkan perasaanku padamu" ucapnya."Oya , emang apa artinya ?"tanyaku.
"Merah cinta, kuning persahabatan ,lavender ,cinta yang unik ,Mawar putih kepolosan dan cinta baru, Mawar ungu, gairah dan kegilaan dan mawar jingga daya tarik" ucapnya.
"Wow keren " ucapku menerima bunga yang di sodorkan Kana padaku, entah dapat keberanian dari mana aku memberikan kecupan singkat di bibirnya.
Sekelebat bayangan adegan dan percakapan itu terlintas membuat kepalaku sakit , teramat sakit "Mas sakit," rintih ku membuat Kana spontan menangkap tubuhku yang tiba-tiba lemas.
"Mas bilang apa jangan di paksakan buat mengingat," ucap Kana sambil membopong tubuhku, terlihat jelas wajah kuatirnya sebelum benar-benar aku tidak sadarkan diri.
"Tunggu sini aku mau memberikan mu bunga terakhir "ucap Kana. "Enak aja bunga terakhir, emang gw mau mati"ucapku yang disambut tawa olehnya.
Tida lama Kana kembali dengan sebuket bunga mawar beraneka ragam "Setiap warna dalam bunga mawar ini melambangkan perasaanku padamu" ucapnya."Oya , emang apa artinya ?"tanyaku.
"Merah cinta, kuning persahabatan ,lavender ,cinta yang unik ,Mawar putih kepolosan dan cinta baru, Mawar ungu, gairah dan kegilaan dan mawar jingga daya tarik" ucapnya.
"Wow keren " ucapku menerima bunga yang di sodorkan Kana padaku, entah dapat keberanian dari mana aku memberikan kecupan singkat di bibir
Hingga sorot lampu mobil menyilaukan membuat Kana menghentikan aksinya,dan saat kami berdua melihat kearah sorotan lampu yang berasal dari mobil, mobil itu sudah berada di depan kami membuat badan kami terbang seperti kapas yang ditiup angin. Brakkk Brakkk "ADIRA ,KANA " suara Arya memanggil nama kami secara bersamaan.
Ini bukan mimpi ini nyata aku mengalaminya, "Bangun sayang lihat semua orang mengkuatirkan mu. Apa kamu tidak kasihan dengan mas , dengan Abi tolong jangan siksa mas. Mas gak bisa kehilangan dirimu lagi."
Suara tangisannya Kana dapat ku dengan dengan jelas, bahkan tanganku yang di gegamannya dan sesekali di kecupannya dapat kurasakan. Tapi mata ini susah untuk di buka, aku ingin bilang kalau aku baik-baik saja tapi susah sekali mataku buat terbuka. Hanya air mataku yang bisa menetes mewakilkan.
"Dira nangis, lihat Dira menangis dia merespon" ucap Arya.
Sekuat tenaga aku berusaha membuka mataku, menggerakkan tanganku dan mengeluarkan suara.
"Mas....."
"Dira sadar, panggil dokter,"ucap Kana,aku langsung merasakan kedua tanganku di genggam Kana dan Abi secara bersamaan. Aku juga mulai bisa menggerakkan tanganku untuk menghapus air mata Kana dan Abi.
"Jangan dipaksa untuk mengingatnya. Abi tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu ,hanya kamu dan Hafis harta berharga Abi."
Aku hanya bisa tersenyum melihat Kana dan Abi 2 orang yang tak ku sangka memberikan cinta tulus kepadaku. Selama ini aku kira hanya bunda dan pakde yang tulus padaku, tapi hari ini aku tahu masih ada yang sayang dan cinta kepadaku selain Bunda dan Pakde.
Setelah aku di periksa dokter, dokter mengatakan kondisiku baik-baik saja, hanya untuk kondisi baby Dokter tidak bisa berkomentar karena itu dokter menyarankan untuk langsung ke dokter kandungan.
"Allhamdullilah kondisi adek baik-baik saja, tinggal besok kita ke dokter kandungan," ucap Kana sambi mengusap-usap perutku.
"Dokter teguh aja,ya mas!"
"Dokter teguh itu genit suka godain kamu!"
"Sama saja dokter Clara setelah berstatus sebagai janda,juga jadi lebi genit sama kamu. Siapa yang diperiksa siapa yang dilihat," gerutu ku.
"Istri mas cemburu,?"tanya Kana sambil tersenyum.
"Memang mas doang yang bisa cemburu," kesal ku membalikkan badan langsung memunggunginya.
Kana tertawa kecil melihatnya dan naik keatas ranjang rumah sakit dan memelukku dari belakang.
"Mas jangan gila ini rumah sakit," kesalku saat Kana mencium leherku dan sepertinya bakal meninggalkan bekas.
"Kenapa mas disini bayar Lo,bayar tidak murah lagi."
Kana tidak menerima protes ku bahkan tangannya mulai masuk k dalam kemejaku," Kan kata dokter ini harus di ransang tar kalau anak-anak mas lahir minumnya lebih mudah."
"As dasar modus terserah kamu lah,"kesalku.
"Ya udah nikmati saja, tidur aja mas kan cuma memberikan pijatan ,"ucap Kana enteng tanpa rasa bersalah. Karena malas meladeni tingkahnya. Aku rubah posisiku menjadi duduk,"Aku mengingat semuanya, bahkan yang terjadi sebelum kecelakaan menimpa kita."
Kana yang mendengarnya langsung duduk disampingku,"Kamu ingat semua ?"
"Iya aku juga ingat waktu kamu mencium ku di pinggir jalan sebelum kecelakaan itu. Bagaimana keadaanmu setelahnya? Kenapa kamu menghilang dan muncul ketika sudah mengajukan pensiun dini ?"
"Bisa tidak satu-satunya tanyanya,biar aku tidak bingung untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya mu sayang,?" ucap Kana sambil mengusap-usap perutku.
"Ok. Keadaan mas tidak jauh lebih baik kaki mas sama kaya kamu."
"Lumpuh juga dan operasi juga,?"tanyaku.
Kana mengagukan kepalanya sebelum berbicara sesuatu yang membuatku kaget bukan main, "Mas sempat mengalami kebutaan karena kornea mata mas rusak parah. Karena itu mas dibawah keluar negri untuk mendapatkan donor mata, sekalian operasi dan pengobatan kaki,mas."
"Karena itu kamu mengajukan pensiun dini,?"tanyaku.
"Mas saat itu merasa tidak enak jika harus mengajukan cuti untuk pengobatan yang bisa memakan waktu lama. Ahkirnya setelah pensiun dini mas di setujui mas langsung terbang, setelah beberapa bulan disana mas dinyatakan sembuh 90% baru mas pulang. Saat mas pergi kamu masih koma, sebenarnya mas ga tega ninggalin kamu serasa tak bertanggung jawab mas saat itu."
"Aku koma berapa hari,?" tanyaku penasaran. "Satu bulan lebih mungkin."
Aku koma selama itu,tapi aku baru tahu. Jadi selama sebulan aku koma, bagaimana dengan Abi dan semua orang pasti kuatir padaku. Lamunanku terhenti saat aku merasakan rasa nyeri di perut dan pinggang yang terasa mau putus, "Dek,?"tanya Kana saat tidak sengaja aku mencengkram tanganya dengan kuat.
"Sakit mas."
"Basah apa ini," ucapku dibarengi air keluar begitu banyak sekali. "Kamu ngompol,?"tanya Kana mungkin celananya terkena air yang baru keluar.
"Panggil dokter, ketubanku pecah."